Cerpen : Mata-mata di Kepala oleh Ni Komang Ariani

anpa harus dijelaskan, aku sudah paham. Sore itu, sehabis mandi dan rambutku masih basah, pintu kamar kontrakanku diketuk berulang kali. Tiga orang laki-laki berkaus hitam dengan rambut yang klimis menjemputku. ”Silakan, Bu. Ini waktunya.” Ketiganya tersenyum ramah. Sekilas, ketiganya tampak sebagai laki-laki baik. Namun, kedatangan mereka bukanlah untuk sesuatu yang baik untukku. Pengalaman pahitku sejak … Baca Selengkapnya

Cerpen : Banyak Maling, Banyak Rezeki oleh Kiki Sulistyo

RUM Tarus tak pernah mengunci pintu rumahnya, baik pintu gerbang, pintu depan, atau pintu kamar. Bahkan, ia kerap membuka lebar-lebar pintu gerbang dan pintu depan. Rum Tarus percaya semakin banyak orang mencuri darinya, semakin banyak rezeki yang akan didapatkannya. Keyakinan itu terbukti. Setidaknya begitulah yang dilihat para tetangga. Rum Tarus selalu tampak gembira, begitu pula … Baca Selengkapnya

Cerpen : Daun Semanggi hingga Revolver oleh Tiqom Tarra

Daun Semanggi AKU tidak ingat kapan pertama kali anak kecil itu muncul dalam mimpiku. Namun, akhir-akhir ini dia selalu hadir kapan pun aku tertidur; siang maupun malam. Kami selalu di tempat yang sama. Itu adalah sebuah taman dengan tanah lapang yang hijau. Di sebelah kiriku ada hutan lebat seperti hutan di sebuah film favoritku. Anak … Baca Selengkapnya

Cerpen : Eriopis oleh Zulvanny Fatwa Firmananda

i museum yang berdiri tegak di pinggir kota, aku terdiam di depan sebuah manekin tanpa kepala yang mengenakan gaun keemasan berpotongan mermaid, dengan banyak rok yang bisa dilepas-pasang di bagian belakang pinggang. Gaun yang, entah mengapa, mengingatkan aku dengan rubah berekor sembilan. Didesain langsung Medea, wanita tua yang lima tahun silam dipenjara atas tuduhan pembunuhan kedua … Baca Selengkapnya

Cerpen : Pengorbanan Sulung oleh Bagus Sulistio

Biasanya, anak bungsulah yang mendapatkan perhatian penuh dari orangtuanya. Hal tersebut tidak berlaku bagi keluargaku. Orangtuaku mempunyai dua anak, aku dan kakakku. Mereka seperti lebih sayang terhadap kakakku daripada putra bungsunya. ”Menjadi anak sulung itu berat. Banyak pengorbanan yang harus dilakukannya,” kata Ibu ketika aku terlihat marah sebab iri dengan Sulung. ”Keluarga lain lebih sayang … Baca Selengkapnya

Cerpen : Ritual Makan Malam oleh Petrus Nandi

AMA duduk dekat tungku api yang masih membubungkan asap ke loteng dapur. Serentang tangan darinya, kami duduk bersila di atas tikar sembari menerima makanan dari tangannya. Seusai mengedarkan makanan, Ama mengarahkan tubuhnya ke sebuah piring kosong yang terletak di samping kanannya. Piring itu berukuran lebih besar dari piring-piring kami. Itu piring milikmu. Ia selalu ada … Baca Selengkapnya

Cerpen : Ritual Makan Malam oleh Petrus Nandi

Ama duduk dekat tungku api yang masih membubungkan asap ke loteng dapur. Serentang tangan darinya, kami duduk bersila di atas tikar sembari menerima makanan dari tangannya. Seusai mengedarkan makanan, Ama mengarahkan tubuhnya ke sebuah piring kosong yang terletak di samping kanannya. Piring itu berukuran lebih besar dari piring-piring kami. Itu piring milikmu. Ia selalu ada … Baca Selengkapnya

Cerpen : Membungkam Anarki oleh Ahmad Amroe

SIANG itu sang surya menyinari bumi begitu teriknya. Menghiasi hari dengan cahaya keemasan yang begitu menyengat apa saja yang diterpanya. Di balik itu, sang bayu bertiup semilir menyusupi, mengembuskan tipis-tipis sedikit kesejukan. Menyentuh lembut pori-pori kulit untuk sekadar membantu menepiskan kegerahan. Namun damainya suasana hati menikmati hari kini mulai berangsur pergi. Ada momen tak menyenangkan … Baca Selengkapnya

Cerpen : Gudang Garam oleh Venia Amanda Putri

HALO, namaku Rudi, dan aku adalah seorang aktor. Perempuan di dapur itu adalah istriku yang sudah melahirkan tiga anak dari rahimnya: Budi, Abdi, dan Leni. Ketiganya tidak lagi bersekolah sebab kelangkaan garam yang terjadi di kotaku. Istriku bilang uang yang kami dapatkan lebih baik dipergunakan untuk membeli garam. Istriku tidak pernah marah, ia hanya marah … Baca Selengkapnya

Cerpen : Bunuh Diri Para Malaikat oleh Triyanto Triwikromo

SEMULA aku tak yakin sebagian besar malaikat di Gerlin bunuh diri. Karena ingin membuktikan, jauh-jauh dari Praha, aku kembali ke kotaku yang dipenuhi oleh kastil-kastil kuno berusia 300 tahun, istana-istana berbalkon yang dibangun pada 1789, dan gereja-gereja abad XVII yang telah ditinggalkan oleh para pemuja. Sejak dari Stasiun Kereta Hlavni Nadrazi, aku telah membaca secara … Baca Selengkapnya