Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Tamu Dini Hari oleh Ketut Sugiartha

Posted on Kam, 12 Okt 2023

Suta berkemas hendak meninggalkan gedung kesenian kota yang masih berdenyut selepas tengah malam. Ia minta maaf kepada teman-temannya yang masih asyik berbincang karena mendahului pulang dengan alasan, besok pagi ia harus mudik untuk mengikuti upacara perabuan ibu mertuanya.

Yang ingin ia lakukan setiba di rumah tentu membereskan sisa riasan di wajah sebelum membersihkan keringat yang mengering di sekujur tubuh. Namun, setelah memarkir motor di garasi samping rumah, mendadak ia merasakan sesuatu yang membuat kepalanya dipenuhi tanda tanya. Ada semacam firasat, akan terjadi sesuatu tetapi ia tidak dapat menerka. Itu sempat merampas waktunya yang sangat berharga sebelum ia memutuskan untuk mengabaikan.

Lapar. Itu yang kemudian mengganggunya sehabis mandi. Ia terpaksa merebus mi instan walau sesungguhnya tidak suka. Apa boleh buat, demi memenuhi tuntutan perut yang tidak bisa diajak kompromi, ia nikmati saja apa yang ada. Bagaimanapun ia harus berdamai dengan keadaan sebab istri dan anak-anaknya sudah berada di desa sejak kemarin.

Baru saja ia selesai mencuci peralatan yang dipakai bersantap dan duduk kembali, seorang laki-laki bertubuh tinggi besar tiba-tiba sudah duduk di hadapannya, di seberang meja makan.

”Hei.., Anda siapa?” Ia menggeragap dengan wajah pucat.

Laki-laki itu tersenyum. ”Jangan takut. Saya bukan perampok atau semacamnya. Saya datang ke sini dengan cara seperti ini karena merasa akrab dengan Anda.”

”Maaf, saya tidak mengenal Anda.”

”Bukankah Anda yang memerankan Dasamuka dalam pementasan sendratari tadi?”

”Ya. Kenapa?”

”Sosok yang berusaha Anda dalami karakternya belakangan ini adalah saya.”

”Anda …?”

”Saya Dasamuka.”

Setelah mengusap-usap mata untuk meyakinkan diri bahwa masih terjaga, Suta memberanikan diri menatap wajah tamu di hadapannya dan berkata, ”Jangan mengada-ada, Dasamuka sudah mati.”

Baca juga: Cinta Buta Amangkurat

Melihat Suta bingung, laki-laki yang mengaku Dasamuka itu tersenyum lagi. ”Tubuh saya memang sudah mati, tapi tidak kesadaran saya. Saya ada di sini sekarang tanpa tubuh. Coba sentuh saya kalau tidak percaya.”

Seakan berada di bawah pengaruh hipnosis, Suta bangun dari kursi lalu mengulurkan tangan ke seberang meja tetapi tangannya tidak menyentuh apa-apa. Ia kembali duduk seperti orang linglung.

Bagaimana tidak, kenyataan yang yang sedang terpampang di depan matanya sangat tidak masuk akal.

Tanpa kehilangan senyum di bibirnya laki-laki di seberang meja berkata lagi, ”Tak usah khawatir. Saya datang hanya untuk beramah-tamah. Anggap saja saya wartawan yang ingin mewawancarai Anda.”

”Anda ingin tahu tentang apa dari saya?”

”Tentu saja tentang tokoh yang Anda perankan dalam sendratari tadi.”

Sambil menahan perasaan jengkel Suta melayangkan pandang ke arah jam dinding yang membuatnya tahu bahwa itu pukul setengah tiga dini hari.

”Saya tahu Anda akan pulang ke desa dalam beberapa jam lagi. Jangan khawatir, saya jamin Anda akan berada di sana tepat waktu dan dapat mengikuti upacara perabuan ibu mertua Anda sebagaimana mestinya,” kata laki-laki itu lagi.

”Sekarang tolong jawab pertanyaan saya. Apa pendapat Anda mengenai tokoh yang Anda perankan dalam sendratari itu?”

”Saya tidak punya pendapat pribadi,” jawab Suta jujur. ”Saya mendalami karakternya lewat buku selain mengikuti arahan sutradara.”

”Jadi, Anda membenarkan semua itu?”

”Saya menerimanya sebagai kebenaran sebagaimana persepsi orang pada umumnya.”

”Bagaimana kalau sebenarnya tidak seperti itu?”

”Maksud Anda?”

”Sebenarnya Dasamuka tidak seperti itu.”

”Lalu seperti apa?”

”Lihat mata saya.”

Lagi Suta melakukan apa yang diminta laki-laki bertubuh gempal di depannya.

”Apakah Anda mendapat kesan seburuk yang diyakini banyak orang tentang diri saya?”

Suta menggeleng pelan.

”Maukah Anda mendengar cerita tentang diri saya yang sebenarnya?”

Suta diam sejenak sebelum berdalih, ”Tapi, saya perlu istirahat.”

”Percayalah, Anda tidak perlu istirahat. Anda akan sampai di desa dalam keadaan bugar.”

”Mengapa saya harus percaya pada Anda?”

”Karena saya Dasamuka. Anda pasti tahu, saya bukan orang sembarangan. Saya satu-satunya petapa di muka Bumi yang mendapat anugerah istimewa.”

”Itu cerita sinetron.”

”Tapi itu kebenaran, seperti kehadiran saya di depan Anda saat ini.”

Setelah diam sejenak dan tidak menemukan alasan lagi untuk menampik, Suta berucap, “Ceritakanlah.”

Baca juga: Pohon di Tengah Telaga

Tiba-tiba Suta melihat kepala tamu di hadapannya bertambah dari detik ke detik sampai berjumlah sepuluh.

”Maaf, saya tak bermaksud pamer kesaktian,” kata-laki-laki itu. ”Anda pasti tahu, inilah identitas yang menyebabkan saya diberi nama Dasamuka. Ciri orang yang memiliki pengetahuan luas tentang kitab suci dan sastra.”

Suta manggut-manggut dengan pikiran bergerak liar.

”Mengapa saya menculik Dewi Sita? Bukankah itu yang ada di kepala Anda sekarang?”

Suta tidak membantah.

”Saya ingin menyelamatkannya. Saya kasihan padanya,” ungkap Dasamuka.

Suta mengerutkan kening.

”Sudah saya duga, Anda pasti tidak percaya.”

”Bagaimana saya bisa percaya? Tak ada satu referensi pun mengatakan demikian, setidaknya yang pernah saya baca.”

”Itulah mengapa saya datang ke sini sekarang.”

”Untuk mengubah karakter Dasamuka dalam sendratari kami?”

”Tidak perlu. Anda bisa dianggap tidak waras kalau sampai melakukannya.”

”Lalu untuk apa?”

”Saya hanya ingin Anda tahu sisi lain diri saya. Bukankah tidak adil menilai seseorang dari sisi negatifnya saja? Bukankah segala sesuatu di dunia ini memiliki dua unsur yang berseberangan? Rwa bhineda menurut istilah Anda, bukan?”

Suta menganggukkan kepala.

Anda bisa dianggap tidak waras kalau sampai melakukannya.

”Seperti Anda, orang-orang mengenal saya sepenuhnya sebagai asura atau raksasa. Padahal saya juga seorang brahmana. Wisrawa, ayah saya, adalah laki-laki yang sangat bijak. Dan Kubera, mantan penguasa Alengka itu, saudara tiri saya.”

Suta mulai tertarik dengan cerita tamunya.

”Saya telah melakukan tapa yang sangat berat hingga bisa meluluhkan hati Brahma yang lantas menganugerahi saya kemampuan menaklukkan para penguasa di tiga alam.”

”Para penguasa di tiga alam?”

”Betul. Para penguasa Patala, Bumi dan Swarga. Jangankan manusia atau raksasa, para dewa pun tak bisa membunuh saya. Itulah anugerah istimewa Brahma kepada saya.”

”Tapi Anda mati di tangan Rama.”

”Itu kealpaan saya yang baru saya sadari saat akan menghembuskan napas terakhir.”

”Kealpaan…?”

”Saya hanya mohon anugerah tidak akan terbunuh oleh ras apa pun di tiga alam. Pantas saja Brahma begitu murah hati. Ternyata ia menyimpan dengan rapi rahasia kematian saya, yakni seorang avatar penjelmaan Wisnu.”

”Tak dapat dimungkiri, yang berawal dengan kelahiran pasti berakhir dengan kematian. Akan selalu terbuka jalan menuju pemenuhan hukum itu, apa pun itu. Tapi, bagaimana ceritanya Anda bisa menjadi sosok setengah brahmana dan setengah raksasa?”

”Karena ketidakpedulian ibu saya.”

”Ketidakpedulian akan apa?”

”Ayah saya pernah mengingatkannya bahwa melakukan hubungan badan pada saat yang tidak tepat bisa melahirkan putra yang memiliki sifat raksasa. Tapi ibu saya tidak peduli.”

”Jadi, Anda lahir karena itu?”

”Tak perlu diragukan.”

”Maaf, sebagai brahmana, adakah kebaikan yang pernah Anda lakukan?”

”Anda tahu tentang negeri Alengka, bukan?” Dasamuka balik bertanya.

”Yang saya tahu, itu negeri para raksasa,” jawab Suta.

”Alengka itu negeri paling makmur di planet Bumi. Warganya yang paling miskin pun memiliki kendaraan berlapis emas. Rakyat negeri itu sangat mencintai dan menghormati saya karena saya memerintah dengan adil dan bijaksana.”

”Tapi menculik Dewi Sita itu sangat tidak bijaksana.”

”Saya maklum akan penilaian Anda. Dipojokkan dan didiskreditkan secara permanen sudah jadi risiko orang kalah. O ya, bukankah sudah saya katakan tadi, saya ingin menyelamatkan Sita?”

”Menyelamatkan dari apa?”

”Ketidakadilan.”

”Saya tidak menangkap maksud Anda.”

”Sita mendapat perlakuan tidak adil sejak jadi istri Rama.”

”Maksud Anda, Sita kehilangan hak untuk jadi permaisuri di Ayodya?”

”Betul. Dan yang paling menyakitkan, Rama tidak memperlakukan Sita sebagaimana mestinya setelah ia berhasil menyingkirkan saya. Ia bahkan minta Sita membuktikan kesuciannya dengan membakar diri. Adakah perilaku yang lebih biadab dari itu?”

”Rama melakukan itu untuk menghormati aspirasi rakyatnya.”

”Itu bukan aspirasi rakyat tapi intrik politik. Rama tahu betul itu tapi ia memilih mengorbankan Sita daripada menanggung risiko kehilangan takhta lagi.”

”Tuduhan Anda sangat keji,” protes Suta.

”Yang saya katakan sesuai dengan fakta,” Dasamuka memberi alasan.

”Bagaimana Anda bisa tahu?”

”Jangan lupa, saya Dasamuka. Saya memang tak punya tubuh lagi tapi kesadaran saya masih utuh. Ada satu hal lagi yang saya ingin Anda ketahui. Untuk menunjukkan rasa simpati, saya mengunjungi Sita di tempat pengasingannya selepas ia membuktikan kesuciannya.”

”Di pertapaan Walmiki?”

”Tentu. Saya sempat membawanya jalan-jalan untuk sekadar menghiburnya.”

”Sulit saya bayangkan bagaimana Anda bisa melakukannya,” tanggap Suta skeptis.

”Ingat, saya Dasamuka.”

”Terus…?”

Saya sempat membawanya jalan-jalan untuk sekadar menghiburnya.

”Cukup sampai di sini saja,” potong Dasamuka sebelum minta maaf jika kehadirannya telah membuat kenyamanan Suta terganggu.

Suta melongo mendapati kursi di seberang meja tiba-tiba sudah kosong. Ia bimbang, tidak dapat memastikan apakah perbincangannya dengan Dasamuka barusan memang nyata atau hanya halusinasi.

Ketut Sugiartha, tinggal di Beringkit Belayu, Tabanan, Bali. Telah menulis sejumlah buku meliputi kumpulan puisi, kumpulan cerpen, dan novel. Buku terbarunya: kumpulan cerpen Tentang Sepuluh Wanita dan kumpulan puisi Mantra Sekuntum Mawar. Keduanya terbit tahun 2023.

sumber : kompas.id, 12 Okt 2023.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme