Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Zarkasyih, O Zarkasyih oleh Benny Arnas

Posted on Sab, 01 Feb 2025

Di siang yang basah, kami berjalan ke simpang tiga. Ayah ke barat. Ibu ke tenggara. Ingatan baru merangkak. Kenangan belum berjalan. Tapi, aku masih tiga tahun. Belum mengerti kasih sayang. Belum tahu apa itu kenangan. Belum tahu ngerinya perceraian.

Kata Kakek, belum saatnya aku berkenalan dengan kesedihan, dipeluk perpisahan, apalagi dibunuh kebencian. Itu juga yang ia katakan ketika aku menangis di hari kematian Nenek. Di Rupit, laki-laki 80 tahun itu merawatku seperti menyirami bumi dengan dendam pada negara yang dibawa mati. Ketika beranjak remaja, aku mulai mengerti. Baginya, label veteran, janji tunjangan pejuang, hadiah umrah, dan bingkisan sarung murahan adalah satire rutin 17 Agustusan. Dia malah bersyukur tidak diakui sebagai pejuang kalau keberadaannya hanya untuk seremonialitas itu. ’’Urus dirimu sendiri, kejar mimpimu. Persetan dengan orang lain!”

’’Bagaimana dengan Ayah dan Ibu?” Aku tahu, hubungan Kakek dengan mereka tidak baik-baik saja.

’’Keluarga adalah matahari, Kas.” Sejujurnya, aku terkejut dengan jawaban itu. ’’Sinarnya menjadikanmu ada sehingga membelakanginya akan membuatmu kelihatan bodoh.” Aku merasakan penyesalan dalam kata-katanya.

Pesan itulah yang kupegang ketika enam bulan setelah kepindahanku ke Jakarta, Ibu menelepon dari Rupit. ’’Bagaimanapun, Rafin dan Amdit adik-adikmu,” ujarnya di tengah percakapan, ’’Jadi, tampunglah sementara mereka belum dapat kerja. Suruh kerja apa saja di rumah makanmu. Mereka bukan anak muda yang pemalas.” Meski diutarakan dengan tenang, kata-kata itu mengobrak-abrik ketenanganku.

”Ruko –termasuk rumah makan– ini bukan milik Abang seorang,” kataku pada Rafin dan Amdit setelah menunjukkan kamar mereka di lantai dua. Aku kemudian menceritakan sekilas tentang Bita, koki muda sekaligus rekan binisku, yang tinggal satu kilometer dari rumah makan. ”Jadi, kalau kalian luang, turunlah,” lanjutku hati-hati. Aku tak ingin terdengar memerintah. ”Bantu-bantulah rumah makan.”

Alhamdulillah, mereka bisa menempatkan diri dengan baik. Mereka tak segan mencuci piring kalau rumah makan sedang ramai atau mengepel lantai kalau di luar hujan. Bita sangat menyukai mereka dan itu sungguh membuatku tenang sekaligus gembira. Mulanya, aku khawatir gadis 25 tahun itu menentang keputusanku menampung mereka.

Dua bulan kemudian, giliran Ayah yang menelepon dari kampung. ”Almarhum kakekmu memberikan semua uang penjualan kebun karetnya kepadamu, bukan hanya untuk menampung adik-adik tiri dari ibumu,” protesnya. ”Rinda dan Nai juga adik-adikmu.” Aku mau bicara ketika ia kembali mencerocos. ”Kalau ibumu tak menikah duluan, belum tentu Ayah kawin, belum tentu …”

’’Kirimlah mereka,” potongku to the point.

’’Dengar, Syih!” Ayah mulai berteriak. ’’Ayah dan Ibu memang sudah berpisah, tapi kami bisa bersatu demi adik-adikmu!” Ia belum berubah, masih suka mengancam. Oh, keluarga adalah matahari …

***

Rinda dan Nai cekatan di dapur. Mereka ternyata bisa menjadi asisten yang baik bagi Bita. Aku lega, meski selalu mencemaskan kalau-kalau mereka melakukan kesalahan. Namun, hal yang paling menggembirakan adalah: seakan berbagi tugas, Rafin mengawal Rinda, sebagaimana Amdit yang menjelma bodyguard Nai, ketika menyebarkan lamaran ke mana-mana. Ah, aku bangga sekali dengan sikap tanggung jawab yang ditunjukkan kedua adik laki-lakiku itu.

’’Ta, aku minta maaf,” kataku suatu malam.

Bita tersenyum. Lalu menggeleng. ’’I am okay, Syih,” katanya tenang. ’’Bagaimana lamaran adik-adik?” tanyanya kemudian. Aku tak menangkap basa-basi di wajahnya. ’’Ada yang dapat panggilan?”

Aku paham arah pertanyaan itu.

Sejak itu, aku mengalokasikan waktu, tenaga, dan materi –apa saja!– agar keempat adikku mendapatkan pekerjaan. Benar saja, tak sampai setahun, mereka lulus wawancara terakhir. Selama itu pula, semua bagianku dari rumah makan kualihkan untuk kebutuhan mereka –transportasi di Jakarta yang tidak murah, membeli pakaian kerja yang layak, hingga … menyuap bagian personalia yang selalu pura-pura keberatan.

’’Karena tempat kerja kalian sama-sama di Jaksel,” kataku di hari kepindahan mereka dari rumah makan. ’’Abang sudah mencarikan kos yang cukup besar di Jatinegara.”

Mereka diam. Menunggu.

’’Itu bisa menghemat pengeluaran. Dapur kalian cuma satu. Masalah apa pun bisa kalian pecahkan sama-sama. Tentu saja kalian boleh menghubungi Abang kapan saja kalau ada masalah.” Ah, perasaan lega dan kehilangan bersigesek dalam dada.

***

”Kamu memang hebat, Syih,” puji Bita keesokan harinya. ”Kalau jadi kamu, sudah lama aku ambruk.”

Aku cuma tersenyum.

’’Besok, rumah makan ini tepat dua tahun,” gadis berambut sebahu itu menatapku, dalam.

Aku merasa bersalah. Aku tahu maksudnya.

’’Masih ingat janjimu?”

’’Minggu depan, Ta.”

’’Membawa ayah-ibumu?” suaranya lebih terdengar menagih daripada bertanya.

Aku diam.

’’Ah, sudahlah,” Bita menganulir pertanyaannya sendiri. ’’Aku sudah menerangkan segalanya pada Papa dan Mama.”

Aku memandang Bita, takjub.

’’Mereka sangat bangga padamu. Mereka sangat ingin bertemu.”

Aku ingin tersenyum ketika ponsel Bita berdering. ”Mama,” bisiknya padaku seraya menutup speaker dengan telapak tangannya.

Aku gegas mencangking ponselnya. ”Minggu depan Zarkasyih akan ke Surabaya, Bu. Mau sungkem. Sekalian minta izin ngambil anak Ibu.” Meski belum pernah bertemu ibunya Bita, tak sedikit pun aku singkuh berbicara dengannya.

***

Begitu memasuki kompleks perumahan elite, bendera merah berukuran raksasa tampak berkibar-kibar di kejauhan. Aku tersenyum. Aku tiba-tiba teringat Kakek yang sangat Sukarnois. Ingatanku berlari kencang ke suatu malam di tahun 1999.

”Kamu tahu, Kas, tahun 1980-an itu.” Kakek kebingungan menghadapi api yang mulai menjalari jiwanya. ”Siapa yang duduk di kursi empuk DPR di bawah bendera beringin …” Aku tak pernah melihat Kakek seterbakar malam itu. ”… yang ikut-ikutan menuduh kalau banyak pemberontak bersarang di Partai Banteng?!” Tentu saja aku tak tahu. Aku lahir tahun 1980 dan anak SD mana peduli politik. ”Salah satunya adalah Yang Terhormat Ahmad Basri Jailani. ” Oh, itu adalah nama ayah dari ibuku. Kakekku juga. Kakek yang kata Ibu pernah menggendongku beberapa bulan sebelum perceraian itu. ”Saking lihainya si Basri menjilat telapak kaki Suharto, kata-katanya –yang disiarkan berulang kali di RRI dan beredar bebas di koran-koran– diimani pemerintah!” Aku ingin sekali menghentikan Kakek, tapi aku juga ingin sekali mendengarkan semuanya. Oh. ”Maka, konsekuensi bualannya adalah hanya veteran pendukung Orde Baru yang dianggap pejuang, yang memakai batik kuning dengan cantolan bros beringin kuning di dekat kantong bajunya, yang memakai kopiah kuning, atau yang berdiri di atas tongkat yang kepalanya diberi aksen kuningan!” Bibir Kakek bergetar. Kursi yang didudukinya ikutan bergetar. ”Katakan pada Kakek, Kas: sejak kapan peperangan bisa menyortir jiwa rezim yang belum lahir? Sejak kapan kanopi beringin berwarna taik?” Kakek ternyata sangat rapuh. ”Sialnya…” Kakek kini mengacak-acak rambut putihnya yang kelimis. ”… Kakek baru menyadari semuanya setelah ijab kabul itu diteriaki sah oleh para saksi!” Ingin sekali aku memeluk Kakek.

”Syih!” Bita memecah lamunanku. ”Kita sudah sampai nih!”

Aku menoleh ke luar tanpa menurunkan kaca mobil. Sebuah rumah dengan dinding yang dilapisi batu alam berdiri megah. Sebuah tiang bendera yang terbuat dari beton menjulang tinggi di sudut pekarangannya. Aku mendongak ke pucuknya seraya menurunkan kaca mobil. Oh, bagaimana aku bisa salah lihat? Aku mengucek-ngucek mata. Kibaran bendera kuning itu membuat kepalaku menyut.

”Syih?” Bita memanggil. Di muka pagar, ia diapit pasangan suami-istri paro baya yang tersenyum lebar.

”Ada masalah apa, Syih?” tanya Bita ketika aku berjalan keluar. ”Di hari penting ini kamu tiba-tiba berubah?”

Aku diam, tak tahu harus mulai dari mana.

”Untung Papa ada rapat mendadak sehingga acara kita dipercepat …”

Aku ingin menyela, tapi urung.

” … Sehingga keanehan sikapmu tidak terendus.”

Di pesawat tadi, aku memang membaca berita perihal kunjungan ketua DPR Pusat –yang berasal dari partai ayahnya Bita– ke Surabaya hari ini.

Ponselku berdering.

Nai meraung di seberang. Suaranya tak jelas. Beberapa detik kemudian, Rinda yang bicara. ”Abang di mana?” tanyanya panik. Sebagaimana Nai, gadis itu tampaknya barusan menangis hebat.

”Aku harus ke Jakarta, Ta!” kataku usai menutup percakapan.

’’Tapi besok ….?”

’’Nai diperkosa, Ta.”

Bita melongo.

Aku lekas menghadang taksi yang tiba-tiba melintas.

”Tapi …’’

Aku menatapnya, mendesaknya menuntaskan kalimat.

”Bukankah Rafin bisa mengurusinya dulu, Syih, atau …”

”Hei, Ta!” teriakku hingga orang-orang di beranda melihat ke arah kami. ”Justru Rafin yang memerkosa Nai!” Aku membuka pintu taksi. ”Bandara, Pak,” kataku begitu di dalam.

***

Aku mengambil penerbangan terakhir. Entah, bagaimana aku harus menghadapi kehancuran ini. Maafkan aku, Ta. Aku tak bisa melakukan hal menggembirakan dalam situasi seperti ini, apalagi menikah dengan putri pejabat dari parpol yang telah melecehkan Kakek, laki-laki yang membesarkanku dengan ketulusan melebihi apa pun.

Semendarat di Jakarta, puluhan pangilan tak terjawab dari Bita terpampang di layar. Beberapa menit kemudian, Ayah menelepon. Lalu Ibu. Lalu Ayah. Lalu Ibu lagi. Aku membayangkan macam-macam makian yang akan tumpah pada seseorang yang gagal menjaga anak-anak mereka. Ingin sekali aku mendengarkan jawaban lain dari pertanyaan ”Mengapa kalian bisa bersatu demi adik-adik tiriku, tapi tidak untukku?!”

”Karena melihatmu membuat kami seperti melihat kakekmu,” jawab Ayah ketika hal yang sama kutanyakan sebulan setelah kepergian Kakek alias beberapa hari sebelum hari wisudaku. ’’Laki-laki itu telah membuang putranya ini dari trah keluarga, Syih!” lanjut Ayah dengan kegeraman yang mati-matian diredam. ’’Persis dengan yang Ibu alami!” Perempuan 47 tahun itu menangis. ’’Adakah kekayaan keluarga besar Abdul Basir Jailani membekas padaku sedikit pun?”

Linangan air mata Ibu membuat jendela taksi yang kutumpangi berkabut. Aku mengerjap-ngerjapkan mata. Di luar hujan. Ingatanku melayang pada simpang tiga Rupit. ’’Keluarga memang matahari, Kek,” batinku basah, ’’Tapi … ia tak menyala di malam hari.” (*)

—

Seoul, 2024

BENNY ARNAS : lahir dan berdikari d(ar)i Lubuklinggau. Karya-karyanya terarsip di www.bennyaras.com.

sumber : JAWAPOS, Sabtu, 1 Februari 2025

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme