Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Lukisan oleh Ketut Sugiartha

Posted on Sab, 15 Feb 2020

Tertegun ia di sisi tubuh laki-laki yang terbujur kaku di atas balai-balai ruangan itu. Sebuah bilik persegi panjang yang dindingnya disesaki pajangan lukisan beragam ukuran. Pada sebagian tepi plafon tampak noda kecoklatan bekas rembesan air hujan. Sementara lantainya yang terbuat dari tegel tampak mengilat, agaknya sering dipel. Jendela-jendelanya yang memakai kaca nako juga kelihatan bersih, tak ada lapisan debu melekat di sana.

Di matanya yang basah, wajah tirus berkumis tipis itu tampak seperti mengulum senyum samar, memberi kesan damai. Japamala yang ada di tangan kanan laki-laki itu membenamkan ketakjuban ke hatinya. Ia tidak pernah tahu sebelumnya kalau Made Warsa punya kebiasaan berjapa, mengulang-ulang nama Tuhan sambil menghitung untaian biji genitri yang bergerigi itu.

Kini serta-merta terbayang di kepalanya banyak hal tentang mantan gurunya itu. Mulai dari keseriusan penampilannya, yang oleh banyak orang dibilang mahal senyum, sampai pada kebiasaan-kebiasaannya yang ganjil. Seperti memakai destar batik saat ke pura pada saat mana orang-orang mengenakan ikat kepala putih. Dan ketika yang lainnya berbalut pakaian bernuansa gelap dalam acara duka, ia begitu percaya diri mengenakan baju putih. Ada yang menganggap sikap itu sebagai isyarat pemberontakan terhadap kemapanan, tetapi kebanyakan orang tidak peduli.

Hal yang membuat Wayan Ananda kagum adalah sikapnya yang teguh dan hampir tidak pernah mengeluh. Apa pun yang ia alami dalam hidupnya selalu ia syukuri. Baginya hidup adalah anugerah. Ia tidak pernah lupa mengucapkan terima kasih kepada yang telah menyebabkan ia ada di muka Bumi ini. Itu sudah menjadi semacam mantra wajib baginya begitu ia membuka mata di pagi hari.

Sudah bertahun-tahun ia menjalani kegiatan sebagai guru magang pada sebuah sekolah menengah di kota kecilnya. Teman-temannya seangkatan sudah pada berstatus aparatur sipil negara dan bahkan akan pensiun beberapa tahun ke depan, sementara ia sendiri seakan tidak tersentuh oleh kebijakan yang ada.

Dulu, tak sedikit yang menasihati agar ia mau kompromi, menempuh cara seperti yang dilakukan kebanyakan temannya, tetapi ia kukuh dengan pendiriannya. Kiranya bukan saja karena hal itu bertentangan dengan hati kecilnya, tetapi juga tampaknya mustahil dilakukan. Uangnya dari mana?

Penghasilan dari sebidang kebun kelapa seluas sepuluh are di belakang rumahnya dan sesekali menjual lukisan ditambah honor mengajar yang tidak seberapa hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sendiri. Dengan hidup sendiri, sesunguhnya ia sudah berdamai dengan hidupnya, bahkan berkorban. Mengorbankan hasrat biologis yang, bagi kebanyakan orang, pasti sulit ditaklukkan.

Wayan Ananda begitu kehilangan. Baginya, Made Warsa bukan saja gurunya, tetapi juga sudah ia anggap sebagai ayah. Kehilangan ayah kandung semasih bayi membuatnya selalu merindukan sosok ayah dalam perjalanan hidupnya, dan kerinduan itu mencair ketika ia bertemu laki-laki yang tidak banyak bicara itu. Di bawah bimbingan laki-laki itu pula bakatnya dalam melukis terasah.

Sulit baginya memercayai kenyataan yang ada. Memandang lukisan gunung erupsi di dinding sebelah timur ruangan itu, ia teringat pertemuannya beberapa hari yang lalu, waktu Made Warsa sedang melukis sambil mendengarkan musik. Bukan lewat gawai seperti yang banyak dilakukan murid-muridnya, melainkan dari radio tua yang sudah beberapa kali dikirim ke tukang servis. Karena sedang memusatkan perhatian pada pekerjaan, ia tidak tahu kalau ada orang masuk ke tempat kerjanya, sebuah bangunan sederhana berdinding anyaman kulit bambu yang di sana-sini tampak sudah lapuk.

”Om Swastyastu,” ucap Wayan Ananda yang datang bersama seorang wanita muda.

”Om Swastyastu. Oh, Wayan?” Made Warsa menoleh dalam kaget. ”Ini siapa?”

”Nia, Pak. Seorang kurator.”

Made Warsa menyalami wanita muda berwajah bulat telur itu. ”Anda yang menangani pameran Ananda tempo hari?” tanyanya setengah menebak.

”Betul, Pak,” Nia mengangguk hormat.

”Kamu produktif sekali, Yan,” Made Warsa berpaling pada Wayan Ananda.

”Dalam waktu relatif singkat, kamu sudah menghasilkan karya yang banyak.”

”Berkat bimbingan Bapak,” tanggap Wayan Ananda merendah. ”Maaf, biasanya Bapak suka melukis hal-hal yang bikin hati tenteram.”

”Menurutmu ini …?”

”Bagus, cuma sedikit beda dari yang biasa Bapak buat.”

”Bukan kemauan saya, Yan.”

”Ada yang pesan?”

Made Warsa menggeleng. Setelah mempersilakan Ananda dan Nia duduk di seperangkat kursi rotan tua yang dimilikinya, ia mulai menceritakan mimpi yang dialaminya beberapa hari lalu.

”Saya jarang mimpi, Yan,” ujarnya. ”Kalaupun mimpi, biasanya tak jelas. Tapi yang satu ini lain. Karena itu saya percaya, ini pasti sebuah pertanda.”

”Mimpi melihat gunung meletus?”

”Ya, dan ada laki-laki tua menuding-nudingkan tangan ke arah gunung yang sedang memuntahkan lahar. Saya tidak mengerti apa maksudnya. Ia sama sekali tidak bicara.”

”O, begitu?” tanggap Ananda mulai tertarik. ”Saya ambil ya, Pak.”

”Maaf, ini tidak akan saya lepas.”

Ada beberapa lukisan Made Warsa yang telah dikoleksi Wayan Ananda dan dipajang di galerinya. Bahkan ada yang sudah berpindah tangan dan menjadi milik kolektor lain. Kendati ia sendiri pelukis, ia tidak pernah berhenti mengagumi karya-karya mantan gurunya. Walau ia tahu laki-laki itu tak mudah dibujuk, ia tetap berharap bisa memajang lukisan gunung erupsi itu di galerinya, paling tidak diizinkan meminjam. Gunung itu membuatnya terkenang masa kecilnya, saat-saat ia melintas di pinggir lapangan sepak bola ketika pergi sekolah. Di matanya, gunung yang tegak jauh di dasar lengkung langit bagian timur itu tampak begitu indah dan perkasa di bawah siraman matahari muda di pagi hari.

Alangkah senang hatinya ketika Made Warsa mengizinkannya meminjam lukisan gunung yang sedang menumpahkan lahar panas itu. Ia lalu memajangnya di galeri yang berdampingan dengan destinasi wisata kuliner yang juga milikya. Di lokasi yang sama, ada pula aula sederhana berpanggung yang biasa dipakai menyelenggarakan acara bedah buku, musikalisasi puisi, dan pentas kesenian lainnya.

Wayan Ananda dikenal sebagai wirausaha muda yang sejak masa sekolah gemar pada sastra dan lukisan. Ia cukup rajin menulis puisi. Selain sering dimuat di media cetak, puisi-puisi karyanya sering dipakai untuk mengisi acara baca puisi di sebuah radio amatir di kotanya. Sejauh ini belum terpikir olehnya untuk membuat buku kumpulan puisi. Menulis puisi baginya lebih merupakan upaya mengendapkan gagasan sebelum dituangkan lewat warna di atas kanvas. Begitulah, ia selalu mengawali kegiatan melukis dengan menulis puisi, baik di ponsel maupun laptopnya. Yang membuat Made Warsa mengacungkan jempol, ia yang memiliki hasrat besar meraih impian hidup di masa muda akhirnya berhasil menjadi seorang pelaku bisnis tanpa meninggalkan kegemarannya. Pusat bisnisnya tidak pernah sepi. Mitra bisnisnya pun tak hanya orang lokal, tetapi juga datang dari luar kota dan bahkan luar negeri.

Pagi itu, Made Warsa memacu sepeda motor bututnya, Kymco Easy 100 berwarna merah, di jalan raya yang masih sepi menuju galeri Wayan Ananda. Meski motor itu kadang susah dihidupkan, ia tetap menganggapnya sebagai aset yang begitu berharga, yang dulu ia beli dari Wayan Ananda dengan harga yang tidak masuk akal murahnya.

Para karyawan dan karyawati di galeri itu baru saja menempati posnya masing-masing begitu Made Warsa tiba. Dengan langkah tergesa, ia menghampiri meja di bagian depan dan minta bertemu dengan Wayan Ananda.

”Maaf, beliau sedang keluar kota. Ada yang bisa saya bantu, Pak?” ucap wanita berkacamata putih yang ada di belakang konter pelayanan pelanggan. Ia berdiri memamerkan senyum sesuai dengan prosedur operasional perusahaan.

”Oh, pantas telepon saya tak dijawab.”

”Mungkin sedang di pesawat, Pak.”

”Saya minta lukisan saya dikembalikan.”

”Lukisan yang mana ya, Pak?”

”Gunung Erupsi.”

”Oh, jadi bapak ini Pak Made Warsa?”

”Ya.”

”Begini saja. Bapak silakan pulang dulu. Nanti kalau beliau sudah bisa dihubungi, kami akan sampaikan permintaan Bapak.”

”Baik, terima kasih.”

Tidak perlu waktu lama untuk menerima kembali lukisan yang dipinjam Wayan Ananda. Siang itu, Made Warsa memasang lukisan itu di dinding sebelah timur ruangan tempatnya biasa berjapa, mengulang-ulang nama Tuhan dengan japamala di tangan. Hari berikutnya ketika Wayan Ananda datang untuk memastikan bahwa lukisan itu sudah dikembalikan, ia melihat Made Warsa sedang berdiri di ambang pintu dengan mimik menampakkan ketegangan.

”Sepertinya ada yang mengganggu pikiran Bapak,” ujar Wayan Ananda.

”Ya, mimpi saya sepertinya akan jadi kenyataan. Gunung Agung mulai mengepulkan asap. Saya rasa akan terjadi sesuatu.”

”Bencana seperti tahun enam puluh tiga?”

Made Warsa menggelengkan kepala, ”Saya tidak tahu.”

”Semoga tidak,” harap Wayan Ananda.

Selang beberapa hari kemudian, Luh Sriti mengabarkan bahwa adiknya tidak bisa bangun dari tempat tidur. Kakak perempuan Made Warsa yang sudah menikah itu tinggal tidak jauh dari rumahnya. Wayan Ananda, yang mendapati Made Warsa tergolek dalam keadaan lemah sore itu, buru-buru menelepon Ketut Brata, seorang dokter umum.

”Yan, ambil saja lukisan itu,” kata Made Warsa tiba-tiba.

”Lho, kenapa?”

”Untuk bayar dokter yang kamu panggil.”

”Jangan bicara begitu, Pak. Biarkan itu jadi urusan saya, kebetulan ia teman baik saya.”

Made Warsa menggeleng. ”Saya tidak mau…”

Wayan Ananda terperangah, tidak menyangka kalau mantan gurunya akan bersikap seperti itu.

”Kalau kamu tak ambil lukisan itu, jangan panggil dokter.”

”Kalau begitu, kita ke rumah sakit saja.”

Made Warsa kembali mengelengkan kepala.

Menjelang petang, Wayan Ananda meninggalkan rumah Made Warsa dengan perasaan sedih. Sedih karena ketulusan hatinya tidak mendapat tempat di hati orang yang sudah dianggapnya sebagai ayah. ”Tak bolehkah aku melakukan sesuatu kepada orang yang begitu berarti bagi hidupku?” keluhnya pahit.

Setelah mengantarkan Wayan Ananda sampai pintu halaman, Luh Sriti kembali menghampiri adik laki-lakinya dan menegur, ”Kamu telah membuatnya kecewa.”

”Kenapa?”

”Seharusnya kamu tidak bicara begitu kepada orang sebaik Wayan.”

”Ia memang baik. Terlalu baik, bahkan. Sudah begitu banyak kebaikan yang saya terima darinya, tapi apa yang pernah saya berikan padanya?”

”Tentu saja ia tidak mengharapkan pemberian. Hargai sedikit ketulusannya kenapa sih?”

”Sudahlah, Luh. Ini urusan saya.”

”Saya tak setuju dengan caramu.”

Pembicaraan serius antara kakak dan adik itu tidak berhenti sampai di situ, malah berkembang jadi perdebatan. Namun, Luh Sriti akhirnya mengalah. Ia sadar, berdebat dengan orang yang sedang terganggu kesehatannya bukanlah hal yang baik. Maka, yang kemudian ia lakukan adalah menahan diri.

Luh Sriti tidak menyangka kalau itu merupakan percakapan terakhir dengan adiknya. Dengan perasaan berantakan, pada hari berikutnya, ketika hari masih pagi, ia mengabarkan kepada Wayan Ananda bahwa adik laki-lakinya sudah tiada. Wayan Ananda pun buru-buru datang dan tidak dapat menahan tangisnya seakan ia telah kehilangan sebagian dari dirinya.

Ia masih berdiri di ruangan itu, dicekam perasaan sunyi. Setelah sempat merapal doa dan menutup tubuh yang sudah dingin itu dengan selembar kain endek, ia mendekati Luh Sriti dan dengan suara pelan bilang bahwa ia akan menanggung semua biaya kremasi mantan gurunya.

”Tapi, ada pesan penting yang ia sampaikan kepada saya,” tanggap Luh Sriti sambil mengusap pipinya yang basah.

”Pesan apa?”

”Ia bilang: ’Jangan biarkan Ananda melakukan apa pun jika ia tidak mau mengambil lukisan Gunung Erupsi.’”

Wayan Ananda diam. Ia memang pernah menginginkan lukisan itu, tetapi tidak dengan cara seperti yang diinginkan Made Warsa. Ia tahu apa arti lukisan itu bagi pelukisnya. Namun, demi menghormati permintaan terakhir orang yang begitu berarti bagi hidupnya, akhirnya ia berjanji akan mengambil lukisan itu, sementara jauh di dalam hatinya bergaung pertanyaan, ”Apa sih sebenarnya yang dipertahankan guruku?”

Catatan:

Japamala = semacam tasbih.

______________

Ketut Sugiartha : lahir di Tabanan, Bali, 9 November 1956. Ia sudah menerbitkan sejumlah buku fiksi, antara lain Lembayung Kuta (2018) dan Luh (2019). Setelah pensiun dari pekerjaannya di sebuah badan usaha milik negara (BUMN) di Jakarta, ia kini menetap di Bali. Ia menerima penghargaan Sastra Gerip Maurip 2017 dari Pustaka Ekspresi untuk naskah buku Surat uli Amsterdam, kumpulan cerpen berbahasa Bali.

sumber : kompas.id, 15 Feb 2020.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme