Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Poligami oleh Pelangi Pagi

Posted on Sab, 01 Feb 2020

Kebetulan seringkali membuat manusia limbung. Saya pernah mengalaminya ketika musim hujan sedang menebarkan rasa dingin dan sepi. Sore itu saya pulang belanja bulanan di sebuah swalayan. Sudah setengah jam lebih saya termangu duduk di emperan pertokoan, di antara orang-orang yang sama resahnya menunggu hujan reda.

Setiap pergi kemana pun, saya selalu ingin segera pulang dan tiba di rumah. Rasanya terlalu mewah bagi saya untuk berjalan-jalan tidak jelas tujuannya atau sekadar nongkrong bercengkrama dengan teman-teman. Makanya pulang dari kantor tidak pernah saya pergi kemana pun. Kecuali keperluan penting seperti belanja bulanan, atau membeli sesuatu yang dibutuhkan.

Hujan masih lebat ketika seseorang berdiri di hadapan saya dan menyapa.

”Asri, masih belum pulang?” tanyanya.

Saya tentu terkejut dan cepat berdiri begitu tahu yang di hadapan saya adalah Pak Hasan, atasan baru saya.

”Iya Pak,” jawab saya sambil mengangguk dan tersenyum penuh hormat.

”Tadi Bapak masuk ke swalayan Asri sedang melamun, eh sekarang masih belum beranjak juga.”

”Hujannya masih belum reda, Pak.”

”Menunggu hujan reda sekarang ini bisa jadi patung,” kata Pak Hasan sambil tersenyum. ”Ayo, ikut saja sama Bapak,” lanjutnya sambil melangkah.

Saya sebenarnya ragu-ragu untuk menerima ajakannya. Pak Hasan saya pikir melihat keraguan saya. Tapi ternyata bukan itu yang menyebabkannya menghentikan langkahnya dan berbalik lagi ke arah saya.

”Belanjaannya banyak, Bapak bantu sebagian ya,” katanya lagi. Belanjaan saya ada tiga pelastik besar. Pak Hasan menjinjing dua pelastik tanpa menunggu persetujuan saya.

Seperti kerbau dungu yang telah ditusuk hidungnya saya mengikuti langkah Pak Hasan. Setelah duduk di dalam mobil CR-V yang nyaman baru saya sadar keadaan. Saya ini selalu menghindari merepotkan orang lain. Juga menghindari orang lain berbuat baik kepada saya. Bukan apa-apa, saya takut menjadi tidak enak dengan utang budi yang harus dibalas.

”Pulangnya kemana?” tanya Pak Hasan.

Pertanyaan itulah yang menyadarkan saya. Tiba-tiba saya merasa bersalah sudah duduk di kursi mobil yang nyaman.

”Maaf Pak, saya sudah merepotkan, ya?” Saya malah balik bertanya.

Pak Hasan tersenyum. ”Jangan pikirkan itu,” katanya tenang.

”Bapak juga tidak akan tega mendiamkan Asri menunggu hujan yang tidak jelas kapan redanya. Lagipula, Bapak tidak ada yang menunggu. Bapak masih tidur di kantor. Sebentar lagi maghrib, kita harus segera berangkat.”

Saya tersipu malu. Saat menerangkan alamat saya berpikir, Pak Hasan ini bukan hanya seorang atasan yang baik, kenalan yang perhatian, tapi juga orang yang memang baik. Terhadap orang yang tidak dikenal pun, bila orang itu terlihat sedang dalam kesusahan, Pak Hasan rasanya akan membantunya.

Sampai di rumah sudah pukul setengah tujuh malam. Pak Hasan ikut shalat magrib dan saya menyiapkan sejadahnya di tengah rumah. Saya sendiri segera menengok Ibu di kamar, menyiapkan keperluan Ibu untuk shalat maghrib, dan bersiap juga untuk shalat.

”Kalau Bapak mau istirahat sebentar, saya akan buatkan teh manis,” kata saya. Pak Hasan duduk di kursi tamu, menunggu saya shalat.

”Ya, boleh. Terima kasih,” katanya.

Tidak banyak sebenarnya yang dibicarakan kemudian. Pak Hasan pun tidak terlalu lama bertamu. Hanya menghabiskan segelas teh manis. Tapi kebaikannya, perhatiannya, membuat saya limbung. Ketika tahu Ibu saya sakit, dia menengok ke kamar Ibu, memperkenalkan diri sebagai teman sekantor saya. Berbincang akrab dengan Ibu, menghiburnya, dan mengatakan Ibu harusnya selalu berbahagia karena punya anak yang sholehah dan berperilaku sangat terpuji.

”Jadi Asri hanya tinggal berdua dengan Ibu?” tanya Pak Hasan setelah pamitan kepada Ibu.

”Iya Pak, hanya berdua, tapi ada tetangga yang membantu menyiapkan keperluan Ibu selama saya bekerja.”

”Kamu anak yang baik dan berbakti, Asri,” kata Pak Hasan sebelum membuka pintu mobilnya. ”Dan anak yang berbakti, wanita yang sholehah, adalah perhiasan terindah di dunia ini.”

Saya tersenyum mendengarnya. Ada sesuatu yang menyentuh hati saya, membuatnya terharu.

”Terima kasih teh manis dan kue bikanya.”

Saya melambaikan tangan sampai mobil Pak Hasan menghilang dari penglihatan. Setelah menutup pintu dan menguncinya saya baru sadar. Apa tidak berlebihan yang saya lakukan barusan? Kenapa saya mesti menawarinya teh manis? Mengapa saya mesti mengantarnya pulang sampai ke dekat mobilnya? Mengapa saya mesti melambaikan tangan?

**

Sejak peristiwa itu hati saya sebenarnya sudah kacau. Kadang saat melamun sendiri saya teringat bagaimana Pak Hasan tersenyum, membawakan belanjaan saya, berbincang akrab dengan Ibu, memberikan pujian kepada saya sebagai anak yang berbakti dan sholehah.

Tapi perasaan itu cepat saya hapuskan. Pak Hasan sendiri tidak pernah berubah perlakuannya di kantor. Dia adalah atasan yang baik, tegas, dan humoris. Hampir semua karyawan di penerbitan buku An-Nahl menyukainya. Dia adalah manager marketing baru yang katanya pemilik sebagian saham perusahaan. Sementara saya adalah karyawan biasa, staf administrasi yang mencatat buku-buku yang dikirim dan yang laku di toko-toko buku.

Tentu saja saya malu sendiri pernah mengingat kebaikan Pak Hasan kepada saya. Kebaikan yang sebenarnya kebetulan belaka. Keyakinan itu saya tanam kuat-kuat sampai kebetulan berikutnya hadir lagi. Selesai shalat lohor di masjid agung saya makan di kantin masjid. Sendirian, karena teman-teman pada makan di warung nasi lain. Saat sendirian itulah Pak Hasan datang sambil menenteng makanannya.

”Kebetulan ada Asri,” katanya. ”Tadinya Bapak akan nyusul anak-anak ke warung nasi. Tapi rasanya sayang mesti mengakhirkan shalat. Lagipula sudah lama tidak berjamaah di sini.”

”Di sini juga banyak makanan yang enak, Pak.”

Pak Hasan duduk di depan saya. Makanannya yang dibawa di nampan adalah sedikit nasi putih, soto, goreng tempe dan kerupuk. Minumnya teh manis. Makanan yang sederhana untuk seorang manager.

”Bagaimana kabar Ibumu?” tanyanya sambil melirik saya.

Pertanyaan sederhana sebenarnya. Tapi tenggorokan saya langsung tercekat.

”Ba… baik, Pak, alhamdulillah.”

”Sudah berapa lama Ibumu itu stroke?”

”Lama juga, Pak, sekitar lima tahun yang lalu. Saya sendiri masih kuliah waktu itu.”

”Bapak kemarin baru pulang dari Sumbawa. Ingat Ibumu Bapak bawakan susu kuda liar. Katanya, susu kuda liar membuat badan lebih hangat. Sudah banyak yang stroke mencobanya dan memberikan perkembangan yang positif.”

Itulah bagian lain yang membuat tenggorokan saya tercekat. Apalagi malamnya, menjelang isya, Pak Hasan bertamu. Katanya ada keperluan ke dekat rumah saya maka sekalian saja mampir untuk memberikan susu kudu liar yang pernah diceritakannya.

Tapi akhirnya dia minum teh manis juga. Saat itulah Pak Hasan bercerita bahwa keluarganya masih tinggal di Samarinda. Istri dan kedua anaknya tidak mau ikut ke Bandung.

”Mungkin karena keluarga ada di sana semuanya, sejak kecil menghirup udara segar Samarinda, jadi rasanya segan untuk pindah,” kata Pak Hasan. ”Sementara Bapak harus memikirkan juga untuk mencari nafkah. Kemana pun harus rela pergi, meski bulan-bulan awal mengalami homesick juga.”

Dalam perbincangan yang tidak lebih dari setengah jam itu, hanya menunggu teh manis habis, Pak Hasan membuka laptop, memperlihatkan foto-foto keluarganya. Istrinya yang masih cantik di usia yang sudah 46 tahun, kedua anaknya yang sudah remaja, dan keluarga lainnya.

**

Sepulangnya Pak Hasan hati saya kembali tidak normal. Saya ingat bagaimana perhatiannya, nasihatnya, dan pujiannya. Seorang bapak yang bijak, atasan yang perhatian, sahabat yang baik. Mungkin berlebihan perasaan saya ini. Mungkin karena sudah bertahun-tahun saya merindukan seorang ayah, seorang sahabat, seseorang yang bisa membuat hati saya tenang.

Tapi begitu ingat istri dan anak-anak Pak Hasan, seperti biasa saya mesti menutup semua lamunan saya. Sampai suatu malam minggu ketika saya tidak bisa tidur, membuka Facebook pukul satu malam, ada yang masuk ke inbox saya.

”Hai, kenapa belum tidur?” tanya Pak Hasan di inbox.

”Kan malam minggu, Pak, hehe,” balas saya.

”Tidurlah, besok pagi Bapak ingin ikut memasak di rumah Asri. Asri bikin nasi timbel, Bapak bikin ayam cincane, masakan khas Samarinda.”

Besoknya Pak Hasan datang dengan membawa belanjaan yang banyak. Kami pun memasak. Makan bersama. Ibu senang melihatnya. Saya sendiri bahagia di waktu yang singkat itu. Tapi setelahnya hati saya seperti diiris dan disiram garam.

”Hanya kepada Asri sebenarnya Bapak bercerita tentang keluarga dan pribadi,” katanya saat melihat-lihat tanaman di belakang rumah. Sejak Ibu sakit, hobi saya adalah berkebun, karena berkebun bisa dilakukan sambil menunggui Ibu.

”Asri sendiri tahu, sudah hampir setahun ini Bapak berpisah dengan keluarga,” katanya lagi. Saya masih belum bisa menebak kemana arah pembicaraannya.

”Keluarga Bapak tetap tidak mau pindah ke Bandung, Bapak sendiri kerepotan harus selalu pulang-pergi Bandung-Samarinda. Akhirnya keputusannya, Bapak harus menikah lagi di sini.”

Saya tercekat mendengarnya.

”Seandainya istri dan anak-anak Bapak mengenal Asri, mereka pasti menyukai Asri,” kata Pak Hasan yang mengunci bibir saya. Perasaan saya bercampur-aduk, tapi saya tidak bisa bicara.

”Ah maaf, Bapak mungkin lancang, terlalu dini membicarakan ini,” katanya setelah tahu saya tidak mengomentari apa pun. ”Poligami itu halal secara agama. Tapi berat untuk dilakukan. Maaf bila apa yang Bapak katakan tidak berkenan, menyinggungmu. Katakan saja bila Asri tidak menyukai pembicaraan itu.”

Sampai Pak Hasan pulang saya tidak mengatakan apa pun. Sejak Pak Hasan menyapa saya, membawakan belanjaan, hati saya sebenarnya sudah tertawan. Saya ini gadis yang merindukan lelaki yang menghormati, memperhatikan, mencintai, melindungi. Hati saya merasakan Pak Hasan sepertinya bisa memberikan semuanya. Saya telah jatuh cinta kepadanya.

Tapi saya sangat mencintai Ibu. Saya ingin memberikan apa pun yang saya punya buat Ibu. Juga perasaan saya. Ibu sudah lima tahun lebih sakit stroke, tidak bisa berjalan dan bicara pun kurang lancar. Itu terjadi sejak Bapak berpoligami, menikah lagi di kota lain, di tempat kerjanya.

__________________

Pelangi Pagi : suka menulis puisi dan cerpen sejak SMU. Belajar lebih lanjut dari buku-buku dan ceramah para pengarang. Beberapa karyanya pernah dimuat Nova, Indopos, Suara Karya, Pikiran Rakyat, Solo Pos, Harian Sulawesi Tenggara, Banjarmasin Pos, dan Jembia Batam Pos.

sumber : kompas.id, 01 Feb 2020.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme