Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Berdansa dengan Kupu-kupu oleh Fitri Manalu

Posted on Kam, 13 Feb 2020

Jauh sebelum orang-orang memanggilnya kupu-kupu, Yeshika dikenal sebagai gadis kecil yang kesepian. Sepanjang hari, ia menghabiskan waktu dengan duduk bermenung di bingkai jendela kamarnya atau membual kepada orang-orang yang melintas. Yeshika mengatakan bahwa dirinya telah mengunjungi negeri-negeri yang belum pernah mereka singgahi. Orang-orang menertawakannya, meski ada pula yang melemparkan permen atau cokelat yang ia sambut dengan sukacita. Begitulah cara Yeshika menghabiskan waktu hingga senja turun dan ia bergegas menutup jendela kamarnya.

Saat itulah dunia Yeshika dimulai. Hanya ada dirinya dan suara ketukan di pintu yang sesekali terdengar. Para pelayan menanyakan apa yang ia butuhkan. Yeshika tahu, mereka cuma berbasa-basi, karena jarang sekali permintaannya dikabulkan. Para pelayan itu adalah sekumpulan boneka yang menuruti perintah ibunya. Ia bahkan tidak pernah mendapatkan permen atau cokelat yang ia inginkan. Ia membalas mereka dengan bersikap membosankan dengan harapan para pelayan itu segera pergi dari dunianya.

Kamar Yeshika cukup luas untuk ditempati sendirian. Jika mau, ia bisa berlarian di dalamnya hingga kakinya lelah. Sesungguhnya, ia tak pernah benar-benar merasa sendirian. Deretan boneka di rak-rak tinggi seukuran dinding adalah sahabat-sahabatnya. Boneka-boneka itu memiliki beragam ekspresi: murung, riang, sedih, marah, juga jenaka. Ia tinggal memilih satu atau beberapa yang ia sukai untuk menemaninya. Boneka-boneka itu sering bercerita tentang negeri asal mereka. Cerita-cerita itulah yang membuatnya berkhayal, seolah-olah ia telah mengunjungi negeri-negeri itu.

Suatu kali, ibunya masuk ke dalam kamarnya dan bertanya apa yang ia inginkan. Perempuan anggun itu tampak terburu-buru, seperti biasanya. Saat melihat seekor kupu-kupu yang sedang melintasi jendela kamarnya, Yeshika menjawab, ”Aku ingin berdansa dengan kupu-kupu.”

Sepasang alis runcing ibunya mencuat ke atas. Hening. Hingga ibunya tersadar, suara mesin yang berdesis di pekarangan sudah menunggunya. Ibunya memang tak pernah bisa berlama-lama.

”Aku akan mendatangkan guru balet untukmu. Rajin-rajinlah berlatih. Oke?” Sepasang kaki lampai ibunya yang ditopang sepatu hak runcing merah mengilap segera berbalik dan menghilang di balik pintu. Suara menderu di pekarangan membawa ibunya menuju bandara sebelum menuju belahan dunia lain yang tidak ia ketahui.

Sehari setelah kepergian ibunya, pintu Yeshika diketuk. Seorang perempuan muncul dan berbicara bak seorang tuan putri. Ia menduga, perempuan itu adalah guru balet yang dikatakan ibu. Perempuan itu membawa rok dan sepatu indah untuk menari. Ia diminta untuk mengenakannya. Perempuan itu lalu mengajarkannya beberapa gerakan dan memintanya tersenyum saat menari. Ia menatap perempuan itu dengan kesal. Ia benar-benar tidak menyukainya dan berpura-pura sakit kepala, agar perempuan itu segera keluar dari kamarnya.

Sepeninggal perempuan itu, Yeshika mengamati rok dan sepatu yang dikenakannya. Ia memang tidak menyukai sang guru balet, tetapi ia menyukai sepatu dan rok indah itu. Yeshika berputar-putar di depan cermin, seolah-olah sedang berdansa dengan seseorang dan teringat pada kupu-kupu yang pernah terbang melintasi kamarnya. Yeshika lalu mendapatkan gagasan untuk berdansa dengan kupu-kupu. Ia menanyai boneka-boneka miliknya. Adakah di antara kalian yang tahu bagaimana caranya agar aku bisa berdansa dengan kupu-kupu?

Sayang sekali, boneka-boneka itu tidak mengetahuinya. Ia merasa gelisah. Seharian, ia menanti kupu-kupu kembali melintasi jendela kamarnya agar bisa berdansa dengan kupu-kupu itu. Sayangnya, hal itu tak kunjung terjadi.

Hari-hari berikutnya, Yeshika terus memikirkan cara agar bisa berdansa dengan kupu-kupu. Guru baletnya beranggapan bahwa Yeshika senang menari dengannya karena para pelayan bercerita bahwa Yeshika sering mengenakan sepatu dan rok yang dibawakannya. Padahal, Yeshika mengenakannya agar selalu siap jika kupu-kupu datang sewaktu-waktu. Tentu saja perempuan itu tidak mengetahuinya. Karena itu adalah rahasia Yeshika bersama boneka-boneka miliknya.

Minggu-minggu berlalu. Ibunya pulang dan memberikannya sebuah boneka baru. Hal ini seperti siklus yang tak pernah berhenti: ibu masuk ke kamarnya, pergi entah ke mana, lalu pulang dan membawakannya sebuah boneka. Kali ini, ibu memberikannya sebuah boneka cantik yang mengenakan kimono bercorak bunga sakura. Sepasang pipi boneka itu dihiasi bulatan merah. Rambutnya digelung dan dihiasi tusuk konde berwarna menyala.

”Kau suka?” tanya ibunya.

”Cantik,” sahut Yeshika singkat. Ia menatap ibunya. Sepasang mata ibunya tampak lesu. Ia pernah mendengar para pelayan bergunjing, bahwa sepasang mata ibu telah kehilangan cahaya sejak ayahnya meninggalkan rumah mereka demi perempuan yang tak lain adalah sahabat ibunya.

Orang-orang mengatakan bahwa parasnya mirip dengan ayahnya. Keberadaannya pasti mengingatkan ibunya pada ayahnya. Mungkin itu pula alasan mengapa ibu sering pergi meninggalkannya.

Ibunya mengangguk puas. ”Bagaimana latihan baletmu?”

”Baik.” Lagi-lagi Yeshika menjawab singkat. Ia hanya ingin ibunya segera meninggalkannya. Ia tak sabar untuk menanyai boneka berkimono dalam pelukannya. Berada berlama-lama di dekat ibunya membuatnya merasa tidak nyaman. Ibunya tak pernah memeluk atau mencium pipinya. Mereka lebih mirip dua orang asing yang bersikap kaku satu sama lain.

Ibunya tidak bicara lagi dan melangkah menuju ke pintu. Namun, ketika jemari ibunya menyentuh gagang pintu, ibunya berbalik dan bertanya, ”Kau masih ingin berdansa dengan kupu-kupu?”

Yeshika terdiam sesaat lalu berkata, ”Cuma bualanku. Aku tahu itu tak mungkin, Bu.”

Kelegaan menjalari paras ibunya. Ibunya mengangguk-angguk lalu meninggalkannya sendirian. Ia menatap boneka dalam pelukannya. Deretan boneka di lemari mulai riuh. Boneka-boneka itu ingin berkenalan dengan boneka berkimono yang sedang bersamanya. Selalu begitu setiap kali ada penghuni baru. Kali ini, Yeshika tak menghiraukan mereka. Ia hanya berharap semoga boneka berkimono akan memberikan jawaban yang ia inginkan.

”Dari mana asalmu?”

Boneka berkimono diam saja. Yeshika mengulangi pertanyaannya. Tapi boneka berkimono bergeming. Berkali-kali Yeshika mencobanya, namun boneka itu tak kunjung bicara. Yeshika merasa putus asa dan meletakkan boneka berkimono bersama boneka lainnya di rak lemari. Ketika boneka lain mencoba bercakap-cakap dengan boneka berkimono, mereka sama kecewanya dengan Yeshika. Boneka berkimono itu tetap diam. Yeshika lalu mengenakan rok dan sepatu menari miliknya dan duduk di bingkai jendela. Ia melambai-lambaikan tangan kepada orang-orang yang melintas lalu berseru, ”Adakah yang tahu di mana aku bisa berdansa dengan kupu-kupu?”

Orang-orang berhenti. Mereka lalu tertawa. Ada yang mengatakan bahwa ia mungkin hanya sedang iseng karena bosan. Seseorang lalu melemparkan setangkai permen warna-warni. Yeshika menangkapnya dengan tangkas dan mengucapkan terima kasih. Saat Yeshika sedang menikmati permen yang meleleh dalam mulutnya, seekor kupu-kupu melayang masuk. Kupu-kupu itu hinggap di boneka berkimono. Ia tercengang. Untuk pertama kalinya, seekor kupu-kupu masuk ke dalam kamarnya.

Keesokan harinya, hal itu kembali terjadi. Seekor kupu-kupu kembali hinggap pada boneka berkimono. Yeshika memohon agar kupu-kupu itu menunggu, karena ia ingin berdansa dengan kupu-kupu itu. Namun, kupu-kupu itu pergi begitu saja. Boneka berkimono juga tetap bungkam meski ia terus bertanya bagaimana caranya agar bisa berdansa dengan kupu-kupu. Hatinya sedih bukan kepalang.

Tahun-tahun berlalu dengan cepat. Yeshika telah menjelma menjadi seorang gadis jelita. Ia masih duduk di bingkai jendela kamar hingga senja tiba untuk menanti kupu-kupu. Perempuan yang pernah mengajarinya menari balet tidak pernah lagi datang mengunjunginya. Suatu kali, guru balet itu memergokinya sedang memarahi boneka-bonekanya. Perempuan itu tampak terkejut dan memutuskan berhenti untuk selamanya.

Sekarang, orang-orang tak lagi melemparkan permen pada Yeshika. Kini mereka melemparkan senyum saat melintas. Para pemuda menitipkan surat pada pelayan karena tak berani mendekati jendela kamarnya. Ibu Yeshika menyuruh orang untuk menambatkan seekor anjing pemburu di bawah jendela kamar putrinya. Aroma surat-surat itu membuat Yeshika mual. Ia tak pernah membaca surat-surat itu sampai selesai.

Ibu nyaris tak pernah lagi mengetuk pintu kamar Yeshika sejak seorang lelaki tinggal bersama mereka dan ia harus memanggil lelaki itu ayah. Ibunya dan lelaki itu sering bepergian dan meninggalkan Yeshika bersama para pelayan. Sekarang, ibu tidak lagi membawakannya boneka. Ibu mengatakan bahwa Yeshika sudah terlalu besar untuk menimang boneka. Ibu juga melarang Yeshika untuk duduk di bingkai jendela. Tapi Yeshika tak memedulikannya. Ia masih menanti kedatangan kupu-kupu yang bisa diajaknya untuk berdansa.

Suatu hari, ibu pergi bersama lelaki itu dan tak pernah kembali. Yeshika mendapat kabar bahwa mereka telah tiada. Tetapi, Yeshika tak dapat menitikkan air mata. Para pelayan mengetuk pintu kamarnya untuk mengucapkan turut berduka. Tetapi, ia tak ingin membukakan pintu untuk siapa pun. Ketika ia duduk termenung di bingkai jendela kamarnya, orang-orang melambaikan tangan sebagai tanda belasungkawa. Saat itulah, ia berucap, ”Kupu-kupu!”

Sejak itu pula, orang-orang memanggilnya kupu-kupu, karena hanya kata itulah yang bisa ia ucapkan. Orang-orang mengira, Yeshika sangat terguncang atas kepergian ibunya. Tak ada yang tahu, ia hanya ingin menyimpan sebuah rahasia. Sejak ibunya tiada, seekor kupu-kupu selalu mendatangi jendela kamarnya saat purnama tiba. Ia berdansa dengan kupu-kupu itu di bawah cahaya rembulan.

____________________________

Fitri Manalu : tinggal di Medan Amplas, Sumatera Utara. Ia menulis kumpulan cerpen Sebut Aku Iblis (2015) dan novel Minaudiere (2016). Cerpennya termuat di sejumlah antologi bersama, media daring, dan media cetak. Bergiat di komunitas Rumah Pena Inspirasi Sahabat.

sumber : kompas.id, 13 Feb 2020.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme