Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Sutar Aki dan Simbok oleh Maria Antonia SFS

Posted on Sab, 06 Jul 2019

Sudah genap enam bulan sejak Sutar datang pertama kali di kota itu bersama dengan Mbak Tarni. Barni, anak perempuan Mas Bardi dan Mbak Tarni sudah bisa berjalan tertatih-tatih. Setiap kali Sutar pulang dari memulung, anak itu sudah bisa menyambut dengan bertanya,“Lik Utar udah pulang, bawa apa?” Sutar selalu berusaha membawakan sesuatu, entah sepotong kue yang ia beli di warung, beberapa biji permen, kadang juga mainan yang ia dapat di tempat sampah, tapi sudah ia cuci bersih. Sutar menyayangi keponakannya seperti Mbak Tarni menyayangi dirinya.

Dari cerita Aki yang sepotong-sepotong, ia mulai merasa kenal siapa Aki itu. Waktu masih muda, sebelum menikah, Aki dibawa seorang tetangganya yang menjadi guru di kota itu. Aki yang mempunyai ijazah Sekolah Rakyat diterima sebagai tenaga kebersihan di sekolah tempat tetangganya itu mengajar. Aki menikah dengan seorang penjual gorengan yang berjualan di depan sekolah. Mereka tidak dikaruniai anak, tetapi hidup rukun sampai istri Aki meninggal. Waktu itu Aki masih berhak atas rumah kecil orangtuanya di desa. Tapi adik laki-lakinya telah membeli bagian Aki. Aki lalu membeli sepetak rumah di gang itu, yang ia tempati sampai sekarang.

Sementara itu Mas Bardi sudah beralih pekerjaan. Bukan lagi menjadi tukang ojek yang mencari penumpang. Mas Bardi dengan sepeda motornya berjualan sayur dan bumbu-bumbu dapur ke kampung-kampung. Rupanya pekerjaan baru itu lebih menjanjikan.

“Jadi tukang ojek sekarang semakin banyak saingan Tar. Sekarang sudah ada caktor, becak bermotor. Ada grab yang bisa dipanggil dengan hape, angkot pun sepertinya semakin banyak. Semakin sulit mendapatkan penumpang. Yang paling kasihan sepertinya becak tanpa motor. Bisa dapat penumpang tiga kali dalam sehari mungkin sudah untung.” Begitu cerita Mas Bardi kepada Sutar. Suatu sore dengan berseri-seri Mas Bardi berkata kepada Sutar.

“Tar, pembantu di Warung Makan Mang Atang sudah berhenti. Kamu bisa bekerja di situ sekarang.” Dengan agak kaget dan gugup Sutar menjawab.

“Ah, tidak usah Mas. Biar saya bantu-bantu Mas Bardi saja.” Bardi juga agak heran mengapa Sutar tidak bersemangat menerima kabar baik itu. Menjadi pembantu di Warung Makan Mang Atang, itulah dulu yang diharapkan. Selang setengah tahun kemudian, kesempatan itu datang. Tapi rupanya Sutar sudah punya rencana lain. Selama ini Sutar memang mulai bantu-bantu Mas Bardi. Mas Bardi punya keterampilan jual sayur dan bumbu-bumbu karena sesudah lulus SMP dulu dia bekerja pada Bu Suminah tengkulak sayur dan bumbu-bumbu. Dia diajak ke kota membeli kentang, buncis, wortel, kubis, dan macam-macam bumbu. Dia angkut semua belanjaan itu ke beberapa becak langganan. Mereka pulang naik kereta api. Dari kereta api disambung naik kereta kuda ke desa. Esok hari Bu Suminah akan memasok dagangan itu kepada mereka yang telah memesan, para penjual sayur dan bumbu di pasar desa. Maka Mas Bardi tahu betul mana sayur dan bumbu yang berkualitas dan mana yang jelek. Sebagai penjual sayur dan bumbu keliling Mas Bardi lalu sering mendapat pesanan dari ibu-ibu yang mulai percaya bahwa Mas Bardi akan membelikan sayur dan bumbu yang cukup baik. Sutar membantu Mas Bardi tidak setiap hari, hanya kalau banyak pesanan saja. Selebihnya ia masih tetap ikut Aki memulung.

“Tawaran bekerja di warung Mang Atang sudah tidak saya sanggupi Ki,” begitu kata Sutar kepada Aki ketika siang itu ia beristirahat di rumah Aki sepulang memulung.

“Waktu pertama kali datang dulu seperti pintu masih tertutup untukmu Tar. Sekarang ada beberapa pilihan. Bekerja di warung, belajar menjadi penjual sayur, atau tetap memulung sambil sekolah paket C. Orang miskin seperti kita ini memang harus cepat dewasa. Seperti kamu harus cepat mencari rezeki sendiri. Sekarang juga kamu harus memilih sendiri. Kalau kamu anak orang kaya, seumuran kamu ini pasti masih dicukupi segalanya oleh orang tuamu.” Seperti biasa Aki mengakhiri kata-katanya sambil terkekeh.

Di rumah Mbak Tarni, lama Sutar menimbang-nimbang. Membantu di warung sudah ia putuskan bahwa itu tidak dia pilih. Mungkin juga Mang Atang sudah mendapatkan pembantu baru lagi. Membantu Mas Bardi sepertinya masa depannya sudah kelihatan, ya menjadi penjual sayur. Tapi Sutar ingin lebih dari itu. Tetap menjadi pemulung dan sekolah paket C, sepertinya lebih menarik, karena belum kelihatan bagaimana kelanjutannya. Sedangkan Sutar juga tahu bahwa lulusan SMA juga tidak mudah mendapat pekerjaan.

Waktu itu Aki dan Sutar lewat di depan Pos Satpam, tempat setumpuk kayu limbah ada di belakangnya. Hanya kayu itu sudah tidak ada. Kata Aki mungkin sudah dijual.

“Ki, lama tidak kelihatan. Koran bekas sudah menumpuk lho!” Seorang ibu yang keluar dari pintu gerbang menyapa Aki. Sutar mengenali perempuan itu yang dulu membagikan nasi kotak di Pos Satpam.

“Iya Bu, besok saya ambil. Sekarang kan Ibu mau belanja rupanya.”

“Itu siapa Ki?”

“Cucu saya Bu.”

“Tidak sekolah?”

“Sudah lulus SMP tapi tidak ada biaya untuk melanjutkan.”

“Wah, lebih baik ikut paket C saja.” Itulah awal mulanya ada pilihan ikut paket C untuk Sutar.

Sutar sudah yakin pada pilihannya. Tetap memulung bersama Aki dan mengikuti kursus Paket C. Sutar juga masih ingat perkataan bapak gurunya di SMP dulu. Melanjutkan sekolah bukan selalu berarti supaya bisa jadi pegawai kantoran. Melanjutkan sekolah supaya bisa berpikir lebih baik. Sutar ingin supaya bisa berpikir lebih baik, lalu juga bisa hidup dengan lebih baik. Setidaknya Sutar ingin memiliki kehidupan yang lebih dari orang tuanya. Bapak yang buruh bekerja di ladang orang, dan Simbok yang menawarkan jasa mencuci pakaian tetangga.

Sutar semakin senang dan hormat kepada Aki. Orang tua itu menjadi guru menghadapi kehidupan baginya. Aki menyemangati Sutar untuk membaca koran-koran lama, atau majalah-majalah lama yang kadang bertumpuk di rumah Aki karena belum dijual lagi. Kalau ada yang Sutar minta karena masih akan dibaca, dengan rela Aki memberikannya. Sutar mulai mengenal orang-orang yang sukses mencari rezeki bahkan hanya dengan lulus SD. Membuka Warung Tegal, atau sering disebut warteg. Tapi Sutar merasa bahwa ia tidak memiliki kemampuan seperti itu. Sutar juga ingin sukses tapi mungkin dengan cara lain sesuai dengan apa yang dia bisa.

Kembali Sutar mendorong gerobak Aki. Kadang-kadang bersama dengan Aki kadang-kadang juga sendirian. Ia mulai mengenal agak banyak sesama pemulung. Ada yang menggunakan gerobak seperti dirinya. Ada yang jalan kaki dengan menenteng karung, bersepeda onthel, malahan ada yang menggunakan sepeda motor. Ada seorang yang menggunakan gerobak, memakai kacamata hitam, ikat kepala batik, lalu suka bermain hape. Sutar kadang mencuri pandang, itu bukan hape murahan. Idola Sutar tetaplah Aki. Sutar tetap memulung setiap hari. Ia bertekad mengumpulkan uang untuk mendapat selembar ijazah paket C yang setara dengan SMA.

Sambil memilah-milah sampah di rumah Aki, Sutar masih terus menimbang-nimbang. Memang pilihannya sudah mantap, tetapi ia tahu pasti bahwa Simbok tak akan pernah menyetujui pilihan itu. Simbok tak akan rela anaknya yang sudah lulus SMP yang dibiayai dengan cucuran keringat mencuci baju tetangga, akhirnya hanya menjadi pemulung. Bahwa Sutar akan mempunyai ijazah setara SMA, itu pasti tak akan masuk perhitungannya. Sutar sudah kangen sama Simbok. Ia ingin pulang kampung menjenguk Simbok. Untuk itu ia sudah punya uang. Bahkan uang saku yang diberikan Simbok waktu mau berangkat ke kota juga masih ada. Ia ingin bercerita kepada Simbok tentang Aki. Orang tua yang baik hati itu. Yang punya pensiun sebagai tenaga kebersihan sekolah, tapi masih mau menjadi pemulung. Dengan tertawa Aki bilang bahwa sebagai pemulung ia ikut berjasa bagi kebersihan kota.

Tapi Sutar sendiri juga ingat, bagaimana dengan dirinya sendiri? Bagaimana nanti bercerita kepada teman-temannya di SMP dulu, yang sekarang sudah melanjutkan sekolah ke SMA atau ke SMK? Apa yang akan ia banggakan? Mengatakan bahwa di kota ia menjadi pemulung? Tak akan pernah. Ternyata Sutar sendiri juga malu, meskipun sebagai pemulung dia bisa mendapat uang. Mungkin lebih banyak dari yang didapat Simbok dari mencuci pakaian. Lebih banyak dari yang didapat Bapak dari membersihkan kebun tetangga. Tak ada yang bisa menjadi jalan lain bagi Sutar ijazah setara SMA harus didapat dulu. Baru ia berani pulang menjumpai Bapak dan Simbok. Sementara itu pikirannya sudah melayang lagi. Sesudah mendapat ijazah SMA, selanjutnya lalu apa?

Maria Antonia SFS : seorang biarawati lahir di Klaten, 14 Februari 1948, tinggal di Sukabumi.

sumber : kompas.id, 06 Jul 2019

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme