Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Kuda Panandang Kajar oleh Ketut Sugiartha

Posted on Rab, 03 Mei 2023

Dalem Tarukan resah mendengar berita tentang situasi keraton. Semakin banyak saja patih yang kecewa karena sulit menghadap guna melaporkan dan memusyawarahkan hal-hal yang berkaitan dengan tugas-tugas mereka. Mereka jadi menyia-nyiakan banyak waktu hanya untuk menunggu Dalem Samprangan yang tak kunjung muncul ke pendapa. Itu bisa berbahaya bila dibiarkan. Bisa menjadi sesuatu yang sangat buruk dan merugikan rakyat.

Meski ia telah memilih jalan hidup yang berbeda, menekuni laku spiritual dan tinggal di luar keraton, ia tidak dapat melepaskan diri dari tanggung jawab. Tanggung jawab menjaga nama keluarga besar Dalem Kresna Kepakisan yang telah diberi kepercayaan oleh Majapahit untuk mengemban tugas sebagai Adipati Bali. Dalem Samprangan, kakaknya yang pesolek itu, yang lebih banyak menghabiskan waktunya dengan para istrinya daripada menjalankan roda pemerintahan, mau tidak mau harus dilengserkan—tetapi dengan cara yang sedapat mungkin tidak menimbulkan gejolak—demi menjaga kepercayaan rakyat yang belum sepenuhnya pulih sejak Majapahit melakukan serangan besar-besaran ke Bali dengan segala tipu dayanya.

Untuk itu ia memanggil Kuda Panandang Kajar, putra angkatnya.

”Nak, kau pasti mendengar berita tidak enak mengenai keadaan di keraton.”

”Ya, Ayah,” sahut Kuda Panandang Kajar sambil duduk bersila di hadapan Dalem Tarukan.

”Kita tidak bisa membiarkan itu terjadi berlarut-larut.”

”Tapi, apa yang bisa kita perbuat?”

”Kau tahu, pamanmu Dalem Ketut ada di Pandak. Temuilah dia. Katakan padanya, aku minta ia datang ke puri untuk keperluan mengambil alih kekuasaan.”

Kuda Panandang Kajar sempat diam sebelum berkata, ”Baik, Ayah. Perintah Ayah akan segera saya laksanakan.”

”Untuk meyakinkannya, tunjukkan keris ini dan busana ini. Jangan lupa membawa I Gagak, kuda yang akan ditungganginya agar cepat sampai.”

Kendati Kuda Panandang Kajar segera bangkit dari duduknya dan berkemas untuk menjalankan tugas yang diberikan, Dalem Tarukan dapat menangkap rona kebimbangan membayang di wajah putranya. Ia tahu bagaimana putranya itu diam-diam menjalin hubungan batin dengan Dewa Ayu, putri Dalem Samprangan. Agaknya ia mengkhawatirkan hubungannya dengan Dewa Ayu jika keluarga keraton mengalami masalah. Dalem Tarukan merasa perlu juga memikirkan hal itu karena ia tidak ingin mengecewakan putra kesayangannya.

Tiba di Pandak, Kuda Panandang Kajar mendapati Dalem Ketut Ngulesir sedang duduk membicarakan sesuatu dengan sejumlah orang di sebuah balai banjar. Melihat kedatangan seorang pemuda tampan bertubuh tegap dan berkulit bersih, semua yang hadir di tempat itu segera diam dan mengawasinya dengan tatapan penuh tanda tanya. Mereka, tak kecuali Dalem Ketut Ngulesir, tidak mengenalinya.

”Siapakah kau, anak muda?” Dalem Ketut Ngulesir mengerutkan kening ketika ia menundukkan badan sambil mencakupkan tangan di depan dada.

”Maafkan saya telah lancang mengganggu, Paman,” tanggap Kuda Panandang Kajar. ”Saya putra angkat Dalem Tarukan.”

Senyum merekah di bibir Dalem Ketut Ngulesir dan suasana pun jadi cair. ”Hah, kau Kuda Panandang Kajar rupanya. Sedang apa kau di sini?”

”Saya datang untuk menyampaikan pesan Ayah.”

”Pesan kepadaku?”

”Benar, Paman. Ayah berharap Paman segera kembali ke puri. Ada hal penting yang ingin dibicarakan sehubungan dengan rencana penobatan Paman sebagai adipati. Saya kira Paman sudah tahu masalahnya.”

Dalem Ketut Ngulesir terperangah. ”Kau disuruh menjemputku?”

”Ya, Paman. Saya datang dengan sebilah keris dan busana adipati serta seekor kuda.”

”Oh, tidak! Tidak, Nak. Aku ini seorang pejudi. Aku tak pantas menjadi adipati. Lagi pula aku tak ingin ribut dengan kakakku. Katakan pada ayahmu, aku tak akan datang ke puri. Hidupku ada di sini, di antara para botoh.”

Kuda Panandang Kajar menundukkan wajah. Sudah terbayang di benaknya bahwa ia akan kembali ke puri tanpa hasil, dan itu pasti akan mengecewakan ayahnya yang sangat ia hormati.

”Yang patut menggantikan Dalem Samprangan,” lanjut Dalem Ketut Ngulesir, ”adalah ayahmu. Beliau lebih layak untuk itu. Beliau terpelajar dan memiliki bekal yang memadai. Beliau tahu tentang seluk-beluk tata negara. Sedangkan aku, hanyalah seorang gelandangan yang setiap hari bergaul dengan rakyat jelata.”

”Maaf, Paman. Menurut Ayah, justru Paman yang bergaul langsung di tengah masyarakat lebih memiliki kemungkinan untuk berhasil menjalankan pemerintahan. Paman tentu tahu betul apa yang menjadi kebutuhan dan kehendak rakyat.”

Dalem Ketut Ngulesir menggeleng keras-keras. ”Jangan berdebat denganku, Nak. Pulanglah. Aku tidak mau kembali ke puri. Katakan pada ayahmu, beliaulah yang pantas menjadi adipati.”

”Tapi Ayah sudah berjanji akan menjalani hidup sebagai pendeta.”

”Kependetaan bisa ditangguhkan atau bahkan ditinggalkan. Orangtua kita juga melakukan hal itu. Bukankah kita keturunan brahmana yang sudah disatriakan?”

Kuda Panandang Kajar kehabisan kata. Tak ada lagi yang bisa ia katakan karena ucapan pamannya tak mungkin dibantah. Maka ia mohon pamit, bergerak mundur perlahan beberapa langkah sebelum akhirnya membalikkan badan.

Putra Adipati Blambangan yang lahir dari seorang selir itu kembali ke Puri Tarukan dengan wajah tertunduk lesu. Ia telah gagal menjalankan tugas yang diberikan ayah angkatnya. Itu membuatnya sedih dan jengah. Ia akan mengecewakan orangtua yang sangat ia cintai.

Dalam kelesuannya menyusuri jalan pulang ke Pejeng tiba-tiba ada seekor gagak melesat mendekat dan menyambar destarnya serta membawanya terbang entah ke mana. Ia sempat mengumpat sebelum kembali terdiam dan merenungkan kejadian itu. Ini pertanda tidak baik, batinnya.

”Kau pulang sendirian, Nak? Mana adikku Dalem Ketut?” Dalem Tarukan heran melihat putranya kembali dengan wajah murung.

Kuda Panandang Kajar mencakupkan tangan di depan dada. ”Hukumlah saya, Ayah. Saya telah gagal menjalankan tugas. Paman Dalem Ketut tidak mau kembali ke puri.” Ia lalu menjelaskan mengenai pertemuan dan pembicaraannya dengan pamannya.

”Ya sudah, kalau memang begitu. Kita tidak bisa memaksanya. Istirahatlah, kau tentu sangat lelah.”

Esoknya, walaupun hari sudah siang, Kuda Panandang Kajar tidak keluar dari kamarnya. Dalem Tarukan yang tiba-tiba merasa ada yang aneh akhirnya datang menjenguk. Ia heran melihat putranya masih berbaring di tempat tidur.

”Ada apa, Nak? Biasanya pagi-pagi sekali kau sudah bangun.”

”Maaf, saya tidak bisa bangun, Ayah.”

”Kau sakit?”

”Sepertinya saya lumpuh,” jawab Kuda Panandang Kajar.

”Apa?!”

”Kaki saya tidak bisa digerakkan.”

”Dewa Ratu!”

Dalem Tarukan segera menyibakkan selimut yang masih menutupi tubuh putranya. Ia mencoba menyentuh kaki Kuda Panandang Kajar dan mengangkatnya sedikit sambil bertanya, ”Sakit?”

Kuda Panandang Kajar menggelengkan kepala. ”Tidak berasa apa-apa, Ayah.”

Dalem Tarukan menutup kembali tubuh putranya dengan selimut sebelum membalikkan badan untuk menyembunyikan matanya yang mulai basah. ”Istirahatlah, Nak. Apa pun akan kulakukan untuk membuatmu sehat kembali seperti sediakala.”

Sejak hari itu silih berganti penyembuh yang datang ke Puri Tarukan; mulai dari balian ketakson, penyembuh yang memiliki kekuatan gaib, sampai balian putus, orang yang menjadi penyembuh karena tekun mendalami lontar-lontar usada.

Dalem Tarukan sempat marah ketika ada penyembuh yang mengatakan bahwa Kuda Panandang Kajar tidak sakit. Tetapi ketika penyembuh-penyembuh lain juga mengatakan hal yang sama, ia mulai berpikir. Apa sebenarnya yang terjadi pada putraku?

Ia tergerak untuk membuka lontar usada miliknya. Setelah meneliti lembar demi lembar akhirnya ia menemukan apa yang ia cari, bahwa ada penyakit pada pikiran atau perasaan yang bisa menggejala ke badan. Ia tidak ragu lagi, itulah yang terjadi pada Kuda Panandang Kajar.

Hanya ada satu cara untuk membuatnya bisa sembuh. Ia harus diajak bicara dari hati ke hati agar bisa diketahui akar masalahnya. Tetapi jelas itu tidak mungkin. Belakangan ia hanya bisa mengucapkan satu atau dua patah kata saja. Ia begitu lemah dengan tubuh kurus kering karena hanya bisa menelan makanan sedikit saja setiap hari. Bahkan membuka mata pun ia tidak sanggup.

Dalem Tarukan tidak putus asa. Setelah lama berpikir, ia ingat bahwa pendengaran putranya masih normal. Maka ia putuskan untuk melakukan upaya dengan cara yang bisa ia lakukan. Malam itu, setelah Kuda Panandang Kajar menelan sedikit makanan seperti biasanya, Dalem Tarukan berkata, ”Jika kau bisa sembuh seperti sediakala, aku berjanji akan mengawinkanmu dengan Dewa Ayu.”

Keajaiban terjadi pada hari berikutnya. Kuda Panandang Kajar mulai membuka mata. Makanan yang disantap pun lebih banyak dari sebelumnya. Dari hari ke hari ia menunjukkan perkembangan yang semakin baik, sampai akhirnya ia betul-betul sembuh.

Hati Dalem Tarukan membuncah melihat kenyataan itu. Namun, janji yang pernah ia ucapkan membuatnya kembali berpikir keras. Apa yang harus kulakukan untuk memenuhi janjiku? Karena alasan yang baru belakangan ia ketahui, Dalem Samprangan tak akan mungkin merestui perkawinan Kuda Panandang Kajar dengan Dewa Ayu.

Tetapi Dalem Tarukan tahu keduanya saling mencintai. Maka ia mengatur siasat agar Dewa Ayu bisa minggat dari keraton. Siasat itu membuahkan hasil tanpa hambatan, sehingga ia bisa memenuhi janjinya mengawinkan putranya dengan Dewa Ayu. Peristiwa itu memberinya kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Sayangnya, kebahagiaan itu hanya berlangsung sehari. Suasana Puri Tarukan mendadak gaduh setelah hari berganti. Kuda Panandang Kajar dan Dewa Ayu ditemukan terkapar di atas tempat tidur dengan tubuh bersimbah darah.

Ketut Sugiartha

Tinggal di Tabanan, Bali. Menulis esai, puisi, cerpen, dan novel. Telah menerbitkan 14 buku tunggal meliputi kumpulan cerpen dan novel. Dua kumpulan cerpen terbarunya, Gelang Tridatu (2022) dan Tentang Sepuluh Wanita (2023).

sumber : kompas.id, 03 Mei 2023.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme