Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Suamiku Menjadi Serigala Ketika Malam Tiba oleh Eko Setyawan

Posted on Kam, 23 Jan 2020

Bagaimana mungkin kau bisa percaya jika orang-orang di kampungmu mengatakan bahwa lelaki yang kau cintai dan telah menikahimu menjadi seekor serigala?

Begitulah yang kudengar dari orang-orang. Mereka terus-menerus mengatakan hal yang sama dan berulang hingga sampai telingaku sekarang. Tak ada penghalang ketika mereka mengatakan bahwa suamiku menjadi serigala. Cerita mengalir begitu deras. Kupikir memang mereka sengaja mengatakan hal demikian dan entah apa tujuannya.

Pertama kali aku mendengar pembicaraan mengenai suamiku yang berubah menjadi seekor serigala sewaktu aku berada di toko kelontong yang tak jauh dari rumahku. Jaraknya kira-kira hanya dua puluh lima langkah. Saat itu, sedianya aku akan membeli gula karena memang persediaan di rumah tak tersisa. Kulangkahkan kakiku kurang lebih dua puluh lima langkah menuju arah matahari terbenam.

Dengan tak berprasangka apa pun, aku sampai di sana ketika seekor anjing memandangiku dan menjulur-julurkan lidahnya. Aku memandangnya sekilas saja. Namun sepersekian detik berikutnya kutatap kembali anjing itu. Kuamati dengan seksama dan mendapati bahwa mata anjing itu menunjukkan rasa meminta iba. Aku tak mengerti apa yang diinginkannya. Namun kuputuskan untuk menghalaunya dengan kakiku agar tidak mendekat. Mungkin hal itu pula yang dilakukan oleh yang lain hingga membuatnya semakin terpuruk.

“Lha ini, Bu Marina. Apa ibu tidak tahu suaminya menjadi serigala?” kata Bu Asih― tetangga yang rumahnya berjarak tujuh belas langkah dari rumahku ke arah matahari terbit―kepada Bu Trinah, pemilik toko ketika menyadari kedatanganku. Ia seperti memintaku menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan menunggu tanggapan yang kuberikan.

Tapi apa yang dikatakan itu benar-benar tidak kupahami. Bagaimana mungkin suami yang saban malam berbaring di sampingmu berubah menjadi serigala dan diketahui oleh banyak orang namun kau sebagai istrinya tidak mengetahui apa pun? Tak wajar jika hal itu terjadi. Jika pun terjadi hal itu sama halnya dongeng yang menggelitik. Sehingga tanggapan yang diharapkan itu tidak pernah sampai di telinga Bu Asih.

Aku memilih tersenyum dan tidak memberi jawaban. Lebih memilih mengembangkan bibir dan tidak menelurkan sepatah kata pun. Mungkin senyumku itu bagi mereka adalah jawaban yang membingungkan. Tapi siapa peduli. Bukankah jika memang tak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi lebih baik diam. Memilih bungkam agar tidak malah salah dan menjadi masalah atau kelak akan jadi bahan pembicaraan yang lebih besar dan mungkin akan menjadikan situasi menjadi gawat.

“Apa Bu Marina benar-benar tidak mengetahuinya?” ulang Bu Asih penuh selidik disetujui oleh pemilik toko dengan tatapan yang begitu tajam padaku.

Perasaanku tidak keruan ketika pertanyaan itu diajukan. Aku seperti terdampar di sebuah bus yang melaju lambat dan tidak ada seorang pun selain diriku bersama sopir dan kondekturnya ketika berharap ada orang yang berdiri menunggu di pinggir jalan dan masuk bus sehingga uang setoran mereka akan genap dan tidak harus merogoh saku lebih dalam untuk menutupi kekurangannya. Suasana yang sunyi dan penuh ketegangan. Aku seperti berada di keheningan hutan dan berharap dapat keluar secepatnya agar tidak dimangsa binatang buas. Aku seperti menghadapi dua ekor serigala yang buas dan siap menerkamku ketika diriku lengah. Aku kehilangan diriku.

“Sungguh, Bu. Pernah suatu malam, suami saya yang saat itu jaga di pos ronda, beberapa kali mendengar auman dari rumah ibu. Suami saya dan bapak-bapak yang lain juga melihat orang asing yang hilir mudik lewat depan rumah Bu Marina. Sepertinya mereka bukan orang dekat-dekat sini karena suami saya dan bapak-bapak yang lain sama sekali tidak mengenalnya. Tapi ya memang belum mencoba menanyakan apa tujuan mereka kemari,” suara Bu Trinah begitu mantap seperti orang yang menyaksikan sendiri apa yang dikatakannya. Entah apa yang dipikirkannya.

Mengenai orang yang hilir mudik, aku juga tidak mengetahuinya. Aku tidur di samping suamiku dengan tenang dan tak pernah terganggu sedikit pun. Seperti tidak terjadi apa-apa dan memang menurutku tak pernah terjadi apa-apa yang mengusikku. Segalanya normal-normal saja.

“Iya, Bu Marina. Apa yang sebenarnya terjadi?” Bu Asih menekanku.

“Sungguh, Bu Asih, Bu Trinah. Saya tidak pernah merasakan hal yang aneh apa lagi sampai mengalami kejadian seperti yang diceritakan ibu-ibu ini. Saban malam, di rumah tidak ada yang aneh. Saya berbaring di samping suami saya. Saya juga tidak merasa terganggu dan memang tidak ada yang mengganggu,” jawabku ketika memang sudah tidak dapat lagi mengelak atas pertanyaan-pertanyaan itu.

Setelah aku membayar gula dan bergegas meninggalkan mereka berdua, perasaan kegelisahan meledak-ledak dalam hati. Apa yang mereka katakan begitu mengganggu pikiran dan perasaanku. Apa yang sebenarnya terjadi?

***

Bunga dianggap sempurna ketika mekar. Sebelum mekar, ia tidak dipedulikan. Ada proses yang panjang untuk mencapai kesempurnaan. Bertahan menghadapi musim yang tak menentu, bertahan dari hama, juga kadang ulah manusia yang semena-mena karena menganggapnya tak berguna. Begitu pula hidup. Akan mencapai kesempurnaan ketika dihadapkan dengan masalah. Masalah akan membesarkan hati setiap orang. Dengan menghadapi masalah, seseorang akan terasah kedewasaannya. Sehingga lahirlah diri yang sempurna. Sempurna perasaannya, sempurna menyikapi masalah, dan sempurna tabiatnya dalam menghadapi masalah-masalah baru.

Masalah mengenai suamiku masih saja mengiang di kepalaku. Aku seperti dilumat hingga lembut oleh suara-suara yang tak mengenakkan itu. Suamiku masih saja dijadikan bahan pembicaraan. Suara-suara tak mengenakkan itu terus saja menjadi bayang-bayang menakutkan. Aku merasa diriku berada di ruangan yang kosong dan hampa. Aku tak harus berbuat apa.

Setahuku, manusia yang menjadi serigala hanya terjadi di film-film murahan di negara ini yang mencontoh film gubahan Catherine Hardwicke. Sialnya adalah film yang begitu memesona itu diadaptasi secara sembrono dan malah menjadi film yang begitu tampak murahan. Tapi itu tak bisa kujadikan acuan. Mustahil rasanya jika manusia menjadi serigala. Berat untuk diterima secara akal sehat dan juga tak bisa dipercaya.

Lalu mengapa pula mereka bisa menyimpulkan bahwa itu adalah suara suamiku? Jika benar itu suara serigala, mengapa pula mereka menyimpulkan bahwa suamikulah yang menjadi serigala. Mengapa bukan orang lain. Padahal permukiman kampung ini bisa dikatakan cukup padat. Banyak suara yang lahir dari satu tempat dan terdengar dari tempat lain. Seperti gema suara yang pecah. Mengapa hal itu tidak dipikirkan oleh mereka dan langsung saja memberi cap bahwa suamiku berubah menjadi serigala. Bukan yang lain!

“Bagaimana pendapatmu mengenai apa yang dibicarakan orang-orang, Mas?” pertanyaan itu kuajukan dengan keengganan.

Aku bimbang dan takut. Bimbang ketika akan mengajukan pertanyaan itu dan takut jika saja pertanyaan itu akan menyinggung perasaannya. Namun kebimbangan dan ketakutanku kuredam demi kebaikan. Karena menurutku, seburuk apa pun yang terjadi, jika dibicarakan, semua akan melunak dan baik-baik saja.

Mas Jatmika, suamiku, menatapku dengan datar. Raut mukanya menunjukkan ketenangan. Ia seperti rusa yang cerdas dan agung. Seperti halnya rusa-rusa suci dalam kepercayaan Shinto di Taman Nara Jepang. Rusa-rusa yang hidup di kompleks rumah bekas Klan Kofokuji itu merupakan simbol dari kecerdasan dan begitu takzim pada manusia. Aku melihat gambaran itu di wajahnya.

“Kau memercayainya?” Mas Jatmika menimpali pertanyaanku dengan takzim. Penuh hormat pada lawan bicaranya. Sebagai istrinya, aku sudah paham dengan tabiatnya. Itulah yang membuatku begitu mencintainya.

“Mungkin, Mas. Mungkin saja iya dan mungkin saja tidak. Iya karena hampir semua tetangga kita mengatakan hal yang sama. Kau menjadi serigala. Mereka mendengar suara serigala dari dalam rumah kita. Namun mungkin saja tidak percaya. Aku saban malam selalu di sampingmu, dan kupikir memang tak terjadi apa-apa. Semuanya normal-normal saja,” aku menjelaskan dengan kecerewetanku. Berbanding terbalik dengan keramahan suamiku.

Lagi-lagi senyumnya mengembang. Aku selalu luluh dengan tabiatnya itu. Tapi kupikir sekarang bukanlah saatnya untuk pasrah dan menyerahkan diri. Aku juga memerlukan jawaban atas segala kebimbanganku. Sehingga kupikir Mas Jatmika harus memberi jawaban. Jawaban yang kutunggu demi memecah dan menguraikan rasa penasaranku.

Namun sebelum ia mengatakan jawabannya. Kudengar teriakan dari luar rumah. Ada yang memukul pagar dan sebagian lagi kudengar mulai menggedor pintu. Mungkin mereka melompat pagar yang tak seberapa tinggi. Mungkin hanya setinggi dada orang dewasa. Suara-suara tak mengenakkan terus saja kudengar dan semakin kencang. Aku dan Mas Jatmika berjalan bersisian menuju arah pintu. Ia menggenggam tanganku erat dan itu kuanggap sebagai cara untuk menenangkanku tanpa berkata “semuanya akan baik-baik saja”.

Tapi tak lama kemudian mereka yang sebelumnya menggedor-gedor pintu tiba-tiba bisa masuk dengan mendobrak pintu. Dihampirinya Mas Jatmika dan langsung saja diseret keluar. Aku terpelanting ke belakang dan mataku menatap lekat pada mereka. Aku mengingat sesuatu. Mereka adalah orang-orang yang pernah kulihat sebelumnya dan mungkin saja mereka juga yang diceritakan oleh Bu Asih dan Bu Trinah.

Mereka adalah orang-orang Pak Basyir yang tak lain adalah mantan kepala mandor yang kini posisinya ditempati oleh Mas Jatmika. Mungkin saja Pak Basyir merasa tersingkir dan mengerahkan orang-orangnya untuk melakukan hal buruk. Hal itu sudah lama kuketahui pula karena pekerjaan Mas Jatmika cukup bersih bahkan tidak berani menyalahgunakan pekerjaannya tidak seperti Pak Basyir.

Mas Jatmika diseret keluar dan dinaikkan mobil. Aku meronta-ronta mengejarnya namun terempas karena terdorong oleh salah seorang dari mereka. Beberapa tetanggaku hanya diam saja tak melakukan apa pun. Mungkin binggung harus melakukan apa. Aku masih berusaha memertahankan Mas Jatmika namun memang hal itu sia-sia belaka. Lantas dalam kepalaku terngiang, apakah auman yang dimaksud tetangga adalah Mas Jatmika yang disiksa oleh mereka. Entahlah. Aku tak mengetahuinya. Mas Jatmika entah dibawa ke mana.

________________________

Eko Setyawan : lahir di Karanganyar, 22 September 1996.

Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar.

Kumpulan puisinya berjudul Merindukan Kepulangan (2017).

sumber : kompas.id, 23 Jan 2020.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme