Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Sarang Semut oleh Ketut Sugiartha

Posted on Jum, 12 Jul 2024

Ratnakara tertegun. Ia tidak menyangka istrinya akan mengucapkan kata-kata yang membuatnya mendadak merasa kehilangan segala. Ia berdiri mematung di atas kedua kakinya yang seakan tertancap di tanah. Lidahnya beku, tak mampu mengeja sepatah kata pun.

”Bagaimana mungkin aku dan anak-anak ikut menanggung dosa yang kaulakukan? Menghidupi keluarga adalah tanggung jawabmu. Aku tidak pernah minta kau melakukan dosa untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga kita,” ucapan istrinya itu seakan menyihirnya.

Sebagai seorang pemburu merangkap perampok, menjarah barang orang yang lewat di jalan setapak di tengah hutan, ia lebih sering membawa pulang hasil jarahan daripada hasil buruan untuk menafkahi keluarganya. Ia sangat terampil dalam hal menjarah karena pekerjaan itu sudah ia warisi sejak kecil dari ayahnya. Namun, kata-kata istrinya membanting harga dirinya, menyadarkannya bahwa sesungguhnya ia bukan siapa-siapa.

Seraya menyesali diri telah melakukan pekerjaan sia-sia sepanjang hidup, ia berusaha menyembunyikan perih hatinya dengan membalikkan badan dan bergegas kembali ke dalam hutan.

Bagaimana mungkin aku dan anak-anak ikut menanggung dosa yang kaulakukan? Menghidupi keluarga adalah tanggung jawabmu. Aku tidak pernah minta kau melakukan dosa untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga kita.

”Mengapa baru kali ini aku ketemu orang yang begitu cerdas?” gumamnya heran dan terus melangkah menemui kembali laki-laki yang ia ikat pada sebatang pohon. ”Ia pasti bukan orang biasa. Tak sedikit pun ia menunjukkan rasa takut,” lanjutnya, mempercepat langkah agar segera bisa mengusut siapakah sebenarnya laki-laki aneh itu.

Berkelebat lagi dalam layar pikirannya betapa tenangnya sikap laki-laki itu ketika ia menghadang dengan golok di tangan sambil melontarkan ancaman, ”Serahkan semua yang kaubawa. Jika tidak, kematian siap menjemputmu!”

”Tenang, Nak. Mengapa kau mengancamku seperti itu? Aku tidak pernah berbuat tak senonoh kepadamu.”

”Aku membutuhkan barangmu untuk menghidupi istri dan anak-anakku.”

”Kau menghidupi istri dan anak-anakmu dengan cara seperti ini? Apa mereka tahu dan bersedia ikut menanggung dosamu?”

”Tentu saja. Mereka hidup dari hasil jerih payahku.”

”Tidak, Nak. Mereka tidak akan ikut menanggung dosamu. Jika tidak percaya, pulanglah dan tanyakan kepada mereka.”

Ratnakara curiga laki-laki itu sedang berusaha mengakalinya agar bisa melarikan diri.

”Jangan coba-coba menipu. Kalau itu sampai kaulakukan, aku tak segan membunuhmu dengan cara yang lebih menyakitkan.”

”Kalau kau tidak percaya, ikat saja aku pada sebatang pohon. Aku akan menunggumu kembali membawa jawaban untuk pertanyaanku.”

Ratnakara tidak habis pikir. Baru kali ini ada orang yang sanggup membuat pikiran dan perasaannya seakan diaduk-aduk. Ia tidak mengerti bagaimana ia bisa begitu saja memenuhi permintaan laki-laki itu. Dan, ia hampir tidak percaya ketika melihat orang itu tersenyum menyambut kedatangannya kembali.

”Mengapa tersenyum?” ia penasaran dan melepaskan dengan cepat tali yang mengikat tubuh laki-laki itu.

”Aku sudah tahu jawaban yang kaubawa.”

Ratnakara memandang laki-laki di hadapannya dari ujung rambut sampai ujung kaki, ingin sekali membuktikan praduganya bahwa laki-laki itu bukanlah orang sembarangan.

”Siapa sebenarnya Tuan?” Ratnakara hampir tak percaya mendengar suaranya sendiri yang tiba-tiba berubah sopan.

”Aku Narada.”

”Brahmaresi Narada?”

”Benar.”

Ratnakara tak dapat lagi menahan tangisnya. Ia tiba-tiba berlutut dan mencium kaki orang yang hendak dirampoknya itu dan mengeluh, ”Betapa bodohnya aku. Kukira Batara hanya ada dalam dongeng.”

”Sekarang kau melihatku dengan matamu sendiri. Kau bertemu denganku pada saat yang tepat.”

”Apa maksud Batara?”

”Mulai saat ini, kau tidak akan merampok lagi.”

”Apa yang akan Batara lakukan padaku?”

Narada tersenyum. ”Jangan khawatir. Aku datang untuk mengingatkan bahwa sudah waktunya bagimu menanggalkan beban dosa yang kausandang.”

”Tapi aku seorang perampok. Darah yang mengalir di tubuhku darah penjarah.”

”Tidak. Darah yang mengalir di tubuhmu darah orang bijak.”

”Bagaimana bisa begitu?”

”Kau keturunan Praceta. Orang yang menjadikanmu perampok adalah ayah angkatmu. Bertahun-tahun yang lalu ia menemukanmu tersesat di hutan. Ia memungutmu lalu membesarkanmu dengan caranya.”

”Bagaimana Batara bisa tahu?”

Narada kembali tersenyum. ”Aku pelanglang jagat. Seperti kataku tadi, aku datang untuk mengingatkan bahwa sudah waktunya bagimu menanggalkan beban dosa yang kausandang.”

”Caranya?”

”Ada satu mantra yang akan menolongmu.”

”Mantra?” Ratnakara tercekat membayangkan betapa jauh jarak yang memisahkan dirinya dengan sesuatu yang barusan diucapkan oleh laki-laki di hadapannya.

”Jangan khawatir, sesungguhnya ini hanya sepotong nama: Rama. Kau hanya perlu mengucapkannya berulang kali, setiap saat, sampai kaudapati dirimu terlahir kembali.”

Ketika Ratnakara ingin bertanya lagi, tak ada seorang pun di hadapannya. Brahmaresi Narada raib entah ke mana. Meski masih penasaran, ia bersyukur karena yakin tidak sembarang orang bisa mendapat anugerah penampakan seorang maharesi dengan petunjuk yang sangat berarti pula.

Sejak saat itu ia memutuskan untuk melupakan semua kecuali nama yang barusan diberikan. Pada mulanya ia mengalami kesulitan. Melafalkan mantra berulang-ulang sungguh tidak mudah baginya. Namun, ia berusaha membulatkan tekad agar dapat melakukannya.

Untuk itu ia memilih tempat di bawah sebatang pohon rindang di dekatnya. Di sana ia duduk bersila, berjapa dalam hati dengan kedua mata terpejam.

Berselang beberapa lama ia tidak lagi merasakan dirinya berada di bawah sebatang pohon di tengah hutan. Duduk hening sedemikian rupa ia tampak membeku seperti batu sehingga semut-semut leluasa menggerayangi kulitnya, hilir mudik membuat sarang di situ hingga lambat laun menutupi seluruh tubuhnya. Dari waktu ke waktu sarang semut itu semakin tebal saja tetapi ia tidak pernah menyadari. Ia tenggelam begitu dalam ke dalam laku namasmarana, berulang-ulang mengeja sebuah nama.

Suatu hari muncul bola cahaya putih kecil berpendar di hadapannya. Perlahan cahaya itu bergerak mendekat lalu masuk ke titik di antara kedua alis matanya. Setelah membesar memenuhi kepalanya, cahaya itu bergerak turun, merambat pelan di sepanjang tulang punggungnya dan menyebar ke seluruh0 bagian tubuhnya sebelum akhirnya membentuk lingkaran serupa elip mengelilingi tubuhnya.

Kebahagiaan tak terhingga memenuhi hatinya manakala seperti mimpi memperoleh penampakan sosok laki-laki cemerlang dan rupawan. Sosok itu sedang berbaring di atas permukaan air sambil menopang kepalanya dengan sebelah tangan. Narayana? bisik hatinya.

Sosok itu tersenyum ke arahnya dan dengan cara yang tidak mudah dijelaskan menunjukkan kepadanya leluhur yang selama ini tidak ia ketahui. Hal itu membuatnya semakin percaya akan ucapan Brahmaresi Narada bahwa ia keturunan Praceta, orang bijak yang teguh hati dan tidak mengindahkan urusan duniawi.

Peristiwa menakjubkan itu serta-merta membangkitkan kesadarannya bahwa ia tidak ditakdirkan untuk menjadi perampok. Maka ia bangkit dan menghancurkan sarang semut yang tak ubahnya kepompong menyelubungi tubuhnya. Karena peristiwa itulah kemudian ia dikenal sebagai si sarang semut: Walmiki.

Memilih hidup sebagai seorang pertapa, setiap pagi ia pergi menyucikan diri ke Sungai Gangga sambil menenteng sebuah kendi kecil. Suatu hari ketika melintas di jalan setapak di antara rimbun pepohonan, tiba-tiba ia mendengar jeritan seekor burung. Saat berusaha mencari tahu apa yang sedang terjadi, matanya tertumbuk pada pemandangan menusuk hati tak jauh di depannya. Seekor burung sedang terbang rendah, berputar-putar mengelilingi seekor burung lain yang tergeletak di atas rumput. Dari gelagatnya ia dapat memastikan bahwa burung yang tergeletak mati itu adalah pasangan burung yang sedang terbang berputar-putar.

Wahai pemburu yang malang, karena kau telah memisahkan pasangan yang saling mencinta, maka hidupmu akan diliputi kegelapan.

Kala ia mengedarkan pandangan, seorang pemburu dengan sebuah busur di tangan tiba-tiba muncul dari balik semak. Merasa sedih bercampur marah, ia tidak dapat menahan diri lalu berucap, ”Wahai pemburu yang malang karena kau telah memisahkan pasangan yang saling mencinta, maka hidupmu akan diliputi kegelapan.”

Walmiki heran mendengar kata-kata yang terlontar dari bibirnya. Dalam hati ia bertanya, ”Bagaimana aku bisa mengucapkan kalimat yang demikian puitis? Selama ini, kata-kata yang meluncur dari mulutku tak lain dari umpatan kotor seorang perampok yang kejam.”

Saat menyadari dirinya telah terlahir sebagai manusia baru, ia merasa ditakdirkan untuk menekuni kegiatan sebagai pujangga sepanjang sisa usianya, sampai kemudian tercipta dari tangannya sebuah karya besar: Ramayana.

_______

Ketut Sugiartha tinggal di Tabanan, Bali. Menulis esai, puisi, cerpen, dan novel. Karya tulisnya sudah tersebar di berbagai media cetak dan daring. Telah menerbitkan 15 buku meliputi kumpulan cernak, kumpulan puisi, kumpulan cerpen dan novel.

sumber : kompas.id, 12 Jul 2024.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme