Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Pohon Kesunyian oleh Holis Hermansyah

Posted on Sab, 01 Jun 2019

Letak pohon itu tidak begitu jauh. Sekitar dua kilometer sebelah selatan dari Desa Kumapo, tepatnya berada di lereng Gunung Kohu. Pohon itu tumbuh begitu berwibawa dengan dedaunan yang begitu lebat dan batang pohon yang kekar.

Akar-akarnya kuat menancap kedalam perut bumi. Tinggi pohon itu sekitar lima belas meter, dengan diameter dua kali lingkaran tangan orang dewasa. Orang-orang sekitar menamainya: pohon kesunyian.Tidak ada yang tahu kapan persisnya pohon itu tumbuh di sana. Orang-orang kampung berbeda pendapat mengenai hal ini. Ada yang mengatakan pohon itu tumbuh dua puluh tahun yang lalu ketika seorang dukun santet yang terkenal kejam meninggal dunia.

Pada waktu itu tidak ada seorang pun yang mau menguburkan mayatnya dan dibiarkan membusuk. Konon mayatnya menjelma pohon tersebut.Cerita lain mengatakan bahwa sebelum kampung itu ada, pohon itu telah tumbuh di sana.

Bahkan, ada yang mengatakan pohon itu sudah ada sejak zaman Nabi Adam dan merupakan pohon pertama yang di ciptakan Tuhan di muka bumi. Mereka percaya bahwa pohon itulah yang membisikkan kepada Qabil untuk membunuh saudaranya, Habil, kemudian menguburkan jasadnya di bawah pohon tersebut. Bagi mereka yang mempercayai kisah ini, pohon itu merupakan lambang keangkuhan dan kebencian.

Terlepas dari kedua cerita di atas, sejak pertama kali ditemukan hingga sekarang, hampir tidak ada perubahan sedikit pun dari pohon tersebut. Pohon itu masih sama, tidak bertambah tinggi atau pun bertambah besar. Daunnya pun tetap rimbun meski sering terlihat berguguran.

Dinamai pohon kesunyian, bukan karena suasana di sekitar pohon yang sepi dan letaknya yang jauh dari permukiman. Bukan juga karena daunnya yang begitu lebat sehingga mampu menghalau sinar matahari dan guyuran hujan sehingga orang yang berteduh di bawahnya tak kepanasan saat terik matahari atau menggigil kedinginan ketika hujan turun mengguyur bumi. Tetapi karena pohon itu memiliki banyak kisah yang memilukan.

Berawal ketika penduduk kampung digegerkan dengan penemuan mayat perempuan di bawah pohon besar di lereng Gunung Kohu. Perempuan yang merupakan warga kampung itu diduga bunuh diri karena tidak kuat menanggung kesedihan akibat kematian mendadak suaminya yang meninggalkan dia dan dua anaknya yang masih balita.

Berdasarkan pengakuan warga yang pertama kali menemukan mayat perempuan itu, ketika sedang mencari kayu, ia mendengar suara tiga ekor burung gagak yang terbang mengitari pohon besar itu beberapa kali. Karena penasaran, akhirnya ia pergi memeriksanya—menurut kepercayaan warga setempat, jika ada burung gagak terbang mengitari suatu tempat sambil mengaok-kaok, dipercaya bahwa burung gagak tersebut sebenarnya sedang mengabarkan kematian. Dan benar saja, sesampainya di pohon besar itu ia melihat seorang perempuan terkulai lemas bersandar ke batang pohon besar itu. Dia pun langsung memanggil warga kampung untuk membawa turun mayat tersebut ke rumah keluarganya.

Ada kejanggalan dari kematian janda beranak dua itu. Perempuan itu tidak gantung diri, meminum racun atau mengiris urat nadinya dengan pisau. Sekilas memang tampak seperti habis menenggak racun, karena dari mulutnya keluar busa berwarna kuning pekat sedikit kehijauan. Namun di sekitar pohon itu tidak ditemukan sisa-sisa atau pun tempat racun yang dimaksud. Yang ada hanyalah ceceran kulit buah yang berasal dari pohon besar itu.

Pohon besar itu memang memiliki buah yang mirip dengan buah salak, tapi bentuknya lebih bulat. Kulitnya persis seperti buah salak, namun halus tidak berduri. Jika dikupas akan tampak daging dari buah itu yang berwarna kuning kecoklatan jika sudah masak. Warga pun curiga janda beranak dua itu mati setelah memakan buah dari pohon besar itu yang dianggap oleh warga sebagai buah yang sangat beracun dan mematikan.

Selang beberapa bulan kemudian kembali ditemukan lagi mayat di bawah pohon besar itu. Kali ini seorang kakek. Sama seperti mayat perempuan yang ditemukan sebelumnya, dari mulutnya juga keluar busa. Menurut kabar yang beredar, kakek yang telah lama tinggal menumpang di rumah anaknya itu tidak kuat dengan perlakuan menantunya yang selalu merendahkannya sebagai orang tua yang tak berguna dan berpenyakitan. Begitu juga anak satu-satunya, tak jauh berbeda dengan menantunya itu. Sikapnya selalu kasar kepadanya. Padahal dia adalah anak yang dibesarkannya sejak kecil. Sang kakek akhirnya merasa hidupnya tidak lagi dibutuhkan dan memilih untuk ‘menyepi’ di bawah pohon itu.

Dua kejadian itu hanyalah sedikit dari banyaknya kasus bunuh diri dengan cara memakan buah pohon besar itu. Rentetan kematian setelahnya amatlah banyak dan sangat memilukan. Dari mulai remaja sampai orang tua, perempuan ataupun laki-laki. Namun, dari semua kematian itu, ada satu hal yang menjadi sebab utama mereka bunuh diri: merasa kesepian. Kesepian itulah yang pada akhirnya mengantarkan mereka pada kematian. Karena sesungguhnya, jarak antara kesepian dan kematian sangatlah dekat, sedekat ibu jari dengan jari telunjuk kita. Pohon besar itu kemudian dikenal dengan sebutan pohon kesunyian.

Maraknya kasus bunuh diri yang terjadi membuat para tetua desa resah dan khawatir. Mereka kemudian berkumpul untuk membahas masalah tersebut.

“Bagaimana kalau kita tebang saja pohon itu?” kata salah seorang tetua desa.

“Ya, betul. Tapi bagaimana caranya menebang pohon yang besar seperti itu sementara kita tidak memiliki peralatannya?”

“Kita suruh saja orang yang suka mencari kayu secara liar di hutan untuk menebangnya. Mereka memiliki mesin gergaji. Mereka pasti sanggup menebangnya.”

“Ya, betul. Kita suruh saja mereka.”

Keesokan harinya tetua desa menyuruh para pencari kayu yang biasa mencari kayu secara liar di hutan untuk menebang pohon kesunyian. Para pencari kayu itu mau membantu dengan perjanjian kayu itu jadi milik mereka. Para tetua desa pun sepakat dengan perjanjian tersebut.

Digergajilah pohon itu menggunakan gergaji mesin. Namun apa yang terjadi? Pohon itu seperti besi yang tidak mempan dengan apa pun. Gergaji itu hanya menggores kulitnya saja, tapi tidak mampu memotong batang pohon besar itu yang sangat keras bagai baja. Kejadian naas pun terjadi. Mata rantai mesin gergaji itu tiba-tiba putus. Dan entah bagaimana kejadiannya, mata rantai itu terlempar dan menancap tepat di mata kiri si penebang kayu. Semua orang panik. Lalu mereka turun dan membawa lelaki malang itu.

“Itu pertanda bahwa pohon itu ada penunggunya,” kata salah seorang warga dengan raut wajah penuh ketakutan. Semua warga yang berkumpul melihat kecelakaan yang menimpa si penebang kayu itu semakin bergidik ngeri mendengarnya.

“Jadi, kita harus bagaimana? Apakah kita akan membiarkan pohon itu di sana?” tanya tetua kepada warga yang berkumpul di balai desa dengan nada kecewa.

“Kita racuni saja supaya pohon itu mati secara perlahan. Cara itu akan lebih aman bagi kita.”

Semua warga sepakat dengan usul tersebut. Mereka takut jika proses penebangan menggunakan gergaji mesin tetap dilanjutkan akan kembali memakan korban seperti yang dialami si penebang kayu. Warga pun segera meracuni pohon kesunyian dengan racun tumbuhan yang paling mematikan. Mereka berharap pohon tersebut segera layu dan mati.

Tiga hari setelah pemberian racun, pohon itu mulai menunjukkan tanda-tanda akan segera mati. Daun-daun pohon itu secara perlahan mulai menguning dan meranggas. Buahnya satu per satu mulai berjatuhan dan membusuk di tanah. Perkiraan warga, lima atau tujuh hari lagi pohon itu akan mati total.

Ternyata dugaan warga itu salah. Bukannya mati, setelah memasuki hari ketujuh, pohon itu secara ajaib kembali menumbuhkan dedaunan segar setelah sebelumnya, pada hari keenam, daun-daun pohon itu berguguran. Pohon itu kini kembali hijau seperti sedia kala. Para tetua dan warga kampung heran dengan kejadian tersebut. Mereka pun semakin percaya bahwa pohon itu memang benar-benar keramat. Semenjak itu tidak ada lagi yang berani mengusik ketenteraman pohon tersebut dan melarang orang-orang untuk mendekatinya.

**

Setelah melalui padang rumput dan jalanan setapak yang lumayan terjal, akhirnya sampailah aku di tempat ini. Tempat di mana kesunyian terdengar lebih keras dari biasanya. Pohon ini masih seperti terakhir kali saat orang-orang menaruh racun dua belas tahun yang lalu: rimbun dan berwibawa. Bagaikan malaikat pencabut nyawa yang selalu menyambut kedatangan kita kapan saja.

Aku sandarkan tubuh ini pada batang pohon yang teduh itu. Suasana yang begitu sunyi membuat diriku semakin hanyut dalam suasana khusyuk dan lupa akan semua masalah. Dorongan untuk memakan buah itu pun semakin kuat.

Seperti ada kekuatan gaib yang menggerakkan tangan kiriku untuk memungut buah yang berserakan di sekitarku tanpa sadar. Aku kupas kulitnya yang mirip dengan buah salak itu lalu melahapnya dengan penuh khidmat. Sesaat kemudian suasana berubah menjadi semakin sunyi. Sementara itu, di awan, tiga ekor burung gagak terbang mengitari pohon kesunyian sambil terus mengaok-kaok tanpa henti.

____________________

Holis Hermansyah : lahir 26 tahun yang lalu di sebuah kampung kecil yang sunyi di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara. Cerpen-cerpennya tersiar di harian Rakyat Sultra dan qureta.com. Kini, lelaki yang gandrung dengan musik cadas ini aktif belajar menulis.

sumber : kompas.id, 01 Jun 2019.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme