Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Sastra Setengah Cerita oleh Andre Syahreza

Posted on Ming, 10 Nov 2019

Sebaiknya kuberi nama dia Sastra.

Sebuah kisah tanpa metafora dan tanpa koma.

Ada wajah yang tak perlu dikenang. Ada cerita yang tak mesti dikarang. Karena malam sudah terlalu hitam. Sampai kita lupa di ruang mana semua bermula.

Ini cerita di Pulau Dewata. Di La Novela. Kelab malam seperti ini mestinya tak diberi nama. Cukuplah patung Sang Kudus berdiri di dekat jembatan buatan. Tempat orang-orang menenggak bir dari botol kesekian, sebelum dimuntahkan ke bagian jamban. Patung itu tampil menyerupai kenyataan dalam kesadaran yang mulai hilang. Seperti mengingatkan orang agar cepat pulang dan memohon ampun pada Tuhan.

Thalia, namanya. Bukan Sastra. Tapi aku lebih suka menyebutnya Sastra. Supaya malam terasa seperti berada di alam fiksi.

”Aku tidak suka membaca,” kata Sastra.

Dia mencari Adam. Aku duga Adam pasti bukan seorang pembaca.

”Oya dia juga tidak suka wanita,” suara Thalia berbau Vodka Rusia.

Sastra pergi ke arah jembatan, di bawah patung Anak Tuhan yang berdiri megah menaungi para pendosa berasap Marlboro.

Di atas jam satu malam, La Novela seperti tenggelam tertelan kelam, terhapus pelan-pelan dari peta Dewata, masuk ke kabut dongeng yang tak pernah dibaca manusia. Pada saat itu aku kehilangan Thalia: sastraku!

Lalu di balik kaca tak berbingkai, aku melihat seorang perempuan berkerudung yang menyendiri di bagian ruang paling ujung. Dia seperti tidak sedang berada di sana, di dekat turis-turis Belanda. Matanya berkaca. Entah karena terlalu banyak asap atau karena ditinggal Adam dari kepercayaan yang berbeda.

Mungkin dia bisa jadi paragraf pertama kisah malam ini.

Seorang perempuan berkerudung di kelab malam? Apa itu lebih terdengar seperti kalimat pembuka bab terakhir? Aku berusaha merangkai kata dari huruf-huruf bahasa Italia yang aku baca di meja bertaplak promosi Pizza. Tak satu kata pun berhasil kucipta.

Thalia hadir kembali sebelum aku menyadari si perempuan berkerudung sedang menjauh di balik tirai: tempat di mana segala sesuatu dimulai. ”Kamu melihat Adam?” tanya Sastra masih dengan aroma vodka. Dia masih mencari Adam yang tak suka Hawa. ”Adammu pasti sedang bersama Adam lain,” kataku berharap dibaca seperti suara tokoh antagonis dari novel Portugis yang bergaya bahasa sinis.

Baru kulihat ada kolam di bawah sana, di samping meja kerja tentara Jepang yang sudah diwarnai senada kayu Jepara. Anak-anak muda Australia berciuman. Aku teringat gadis berkerudung. Apa dia sedang dirundung murung? Saat itu dimainkan kencang lagu ”We Will Rock You”. Tapi kenapa aku mendengarnya seperti ”We Will Love You”? Aku rasa aku sudah terlalu sastra. Dan terlalu vodka.

Kelab malam itu makin disesaki manusia. Orang-orang saling menari, saling mencari. Ada ratusan maksud yang menghilang di antara ruang. Menguap bersama asap yang menyiksa prasangka. Patung Anak Tuhan masih berkuasa, berdiri tegar di tengah pesta para pendusta, menjadi penanda bahwa dosa itu memang ada—seperti pahala.

Di depan meja bar, berdekatan dengan ruang yang gelapnya menyerupai lubang hitam di angkasa, aku melihat dua gadis lugu yang tak terduga berada di sana. Mereka seperti dibawa oleh keajaiban yang tak direstui para Dewa. Aku duga mereka gadis desa dari Bali bagian utara.

Keduanya berpakaian seperti sosialita, dengan gaya serupa orang yang pernah berpesta di Ibiza. Tapi tatap matanya mudah diduga: ini kali pertama mereka lari dari perkebunan kopi tempat mereka dibesarkan. Sebuah desa di samping danau, dekat taman prasasti yang telah dipugar, yang hanya dihargai dengan uang tak seberapa besar bagi siapa saja yang ingin bercumbu di balik belukar.

Mereka berdua menggenggam minuman keras khas Kuba, tapi tak satu pun di antara mereka yang berani mencoba. Minuman itu hanya mereka jadikan hiasan belaka. Itu terlihat jelas dari cara mereka menggenggam gelas. Mungkin keduanya baru berusia enam belas. Aku mendekat. Memberi mereka kedudukan sebagai sastra yang baru. Dua sastra yang tak menenggak vodka. Tapi mereka mundur satu langkah ketika menyadari bahasa kita sama.

”Kamu orang Indonesia?” tanya satu dari mereka kecewa.

Oya aku lupa. Harusnya aku bergaya Ibiza dan berbahasa Yunani. Supaya aku disangka tak bisa menerka siapa mereka.

Dua sastra menghilang begitu saja. Kali ini tanpa keajaiban. Aku mulai rindu Thalia, atau si gadis berkerudung yang menghilang di balik tirai.

Tangga-tangga yang menghubungkan setiap tingkat terlihat dari sudutku berdiri. Tampak terhubung ringkih dan tak simetris dari ruang ke ruang. Memberi kesan seolah tempat ini bisa seketika porak-poranda hanya karena gempa kecil di dasar samudra dekat pantai Kuta. Kala itu La Novela sudah jam 2 pagi. Kelab malam ini seperti monarki fantasi yang dijalankan di bawah pengaruh demokrasi tanpa orasi. Ada bendera Irlandia yang dipasang pada tembok berlubang bekas peluru mafia, seolah Al Capone pernah berkunjung ke sana setelah Frank Sinatra.

Aku berdiri di atas tangga ketika sosok itu akhirnya tertangkap mata: malaikat dengan sayap yang telah patah. Dia berjalan di antara sesaknya manusia, menuju lorong bercahaya yang menghapus batas-batas ruang, dan batas-batas keyakinan setiap orang. Bagaimana mungkin cerita setengah sastra ini menjadi begitu absurd?

Ini mestinya bukan cerita tentang malaikat bersayap patah, cahaya terang, dan keyakinan orang. Tapi malam sudah terlanjur laknat bagi mereka yang sempat menghayati ayat-ayat. Malam sudah tidak bisa dibedakan dengan hitam, meski sinar lampu begitu terang benderang hampir di setiap ruang.

Aku setengah berlari mengejar sosok itu. Masih menjajal akal dengan menduga: dia pasti seorang Amerika yang berjubah pesta Halloween. Tapi kenapa dia tampak begitu indah? Meski sayapnya telah patah?

Ah, sudahlah. Aku sudah terlalu vodka. Dan terlalu sastra.

Andre Syahreza : adalah penulis beberapa buku fiksi, di antaranya Black Interview (2008) dan City of Fiction (2010). Pernah bekerja sebagai jurnalis di Bali Post, Tempo, dan beberapa majalah gaya hidup di Jakarta.

Wahyudi Pratama : lahir di Bandar Lampung, 12 September 1977. Lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB ini aktif sebagai pengajar, pegiat drawing, serta berkarya dan mengikuti pameran seni rupa, baik di Indonesia maupun di mancanegara. Lihat portofolionya di Instagram.com/wahyudi77.

sumber : harian Kompas edisi 10 November 2019 di halaman 13 dengan judul “Sastra Setengah Cerita”.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme