Cerpen : Lelakiku oleh Martin Aleida

Aku tak tahu apa niat Mbah membujuk kami menginap di rumahnya. Apakah dia merasa tidak layak, dan barangkali akan bikin geger seisi desa, bila lelakiku melewatkan malam di rumahku. Karena ibuku sudah menjanda. Atau dia hendak memerangkap kami berduaan belum waktunya, berbuat mesum. Kami merebahkan diri di amben yang terbuat dari belahan bambu. Kuhamparkan selendang … Baca Selengkapnya

Cerpen : Sapi Sebesar Gajah

Nyapnyup mendadak populer setelah bocah lima tahun itu sukses membongkar keberadaan kawanan pembegal yang sering beraksi di jalan utama yang menghubungkan Lubuklinggau-Curup. KISAH berawal ketika Mar­pi­se­lo­pah mem­ba­wa putranya ke kantor polisi dan tak ada yang memercayai mereka hanya karena pe­rem­puan tiga puluh tahun itu menjadikan igauan anaknya tentang keberadaan para pembunuh suaminya itu se­bagai dasar … Baca Selengkapnya

Cerpen : Gomis Biahat oleh Ahmad Z

SELURUH tubuh pengoli [1] lumpuh dan mengeluarkan bau busuk. Satu-satunya yang membuat pengoli masih bertahan hidup hanyalah kepalanya yang masih sehat dan tidak terlihat tua. Tidak ada sehelai uban yang tumbuh di kepalanya. Wajahnya masih terlihat muda seperti lelaki berumur 50-an. Pendengarannya juga masih sangat tajam. Namun bicaranya tidak jelas. Terdengar seperti orang yang mengigau. … Baca Selengkapnya

Cerpen : BLOK SEMBILAN oleh Auranita Gibrani Darmawan

inar dari sang pusat tata surya menembus jendela bersama gerobak sarapan yang berkeliling. Gema sepatu penjaga menggema di koridor sempit, diikuti oleh roda gerobak besi yang berdecit setiap kali bergerak. Sebaskom nasi putih, sepiring tempe goreng, sambal, dan sayur rebus ala kadarnya telah dikirim pada setiap sel di blok pertama. Aku menyaksikan betapa rakusnya para … Baca Selengkapnya

Cerpen : Yang Terjadi Setelah Senja oleh Arie Fajar Rofian

angit terik bersorak panas, membakar apa pun yang berada di bawah naungannya. Matahari yang menggantung di atas tak mengenal belas kasihan; sinarnya tajam dan menusuk-nusuk dari atap beton gedung perkantoran hingga kulit-kulit yang berseliweran di permukaan yang kian lama kian legam. Sementara, asap knalpot beragam kendaraan bermotor memanjat pelan, sekaligus berlomba-lomba menggapai udara, lalu larut … Baca Selengkapnya

Cerpen : Delapan Bayangan dari Kunlun Shan oleh Seno Gumira Ajidarma

(Fragmen Nagabumi IV) AKU melesat keluar dan melihat betapa di antara orang banyak yang berhamburan dengan panik, Jarum Harum berkelebat ke sana kemari dalam kepungan delapan bayangan, yang memang hanya tampak sebagai bayangan, karena kecepatan yang tidak kasatmata. Di antara jerit dan teriakan hiruk pikuk dalam arus manusia, aku tidak segera mendapat sudut pandang lebih … Baca Selengkapnya

Cerpen :Tapanaga oleh Daviatul Umam

Sebagai ketua RT, Sidik jadi orang terdepan dalam memperjuangkan kesejahteraan warganya. Ia satu-satunya aparat desa yang menolak keras rencana reklamasi pantai yang dicanangkan Kalebun Mahri sejak 2013. Ia tak segan mengumpulkan warga untuk bermusyawarah. Dalam musyawarah tertutup, ia menyampaikan rencana Kalebun Mahri, mewanti-wanti warga agar bersama-sama menolak rencana tersebut, serta menerangkan sejumlah alasan kenapa harus … Baca Selengkapnya

Cerpen : Berpikir dalam Hening oleh Jimmy Anggara

Anak itu bertubuh kurus-kering seperti seutas lidi. Celana panjang abu-abunya terlalu pendek sehingga menampakkan kaus kakinya yang melorot ke mata kaki. Ia datang paling akhir. Saat berdiri memperkenalkan diri—”Nama saya Gabustois”—teman-teman barunya mentertawainya. Guru kelas sampai harus memukul meja dengan penggaris kayu supaya murid-murid diam. Setelah tawa reda, murid bernama aneh itu dipersilakan duduk dan … Baca Selengkapnya

Cerpen : Aku Telah Haji oleh Sahari Nor Wakhid

HARI pertama setelah kepulanganku, aku berjalan di pasar desa dengan kepala tegak. Warga desa menyambutku dengan hormat, menyebutku Pak Haji Hamid. Namun, mereka yang mengenalku dengan baik merasa ada yang aneh. Meskipun aku telah pulang dengan gelar haji, tabiatku tetap sama. Aku masih sering marah-marah, bahkan lebih sering memamerkan gelarku. Aku duduk di sebuah warung … Baca Selengkapnya

Cerpen : Mata-mata di Kepala oleh Ni Komang Ariani

TANPA harus dijelaskan, aku sudah paham. Sore itu, sehabis mandi dan rambutku masih basah, pintu kamar kontrakanku diketuk berulang kali. Tiga orang laki-laki berkaus hitam dengan rambut yang klimis menjemputku. “Silakan, Bu. Ini waktunya.” Ketiganya tersenyum ramah. Sekilas, ketiganya tampak sebagai laki-laki baik. Namun, kedatangan mereka bukanlah untuk sesuatu yang baik untukku. Pengalaman pahitku sejak … Baca Selengkapnya