Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Kunang-kunang oleh Muhammad Daffa

Posted on Sab, 14 Sep 2019

Ketika sebagian dari warga kota memilih melupakannya, tujuh anak pengamen di bawah jalan layang malah mengenangnya sebagai pahlawan tanpa potret terbaik dalam sejarah peperangan. Ia dijuluki dengan nama pangeran kunang-kunang, atau sebutlah seorang yang gemar duduk mencangkung di puncak gedung-gedung dan merekam wajah langit ketika senja mulai angslup dan tak seorang jua pun dari kami yang peka dengan keadaan itu.

Baginya itu adalah keindahan. Keindahan yang tak melulu dituliskan menjadi puisi-puisi. Keindahan yang tak lekas tanggal dan lebih memilih dituliskannya dalam narasi-narasi cerita pendek. Suatu ketika, kota diserbu ratusan tentara. Mereka menamakan diri sebagai Duli Keadilan. Tapi bagi pangeran kunang-kunang, keadilan tak pernah ada di kota ini. Ia hanya menjadi mimpi bagi mereka yang terpuruk didera nasib sebagai warga jelata. Karena tak pernah ada yang menginginkannya menjadi milik kami. Karena tak pernah ada yang menginginkannya menjadi sepasang mata kami.

Tuan Duli mengira kami buta. Padahal kami memiliki mata yang sempurna. Bisa membedakan kejadian-kejadian khayal dan kejadian yang nyata terjadi di hadapan. Mereka tak pernah sesumbar di hadapan koloni-koloni warga kota yang mendukungnya, karena sebenarnya mereka sedang menutup kedoknya dengan topeng kepura-puraan. Nyatanya mereka tetap hantu yang sewaktu-waktu bergelora untuk menumpas kami, menembak dengan senjata-senjata mematikan.

Kami tak takut. Karena pangeran kunang-kunang selalu mendoakan kami. Ia seorang pendoa yang taat dan gemar berkata-kata dalam baris narasi. Ia suka dengan segala kegilaan. Ia percaya pada keajaiban. Ia percaya bahwa mukjizat masih nyata di tengah-tengah kota. Meski sudah tak cukup banyak orang lagi yang berharap pada keajaiban, ujarnya pada suatu sore. Kami bertemu di puncak ketinggian sebuah menara yang telah dilupakan. Pangeran kunang-kunang menyulut batang kreteknya, menghembuskannya perlahan-lahan. “Kau tahu, Arsinah, sudah seberapa lama kota ini tak disebut sebagai suaka para anjing?”

Aku menggeleng. Pertanyaannya sungguh di luar dugaan. Atau ia sedang berharap pada sebuah mukjizat, di mana pada masa yang jauh berlalu, anjing-anjing sering melakukan persalinan di rumah sakit kota dan membesarkan anak-anaknya dengan perilaku yang haram jadah. Maka dari itu, katanya, kita perlu waspada pada wabah anjing. Semakin hari semakin banyak yang jadi gila karenanya. Kehilangan kewarasan. Orang-orang di kota ini semakin jauh dari kebenaran dan norma-norma dalam nubuat.

Padahal kita pun adalah bagian dari mereka. Sudah selayaknya merasakan kegilaan-kegilaan itu, Arsinah. Tapi kita bukan apa-apa. Kita hanya pejalan remang yang mencari letak arus maha jernih. Kita mencari kebenaran. Sebelum mereka menculik kita lagi, seperti dulu. Tidakkah kau ingat ketika suamimu diciduk di rumah kontrakannya, tengah berkumpul bersama tujuh belas kawan-kawannya yang lain, tengah berdiskusi dan menyimak tutur sejarah kelam dari belasan buku kiri?

Mereka tak bersalah, Arsinah. Mereka hanya bagian dari ketidakadilan. Kita berusaha keluar dari kungkungan itu. Tapi semakin jauh kita berjalan, semakin jauh kita menghindar. Duli Keadilan selalu siap dengan senjata-senjata di tangan, mereka menyelipkan barisan para anjing yang selalu siaga di mana-mana, mereka akan menjemput kita, kau dan aku, pada hari-hari yang telah ditentukan. Arsinah, bukankah kita sama menduga, bahwa kebenaran pada akhirnya hanya bermuara pada anjing-anjing yang mati suri, yang sewaktu-waktu bangkit dari tidur nyenyaknya, menyebarkan kembali wabah ekstremis seperti yang terjadi puluhan tahun lalu? Kita akan menjadi dongeng dan dituturkan dalam buku-buku non-kanon. Kita hanya akan menjadi luka yang bertahun-tahun kembali dari kesedihan. Berupaya pulih, namun tak mampu.

“Apa gerangan makna keadilan dan kebenaran, bagimu, pangeran?”

“Kurang lebih sama: mengedepankan luka yang telah dikubur, menggalinya kembali, dan bersedia mempertanggungjawabkannya.”

“Siapa yang harus bertanggung jawab?”

“Duli Keadilan. Mereka adalah bagian dari sejarah kota ini. Mereka tak terlacak. Mereka selalu sembunyi. Mereka kembali di saat-saat genting seperti sekarang. Ketika zaman mulai berisik dan kita hanya bisa menjadi penonton di luar lingkaran.”

***

Setelah bertahun-tahun kepergiannya, perlahan Arsinah mulai mengerti bahwa ucapan pangeran kunang-kunang ada benarnya. Kota Silap bukanlah sebuah kota yang berwajah lugu ketika huru-hara terjadi puluhan tahun silam. Ia telah menjadi saksi bagi lautan peperangan. Darah yang tumpah ke jalan-jalan. Teriakan orang yang dibakar dalam gedung-gedung. Belasan perempuan yang meloncat dari apartemen-apartemen. Mayat yang mencari janji. Kebenaran. Keadilan. Bedanya sangat tipis. Pangeran kunang-kunang telah membuktikan ucapannya.

Arsinah mungkin tak pernah tahu, bagaimana Kota Silap yang megah dan penuh dengan lelucon menyedihkan bisa demikian hidup dan terus tumbuh di atas penderitaan yang lama terkubur dalam suram tanah. Arsinah hanya kerap kali menduga, Duli Keadilan telah menjadi dongeng usang di kota ini. Duli, sebagaimana yang diceritakan pangeran, adalah lanskap terdepan dari hulu peperangan yang tak kenal jeda dan ampun. Sejarah barangkali telah alpa, bahwa langit pernah mendung bergulung-gulung, membakar tangisnya dalam tungku nirwana, melihat ketidakadilan yang seakan tontonan sehari-hari penduduk Kota Silap.

***

“Pangeran kunang-kunang, apa lagi yang bisa kau ceritakan padaku tentang Kota Silap? Aku ingin banyak tahu darimu.”

“Tak ada yang bisa kuceritakan lebih banyak. Aku tumbuh dalam pertengkaran-pertengkaran para anjing di kota ini, menjadi satu-satunya saksi yang meyakini bahwa mukjizat pernah turun dengan wajahnya yang lain.”

“Seperti apa mukjizat yang kau maksudkan? “

“Dulu, ketika Duli Keadilan membabat habis sekumpulan etnis yang dituding sebagai pemicu peperangan, ada seorang pemuda yang datang dan berusaha melerai pembantaian itu. Ketua Duli menanyakan apa tujuannya datang melerai dan ia hanya menjawab, “kita sesama pemuja Tuhan. Layakkah melakukan hal yang demikian?” Pertanyaannya membuat Duli Keadilan berang. Salah seorang dari mereka menembak tepat di jantungnya. Sementara anggota-anggota yang lainnya menembak pelipis dan keningnya yang dilumuri cahaya.”

“Lalu apa yang terjadi? Apakah pemuda itu mati dengan tubuh yang bersimbah darah? Ataukah wajah yang remuk nyaris tak bisa lagi terbaca?”

“Peluru-peluru yang menghujani pemuda itu seakan-akan menembus dinding baja. Tubuh si pemuda tak mengalami lecet atau pun luka sedikit pun. Perlahan, ia mengudara. Tubuhnya mengambang di atas tanah. Dan ia merentangkan tangan. Punggungnya bercahaya, dan aku melihat ia meneteskan air mata. Air mata yang tak biasa. Air mata seorang yang disucikan. Air matanya deras mengucur, membuat beberapa jalanan tergenang. Duli Keadilan dibuat tercengang-cengang dengan insiden hari itu. Sebuah peristiwa yang tak akan mereka lupakan.”

***

” Apakah ada seekor anjing yang semalam menyusup ke dalam tidurmu?” Tanya pangeran kunang-kunang kembali terlintas di kepala Arsinah. Pertanyaan yang diajukannya tepat bertahun silam, sebelum ratusan peluru deras menghujani tubuhnya hingga tersungkur penuh darah.

“Aku tak tahu. Tapi aku bisa merasakan endusan napasnya. Napas yang menderu dan penuh geram. Napas yang terus-menerus dan tak putus. Aku membayangkannya sebagai bagian dari lelucon malam hari.”

“Berarti kau tak bisa tidur dengan nyenyak selama menetap di Kota Silap. Kau harus enyah. Menghilang dari barisan para anjing.”

“Tapi mereka akan mencariku, pangeran. Mereka akan datang dan mendobrak pintu rumahku yang kumuh. Mereka akan bertanya apakah aku masih menyimpan album catatan harianmu yang kusimpan rapat-rapat dalam kotak kayu di ruang bawah tanah. Dari album itulah aku tahu tentang sejarah Kota Silap. Kau menuliskannya seperti babak-babak dongeng yang melenakan. Membuatku percaya jika ketidakadilan terus tumbuh dan membiak di kota ini, menjelma anjing-anjing yang senantiasa didera lapar. Dan jika mereka berhasil menemukannnya, kau akan jadi santapan segar yang kesekian. Tubuhmu dikoyak-koyak. Mereka akan membuang bagian-bagian tubuhmu yang telah hancur ke tempat yang berbeda dan saling berjauhan. Karena sebagian percaya, kau bukan seorang manusia biasa. Kau adalah turunan pertapa sakti. Memiliki segudang sihir. Dapat bangkit setelah mati.”

“Mereka hanya mengada-ngada, Arsinah. Jangan percaya. mereka pasti juga akan membujukmu. Mereka akan bertanya padamu di mana aku bersembunyi. Mereka juga akan bertanya di mana kau sembunyikan catatan harian milikku yang bertutur tentang kegilaan para anjing. Jika mereka dapat menemukannya, tamatlah aku.”

“Seperti yang kau duga, mereka tentu saja akan membawa tubuhku jauh ke dalam hutan, menyeret-nyeretnya bagai bangkai yang penuh dengan lumuran dosa.”

***

“Aku mencintaimu, Arsinah,” ujar pangeran kunang-kunang pada suatu malam.

“Kau harus tahu, setiap kita telah ditentukan oleh lorong-lorong yang menyediakan banyak arus. Kita tinggal pilih ingin melewati yang mana. Arusnya sangat tajam dan dalam. Kau harus jeli dan membaca dengan jernih. Jangan sampai terjebak. Atau kau akan celaka dan dipenuhi sesal demi sesal. Seperti mereka yang gegabah untuk menetap di kota ini, menikahi keturunan-keturunan anjing, membual tentang perangai Duli Keadilan. Adakah kau berpikir mereka raja, Arsinah? Adakah kau menduga mereka adalah bagian dari kesedihan yang tersembunyi di dada warga jelata, hidup dalam naung kumuh rumah-rumah rapuh, menyisir senja setiap sore, mengais harapan yang tercecer sembarangan di jalan-jalan, berebut jatah, lalu mati dalam keterasingan suara?”

“Kita saksikan Kota Silap dengan segala keajaibannya, perang yang tak ada sudah, kedatangan manusia dari penjuru langit, bunuh diri para wanita muda di hari silam, dan banyak kenangan-kenangan yang menjadi batu di tiap penjuru, monumen terbaik yang diukir tangan para perupa, dan kita tak akan pernah lupa.”

“Apakah keajaiban selalu diukur dari seberapa banyak penderitaan yang mendera, pangeran?”

“Barangkali iya. Karena kita yang demikian percaya. Karena kita yang kadung mengerti bahwa luka terus ditumbuhkan dalam ingatan yang tak pandai menyurat obituari kisah. Kita hanya dalih. Dari sebagian yang terbujuk. Kita hanya episode tahun-tahun tugur yang terus mengulang, tak tahu sudah seberapa jauh jejak menempuh.”

“Apakah pangeran percaya keajaiban selalu datang dari langit yang telah diberkati?”

“Tergantung dari seberapa dalam kita memaknai rindu. Karena semakin sunyi kita pada barisan kisah yang kubagi, maka akan semakin khusyuk kepalamu menampung tajuk-tajuk warna dari sebagian peristiwa. Peristiwa yang tak akan kau lupakan. Juga namaku yang akan terus kau kenang.”

Sekarang aku tahu. Setelah kau pulang, pangeran, semakin tampak ketidakadilan yang merongrong seisi Kota Silap. Mukjizat telah kehilangan wajahnya yang asali. Orang-orang sudah tak butuh lagi doa. Mereka hanya butuh kebenaran dari segala yang kau ceritakan. Karena kau adalah bagian dari kota ini. Karena kau adalah bagian dari kesedihan yang memilih arus maha hening. Sebab itulah kita setia percaya, bahwa yang pahit akan mudah dikenang, bukan sebagai lelucon yang amatir, sudah sepantasnya patut diperdengarkan bagi telinga tegar menampung.

Bertahun-tahun, setelah kepergiannya yang sunyi, kami masih kerap mendengar banyak pembual di kedai kopi yang mengisahkannya. Ia selalu menjadi buah bibir yang tak lekas pudar dari dinding ingatan kami. Ia seorang pahlawan dari balik kertas, menyuratkan kegelisahan-kegelisahan di Kota Silap. Ia wakil dari seluruh keluh. Pada malam-malam tertentu, sebagian kami percaya, ia kembali sebagai puluhan kunang-kunang yang berebut masuk ke ruang-ruang kota. Mencari Arsinah.

_______________________

Muhammad Daffa : lahir di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, 25 Februari 1999. Menulis puisi dan cerpen. karya-karyanya dipublikasikan di sejumlah media cetak dan antologi bersama. Buku puisi tunggalnya TALKIN (2017) dan Suara Tanah Asal (2018). Mahasiswa Bahasa Dan Sastra Indonesia, Universitas Airlangga, Surabaya.

sumber : kompas.id, 14 Sep 2019.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme