Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Malam Itu Ia Melihat Kepulangan Suaminya oleh Adi Zam-zam

Posted on Sab, 06 Jul 2019

Di luar, hujan deras sekali. Hawa dingin menemani gelap yang terlihat begitu pekat dari tempat duduknya. Dan ia tengah menunggu di ruang tamu.

Setengah jam yang lalu terdengar suara putri bungsunya—yang bilang terbangun gara-gara suara petir, “Tutuplah pintunya, Mak. Hujannya deras sekali. Hawanya dingin sekali.”

“Iya, nanti aku tutup. Kau tidurlah saja sana,” jawabnya, yang kemudian ia memang menutup pintu itu. Tapi hanya setengahnya.

Bagaimana kalau nanti Bapak pulang justru saat pintu sudah ditutup? Bagaimana kalau nanti suara ketukan itu tertelan riuhnya hujan, hingga beliau tertahan di luar berjam-jam?

Ia tak tega. Apalagi dulu pernah kejadian, Bapak tak jadi masuk rumah lantaran malam itu pintu sudah tertutup. Tiga hari tiga malam Bapak tak pulang, lantaran malam itu konon Bapak memang tengah dibuntuti tentara Jepang. Kabar itu terbukti dengan insiden pagi harinya, beberapa tentara Jepang mengamuk dan merampas pakaian, hasil ladang, dan barang-barang yang diperjualbelikan di pasar.

Tentu saja ia ketakutan. Bagaimana seandainya Jepang tahu Bapak di rumah, dan lalu malam itu mereka mendobrak pintu, mengambil dua anak gadisnya yang sudah balig? Ia tahu Bapak orang cerdas. Beliau pasti telah memperhitungkan hal itu, dengan lebih baik pergi ketimbang menunggu di teras rumah.

Baru hari belakangan pula ia menyadari beratnya menunggu. Konon, dulu ia juga sering menangis tatkala ditinggal pergi Romo yang menjalankan pekerjaan sebagai sekretaris pegawai Pemerintah Belanda, yang sering bepergian ke sana-ke mari. Suatu kali beliau bilang pergi untuk jadi penerjemah, suatu ketika bilang pergi untuk menyurvei, bahkan beliau juga pernah bilang pergi untuk sekolah. Ia menganggap bahwa itu adalah sebuah kebohongan. Ia berpikir pasti romonya sedang berlibur di tempat istri mudanya di tempat lain, sebelum kemudian diboyong ke istana juga.

Itu hal yang amat menyedihkan. Jika kelak perempuan itu sebaik Biyung Waginem, tentu ia masih akan betah menghabiskan hari-hari dalam istana. Tapi bagaimana jika perempuan itu setipe Biyung Paini—yang sering memusuhi Bibi Sudarmi? Ia tak mau Romo mencari tambahan musuh lagi bagi Bibi Sudarmi, karena hanya beliaulah yang senantiasa benar-benar baik kepadanya. Bibi Sudarmi adalah adik kandung Romo yang merawatnya sedari bayi. Bibi Sudarmi sudah seperti ibu kandung. Karena itulah saat itu ia begitu menunggu kepulangan Romo demi membuktikan kejujuran ucapannya.

Perkara itu sama menyedihkannya ketika ia harus menunggu untuk bisa melihat rupa biyungnya yang konon sudah menikah lagi dengan abdi dalem di istana lain setelah diceraikan romonya. Ia tak pernah mengerti dengan penjelasan Bibi Sudarmi, mengapa biyungnya mesti selalu main sembunyi-sembunyi jika ingin melihat atau mengecup pipinya? Bukankah ia masih berstatus sebagai anaknya juga? Apakah ada dendam atau cemburu yang menciptakan jarak? Ataukah ada hal lain lagi yang disembunyikan? Sayangnya Bibi Sudarmi bersekongkol dengan perempuan itu. Padahal ia juga tahu bagaimana rasa merananya hati dalam derita menunggu. Bahkan hingga dia meninggal, belum ada satu pun lelaki yang berani meminang. Konon lantaran dulu ia pernah menyumpah-nyumpah seorang lelaki yang lancang mengatainya mirip lelaki.

* * *

Mungkin masalah pokok dalam hidup ini adalah menunggu. Sudah tak terhitung rasanya episode yang ia lewati dengan tema itu. Dan episode terbesar yang pernah ia jalani adalah ketika romonya menyodorkan lelaki yang sekarang menjadi suaminya.

Ia tiada mengenal secara utuh siapa calon suaminya itu. Apalagi ia gadis istana, tidak mengenal apa yang sekarang dinamakan orang-orang sebagai pacaran. Jadilah tahun pertama pernikahan itu sebagai hari-hari yang penuh kesalahpahaman.

Lantaran statusnya sebagai istri, tentu saja ia manut ketika diboyong ke rumah kontrakan yang berdekatan dengan sekolah tempat suami mengajar di Solo. Rasanya seperti benih cabai yang dicabut dari tempat persemaian dan dipindah ke kebun belakang yang sepi dan asing.

Pada sebuah pertengkaran yang sengit, ia sempat minggat kembali ke istana dan harus berhadapan dengan romonya. Sumbu permasalahan justru berasal dari masalah-masalah sepele. Meski dilahirkan dari perut seorang pribumi, suaminya benar-benar mirip orang Belanda yang hidupnya senantiasa teratur, tepat waktu, dan pandai memerintah. Sementara ia yang dilahirkan dan tumbuh besar dalam lingkungan istana senantiasa memperlakukan waktu seperti sebuah masakan yang harus diresapi sebisa mungkin, sehingga semua pekerjaan tak mungkin dilakukannya secara grusa-grusu dan cepat selesai. Apalagi di istana ia terbiasa ditemani pembantu.

“Cobalah pertahankan dulu. Setelah tiga tahun, kalian pasti akan saling mengenal dan mengerti.”

“Apakah Romo dulu juga seperti itu dengan Biyung?”

“Apa kau ingin seperti bibimu?!”

Apakah Bibi Suparti tampak menderita dalam kesendiriannya? Beberapa kali ia memang pernah mendapati bibinya yang tampak merana dalam tekanan kesepian. Tapi entah mengapa hal itu tak pernah ia rasakan pada kehidupan anak cucunya sekarang. Putri ketiganya dua kali kawin cerai, dan beberapa bulan kemarin dua orang cucunya juga memutuskan pisah dengan lelaki pilihannya sendiri. Mengapa mereka justru terlihat lebih bahagia dari sebelumnya?

Pertanyaan-pertanyaan itu adalah hal-hal yang akan segera ia timbun jika mengambang dalam benak.

“Aku mencintai kakekmu salah satunya karena ia seperti jam dinding. Setiap kali melihatnya, kau akan segera ingat bahwa detik demi detik yang kita lalui adalah tabungan yang kelak pasti kita bongkar,” begitulah cerita yang ia gelar ketika cucu-cucunya sekadar ingin tahu perihal siapa kakeknya. Dengan senang hati ia akan bercerita ketika karir suaminya naik, mulai dari pengajar di sebuah HIS di Solo, lalu menjadi penasihat deputi residen Belanda urusan Pribumi, lalu menjadi profesor di sebuah sekolah hukum Batavia, hingga kemudian menjadi anggota Dewan Pemerintahan Hindia Belanda dan penasihat Gubernur Jenderal dalam kurun lima tahunan. Hanya pada masa pendudukan Jepang ia menolak semua tawaran kedudukan lantaran sudah paham dan sudah menemukan jalan untuk menyokong kemerdekaan…

Ternyata romonya benar. Setelah tiga tahun, ia mulai bisa menyesuaikan diri dengan tabiat lelakinya meski kadang tebersit juga pikiran bahwa kehadiran anak-anaklah yang jadi perekat antara mereka. Toh akhirnya ia juga terbiasa melakukan semua pekerjaan rumah sendirian dan menjadikan suaminya sebagai raja saat pulang. Sungguh, semua itu ternyata ringan dikerjakan jika dengan hati riang.

“Lelaki kalau dibegituin, malah semakin menjadi lho, Nek. Pasti Kakek orangnya asik sekali, sampai Nenek segitunya dengan beliau,” timpal salah satu cucunya yang akhirnya bercerai dengan sang suami.

Kalimat itu hanya ia balas dengan senyum, lantaran tak punya cara untuk memberikan penjelasan. Kalau mau jujur, sebenarnya ia dulu juga merasakan hal yang sama. Tapi itu dulu, dulu sekali, sebelum kemudian waktu mengajari dan menjawab tentang banyak hal.

Hidup, sepertinya memang hanya soal kesabaran dalam menunggu.

* * *

“Aku cuma khawatir kalau Emak nanti jatuh sakit. Hujannya deras sekali. Emak nanti bisa masuk angin…”

“Kemarin aku bermimpi bapakmu pulang. Aku enggak mau dia pergi lagi gara-gara aku telat buka pintu,” ia ulangi lagi cerita pendek itu di hadapan anak bungsunya.

“Mak…,” manik matanya mulai berair.

“Ke sinilah, akan aku ceritakan kenapa bapakmu harus pergi hari itu…,” ia merasa cerita ini belum pernah ia ceritakan kepada siapa pun.

Ia merasa peristiwa itu hanya ia ceritakan dalam semalam. Anak cucunyalah yang justru semakin dirundung kekhawatiran, lantaran cerita itu menghantui malam demi malam.

Bahwa pasca kemerdekaan suaminya pernah banyak menulis di koran-koran hingga pernah dilirik Presiden Sukarno dan hampir jadi menteri. Tapi banyak juga orang yang membencinya. Sangat benci. Padahal itu hanya sekadar tulisan, tak menyakiti fisik siapa pun. Dan orang-orang itu mendapatkan jalan pelampiasan ketika terjadi huru-hara yang meributkan partai terlarang, harga sembako, dan pemerintahan. Hingga bapak mereka pun mengambil keputusan untuk tidak pulang demi keamanan orang-orang rumah.

Ia tahu bahwa suaminya sedang mengalami masa-masa terberat dibanding kehidupannya di masa lampau. Menghadapi kebencian bangsa sendiri ternyata lebih mematikan ketimbang menghadapi serangan bangsa asing. Dan sebagai istri, ia ingin turut memikul beban beratnya.

Maka ketika di sepertiga akhir malam itu ia melihat kepulangan suaminya, ia merasa bahwa tugasnya sudah selesai. Ia bahagia lantaran suaminya sudah tahu perihal kesetiaannya. Meski tanpa sepatah kata cinta. Meski hanya dengan jalan bersabar dalam menunggu. Anak-anak sudah besar, meski ia tak bisa menjamin kebahagiaan mereka.

Ini adalah bakti terakhirnya, ikut kepada suami. Meski kini di kanan kiri, anak, menantu, cucu dan cicit, riuh menangisi…

______________________________________

Adi Zam-zam : punya nama asli Nur Hadi, kelahiran Jepara, 1 Januari 1982.

Cerpen karnya tersebar di Kompas, Jawa Pos, Koran Tempo, Media Indonesia, Suara Pembaruan, Jurnal Nasional, dan beberapa koran nasional.

Cerbung pernah dimuat di Majalah Kartini, Femina, dan Annida-Online.

Bersama kawan-kawan, saat ini sedang aktif mengawal berdirinya sekolah kepenulisan Akademi Menulis Jepara.

sumber : kompas,id, 06 Jul 2019.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme