Cerpen : Zarkasyih, O Zarkasyih oleh Benny Arnas

Di siang yang basah, kami berjalan ke simpang tiga. Ayah ke barat. Ibu ke tenggara. Ingatan baru merangkak. Kenangan belum berjalan. Tapi, aku masih tiga tahun. Belum mengerti kasih sayang. Belum tahu apa itu kenangan. Belum tahu ngerinya perceraian. Kata Kakek, belum saatnya aku berkenalan dengan kesedihan, dipeluk perpisahan, apalagi dibunuh kebencian. Itu juga yang … Baca Selengkapnya

Cerpen : Musim Semi di Kisufim Road oleh Benny Arnas

Di bawah kepak burung-burung nasar yang lalu-lalang di angkasa, Fillia dan Abram beradu pandang pada sebuah senja di halte 21 di tepi Kisufim Road, jalan raya yang memanjang dari perbatasan Gaza hingga lembah-lembah subur di Jerusalem. Gadis 25 tahun berambut pirang sebahu itu meneguk liur, sementara pemuda sebayanya dengan cambang tanpa janggut itu menghela napas … Baca Selengkapnya

Cerpen : Batu Belah Batu Betangkup oleh Benny Arnas

Batu Belah Batu Betangkup Tangkuplah kaki aku … Batu Belah Batu Betangkup Tangkuplah tangan aku … Batu Belah Batu Betangkup Tangkuplah badan aku … Batu Belah Batu Betangkup Tangkuplah kepala aku … BEGITULAH nyanyian yang dirapal oleh si lemah iman yang sedang putus asa di hadapan batu raksasa di tengah rimba di hari-hari sial jelang … Baca Selengkapnya

Cerpen : Ayam Putih Terbang Siang Tak Pulang-Pulang oleh Benny Arnas

Lalu ia, laki-laki 38 tahun bernama Jam itu, naik ke atas panggung rendah tempat para ustad, pak lurah, ketua RT, dan tokoh masyarakat Kelurahan Moneng Sepati duduk bersila mengisi bagian tepinya. Seperti sudah tahu –dan juga sudah disiapkan oleh penyelenggara, Jam duduk di tengah-tengah sehingga ia bukan hanya menjadi pusat perhatian mereka yang berada di … Baca Selengkapnya

Cerpen : Tentang Perempuan Tua dari Kampung Bukit Batu* oleh Benny Arnas

Mak Atut sudah menghitung. Setengah jam setelah setang kereta untanya putar balik ke pasar kecamatan ia akan menepi di sebuah langgar di perbatasan Bukit Batu dan Marilang. Ia tak tahu apakah ada telekung di langgar yang ia lihat sekilas dalam perjalanan pulang tadi, sebagaimana ia ragu apakah langgar itu masih digunakan atau tidak. — DI … Baca Selengkapnya

Cerpen : O oleh Benny Arnas

Menghabiskan 20 tahun untuk teater di Pontianak, O belajar banyak. Kesenian yang digadang-gadang kuasa melembutkan hati dan memperhalus budi pekerti hanyalah dongeng. Baru ia sadari kalau selama ini pentas-pentas yang dulunya menyalakan kebanggaan tak terlukiskan itu tak ubahnya panggung orkes atau organ tunggal dengan biduan yang melenggak-lenggok di atasnya. Begitu pun dengan teater, tak terkecuali … Baca Selengkapnya

Cerpen : Blijung

“SUDAH kubilang berkali-kali, Sumi,” kata Sadun kepada adik perempuannya yang tersedu sedan di kaki pintu rumah kayunya. “Tak de faedah mengirim anak kite ke luar,” suaranya meninggi. “Batas SMP jak sekoleh. Kalau tak tertahankan hasratnye, SMA jak di Ketapang atau Sukadane. Eh, ini malah kaukuliahkan Blijung ke Ponti. Ape tak gila? Begini, kan, jadinye? Alih-alih membangun Karimate, kabar pun tak lagi ade! Sekarang … ada kabar listrik … Baca Selengkapnya

Cerpen : Naraščajoča oleh Benny Arnas

Aku tahu Omar tersinggung dengan kata-kata Kiai yang beredar di kalangan pesantren hingga akhirnya sampai ke telinga kami. Dan aku juga tahu kalau putra semata wayangku itu pun tak bisa berbuat apa-apa. Sebab, kalaupun ayah tirinya memang mengatakan itu, Omar, pun ibunya ini, bisa berbuat apa? — BENAR Mak memegang buku tabungan itu?” ”Bank Slovenia?” … Baca Selengkapnya

Cerpen : Lebaran Haji Neknang oleh Benny Arnas

”Pokoknya sebelum Idul Adha Juli nanti Ayah pasti ngajak Neknang jalan-jalan!” Pandanganku tak beralih dari laporan residensi menulisku di Pakistan di layar laptop. ”Potong telinga Ayah kalau enggak jadi lagii!” suaraku meninggi ketika perempuan 37 tahun itu bilang  kalau aku sudah mengatakan hal yang sama sejak kepulanganku dari Eropa Timur, Mei dua tahun lalu. Tentu … Baca Selengkapnya

Cerpen : Cahaya Akan Mengambang di Hunza oleh Benny Arnas

BELAKANGAN, beredar kabar kalau pada dua pekan sebelum Idul Adha cahaya mahaindah jatuh di atas istananya. Beberapa imam masjid yang tinggal di sekitar istana mengatakan cahaya itu pecah menjadi kembang api tepat di atap kamar laki-laki paro baya itu. Dammahum menyangkalnya. Kepada para penghuni istana, ia meminta mereka mengabaikan kabar-kabari itu. Kepada para imam dan … Baca Selengkapnya