Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Gentong Tua oleh Muna Masyari

Posted on Ming, 23 Des 2018

Dua gentong berusia ratusan tahun itu bagai sepasang manusia renta yang tercampakkan. Keduanya duduk muram di sudut kamar paling belakang. Menekur diam. Bibirnya berlumur lelehan pewarna yang pekat dan sudah mengering.

Menatap gentong tua itu tiba-tiba aku seperti melihat bayangan ibumu. Melihat kedua tangannya yang berwarna kerak nasi dan telah menghasilkan lembar-lembar batik gentongan, yang sebagian dijual dan sebagian lagi sudah dipersiapkan untuk pernikahanmu, sebagaimana kewajiban seorang ibu memersembahkan hadiah itu, meskipun sudah pernah kautegaskan bahwa itu tidak perlu!

Dialah perempuan Tanjungbumi yang tak lelah menyunggi tradisi meskipun berkelindan dengan sepi.

Lepas hari ketujuh, para tetangga tak lagi bertandang. Tentu mereka kembali sibuk dengan kain mori, lelehan lilin dan gentong, yang sempat ditinggal selama sepekan karena ikut bantu-bantu di sini, di rumahmu.

Sepulang dari pekuburan di penghujung senja, setelah menyirami pusara ibumu dengan air bunga dan doa, aku mampir ke rumahmu. Kunyalakan lampu di teras, di ruang dalam, di kedua sudut belakang rumah dan di pojok halaman. Kutatap tembok bercat putih gading, plafon, lantai mengilap, lemari yang masih baru, pintu kayu berukir, sofa, semua hanya benda-benda asing yang nanti takkan pernah memberi kenangan apa pun padamu! Percayalah!

Tali jemuran yang membentang di tepi halaman, tempat ibumu mengangin-anginkan kain batik yang baru dicelup pada pewarna, juga pohon jambu biji di belakang rumah yang kini mulai menguning daun-daunnya, keduanya akan mengasingkan dirimu, seperti kawan lama yang enggan menyapa.

Hanya pada dua gentong tua di sudut kamar itu akan kautemukan bayangan ibumu. Bersama benda peninggalan leluhur itulah ibumu berkarib memilin sepi. Menunggumu pulang dengan kerinduan berkelindan. Dan kini, benda tua itu tampak muram ditinggal pemiliknya. Gelap yang tersisa saat kulongokkan kepala, mengintip ke dalam. Mirip bilik dada ibumu; tak tertebak bagai lorong rahasia yang panjang.

Dalam gentong tua itulah ibumu mencelup dan merendam kain mori yang sudah direngreng dan dipolesi lelehan lilin, untuk mewarnainya, menggunakan pewarna dari kulit mengkudu, kulit mundu campur tawas, daun tarum, kulit pohon jati, dan pewarna-pewarna alami lain.

Kain mori yang sudah direndam sekian lama diangkat, dianginkan, lalu dicelup lagi. Dianginkan lagi. Dicelup lagi. Lalu direndam lagi. Satu lembar kain batik membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk menghasilkan warna yang pekat dan lekat. Sungguh suatu proses panjang dan melelahkan. Aku yakin, dari proses pekerjaan itulah kesabaran serta keteguhan ibumu terlatih. Tangannya sampai berwarna kerak nasi. Bahkan sewaktu kecil kau selalu menolak disuapi menggunakan tangannya yang cokelat kehitaman.

Sempat terlintas di benakku, apakah warna pekat dalam gentong tua itu yang telah menyuramkan kehidupan ibumu, atau justru kelahiranmu yang telah melurup cahaya dalam kehidupannya?

Kata ibumu, kau lahir pada Ahad legi surup hari, ketika beras di dapur tinggal sekenyang burung, dan ayahmu sedang melaut meninggalkan dompet kosong. Ibumu melahirkan dalam kesendirian menjelang gelap malam, di usia kandungan belum genap sembilan bulan. Pertolongan pertama diberikan seorang ibu tetangga terdekat yang mendengar jerit tangis pertamamu, yang tak lain adalah ibuku.

Air susu ibumu yang hanya setetes-duatetes kekuning-kuningan membuatmu menangis lapar siang dan malam. Daun katuk, daun pepaya, tidak banyak membantu kesuburan air susunya. Akhirnya, hasil ayahmu melaut semakin tak mencukupi kebutuhan karena harus membeli susu formula. Apalagi, dengan mengasuhmu yang rewel, ibumu tak lagi bisa membatik untuk membantu bergeraknya roda ekonomi keluarga.

Utang terus bertambah demi memenuhi kebutuhan sehari-hari, membuat ibumu tak berani mencegah saat ayahmu meminta izin membuka usaha warung makan di Pasar Blega, mengikuti jejak sepupunya yang sukses membuka usaha di sana.

Dengan menggadaikan sepetak tanah untuk modal dan uang sewa lokasi, ayahmu berangkat setelah menggelar acara timangan di usiamu yang menginjak 40 hari, dan telah menambah tumpukan hutang demi acara itu.

Enam bulan ayahmu bolak-balik Blega-Tanjungbumi, pulang setiap Kamis sore, kembali ke Blega pada jumat pagi. Menginjak bulan ke tujuh, ayahmu mengajak ibumu membantu usahanya yang mulai ramai pelanggan. Kau disuruh titipkan pada bibi, adik kandung ayahmu yang belum dikaruniai keturunan meskipun sudah empat tahun menikah. Apalagi kau memang tidak menyusu. Akan tetapi, ibumu menolak ikut dan meminta cari orang lain untuk membantu pekerjaan ayahmu.

”Dia masih terlalu kecil untuk dititipkan.” Jelas ibumu saat bercerita pagi itu, ketika kau memintaku menemuinya setelah kaukirimkan sejumlah uang untuk merenovasi rumah.

”Kenapa tidak membawanya ikut serta?” tatapku.

”Masalahnya, kalau semua pergi, rumah ini jadi kosong, tidak ada yang menempati dan merawatnya.”

Alasan ibumu, seraya memberi noktah pada hamparan kain mori dengan canting yang baru dicelupkan pada lelehan lilin. Aroma lilin yang didih dalam wajan lebih kukenali sebagai aroma perempuan di kampung ini.

Sekarang, baru aku mulai mengerti bahwa alasan ibumu tidak sesederhana itu.

Apakah kau masih ingat? Menginjak usia delapan belas tahun, ketika kau meminta izin melanjutkan pendidikan ke luar Madura, wajah ibumu berubah sendu seperti langit tersaput awan kelabu.

”Tidak usah jauh-jauh!”

”Masih di seputar Jawa.”

Sudah biasa kulihat kau merajuk setengah memaksa.

”Keluar dari kampung sendiri namanya tetap jauh. Tidak baik bagi anak perempuan!”

”Memangnya kenapa kalau anak perempuan?”

Bukan hanya sekali kudengar pertanyaan bernada protes kau ajukan untuk hal-hal lain, ketika terbentur aturan sebagai anak perempuan. Bahkan sewaktu kecil, ketika ibumu melarang memanjat pohon jambu biji, kau pun menunjukkan protes yang sama. Padahal waktu itu aku yakin, kau bisa memanjat lebih lihai dan lebih tinggi mengalahkanku. Akibatnya, kau hanya bisa menengadah di bawah seraya mengemis lemparan dariku yang nangkring kegirangan di dahan sambil mengunyah jambu biji yang sudah matang. Kau semakin merengut kesal karena tidak segera kulempari buah jambunya, justru kulit sepahan yang sengaja kusemburkan ke bawah sambil tertawa mengejek. Penuh kemenangan.

Aku yakin hatimu merutuk geram karena terlahir sebagai anak perempuan yang terlalu banyak dikenai aturan!

”Kau bisa melanjutkan sekolah di sini.” Jawab ibumu, setelah diam sesaat.

”Sukdi melanjutkan ke Jogja! Masa aku di Madura terus?” sungutmu.

Untuk kesekian kali aku tersenyum menang.

”Dia laki-laki!”

Weeek!

Kujulurkan lidah, mengejekmu seperti biasa.

”Apa bedanya laki-laki dan perempuan? Nilaiku lebih tinggi dari nilainya!” kejarmu tak terima.

Ibumu tidak menyahut.

Kemampuanku memang selalu di bawahmu dalam hal apa pun, termasuk nilai mata pelajaran. Hari libur, waktu yang biasa kau habiskan dengan mengulang pelajaran untuk menghadapi ujian malah kupergunakan untuk membantu ibu menguliti pohon jati dan mengkudu. Kadang aku juga membantu ibumu. Aku beruntung saja karena terlahir sebagai laki-laki yang selalu dianggap lebih istimewa dari anak perempuan.

Saat itu kau tetap berkeras hati mendapatkan kesempatan yang sama sepertiku. Jelas tidak mau sekadar menengadah sebagaimana yang pernah kaulakukan di bawah pohon jambu.

Biaya pendidikan kau peroleh dari pemberian ayahmu yang disimpan oleh ibumu. Sejak mendengar ayahmu menikahi perempuan yang telah membantu usaha warung makannya dan hanya sesekali pulang untuk menyerahkan uang, ibumu tidak pernah menggunakan uang itu, kecuali untuk kebutuhanmu jika ia sudah merasa tidak mampu.

Keteguhan hasratmu membuat ibumu kembali terjebak dalam kepentingan dan kebutuhan di luar keinginan dirinya. Ia terpaksa melepasmu pergi dengan hati terkunci, hingga kita tidak bisa membaca apa yang tersimpan di bilik dadanya.

Setelah kuliah kau selesaikan dengan prestasi gemilang, dengan mudah kau memeroleh pekerjaan mapan bergaji besar di tanah rantau, hasrat dan dendammu pun menjulang. Hendak kau buktikan pada kampung halaman bahwa perempuan juga mampu mendulang kesuksesan.

Hal yang sama terulang. Ketika ibumu usai bercerita tentang masa lalu pagi itu, lalu kusampaikan pesanmu, bahwa rumah yang selama ini ditinggali hendak kaurobohkan, diganti dengan rumah yang baru tanpa ingin melibatkan sang ayah, sekali lagi ia memilih mengalah memeram desah.

Kau lupa satu hal, bahwa ibumu semakin tersuruk dalam lorong panjang yang kian suram. Tidak ada lagi rumah penyepuh kenangan, dan kau seolah lupa jalan pulang. Bahkan, setelah ibumu tiada pun kau tak sempat mengantarnya ke pekuburan, seolah kabar duka yang kukirim tak pernah sampai.

Ketahuilah! Setelah orangtua tiada, hilang rumah bagi anak perantau untuk pulang. Aku telah merasai itu. Setelah ibuku pergi, rumah yang tertinggal bagai tempat asing dalam persinggahan. Tidak punya tetangga. Tidak punya kerabat. Tidak punya teman dekat. Hidupku terasing di kampung sendiri.

Sejak itu aku mulai mengerti. Rumah, yang pernah dipertahankan ibumu, tak lain adalah lingkungan tempat menjalin ikatan, tempat berbagi kasih-sayang, membangun rasa kepedulian, melestarikan jejak warisan, yang seharusnya dirawat oleh sentuhan tangan perempuan.

Akan tetapi, barangkali kesempatan masih bisa kau gapai. Bukankah bagi perempuan Tanjungbumi, selain lingkungan ia masih memiliki gentong tua sebagai rumah pengabdian? Sejauh-jauh melambungkan angan di tanah rantau, pada warisan nenek moyang ia akan menemukan tempat untuk pulang, kecuali selamanya ingin jadi pengembara dan melupakan tanah kelahiran.

Apakah kau masih akan menyesal terlahir sebagai anak perempuan, Sum?

Muna Masyari : lahir 26 Desember 1985, tinggal di Pamekasan, Madura. Peraih Cerpen Terbaik Pilihan Kompas 2017. Muna sehari-hari bekerja sebagai penjahit pakaian untuk orang-orang sekitar desanya. Tahun 2010 sudah mengirim cerpen ke Kompas, tetapi baru tahun 2016 cerpennya ”Celurit Warisan” dimuat. Cerpen ini pun kemudian lolos seleksi untuk buku Cerpen Pilihan Kompas 2016.

Made Arya Dwita Dedok : lahir 10 Juni 1971 di Denpasar. Kini menetap di Magelang, Jawa Tengah. Menempuh pendidikan di SMSR Denpasar dan kemudian Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Pernah mengikuti residensi seniman di Vermont Studio Center, Johnson, Vermont, Amerika Serikat. Finalis kompetisi seni rupa UOB Bank Jakarta 2011.

sumber : harian Kompas edisi 23 Desember 2018 di halaman 29 dengan judul “Gentong Tua”.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme