Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : O oleh Benny Arnas

Posted on Ming, 17 Apr 2022

Menghabiskan 20 tahun untuk teater di Pontianak, O belajar banyak. Kesenian yang digadang-gadang kuasa melembutkan hati dan memperhalus budi pekerti hanyalah dongeng. Baru ia sadari kalau selama ini pentas-pentas yang dulunya menyalakan kebanggaan tak terlukiskan itu tak ubahnya panggung orkes atau organ tunggal dengan biduan yang melenggak-lenggok di atasnya. Begitu pun dengan teater, tak terkecuali di Pontianak. Ia hanyalah penghibur dengan nama yang ampuh membikinnya bangga: aktor.

Sesekali, ia ditahbiskan sebagai sutradara, mengurus art atau properti, penulis naskah, atau manajer panggung. Yang tak pernah ia jabani adalah menjadi produser. Apalagi produser eksekutif. Keduanya hanya untuk mereka yang, konon, memiliki pengaruh, koneksi, cuan banyak, hingga pintar melobi.

Tapi, yaaa, itu baru disadarinya kini. Ketika sakit lever yang dideritanya, membuat aktivitasnya terbatas. Tak ada teman, mitra, atau sponsor yang selama ini menjadi bagian dari karier perteaterannya. Hingga… perjumpaan tak sengaja dengan travel guide 45 tahun yang menunggu kapal cepat ke Sukadana, membuat segalanya menemukan muara.

”Lebih 70 negara kudatangi, tapi aku tidak mendapatkan apa pun selain kesepian,” katanya setelah sebuah perkenalan ala kadarnya di sebuah kedai tak jauh dari Pelabuhan Song Hie.

Setelah pesanan kopi tubruk mereka tiba, Keptan, begitu lelaki itu memperkenalkan diri, bagai mendapatkan energi bercerita yang melimpah.

”Keluargaku berantakan. Kesenanganku hanyalah sensasi baru tiap kali paspor distempel petugas imigrasi negara yang baru saja kukunjungi. Selebihnya, klien adalah raja.”

Penonton adalah raja, lirih O.

”Hari ini, aku kerap memaki diri sendiri. Bagaimana mungkin aku menghabiskan hidup hanya untuk menyenangkan orang lain? Apa bedanya aku dengan biduan saweran atau pemain teater yang umur kebanggaannya berbanding lurus dengan durasi tepuk tangan penonton!”

Deg. O mulanya merasa tersindir, sebelum kemudian pikirannya yang lebih jernih mengatakan kalau ia baru saja mendapat teman. ”Kita senasib,” katanya, yakin dan dalam.

”Jangan-jangan kita sedang membutuhkan hal yang sama.”

O mengerutkan kening. ”Ketenangan?” Ia mencoba menebak. Ia muak dengan istilah klise itu.

Keptan menggeleng. ”Kebergunaan,” katanya yakin.

O terdiam.

”Lima belas tahun itu rasanya aku tak melakukan sesuatu yang berguna, selain menjadi budak klien! Aku sedang membangun ulang sekolah terbukaku di Karimata.”

”Jadi,” O memperhatikan ransel Keptan yang gemuk. ”Kapan berangkat?” tanyanya, sedikit canggung.

”Sekarang,” ia menunjuk speedboat yang berada di dekat jenjang pelabuhan.

Sungguh O menantikan tawaran.

”Kalau mau ikut, jangan gengsi!” Keptan ternyata membaca isi kepalanya.

***

Di pagi yang merangkak naik, setelah 15 jam di atas kapal motor, mereka menyambangi sebuah rumah kayu yang cukup luas di Dusun Tanjung Ru. Rumah kayu dan halamannya itu pula yang Keptan jadikan sekolah terbuka.

”Rumah ini memang jauh dari permukiman. Tiga kilometer. Tapi… sekolah memang harus bebas dari racun. Apalagi masyarakat yang di kepalanya hanya cumi, cumi, dan cumi!”

Darinya, O jadi tahu kalau cumi Karimata dihargai hingga 40.000 per kilogram oleh para pengepul dari Belitung.

Kini, O memandang laut lepas yang pantainya hanya berjarak 50 meter dari tangga rumah. ”Aku melupakan sarjana pertanianku demi teater,” katanya begitu Keptan menyodorkan segelas kopi panas. ”O ya, sepanjang perjalanan dari pelabuhan tadi, baik di Dusun Padang ataupun Dusun Tanjung Ru, aku tidak menemukan pohon buah atau tanaman sayur. Apakah ….”

”Kalau kau merasa buah-buahan dan sayuran itu penting, tanamlah,” potong Keptan. ”Jangan menyalahkan keadaan, apalagi menghardik orang-orang sini.”

O ingin mengatakan kalau ia tidak bermaksud menyinggung tanah kelahiran Keptan, tapi….

”Sudah 4 bulan aku di sini dan yang pertama kali kulakukan adalah hal yang kularang itu terjadi padamu saat ini: merutuki kebiasaan orang sini. Tapi, apa guna? Tidak ada. Aku akhirnya menjadikan rumahku sebagai sekolah. Anak-anak datang. Kukasih baju, tas, buku, pena, dan buku gambar. Tapi, aku tak bisa selalu melakukannya. Tabunganku menipis. Warga yang terbiasa disuapi pun jenuh. Sekolahku mulai sepi. Banyak omongan miring tentang aktivitasku, tapi… yaaa aku masa bodoh. Sekarang… aku sedang menata ulang banyak hal. Kau lihat itu, O?” Keptan menunjuk bangunan bercat putih yang lebih bagus daripada rumah kayu. ”Itu mushala. Kubangun sebulan lalu. Dan itu!” ia menunjuk sebuah saung besar yang menjorok ke pantai. ”Bakal perpustakaanku.”

O merasa ditampar-tampar. Ia ingat ia masih punya tabungan 1.875.000. Keesokan harinya, ia meminjam sepeda motor butut Keptan menuju menara telekomunikasi. Ia membuka aplikasi lapak daring dan menyelesaikan apa yang harus segera dibereskan.

Sembari menunggu pesanannya tiba, ia menawarkan kelas drama dan puisi ke beberapa remaja dan anak-anak. Tak banyak; dua puluh anak-anak dan sembilan remaja bergabung. Kepada mereka, ia sampaikan bahwa ia mewakafkan dirinya untuk Karimata. Jadi, apa saja yang ia lakukan, tak perlu dibayar. ”Kalau bisa, Abang akan memberi apa saja yang Abang bisa dan punya,” katanya sebelum kemudian kecanggungan itu menimpanya. Bah, buat apa aku mengutarakan itu, batinnya. Kepada anak-anak bau kencur pula, sesalnya.

Dan benar saja. Keesokan harinya, yang datang hanya anak-anak. ”Mereka nyumi, Om,” lapor anak-anak tentang absennya para remaja. ”Kak Rina dan Umai dilarang bapaknya setelah mereka latihan teriak-teriak di kamar sepulang dari sini kemarin,” lapor seorang anak, tetangga kedua remaja putri itu. ”Kata Bapak, Om O enggak ada kerjaan. Makanya ngajar orang-orang teriak,” entah laporan siapa lagi yang membikin O sakit kepala. ”Sama kayak Keptan yang buat sekolah asal-asalan.”

”Tapi, kami senang main-main di sini!” teriak yang lain.

”Keptan sering kasih hadiah!” seru yang lain lagi.

Dua pekan kemudian, molor tiga hari dari prediksinya, bibit buah dan sayuran dibawa awak kapal motor dari Sukadana. Setelah memberinya uang rokok, tanpa pikir panjang, dari pagi hingga Magrib, lahan pasir yang sudah ia gemburkan sepekan belakangan ditanami bibit buah dan benih sayuran.

Kabar aktivitas O itu pun menyebar ke mana-mana. ”Pulau ini dilingkari laut, O,” kata Keptan. ”Jadi sekuat apa pun kita menepis omongan orang, ombak akan mengembalikannya ke Karimata,” lalu ia tertawa. ”Jadi, terima saja kenyataan kalau Keptan punya teman orang gila bernama O karena nekat bertani di tepi pantai. Tak ada aktor di sini. Tak ada puisi di sini, O. Hanya cumi dan cumi!”

O tahu, Keptan sedang membakarnya. Ia tak punya cara lain selain… membuktikan!

Sejak itu, pagi hingga siang, O habiskan waktunya untuk menyiram tanaman. Sesekali, ia menyulam tunas yang mati dengan yang baru. Sesekali, ia membuat pupuk dari sisa makanan dan menguburnya di sekitar tanaman. Bakda Zuhur hingga subuh, ia menumpang kapal Blijung, satu-satunya remaja yang memberinya tumpangan nyumi. Mulanya ia melakukannya iseng saja karena Keptan tak pernah memintanya terlalu keras bekerja. ”Kalau semuanya tumbuh dan berbuah, sekolah akan punya model pembelajaran yang menarik,” kata Keptan suatu hari. ”Tentu saja selain menyumpal keraguan dan mulut besar orang-orang dusun! Jadi …” Ia menatap O, ”Urus saja semua ini, ajari saja anak yang mau belajar. Yang malas, tinggalkan. Itu saja bagianmu. Makan-minum aku yang urus!”

Tapi, O tak enak hati. Keptan terlalu baik. Pun ketika tanaman-tanamannya menunjukkan perkembangan menggembirakan tiga bulan kemudian, ia tetap melaut walaupun musim angin barat sudah datang. Semangka yang buahnya besar-besar, pare dan labu yang sering mereka tumis, kacang panjang yang bahkan sudah bisa mereka kirim ke beberapa warga melalui anak-anak yang kebetulan main ke rumah kayu, cabai dan tomat yang rimbun buah mengalahkan jumlah daun, tetap harus ia tinggal.

”Besok akan ke Pesantren Munzakan tiga hari,” kata Ale seraya membelah semangka di hari yang terik. ”Sepulangnya, aku akan ajak lagi anak-anak ke sekolah kita. Warga juga sudah banyak yang tahu kalau kebunmu sebentar lagi panen, O. Paling, alpukat dan mangga yang tak bisa kita harapkan berbuah dalam tiga bulan.”

”O mau menitipkan sebagian hasil kebun ke sana, Bang,” katanya dengan mata menerawang ke laut lepas. ”Adikku nyantri di sana. Aku tak bisa kasih apa-apa. Tapi… hasil kebun ini aku yakin akan diterima pesantren dengan tangan terbuka. Satu lagi, aku titip uang hasil nyumi juga, Bang. Sudah lama sekali adikku mau punya hape.”

Keptan mengangguk. ”Aku seharian akan berada di Dusun Padang. Ada sejumlah berkas perjalanan yang akan kuurus di kantor desa. Kalau enggak ada halangan, aku akan membawa banyak orang penting Kayong ke Turki tahun ini. Yaaa, aku tak punya pilihan, O. Kita harus cari uang halal untuk membangun sekolah ini.”

Hidup yang layak dihidupi memang hidup yang diuji, Bang, batin O.

”Kau tidak nyumi, kan, siang ini, O? Aku khawatir kebunmu dihajar biawak kalau tak ada yang jaga.”

***

Hampir saja O urung melaut kalau saja Blijung yang sedang butuh banyak uang untuk kuliah di Pontianak tidak memaksanya. ”Aku dah sering kasih Bang O tumpangan. Masa sekali ini aku minta tolong, Bang O perhitungan.” Nyumi memang menggoda. Dapat empat kilogram saja, hampir 200.000 akan masuk kantong. Oleh karena itu, tas pinggang yang menyimpan hasil nyumi yang jumlahnya sungguh menggembirakan itu selalu O bawa. Meski rumah kayu mereka aman, ia merasa lebih tenang dengan menyimpannya di dalam tas pemberian Keptan itu.

Tapi… malam itu jatuh di bulan Desember, waktu terbaik angin barat untuk menggila.

Kapal mereka terbelah. Hampir saja mereka digandeng Izrail ke langit sana kalau orangtua Amir dan rombongan warga yang mengetahui kedatangan badai di lokasi biasa mereka nyumi lekas menyusul begitu badai reda. Amir dan O ditemukan mengapung di atas kayu pecahan kapal dalam keadaan nyaris pingsan.

O siuman ketika Duha tergelincir. Begitu mengetahui ia terbaring di rumah Pak RT Tanjung Ru, O segera minta Keptan yang sedari malam menungguinya agar mengantarnya pulang.

”Sore kemarin rumah kayu kita ramai, O,” kata Keptan ketika sepeda motor mereka meninggalkan permukiman.

”Kenapa?”

”Ibu-ibu Tanjung Ru dan Dusun Padang panen sayuran dan buah.”

Hah? O ingin berteriak, tapi kerongkongannya tercekat.

”Kata mereka, kan kau menanamnya untuk mereka. Semua tahu kalau dua orang gila sebaya telah mewakafkan dirinya untuk pulau. Kata mereka, O baik sekali. Ibu-ibu senang. Mungkin kalau panen lagi, mereka akan datang lagi,” Keptan tertawa terbahak-bahak.

”Kenapa tak Abang larang?”

Aku masih di kantor desa ketika panen raya berlangsung. Aku pulang dan melihat beberapa ibu-ibu sedang memetik kacang panjang yang masih tersisa.

Lalu, batin O, apa arti hardikan—pendatang yang tak tahu diri, orang gila bertani di pantai, atau… pengajar teater yang salah tempat—itu?

”Nanti aku beli saja sayur dan buah di Pontianak, O. Masih segar. Kubilang saja ke Munzalan itu hasil berkebunmu di Karimata,” kata Keptan ketika sepeda motor memasuki halaman rumah kayu. ”Siang ini, aku harus berangkat. Sudah telat sehari karena menungguimu siuman.”

O melompat dari motor ketika, di hadapannya kini, semua sayuran sudah dicabut dan cabai serta tomat gundul semua.

”O, jadikah kau kirim uang buat adikmu?”

O terkesiap. Ia menunduk ke arah perut. Tas pinggang itu masih ada. Lembap dan… kempis. Jarak antardegup jantung O merapat serta-merta. Ia tarik ritsletingnya. Isinya raib sudah.

Tanjung Ru, 26 Oktober 2021–1 Desember 2021.

Benny Arnas menulis 27 buku.

Hartono Wibowo, lahir di Wonogiri, Jawa Tengah. Lulusan ISI Yogyakarta. Aktif mengajar dan menekuni restorasi lukisan sampai sekarang. Salah satu karyanya dikoleksi museum Kepresidenan Balai Kirti Istana Bogor.

sumber : harian Kompas edisi 17 April 2022 di halaman 10 dengan judul “O”.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme