Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Lebaran Haji Neknang oleh Benny Arnas

Posted on Ming, 18 Jul 2021

”Pokoknya sebelum Idul Adha Juli nanti Ayah pasti ngajak Neknang jalan-jalan!” Pandanganku tak beralih dari laporan residensi menulisku di Pakistan di layar laptop. ”Potong telinga Ayah kalau enggak jadi lagii!” suaraku meninggi ketika perempuan 37 tahun itu bilang  kalau aku sudah mengatakan hal yang sama sejak kepulanganku dari Eropa Timur, Mei dua tahun lalu. Tentu saja aku keberatan dipandang sebagai cucu durhaka.

Juni ini, ketika aku bisa membuktikan kata-kataku dan istriku malah diam saja, tentu saja aku kesal.

”Ayo, Nang!” aku membuka  pintu mobil setelah memasukkan bekal yang sudah istriku siapkan di bagasi.

Neknang mengangsurkan tongkatnya terlebih dahulu sebelum menjatuhkan pantatnya di samping kemudi.

”Venn minta maaf, Nang,” kataku lima menit setelah mobil melaju, ”karena baru sekarang bisa ngajak jalan-jalan.”

Neknang tidak menjawab. Kulirik sebentar. Wajahnya berseri. Matanya berbinar. Ah, akhirnya ….

”Kemarin-kemarin Venn sempat khawatir, Nang.”

Neknang menoleh.

”Pertama, Venn sibuk nian. Kelas menulis dan kegiatan yayasan sedang padat.”

Dia memandangku, menunggu.

”Walaupun sedang pandemi, beberapa jadwalku malah tidak dialihkan ke virtual.” Ah, aku lupa, virtual pastilah istilah asing di telinga veteran itu. ”Bulan lalu saja Venn baru pulang dari Asia Selatan.”

”Pakistan?” cetus Nang lirih.

”Pakistan baru menutup negaranya untuk orang asing pada 26 Mei.”

”Bukan itu masalahnya, Cung.”

Kalau tidak menyebut nama, Neknang biasa memanggil cucu-cucunya dengan cucung, bahasa Musirawas untuk cucu.

”Kan Nang bisa nitip  …” Ia  sengaja menggantungkan kata-katanya.

Aku ingin menjelaskan, tapi …

”Apakah kamu ke Baltit?”

Aku mengangguk pelan. Laju BRV-ku melambat begitu kami melintasi pasar.

”Kamu ke museum di benteng yang terletak di antara gunung-gunung batu Gilgit itu?”

”Venn minta maaf, Nang.”

”Kamu ini, Cung!” suara Neknang meninggi, meski tidak lantang.

Aku benar-benar merasa bersalah.

”Venn dikejar-kejar deadline, Nang. Nggak kepikiran lagi untuk pamit.”

”Kamu sudah tahu tentang  stempel itu, kan?”

Aku mengutuk kealpaanku. Kisah minor di balik perang antarkompeni itu tak tercatat dalam sejarah: Inggris menurunkan pasukan negara persemakmuran untuk mengusir Belanda dari Sumatera. Tentara-tentara dari Baltit, Pakistan Utara, tampil tangguh menunaikan tugas mereka. Neknang berkenalan dengan salah seorang tentara Pakistan yang entah tersesat, lari, atau mengembara pascaperang. Ketika itu serombongan remaja Musi yang sudah turun bergerilya hendak bertandang ke rumah panggung pesirah untuk memenuhi undangan makan ketupat lebaran gulai kambing yang menjadi hidangan andalan kediaman kepala puak itu tiap Lebaran Kurban. Neknang dan teman-temannya sempat mengira tentara berkulit merah itu adalah kompeni Belanda, sebelum pemuda besar-tinggi itu mengucapkan salam. Karena di antara mereka hanya Neknang yang bisa berbahasa Arab, ialah yang mengurusi tentara itu.

Tentara itu tinggal sepekan di rumah panggung, kata Neknang.  ”Ia meninggalkan ini,” Neknang menunjukkan stempel berbahan besi. Di telapak tanganku, benda berbentuk elips itu tidak mirip stempel, melainkan piring mungil berajah Arab gundul. Selain berat dan dingin di kulit, warna hijau gelap dengan sudut berbintik hitam memberinya kesan misterius. ”Katanya, siapa tahu, stempel itu bisa mempertemukan kami lagi. Surat terakhirnya mengatakan kalau ia sudah menjadi juru kunci museum di Benteng Baltit, tanah kelahirannya yang merupakan bagian Provinsi Gilgit. Tentu saja harapan itu terdengar tidak masuk akal. Tapi, darah remaja membuat Neknang berpikir tidak ada yang tidak mungkin.”

Neknang menceritakan itu sehari setelah kepulanganku dari perjalanan menulis di Slovenia. Anggota legiun veteran itu tentu tahu benar—sekaligus berharap—bahwa sangat mungkin penulis yang  yang sudah mengunjungi belasan negara seperti cucunya ini untuk menginjakkan kaki di Pakistan suatu hari.

Neknang menunjukkan surat-surat si tentara Pakistan. Mereka berkorespondensi dalam bahasa Arab. Tarikh terakhir surat itu adalah 2010, sebelas tahun yang lalu. Sayang sekali aku kesulitan membaca Arab gundul cum tidak mahir bahasa Arab. Oh, kini aku tahu, selain karena Neknang kukuh berkebun sebelum  ayahku memintanya berhenti di usia 85, kebiasaannya membaca dan menulis (termasuk menulis surat-surat ke Pakistan) telah membuat kepikunan kesulitan mencari tempat dalam dirinya.

”Mesik tik Neknang yang kamu pajang di ruang tamu itu jangan dijual ya,” katanya ketika kami memasuki Muara Beliti. ”Walaupun sudah tua dan rusak, kalau dibawa ke tukang reparasi, pasti bagus lagi.”

Ah, orang-orang sekarang ngetik menggunakan komputer atau laptop atau bahkan ponsel, Nang.

”Sudah masuk  Zuhur?” tanyanya tiba-tiba.

”Belum, Nang,” kataku seraya mengoper gigi. ”Tapi ini sudah jam makan siang.” BRV-ku menepi dekat padang rumput dengan pohon-pohon ketapang berkanopi lebar. Tempat ini membuatku déjà vu.

Seturun dari mobil, pandangan Neknang menyapu pemandangan di hadapan. ”Ini seperti Lapangan Merdeka dulu, Venn,” katanya ketika aku membentang tikar.

Oh, déjà vu itu: Lapangan Merdeka.

”Tadi Sika,” aku menyebut nama istriku, ”masak gulai ampai lauk salai, sambal cong, dan lalapan jengkol muda.” Sajian makan siang itu sudah kutata di atas tikar.

Neknang bersila setelah satu tangannya menapak kuat di permukaan tikar demi menahan beban tubuhnya. Aku mengangsurkan sepiring nasi dan mendekatkan rantang gulai ampai ke arahnya. Neknang mengambil sepotong ikan lais asap dengan sendok. Terdengar bunyi sruppp yang membuatku tertawa bahagia. Ah, menghirup kuah gulai ampai pas makan siang, nggak ada lawan!

”Ingat pas kita makan di atas rumput Lapangan Merdeka setelah Neknang memboncengku sekian putaran, Nang?” tanyaku dengan mulut penuh nasi.

”Itulah kenapa Neknang kukuh minta jalan-jalan sebelum meninggal.”

”Neknang jangan ngomong gitu,” aku mengambil jengkol muda. Krenyes! Daging lalapan itu bertemu sambal cong di lidah, lemak nian!

”Kamu, kan, selalu nguso kalau Neknang sudah mengeluarkan L2 Super,” laki-laki kelahiran 1928 itu terkekeh.

Aku menghentikan kunyahan. Sudah lama sekali aku tidak mendengar nguso, kata dalam bahasa Musi yang berarti ”ngotot ingin ikut”. Kenangan masa kecil itu membuka gerbangnya: Neknang mengajakku berjalan-jalan dengan motor kopling lawasnya. Setelah berkeliling Lapangan Merdeka—yang kini sudah menjadi bagian dari halaman Masjid Agung Assalam Lubuk Linggau itu, kami biasanya menepi. Aku akan menemaninya ke tukang sol sepatu di emperan Museum Subkos Garuda atau kantor pos di seberangnya dan membeli koran setelah ia mengepos surat. ”Ada berita apa, Nang?” tanyaku setiap kali dia memegang atau membaca koran. ”Tentang buta huruf lagi, Cung,” jawabnya sambil membuka-buka halaman koran. ”Pemerintah sibuk sekali buang duit untuk program seperti itu,” lanjutnya. ”Apa mereka tidak tahu kalau banyak orang yang pandai membaca justru jadi pengkhianat?”

Tentu saja aku belum bisa menangkap arti kegeramannya kala itu.

”Satu-satunya tuah membaca yang nyata itu yaaa Neknang bisa bertukar kabar dengan rekan pejuang di Pakistan,” katanya suatu hari pada tahun 1991. ”Ayo, kita beli baju barumu.” Aku ingat, itu ia ucapkan beberapa hari sebelum Lebaran Haji.

Aku baru sadar. Tentang Pakistan itu, sudah sejak lama ia bunyikan.

”Kamu melamun?”

Aku mengerjap-ngerjapkan mata. Kulihat piring Neknang sudah bersih dan  mengilap. Gulai ampai di rantangnya tinggal sedikit. Alih-alih melanjutkan makan, aku malah mencuci tangan di kobokan setelah membuang isi piringku ke dalam kresek. Aku mendadak kenyang.

”Kita pulang sekarang,” katanya seraya mengambil tongkat dan berusaha keras untuk berdiri.

”Lho, Nang?” kataku heran. ”Kan jalan-jalanya baru sebentar? Apa nggak sekalian ke dusun kita di Binjai? Atau …”

Neknang melengos. Ia malah membuka pintu mobil.

Karena ia tak kunjung merespons keherananku, aku memutuskan putar balik. Aku tahu, Neknang sangat marah kalau kami tidak menghabiskan makanan di piring sendiri, tapi aku tidak mengira ia akan sekesal  ini.

”Neknang kenapa?” kataku setelah 20 menit mobil melaju. ”Kenangan motoran di Lapangan Merdeka itu sangat berkesan bagi Venn,” kataku bersemangat, ”sampai-sampai Venn terbawa suasana. Venn …”

”Bagi Neknang juga, Cung.”

Kami memasuki perbatasan Lubuk Linggau.

”Tapi … kenapa susah sekali kamu menyediakan waktu buat Neknang? Jangan-jangan, pas Neknang mati nanti, seperti cucuku, Kodim juga nggak mau repot-repot menyelenggarakan upacara terakhir?”

”Nang, jangan …”

”Kalau dulu Nang yang mengajakmu, anggaplah sekarang Nang yang nguso!”

Aku menoleh dengan kening berkerut. ”Tapi, Nang,” kerongkonganku tercekat, ”sekarang kita sudah jalan-jalan, ‘kan?”

”Kamu tidak pernah punya waktu.”

”Padahal janjiku Idul Adha, Nang,” debatku. ”Sekarang aku menepatinya lebih awal!”

”Tidak ada lebaran, tidak ada jalan-jalan …”

Dalam keheranan yang gagal kuterjemahkan, pipiku pedas seperti habis ditampar.

”Ayah kenapa?” Oh, itu suara Sika. ”Nyebut Neknang terus!”

Aku memandang istriku seraya mengucek mata. Ia tampak kacau dengan rambut kusut dan daster favoritnya yang robek di bagian punggung.

”Kan sudah kubilang, abis ngubur langsung mandi. Eh, malah ngenyel!” Ia kembali menarik selimut, melanjutkan tidur dalam posisi memunggungiku.

Aku masih mengumpulkan kesadaran. Di luar, tiang listrik dipukul petugas jaga malam dua kali. Dentang Whatsapp dari meja di samping dipan membuatku bangkit. Banyak sekali ucapan belasungkawa yang masuk. Aku buka Whatsapp dari Dede. Apa maunya negara ini, tulis adik bungsuku itu di ujung pesan.

Ketika Mak mengabari kabar lelayu itu tadi pagi, aku matikata. Ketika Dede menelepon kalau ia sudah di komando distrik militer (Kodim) untuk mengurus upacara penghormatan terakhir untuk pejuang, aku tak peduli. Ketika menyingkap kain yang menutup wajahnya, aku tak tergerak menciumnya. Ketika memandikannya, membersihkan sela-sela jemari kakinya, aku tidak menangis. Baru di dalam liang, aku hampir berhenti pada ”tiada Tuhan selain Allah” ketika mengumandangkan azan dekat telinga kanannya. Sampai yasinan bakda Magrib tadi, aku masih tegar meski mataku mulai hangat. Tapi malam ini, begitu memasuki kamar yang gelap, penyesalan itu menjelma menjadi adegan kebersamaan dalam ditidurku.

Aku berjalan ke kamar mandi. Mungkin wudu bisa membantu menenangkanku. Tapi … dadaku sebak, seperti ada air bah kesedihan yang memaksa keluar. Kunyalakan keran agar raunganku tersamarkan oleh kucuran air.

Isi pesan Whatsapp dari Dede berkelebat. Kodim minta kita menyiapkan berkas ini-itu agar upacara militer bisa digelar. Itu pun kalau kita mau ngubur Neknang sore. Stres! Apa maunya negara ini!(*)

Lubuk Linggau, 20-21 Juni 2021

Benny Arnas menulis 26 buku.

Sasha Yuliana. Lulusan Fakultas Seri Rupa dan Desain ITB. Sangat bersemangat membuat karya ilustrasi. Pernah terlibat dalam tim kreatif pembuat kostum panggung dalam acara Orientasi Studi Keluarga Mahasiswa ITB. Mahir di bidang ilustrasi digital, ilustrasi dengan cat air, desain grafis, dan desain merchandise.

sumber : kompas.id, 18 Jul 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme