Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Suatu Hari yang Ajaib oleh Meirisman Halawa

Posted on Sab, 27 Jul 2019

Perumnas Dahana, 21.00

(Dingin. Udara menerobos masuk ke dalam rumah dan segera membuat orang-orang di dalamnya mendekap dada. Mauri beranjak dari tempat duduknya, menutup pintu dan jendela depan. Mata Mauri kembali tertuju pada perut istrinya. Lebih besar dan kelihatan bergerak-gerak. Kasihan Dira. Seumur ini masih harus melahirkan. Ini adalah bayi ketiga yang akan dilahirkan istrinya. Semoga bayi kami seorang laki-laki yang kuat. Bisa membantu orang tuanya kelak).

“Bang…Abang?”

“Hmm..?”

“Sejak tadi dia ndak tenang. Terus menendang. Mungkin sudah hampir waktunya.”

“Oh, ya?”

“Abang kok ndak perhatiin. Saya serius, Abang. Mungkin bayi kita lahir minggu ini.”

“Minggu ini?”

“Nanti kalau laki-laki kita beri nama siapa?”

“Dari mana kamu tahu dia laki-laki?”

“Perasaan saya sepertinya bilang laki-laki. Dia suka nendang. Mungkin nanti jadi atlet silat atau pemain bola, ya?”

“Ha…Ha…”

“Bagaimana kalau kita beri nama : Mauri Cinta Dira?”

“Nama apa itu? Kok aneh?”

“Habis Abang ndak perhatiin saya. Memangnya apa sih yang dipikirkan?”

(Tersenyum). “Tidak ada.”

“Pasti ada.”

Dahana Sogawu-gawu, 08.20

(Pasti ada. Dira akan melahirkan. Biaya pasti sangat besar dan Mauri sekarang belum punya uang. Pekerjaan saja serabutan. Masih untung mereka bisa makan nasi tiap hari. Dari mana uang harus didapat).

“Ada yang bisa saya bantu.”

(Perempuan cantik itu menatap curiga. Ini jalanan sepi. Seorang perempuan dengan mobil mogok. Dan… sekarang ada laki-laki asing tak dikenal berdiri di depannya)

“Jika mau saya bantu, saya akan periksa mesinnya.”

“Saya….?”

“Saya cuma mau membantu. Tapi kalau tidak mau, tak apa.”

“Maaf…! Mesinnya ngadat. Aneh ..?”

“Saya Mauri. Saya mengenal sedikit tentang mesin mobil. Mungkin bisa membantu. Tolong hidupkan mesinnya!”

(Pintu dibuka. Mauri melirik. Di bangku depan ada HP mahal keluaran baru. Di sampingnya tas cantik tergeletak).

Mungkin di dalamnya banyak uang.

“Bagaimana? Bisakah diperbaiki.”

“Hmm….Tidak ada masalah serius. Cuma air pendinginnya hampir habis. Itu biasa. Mesin terlalu panas. Kamu punya air mineral botol?”

“Ya…Saya punya di sini.” (Mesin kembali dihidupkan. Mula-mula ngadat tetapi kemudian normal). “Wah…! Saya benar-benar mengucapkan terima kasih.”

Tas itu pasti berisi uang. Dari HP-nya saja yang mahal, dia pasti orang kaya.

“Terimakasih, Pak. Berapa harus membayar ini.”

Kalau saya rampok takkan ada yang tahu. Ini jalanan sepi. Uangnya pasti lebih dari cukup untuk biaya bersalin Dira.

“Pak …?”

(Ada nada khawatir. Juga takut)

“Eh…Ya. Tidak. Tidak. Terima kasih juga. Tidak usah dibayar. Saya senang bisa membantu Anda.”

“Hei…tunggu. Ini ambil sajalah. Ini bukan bayaran. Tapi sekadar ucapan terima kasih.”

“Tidak usah. Saya senang hari ini bisa membantu seseorang. Seseorang tidak harus dibayar untuk yang ia lakukan.”

“Tapi…?”

“Terima kasih. Ini tadi tidak terlalu merepotkan. Mungkin lain kali Ibu yang akan membantu saya. Terima kasih.” (Perempuan itu terbengong). ”….Atau begini saja. Ibu bantu seseorang hari ini, kita impas.” Ha? Sejak kapan saya pintar ngomong seperti filsuf.

“Tunggu, Pak..!” (Tapi Mauri sudah berlalu). Aneh. Siapa laki-laki itu. Bicaranya seperti pendeta atau ustadz saja, atau malaikatkah dia? Benar-benar aneh.

Jalan Sirao, 11.35

(Aneh..? Tidak juga. Perempuan itu mengeluh. Cuaca memang tidak mudah ditebak tahun-tahun terakhir ini. Tadi pagi begitu cerah dan tiba-tiba hujan, itu bukan hal yang aneh. Malah kejadian tadi pagi yang lebih aneh. Masa ada orang yang ditawarin upah malah menolak. Hmm…mungkin memang harus begitu. Orang kadang harus membantu seseorang tanpa pamrih. Jangan berharap sesuatu pada orang yang dibantu, demikian kata Pak Guru saat masih sekolah dulu. Perempuan itu mengangkat bahu. Hari ini ia mendapat satu pelajaran dari seorang yang tak dikenal. Siapa namanya tadi? Mau…Mauri? Entahlah. Hujan tiba-tiba turun dengan deras. Padahal tadi pagi begitu terik).

“Payung…Tante. Payung.”

Brengsek. Cantik-cantik begini dipanggil tante. “Makasih. Tidak usah!”

“Cuma seribu kok, Tante. Dari pada nunggu di sini terus.\'”

Cerewet juga nih, anak. Sebentar lagi dia pasti maksa. “Eh .. dibilang ndak usah. Ya, ndak usah. Cari yang lain, ya!”

(Memelas). “Ya sudah, deh. Mari, Tante. Payung ..! Payung ..!”

Ah…kasihan juga nih, anak. Masa hanya karena dibilang tante saya tidak bisa keluarin seribu rupiah. Eh…bukankah orang aneh tadi pagi itu bilang supaya membantu seseorang. Nah ini saatnya. Lagipula saya memang buru-buru. “Hei! Payungnya, Dek!” (Si anak menoleh. Bingung, tapi segera berlari menuju perempuan itu.)

“Ada apa, Tante. Jadi nyewa payungnya?”

“Iya. Tolong seberangkan saya ke mobil di ujung parkir.”

“Baik. Mari, Tante.”

“Siapa namamu?”

“Fa\’a. Fa’atulo, Tante.”

“Sekolah di mana? Ini kan jam sekolah. Kenapa tidak ke sekolah?.”

“Saya enggak sekolah hari ini. Ibu lagi sakit. Butuh biaya berobat. Hujan kan tidak selalu muncul tiap hari.”

“Oh .. “(Kasihan) “Nah ini uang untuk kamu, ya.”

“Wah besar sekali. Tunggu di sini, Tante. Biar saya tukar di warung sana.”

“Tidak, tidak. Ini uang sama kamu semua. Kasi biaya obat ibu kamu.”

“Ha .. Tante serius. Ini seratus ribu, Tante ?”

“Iya. Semua untuk kamu. Atau begini saja. Kalau kamu mau berterima kasih bantu seseorang hari ini tanpa mengharapkan imbalan. Bagaimana? Dan satu lagi…. jangan panggil saya Tante.”

(Tiba-tiba tangan perempuan itu diraih si Anak. Menciumnya beberapa kali).

“Tante…Eh, Kakak baik sekali. Benar-benar baik. Kakak pasti bukan manusia. Kakak…kakak…Malaikat cantik. Malaikat tercantik di Gunungsitoli.”

“Hi…Hi… ” Cuma seratus ribu, saya sudah dipanggil malaikat. Cantik lagi katanya. Tapi kenapa hanya di Gunungsitoli, maunya se-Indonesia atau se-Asia Tenggara paling tidak. Anak itu pasti sangat butuh uang itu.

Jalan Gomo, 16.10

(Ini bukan sekadar seratus ribu. Ini keajaiban. Ibu lagi sakit, dan malaikat tadi tiba-tiba kasi uang besar. Jika sudah sehat, ibu akan kembali jaga warung. Dia tidak perlu nyewa payung. Bukankah itu ajaib).

Akhh..!

“Ma…maaf, Pak. Saya…saya tidak sengaja.”

“Makanya hati-hati kalau jalan. Ya…sudah. Saya lagi buru-buru. Hati-hati lain kali ya.”

“Iya, Pak. Makasih.”

Uff… untung saja Bapak itu tidak marah. Saya juga yang salah, kurang hati-hati sehingga nabrak orang. Untung tidak dimarahi. Eh…apa itu?

(Sebuah dompet)

Pasti milik Bapak tadi, Hmm .. wah isinya lumayan juga. Apa ini. Pasti ini yang namanya kartu kredit. Bapak ini pasti orang kaya. Kalau saya ambil uangnya, saya pasti bisa jajan tiap hari. Lumayan. Tapi…ini namanya mencuri. Uang beli obat untuk mama sudah lebih dari cukup. Siapa tahu ini maksud Tante malaikat tadi. Membantu seseorang tanpa mengharapkan imbalan. Sebaiknya saya kembalikan saja.

“Pak…Pak, tunggu ..!”

“Ada apa, Nak?”

”Dompet Bapak terjatuh.”

“Ha? Di mana?”

“Ini, Pak!”

“Ya, Tuhan. Tolol sekali saya. Kamu…kamu…Wah kamu baik sekali. Siapa namamu?”

“Fa\’a, Fa’atulo, Pak.” (Suaranya mantap selalu jika menyebut namanya)

“Terima kasih, nak Fa\’a. Jarang ada anak sejujur ini. Saya benar-benar berterima kasih. Hmm…ambillah ini. Saya senang atas perbuatanmu ini.”

“Enggak usah, Pak.”

“Lho.”

“Kalau saya mau ambil uang ini, untuk apa dompet Bapak saya kembalikan.” Iya juga, ya. “Terima kasih, Pak. Saya hanya mengikuti saran seorang malaikat kakak cantik tadi siang. Dia bilang supaya saya harus menolong seseorang hari ini.”

“Malaikat kakak? Maksudnya?”

“Iya. Bukan malaikat tante. Tapi malaikat kakak.” Ngawur “Maksudnya,.. ya, enggak usah dikasi uang lagi. Saya senang bisa membantu, Bapak.”

“Hei…tunggu..?”

“Saya permisi, Pak ya.”

“Tunggu.. tunggu. Begini saja. Kamu masih sekolah?”

“Masih, Pak. Kelas lima.”

“Di mana? Rumahmu juga di mana?”

“SD Boyo. Saya tinggalnya di Honu. Tuh..! tidak jauh dari sini.”

“Nah .. Begini saja saya akan temui kamu kapan-kapan di sana. Mungkin saya bisa bantu sesuatu.”

“Enggak usah, Pak. Bisa-bisa malaikat tante nanti marah karena saya tidak ikhlas bantu orang lain.”

“Malaikat tante..?”

“Iya .. Eh, bukan…bukan. Maksud saya malaikat kakak? Katanya hari ini saya harus membantu seseorang tanpa mengharapkan imbalan. Malaikat kakak itu sangat baik, Pak.”

Ha…?

Jalan Fondrako, 18.15

(Ada malaikat tante, malaikat kakak dan mungkin malaikat anak. Hmm atau anak malaikat. Ha… Ha … hari ini lucu tapi luar biasa. Dompet hampir-hampir hilang dan anak aneh itu benar-benar baik. Mungkin kapan-kapan saya menemuinya, siapa tahu saya bisa membantunya).

“Selamat sore, Bapak… Mari biar saya bawa tasnya.”

“Ya… ya ini, Bi. Ibu sudah pulang?”

“Belum, Pak. Tapi Nyonya sudah nelpon tadi. Katanya dia mungkin makan malam di luar.”

Selalu begitu. Semua sibuk. Kadang-kadang saya merindukan masa-masa dulu saat masih sulit. Semua sering bertemu dan tertawa bersama. Untung Bibi ada di sini. Eh… sepertinya kandungan Bibi semakin besar. Kasihan Bibi ini. Umurnya sudah lebih kepala tiga, masih harus melahirkan. Hmm.. Sepertinya saya juga kurang memperhatikan orang-orang di rumah ini.

“Ini kopinya, Pak.”

“Terima kasih, Bi. Oh, ya Bi kandungan Bibi sudah bulan berapa?”

“Doro bawa nia. Bibi sebenarnya malu, sudah tua begini masih melahirkan. Tapi Ama Sakhi benar-benar merindukan anak laki-laki. Siapa tahu ini anak laki-laki.”

“Ha… ha… untuk apa malu, Bi. Itu anugerah. Begini, Bi, saya pikir Bibi perlu istrahat. Lebih baik menjaga kandungan Bibi saja. Saya mau kasih waktu istirahat sama Bibi sampai benar-benar sehat setelah melahirkan.”

“Maksudnya?”

“Iya, Bibi sudah bekerja belasan tahun di sini. Wajar perlu diberi cuti seperti itu.”

“Tapi, Pak?”

“Jangan khawatir tentang gaji Bibi. Walau Bibi libur gajinya tetap dihitung. Sementara cukup Eta yang bantu-bantu di rumah. Dan… satu lagi, suami Bibi sekarang kerja di mana..?”

“Tidak ada, Pak. Sejak di PHK, dia kerjanya serabutan”.

“Nah… kebetulan, Pak Daro, tukang kebun sudah minta pamit sama saya. Dia diajak anaknya ke Jawa. Suruh Ama Sakhi ke sini, ya”.

“Benar, Pak?”

“Iya, Bi.”

“Pak…Bapak benar-benar baik sekali. Bapak punya hati seperti malaikat.”

Malaikat? Ha… Ha… ? Ada tante malaikat, ada anak malaikat dan saya menjadi bapak malaikat, ha… ha…

“Hmm…saya hampir lupa. Kemarin Ibu nitip sesuatu. Tunggu. Biar saya ambil sebentar.”

“Apa itu, Pak?”

“Ini ada sekadar biaya persalinan. Tidak begitu besar. Tapi cukup membantu. Sisanya anggap saja kado kelahiran bayi Bibi…”

“Ha…?”

(Majikannya mengangguk kepala pelan. Tulus. Bibi menitikkan air mata. Terharu).

Mungkin ini yang dimaksud malaikat kecil itu. Menolong seseorang. Betapa indah hidup ini… bila seseorang mau membantu tanpa pamrih. Mungkin sebaiknya Bibi saya anjurkan pula hal yang sama. Biar dunia jadi indah.

Perumnas Dahana, 21.00

(Dingin. Selalu begitu tiap malam. Mata Bibi tertuju pada suaminya yang tertidur di kursi rotan ruang tamu. Kelihatan ia capek. Benar-benar capek).

“He… kamu sudah pulang… ?”

“Lho kok Abang bangun?”

“Saya cuma istrahat tadi sebentar. Malah ketiduran. Abang lelah sekali…”

“Kenapa..?”

“Hmm…ndak usah dipikirin. Sana, cuci muka.”

“Abang pikirkan biaya persalinan, ya?”

“Tidak…Eh…ia, sih. Tapi jangan khawatir, Abang pasti dapat uang banyak besok-besok. Jangan pikirkan, ya.”

“Abang jangan khawatir. Tadi Bapak dan Nyonya kasi ini sama kita.”

“Apa ini…?”

“Uang biaya persalinan. Katanya hadiah, dan Abang kalau mau, bisa jadi tukang kebun di rumah Tuan. Mulai besok.”

“A… A.. apa… ? Ini uangnya besar Dira.”

“lya. Mereka baik. Seperti malaikat. Kata Bapak tadi, kalau mau berterima kasih bantu seseorang tanpa pamrih.”

Sepertinya saya pernah mendengar kalaimat itu. Di mana, ya? Hidup ini kadang tak bisa diterka. Kemarin saya susah tidur mikirin bagaimana dapat uang. Eh…, tiba-tiba dapat rezeki besar malam ini. Hm… Terima kasih Tuhan. Dan, untuk Dira, saya harus menyetujui nama bayi kami nanti: Mauri Cinta Dira. Ha… Ha…

_____________________

Meirisman Halawa : lahir di Gunungsitoli, 18 Mei 1979 dan menempuh pendidikan pasca sarjana di UPI. Kini bekerja sebagai guru.

sumber : kompas.id, 27 Jul 2019.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme