Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Di Ruang Bercat Putih Tiga Perempuan Berbaju Putih Berhati Tak Putih oleh Nevatuhella

Posted on Sab, 23 Nov 2019

Aku memasuki ruang bercat putih, dengan tumpukan map di tiap meja. Tiga orang pekerja melengkapi. Dua sudah berusia diatas lima puluh tahun, bahkan sudah enam puluh bisa ditaksir. Duduk sederet, menghadap pintu yang menghubungkan ruang lain. Ruang bercat putih juga. Seorang lagi, perempuan juga, agak muda, sekitar tiga puluh lima tahun. Berkacamata. Duduk membentuk huruf L dengan dua yang lain. Menghadap pintu keluar.

Aku menyerahkan map yang sudah sangat kumuh, dan sehelai kertas yang akan dikembalikan padaku. Begitu masuk tadi, si Kacamata bergantian memandangiku dan memandangi temannya si penerima map. Sepertinya ia menunggu reaksi penerima map. Kulihat juga ia memperhatikan penampilanku dari balik kacamatanya. Pakaian yang kukenakan sampai logat bahasaku, kurasa diperhatikannya. Sepatu bututku juga bahkan, yang sudah pasti berbeda jauh harganya dengan sepatu hitam berhak tinggi yang mereka pakai. Sepatuku harganya pas dua puluh ribu rupiah, harga dua kilogram beras kelas menengah. Itupun sudah kupakai selama setahun lebih. Warnanya sudah gelap dari asli abu-abunya. Aku mematung, sedikit tegang.

Lama aku menahan nafas menunggu reaksi tiga perempuan ini. Tapi fokusku pada perempuan penerima map yang membalik-balik lembar kertas dalam map. Hanya membalik tidak sempat membaca apa yang tertera, dilihat dari kecepatannya membalik kertas. Pikiranku dan pikiran perempuan ini terasa bersambung.

Aku tidak mengharap satu kata pun meluncur dari perempuan berseragam putih-putih––sama dengan dua perempuan lainnya––penerima mapku. Sebabnya kali ini aku siap melawan. Memperotes. Memukul meja kalau perlu. Tidak seperti waktu-waktu yang lalu. Mengalah, tak bisa protes lebih jauh. Waktu itu, beberapa kali terjadi di ruang ini, padahal aku hanya meminta kuitansi untuk uang yang kuserahkan sepuluh ribu padanya. Tidak banyak memang. Tapi hatiku tergores. Wajah dua orang perempuan ini kukenali dengan baik. Selalu ada dalam memoriku. Perempuan berkacamata orang baru. Terlebih kalau akan berangkat ke tempat ini. Termasuk tadi pagi. Kupersiapkan juga uang pecahan sepuluh ribu untuk mengantisipasi keributan yang bisa-bisa terjadi antara aku dan perempuan berseragam putih-putih. Di ruang putih.

Suatu kali pernah pula aku tertekan sedemikain rupa. Ini terjadi pada kali kedua, atau ketiga, aku lupa, aku ke sini. Waktu itu aku harus menebus dengan uang tebusan yang seyogianya tidak seharga demikian. Waktu itu, perempuan penerima mapku, beserta teman perempuan juga yang duduk bersebelahan menge-mob-ku. Menanyaiku, berapa uang sebenarnya yang ada dalam dompetku.

Kujawab waktu itu tujuh puluh ribu. Dua perempuan ini langsung secepat kilat memproses keperluanku. Dan aku menyimpan tanya dalam benakku.

“Segitukah harus kubayar? Tidak diperdayakah aku!?”

Dalam hati kecilku, dan semua anak bangsa negeri ini, walau aku terhitung miskin, soal uang-uang pelicin, pemulus, memudahkan urusan, sampai pada menipu dengan andalan kebodohan dan keluguan korban, kuketahui dilakukan oleh siapapun yang berkuasa. Sekecil apapun kekuasaannya. Ini sudah tertanam dalam benakku. Sudah mendarah daging dalam darahku kebencian akan hal ini.

Apa saja urusanku, mulai dari sekedar membuat surat keterangan untuk mengurus kehilangan KTP dan lain-lain, tak pernah aku bebas dari memberi uang pemulus atau uang ketik di kelurahan. Yang kuanggap sangat lucu, pernah aku mengurus surat kehilangan di kantor polisi, aku dengan terpaksa menyerahkan uang pecahan logam lima ratus dan seribu rupiahan ke tangan pak polisi. Di sini, jangan coba minta kuitansi pembayaran, kalau tak ingin kena pentung.

Ketika aku menanyakan ke beberapa toko tentang harga barang yang kutebus di ruang bercat putih, beberapa hari sesudahnya, pemilik toko mengatakan aku telah tertipu. Barang yang kutebus bisa jauh lebih rendah harganya. Dalam hati aku mengutuk tiga perempuan di ruang bercat putih berseragam ini. Kuharap perut mereka nantinya akan kena busung dengan menipuku. Termasuk menerima uang sepuluh ribu, tanpa kuitansi, yang beberapa kali kuberikan. Busung perut mereka ditambahi lagi dengan berbuntut pada untut dan burut pula. Pada kemaluan mereka. Begitu besar marahku. Tapi jiwaku masih terkontrol dengan baik.

Ketika menyerahkan map kepada dua perempuan yang sudah kuanggap tua, berseragam putih ini, aku berkesempatan memandang wajah keduanya. Sudah mulai keriput. Kantong mata mereka sudah mulai terbentuk. Rambut putih tampak diselang-seling rambut yang di cat hitam. Walau keduanya waktu itu menunduk, aku bisa memperhatikan dengan baik. Kupikir mereka mengenaliku. Mereka pernah kumintai kuitansi untuk uang yang kuserahkan sepuluh ribu, bukan satu kali itu terjadi. Kuingat-ingat waktu itu presiden negara ini masih perempuan. Dan setahun yang lalu, terakhir aku kesini, aku memberanikan diri kabur ketika harus membayar sepuluh ribu. Aku pura-pura akan menukar uang menuju kantin. Dig-dag juga hatiku waktu itu, apakah perempaun berseragam putih-putih ini akan mengejarku! Sepuluh ribu yang diperjuangkan. Bagi tiga pula. Mungkin sudah berharga sekali untuk ditabung. Bukankah menabung dimulai dengan yang keci kecil. Lima puluh orang saja yang datang ke ruang putih-putih itu setiap hari. Dikali sepuluh ribu dan dibagi tiga, setiap orangnya sudah mengantongi lima puluh ribu. Dua kali gaji seorang babu cuci. Apalagi gaji guru honor.

Sayang sekali aku tidak mengintip untuk menguping pembicaraan mereka sesudah meninggalkan ruang itu. Apa yang dibahas mereka? Kecewakah mereka? Atau salah satu dari mereka mengatakan penerima map lusuhku bodoh. Tidak agresif.

“Toh perempuan itu dari kampungnya! Dengar tadi logat kampungnya itu!” si Kacamata, yang termuda, yang belum mengenaliku, menilaiku yang memang datang dari kampung. Dan memang aku datang dari daerah yang bejarak sekitar 200 km ke kota. Tambah harus menempuh satu jam perjalanan angkot ke tempat ini. Gedung berwarna putih yang memperkerjakan semua orang harus mengenakan seragam putih-putih, baik yang tinggi kedudukannya maupun para pegawai rendahan. Kecuali tukang pangkas rumput, yang sebagaian besar adalah orang-orang yang tinggal di gedung ini yang tak harus mengenakan seragam putih-putih. Bahkan ada yang bersempak saja bekerja.

Atau memang mereka berdua, selain si Kacamata sudah tobat melakukan kecurangan- kecurangan.

“Hey, minta duit! Duit, duit!” Seorang perempuan menadahkan tangan sambil menunjuk-nunjuk hidungku. Aku terpaksa berhenti untuk menuju ruang untuk menukar selembar bon ke ruang yang juga sebenarnya putih. Tapi sudah luntur dari keputihannya. Dan para antrian hanya berda di luar. Memasukkan kertas melalui sebuah lubang cukup untuk dua buah tangan. Loket apa namanya, aku lupa.

“Sana kamu! Aku tidak punya duit. Ngompas, beraninya!” Aku berekasi seolah-olah dimata perempuan ini kulihat mata perempuan di ruang bercat putih.

“Pelit, dasar!” sergahnya.

Menyesal juga aku berperasangka padanya. Toh, ia hanya meminta. Tidak memaksa.

“Tu, bos memanggilmu!” Seru seorang lelaki berperawakan tinggi kurus, mengenakan seragam putih-putih. Sambil menunjuk seseorang yang berdiri di tangga naik ke lantai dua. Perempuan yang meminta padaku duit mengalihkan perhatiaannya, refleks.

“Gila kamu ya? Tidak malu menyuruh perempaun baik-baik membelikan rokok! Mau kupanggilkan orang gila di luar sana, yang di rumah sakit jiwa, cocok berpasangan dengan kamu. Hey, goblok!” Idealis jua rupanya perempuan ini. Mungkin ia mantan mahasiswi yang aktif di organisasi ekstra dulunya.

“Bos nanti ngasi balen ke kamu, mau!?” Laki-laki di atas tangga merayu.

“Ogah, nun sana kasi ke amoy-amoy. Aku tidak sudi nerima suap! Jelek-jelek begini, aku mantan guru, bis, eh bos. Bis bos, ha-ha-ha….”

Banyak pasangan mata memperhatikan apa yang terjadi. Aku minta jalan pada orang yang berkerumun. Tubuh-tubuh yang sempat kuminta meminggir, tak bergerak. Berkakuan, mungkin oleh otak yang sudah rusak. Bahkan ada yang sempat menadahkan tangan, dan memberi kode dengan jari telunjuk dan jari tengahnya dirapatkan dan dinaikkan kedekat bibir. Minta rokok!

Aku dan adik laki-lakiku berjalan keluar dari gedung putih menuju pintu gerbang. Kami tidak bercakap sepatah kata pun sampai melewati pintu gerbang, dan berhenti persisi di papan nama gedung: Rumah Sakir Jiwa dr. Bartalome Sijisaki. Papan nama sudah dikerubungi tanaman menjalar.

“Lima ribu keluar, bu!”

“Ya. Masih harga lama.”

“Kasihan yang mau naik betor, bu. Mereka umumnya membawa pasien gangguan jiwa. Dari daerah lagi. Tak sampai hati saya membebani mereka lagi!”

“Betul sekali yang kau katakan!”

“Tahulah ibu apa yang ada di rumah sakit itu. Selalu ada uang pelicin seperti di instansi-instansi lain yang tak mengurusi orang gila.”

“Memang bisa tambah gilanya kita kalau sering-sering kesini. Bagus uang yang dibayarkan kesini dibelikan makanan, ya enggak bang!?” Adikku, 45 tahun, duda dengan empat anak, dengan gangguan jiwa stadium rendah berunek-unek.

Nevatuhella : lahir di Medan, 1961. Alumnus Teknik Kimia Universitas Sumatera Utara. Buku ceritanya yang telah terbit Perjuangan Menuju Langit (2016), Bersampan ke Hulu (2018) dan satu buku puisi Bila Khamsin Berhembus (2019).

sumber : kompas.id, 23 Nov 2019.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme