Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Suara di Bandara oleh Budi Darma

Posted on Ming, 02 Des 2018

Ketika saya terbangun, pesawat baru saja memasuki wilayah Hongaria, dan pada waktunya nanti pasti akan mendarat di Amsterdam. Inilah pekerjaan saya sebagai penerbit: menerbitkan buku, mengusahakan terjemahan, memasarkan buku di negara-negara Eropa, jual beli hak cipta, dan berbagai negosiasi lain. Dan pekerjaan ini saya lakukan satu tahun sekali, atau, kadang-kadang dua tahun sekali.

Tapi, karena dalam beberapa bulan terakhir saya sering mendengar suara perempuan di bandara-bandara besar, saya berusaha untuk lebih sering bepergian. Kalau saya tidak datang lagi dalam waktu lama, mungkin suara itu akan diganti oleh suara orang lain. Rekaman pengumuman mengenai keberangkatan dan kedatangan pesawat internasional bisa saja sewaktu-waktu diganti.

Pengumuman dalam bahasa Inggris, Jerman, Perancis, Mandarin, dan Jepang, itu biasa. Yang luar biasa, di samping bahasa-bahasa itu, adalah pengumuman dalam bahasa Indonesia, dan juga bahasa etnik Jawa.

Suaranya halus tapi sekaligus keras, lembut tapi juga tegas, dan semua diucapkan dengan diksi dan artikulasi yang sangat meyakinkan. Semua serba pas, seolah-olah semua bahasa itu adalah bahasa ibunya.

Mula-mula saya ragu, tapi kemudian saya yakin, suara itu pasti milik Sandra Liangsi, mahasiswi Jurusan Jerman UNESA, yang tiba-tiba lenyap baik dari rumahnya di Praban, maupun dari Kampus UNESA Ketintang. Kata orang, Sandra melarikan diri, diikuti oleh kedua orang tuanya, entah ke mana.

Dulu saya kuliah di Jurusan Inggris UNESA, dan karena itu saya tahu sedikit banyak mengenai Sandra. Dia cantik, cekatan, berani, dan suka menghina orang lain. Wajahnya lonjong, kalau tersenyum di kedua pipinya tampak cekungan yang membuatnya makin cantik, meskipun senyuman itu memancarkan ejekan, pertanda bahwa dia merasa hebat.

Ketika masih menjadi mahasiswa, Sandra adalah tokoh penting dalam HIMAPALA (Himpunan Mahasiswa Pencinta Alam) UNESA. Tapi maaf, saya mengetahui Sandra dari berbagai organisasi mahasiswa ketika saya sudah masuk ke semester enam, karena sampai dengan semester lima saya bekerja, dan juga pernah cuti tiga semester. Saya pernah membantu penjual sayuran di Pasar Keputran, pernah jualan roti, pernah juga menjadi kernet bis kota, dan akhirnya berhasil menjadi sopir bis kota, bukan sekadar sopir biasa, tapi sopir teladan pada zaman Walikota Dokter Purnomo Kasidi. Karena itulah, selama tiga bulan saya disewa oleh Biro Umroh Natria, menjadi sopir di Saudi Arabia.

Pengalaman paling sengsara terjadi ketika saya harus bekerja di Keputran, pasar khusus sayuran, buka mulai jam enam petang, dan tutup pada jam lima pagi. Mau tidak mau saya selalu mengantuk, dan kalau sampai saya tertidur, Bu Rimpun, seorang dosen yang tampak galak tapi baik hati, melempari wajah saya dengan kapur tulis: ”Adlan, wash your face!”

Karena tidak tahan, akhirnya saya memutuskan untuk berjualan roti, mengambil roti dari pabrik roti di Darmo Kali, jam setengah lima pagi. Dengan mengontel sepeda, setiap hari saya menelusuri berbagai kampung, menawarkan dagangan saya.

Akibatnya sama: mengantuk, datang terlambat, kadang-kadang tertidur. Harapan mahasiswa: makin lama saya tertidur makin baik, sebab mereka makin bebas mencuri roti saya. Akibatnya, hampir setiap hari pemilik pabrik roti memaki-maki saya. Di bawah pimpinan Bu Rimpun, dosen-dosen lain mengumpulkan uang untuk mengganti harga roti yang dicuri, disertai dengan maki-makian dan gelak tawa.

Demikianlah, satu per satu pekerjaan saya jalani dengan tawakal, sampai akhirnya saya mempunyai uang untuk merasakan menjadi mahasiswa dalam arti yang sesungguhnya. Pada suatu pagi, ketika sedang lewat dekat Gedung Fakultas Teknik, saya melihat banyak mahasiswa berkumpul, menyaksikan kehebatan Sandra. Tanpa perlengkapan apa-apa, Sandra memanjat pohon tinggi dan rindang, dan setelah sampai puncak, dengan gaya serampangan dia melompat ke puncak pohon lain. Saya langsung mendaftar, bergabung dengan mahasiswa-mahasiswa HIMAPALA.

Sandra memberi latihan-latihan dasar: mengambil napas melalui hidung, membuang napas melalui mulut, melenturkan tubuh dengan berbagai cara, lari ke depan, lari ke belakang, meloncat, berjungkir balik, semua dengan beban berat. Dan yang paling menyengsarakan adalah panjat dinding di Gedung Gema dengan beban berat, harus lebih cepat daripada cecak yang berlari di dinding.

Semua anggota dihardik, tapi tidak pernah digoblok-goblokkan, kecuali saya. Dia suka mengguncang-guncang tubuh saya dengan kasar, dan, pada suatu hari dia berbisik: ”Kamu goblok! Makanya saya menamakan kamu ’Gob’, alias Goblok.”

Tiga bulan kemudian, dia memimpin kami latihan di dataran tinggi Pacet, untuk menghadapi cuaca buruk, hujan, kabut, tanah licin, dan kemungkinan tanah longsor, selama dua malam. Dia mendapat bantuan dua truk besar beroda delapan dari Kodam Brawijaya, dan mulai saat itulah saya gelisah. Semua truk seharusnya dikemudikan oleh tentara, tapi dia memaksa dia mengemudi satu truk, dan dia menyuruh saya untuk menjadi sopir truk kedua untuk mengejek saya, sebab dia yakin saya tidak punya SIM.

Saya bilang saya punya SIM dia tidak percaya, dan ketika dia melihat SIM Internasional saya, wajahnya merah membara. Sopir truk tentara dan saya tidak setuju, tapi karena dia pandai berbicara, kami kalah. Dua sopir tentara menjadi penumpang, Sandra dan saya menjadi sopir.

Kami berangkat dari Kampus Ketintang ketika hujan sedang deras dan halilintar bersambaran, sementara semua jalan menuju ke tol banjir, hampir-hampir mencapai lutut orang dewasa.

Ketika kami sampai di Pacet, semua pendapat sopir tentara dan saya dibantah. Kami tahu tempat kami parkir bisa mengundang bahaya, tapi dia tidak peduli. Bahkan, dua sopir tentara disuruh pulang, meskipun mereka menolak.

Pada malam pertama, ketika hampir semua mahasiswa sudah tidur dan cuaca sedang baik, dia mengajak saya duduk tidak jauh dari jurang, melihat kelip-kelip lampu di kejauhan.

”Gob, saya kaget, ternyata kamu punya SIM Internasional.”

Saya bercerita apa adanya.

”Apa kamu anak yatim piatu?”

Saya tidak menjawab, dan tampaknya dia maklum

”Kalau kamu perlu uang, akan saya bantu kamu,” katanya.

Saya menolak.

”Gob, apa kamu tidak merasa kehilangan? Saya mencuri buku dari tas kamu.”

”Saya tahu.”

”Ternyata kamu suka Kafka, Gob, Die Verwandlung.”

Itulah judul asli novel Metamorfosis, dan itulah buku yang dicuri.

Percakapan ini menyenangkan, tapi terpaksa diakhiri dengan pertengkaran. Saya minta dia memindahkan truknya, dia ngotot menolak.

Malam berikutnya, terjadilah bencana: sebagian besar mahasiswa sudah tidur, tiba-tiba truk Sandra mundur, merobohkan tenda, dan menggilas mereka yang sedang tidur.

Sejak saat itulah dia menghilang, dan akibatnya, dua sopir tentara dan saya dikerangkeng di penjara Kodam V Brawijaya selama satu bulan.

Andre van Claver sudah menunggu saya di bandara Amsterdam, dan begitu mendengar rekaman suara Sandra dalam bahasa Jawa, dia tertawa, lalu berkata:

”Kamu bijaksana, Adlan, memilih penerbangan yang istimewa.”

”Ya. Dulu, 7 September 2004, dalam pesawat GIA 974, pejuang HAM Munir Said Thalib meregang nyawa di wilayah udara Hongaria dalam perjalanan menuju Amsterdam. Dia diracun, demikianlah kata Direktur Institut Forensik Belanda. Ada 460 miligram arsenik, cukup untuk membunuh Munir. Nomor penerbangan saya tadi sama, rutenya juga sama.”

”Kalau kamu berminat menerbitkan kisah Munir, saya bisa mencarikan penulisnya.”

”Saya hanya menerbitkan fiksi, lain tidak.”

”Bisa, kan, kisah Munir dibuat novel?”

”Serahkan ke penerbit buku sejarah. Saya perlu memikir lagi.”

Ketika akan meninggalkan Amsterdam saya datang di bandara pagi hari, khusus untuk mendengar suara Sandra, meskipun pesawat saya akan terbang malam hari.

Di Hamburg saya menyelesaikan transaksi dengan dua penerbit Jerman, dan kebetulan bisa bertemu A.Fuadi, pengarang Negeri Lima Menara, sebab kebetulan dia sedang menyelesaikan disertasinya di Universitas Hamburg. Dia kenal dengan suara bahasa Indonesia di bandara Hamburg, tapi karena waktunya sangat singkat, kami lebih banyak berbicara mengenai kuliner Jerman.

Akhirnya, untuk keperluan pribadi, saya terbang ke Praha, untuk melihat rumah sakit dalam novel Metamorfosis, suasana lingkungan museum bekas rumah Kafka, dan gedung Dr. Faustus, tempat Dr. Faustus menandatangani surat perjanjian dengan iblis Mefistofelis pada Abad Pertengahan. Perjanjian ditulis dengan darah Dr. Faustus: dalam waktu 23 tahun Mefistofelis bersedia menjadi budak Dr. Faustus, dan setelah 23 tahun berlalu, Dr. Faustus menjadi budak abadi Mefistofelis. Dalam dunia gaib sebagai pengendali dunia nyata, Mefistofelis dan Dr. Faustus menebar kejahatan abadi, dilawan Michael, dengan kekuatan abadi untuk menebarkan kebaikan, dan karena itu, kebaikan melawan kejahatan akan terus terjadi di dunia nyata.

Saya ingin masuk ke bekas rumah Kafka, membayangkan ayah Gregor terhadap anaknya, lebih-lebih ketika anaknya sudah berubah menjadi insek. Dalam esai ”Brief an den Vater” Kafka bercerita betapa keji ayahnya, dan betapa takut dia menghadapi ayahnya, sebagaimana yang tercermin dalam novel Metamorfosis.

Sebelum melarikan diri, Sandra sempat berkata, pada suatu saat nanti dia akan ke Praha, untuk menabur bunga di makam perempuan gila bernama Felice. Dia heran, mengapa Felice sudi menjadi pacar Kafka, pengarang yang pada waktu itu dianggap gagal, penderita batuk darah, sembelit, bisul berkepanjangan, dan insomnia.

Ketika sedang duduk di kedai kopi tidak jauh dari patung Kafka, saya melihat rombongan turis dari negara-negara Baltik, dikawal oleh dua perempuan, satu di depan, dan satu di belakang. Mereka membawa tongkat dengan tiga bendera digandeng menjadi satu, yaitu Estonia, Latvia, dan Lituania, sambil berteriak-teriak memberi komando kepada turis mereka.

Saya tahu, perempuan di depan itu, tidak lain adalah Sandra, dan pikiran saya langsung melesat ke masa lalu, ketika truk dia menggelinding, merobohkan tenda, dan menggilas teman-teman saya.

Budi Darma : lahir di Rembang, Jawa Tengah, 25 April 1937, sebagai anak pegawai kantor pos. Setelah lulus S-1 di Universitas Gadjah Mada, ia menjadi pengajar di IKIP Surabaya (sekarang Universitas Negeri Surabaya/Unesa. Bukunya yang fenomenal novel Olenka dan kumpulan cerpen Orang-orang Blomington. Dua buku ini berisikan kisah-kisah manusia dengan latar di Amerika Serikat, di mana dulu Budi pernah belajar.

Budiyana : lahir di Sleman, Yogyakarta, 29 November 1969. Ia menempuh pendidikan SMSR Yogyakarta tahun 1990 dan mendirikan Kelompok Seniman Pinggiran (Sepi). Sepi pernah pameran bersama di Australia. Budiyana menggelar karya-karyanya secara tunggal di Galeri Hadiparana Jakarta dan Bentara Budaya Yogyakarta tahun 2012.

sumber : harian Kompas edisi 02 Desember 2018 di halaman 23 dengan judul “Suara di Bandara”.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme