Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Misteri tentang Kasri oleh Naryati

Posted on Kam, 21 Nov 2019

Agaknya kebenaran mitos bahwa Kasri bersekutu dengan setan memang benar. Seluruh warga desa ini, termasuk aku, selalu mencurigainya dalam berbagai kesempatan. Bagaimana tidak, janda tua penyendiri itu punya gelagat aneh yang sulit dipahami oleh akal sehat manusia.

Setiap pagi, sekitar pukul lima, Kasri akan pergi ke warung kopi terdekat. Ia biasa menyerobot deretan pengunjung lain dan masuk begitu saja menemui si penjual. Kemudian ia meminta satu bungkus kopi hitam yang telah disangrai dan diolah menjadi bubuk.

“Digiling to dideplok iki?” tanya Kasri. Ia ingin memastikan apakah kopi yang akan dibelinya melalui proses penggilingan atau penumbukan.

Kasri kemudian agak kecewa dengan jawaban si penjual sebab kopi tersebut ternyata digiling. Mata tuanya layu seketika. Tangannya bimbang, seluruh bahasa tubuhnya mengisyaratkan kekalahan. Ia rupanya menginginkan kopi yang ditumbuk, kopi yang masih berbau ujung alu dan pernah melekat di lesung.

Perlahan, Kasri menaruh kembali bungkusan kopi di genggamannya. Kemudian ia berbalik arah dan meninggalkan warung itu tanpa membawa apa-apa. Pagi itu dan pagi lain setelahnya, Kasri rela harus berjalan kaki ke warung yang jaraknya lebih jauh demi mendapatkan sebungkus kopi tumbuk asli.

Tak habis pikir! Memang apa bedanya? Bukankah ketika diseduh rasanya akan sama saja? Aku yang secara langsung menyaksikan transaksi itu pun heran.

Kabar angin kemudian menyeruak. Desas-desus kini beredar bahwa kopi tumbuk merupakan bagian dari syarat persembahan Kasri kepada iblis. Konon, setan tidak menginginkan kopi yang digiling dengan mesin karena itu mengkhianati citra lahiriah setan yang gagap teknologi.

Tidak hanya itu. Para tetangga juga bersaksi bahwa Kasri selalu membeli dupa di pasar. Ia rela memesan kepada pedagang langganannya dengan harga tiga kali lipat lebih mahal. Padahal, agama yang dianutnya sama sekali tidak menggunakan dupa sebagai peralatan sembahyang. Kasri juga kerap kali membuang makanan di teras rumah. Anehnya, makanan yang ia buang tampak masih utuh dan segar.

Pertanyaan demi pertanyaan kemudian timbul dengan sendirinya. Jika Kasri memang bersekutu dengan setan, lantas apa tujuan yang ingin ia capai sebenarnya? Kasri tidak kaya raya. Bahkan ia termasuk warga kategori miskin yang harus ditopang dana bantuan pemerintah. Jelas bahwa tudingan pesugihan terbantahkan. Kasri juga telah dua puluh tahun menjanda. Selama kurun waktu sedemikian lama itu, tidak pernah warga desa mencium kedekatannya dengan lelaki lain. Jadi, motif romansa supaya Kasri dapat menggaet lelaki bujang agaknya salah besar. Entahlah.

Perlu diketahui bahwa aku dan Kasri masih memiliki hubungan darah. Keanehan tingkah lakunya perlahan membuat namaku menjadi ikut tercemar. Bahkan salah satu temanku tak henti-hentinya mengejek. Ia terus-menerus mengatakan bahwa aku adalah orang yang menjadi penghubung antara Kasri dengan hal-hal klenik sialan itu.

Aku memang pernah satu kali berkunjung ke rumahnya. Kasri waktu itu menerimaku dengan sangat ramah. Ia membagikan berbagai cerita lucu tentang kehidupannya akhir-akhir ini. Bagaimana ia sekarang sudah mulai pikun dan sering lupa pada utang-utangnya. Bagaimana matanya sudah sulit diandalkan dan terkadang keliru mengenali orang. Dan bagaimana linu di dengkulnya semakin parah.

Sekilas, ia tampak sangat normal. Tidak ada gelagat aneh yang mencurigakan. Ketika Kasri izin ke kamar mandi, terbesit satu gagasan gila di kepalaku. Dengan sigap, aku menyusuri seisi rumah. Tak ada niatan apa-apa, sungguh. Hanya ingin melihat-lihat. Namun, di dalam sebuah kamar, kutemukan segelas kopi hitam yang masih hangat, sepiring pisang goreng dan jajanan pasar yang belum tersentuh, serta dupa yang menyala.

Gagasan itu kemudian berubah menjadi sesuatu yang nakal. Mungkin karena dorongan hormon remaja atau karena kekesalan yang kupendam selama bertahun-tahun lamanya, tiba-tiba saja aku ingin memberikan Kasri sedikit pelajaran. Ia harus tahu rasanya sakit hatiku selama ini supaya kita impas.

Maka kopi di gelas itu kuminum sampai tersisa setengah, begitu pun dengan pisang goreng dan jajanan lainnya. Semua kubuat sengaja berantakan. Remah-remah berceceran di lantai. Tumpahan kopi mengotori permukaan meja. Dupa yang menyala kumatikan lalu kutaruh lagi sebagaimana posisinya di tempat semula.

Tak berapa lama kemudian, kudengar pintu kamar mandi terbuka. Aku pun segera keluar dan duduk manis di ruang tamu. Memasang tampang polos seakan tidak pernah terjadi apa-apa. Seakan aku benar-benar tak berdosa dan tidak pernah mengacaukan sesajiannya.

Di luar dugaan, Kasri ternyata tidak segera menghampiriku. Ia mampir terlebih dahulu ke dalam kamar tempat diletakkannya sesajian itu, kamar yang baru saja kumasuki dan kubuat kacau tak keruan. Setan-setan peliharaannya pasti telah mengadukan tingkahku. Kasri pasti tidak akan terima dan murka.

Demi Tuhan! Seketika tubuhku gemetar.

Tanpa aba-aba, Kasri kemudian ke luar dari kamar. Ia menutup pintu dengan hentakan yang keras. Tapi tidak seperti yang kubayangkan. Di wajahnya, ada seutas senyum yang belum pernah kulihat seumur hidup. Kasri anehnya malah tampak bahagia. Lalu tibalah saat matanya menatapku dengan begitu teduh. Tidak ada sama sekali raut marah.

“Nak, Mbah Lanang uwes muleh.”

Nak, Mbah Lanang sudah pulang, itu artinya.

Mbah Kasri kemudian menjelaskan semuanya. Maka dengarkanlah pengakuan ini baik-baik, karena ia tidak akan mengulanginya untuk kedua kali: saat itu, Mbah Lanang hendak ke hutan untuk mengumpulkan kayu bakar. Penghasilannya semakin hari semakin menipis mengingat orang mulai beralih ke minyak tanah. Alhasil, utang mereka yang tercecer di sana-sini pun kian menggunung. Mbah Lanang yang malang. Ia tidak punya keahlian apa-apa. Maka segala hal dikerjakannya secara serabutan, mulai dari menjadi kuli bangunan, mengumpulkan gondang, hingga kuli panggul di pasar. Namun, itu semua belum cukup.

Pertengkaran pun terjadi. Mbah Kasri menginginkan Mbah Lanang untuk melakukan lebih. Tidak neko-neko, ia hanya ingin keluar dari jeratan utang. Biarlah tetap miskin dan melarat asal tidak ada tanggungan yang akan membebani mereka di akhirat kelak. Sementara Mbah Lanang merasa bahwa ia telah mencurahkan segala tenaga dan kemampuan yang ia punya. Demi usainya pertengkaran itu, Mbah Lanang akhirnya menjanjikan sesuatu. Ia bilang, ia akan pulang dengan membawa duit untuk melunasi seluruh utang.

Maka pergilah ia ke hutan. Dikumpulkannya lima ikat kayu bakar dan hendak dijualnya kepada pengepul. Namun, sayang sekali. Sebuah pohon tua yang memang sudah miring tiba-tiba jatuh dan menimpa tubuh Mbah Lanang. Badan pohon itu melindas perutnya. Beberapa kesaksian menyebut bahwa ada organ-organ yang tergencet keluar. Ia jelas tidak bisa diselamatkan. Mbah Lanang mati seketika di tempat dengan kondisi yang mengenaskan.

Lalu para tetangga bersaksi akan jerit tangis memilukan yang keluar dari mulut Mbah Kasri. Utang mereka memang belum terbayar, namun kepergian Mba h Lanang adalah sepedih-pedihnya hal dibanding utang apa pun juga. Mbah Lanang boleh saja pergi, tapi Kasri akan tetap hidup dalam ilusi bahwa suami yang telah menemaninya selama tiga puluh tahun itu akan kembali.

Sebagaimana janjinya. Sebagaimana dulu ia bersumpah akan menjual kayu bakar, pulang, dan melunasi segala utang. Maka itulah mengapa ia tetap menyediakan kopi tumbuk dan berbagai makanan di kamar. Semuanya adalah kesukaan Mbah Lanang semasa hidup. Itulah mengapa ia, secara rutin tanpa pernah satu kali pun absen, melayani sosok Mbah Lanang yang telah tiada.

Dan ketika hidangan yang disajikan untuk Mbah Lanang kumakan diam-diam, Mbah Kasri secara naif mengira bahwa itu perbuatan dari arwah suaminya. Ia merasa Mbah Lanang akhirnya datang. Kekasihnya itu telah menepati janjinya untuk pulang.

Barangkali, dari sorot matanya yang teduh dan tenteram, Mbah Kasri ingin mengatakan satu hal: kau telah datang, Lanang. Utangmu padaku telah lunas. Maka pergilah kau sekarang ke alammu dengan tenang.

____________________________

Naryati : lahir di Lamongan 16 Desember 1997. Saat ini, ia tengah menempuh pendidikan S1 di Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Indonesia.

sumber : kompas.id, 21 Nov 2019.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme