Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Tujuh Hari Meninggalnya Nenek oleh Risen Dhawuh

Posted on Sab, 07 Mar 2020

Halaman belakang rumah telah menjelma dapur sejak tujuh hari yang lalu. Beberapa perempuan tetangga kami mengorbankan waktunya untuk rewang—membuat makanan untuk keperluan kenduri maupun hidangan untuk tamu yang sewaktu-waktu datang sekadar mengucapkan belasungkawa. Tujuh hari yang lalu, nenek—orangtua ibu—menghadap Yang Mahakuasa.

Sembari sibuk dengan alat-alat masak dan bahan makanan di dapur, mereka berbincang-bincang satu sama lain, menceritakan masa lalu yang pahit ataupun manis, dan bercanda menciptakan tawa yang seakan tak mau habis. Tetapi, sejak tujuh hari yang lalu, ibu tidak seriang para perempuan itu. Ibu tidak banyak bicara. Kamar telah menjelma tempat yang membuatnya betah berada di sana.

Ibu hanya akan keluar jika ada hal yang teramat penting; menemui tamu atau ke kamar mandi. Makan pun ibu di kamar. Terkadang aku yang mengantar makanan, terkadang saudara-saudara ibu. Selebihnya, ibu menghabiskan waktunya di kamar, melamun, memandang foto nenek, memeluknya, yang kemudian berakhir dengan tangis.

Azan Isya telah berkumandang. Di dapur, bersama beberapa pemuda kampungku—umurku tujuh belas tahun—aku menuangkan isi ceret berisi teh panas ke dalam deretan gelas yang telah ditata. Gelas-gelas yang sudah berisi teh panas itu nantinya akan dibagikan kepada para tamu yang akan mendoakan almarhum nenek—laki-laki—oleh pemuda-pemuda yang hadir, yang kemudian kegiatan itu disebut laden.

Mbok Nah, tetangga yang paling akrab dengan ibu, mendekat padaku.

”Mas Ken, disuruh ibu ke kamar. Katanya ada yang mau disampaikan.”

”Apa, Mbok?” tanyaku, meletakkan ceret yang telah berkurang banyak isinya. Seorang pemuda dengan penuh pengertian langsung mengambil ceret yang baru saja kuletakkan di dekatku sembari berkata, ”Saya gantikan, Mas….”

”Tidak tahu, Mas. Ke sana saja.”

Aku pun gegas melangkah menuju kamar ibu. Untungnya kamar ibu tidak dekat dengan ruang tamu—ruang yang digunakan untuk hadirin duduk selain halaman rumah yang telah diteduhi oleh tenda—sehingga ketika ibu menangis, suaranya tidak begitu jelas terdengar. Sedangkan saudara-saudara ibu yang laki-laki sudah bisa dipastikan bersiap-siap menyambut warga yang datang. Aku duduk di samping ibu yang juga duduk di pinggir ranjang, berhadap-hadapan dengan cermin yang ada di depannya.

”Kata Mbok Nah, ibu menyuruhku ke kamar? Ada hal penting yang akan disampaikan?” tanyaku. Pipi ibu tampak sembab, aku melihat di wajah ibu, kesedihan masih begitu perkasa untuk diruntuhkan. Aku tahu rasanya bagaimana kehilangan orang yang dicintai. Aku pernah merasakan. Bukan berarti sekarang aku tidak merasakan—hanya saja mungkin tidak sesedih ibu. Aku kehilangan bapak pada saat usiaku menginjak sepuluh tahun. Bapak meninggal dunia karena ada masalah di jantungnya.

”Ada, Ken. Ini sebenarnya hanya sebuah permintaan dari ibu….”

”“Permintaan apa, Bu?”

Lalu hening. Aku menunggu ibu berkata. Ibu memelukku. Seketika kembali kurasakan kehangatan, yang tidak pernah akan kutemukan dalam diri orang lain. Sebuah kehangatan yang khas, yang hanya dimiliki ibu. Sebuah kehangatan yang tidak padam oleh waktu. Kurasakan detak jantungnya. Tiba-tiba ada perasaan semacam khawatir menyelimuti hatiku. Detak itu tidak sekuat dulu.

Aku masih menunggu ibu berkata. Kepalaku tidak tenggelam seutuhnya ke dalam dadanya sehingga aku masih dapat menyaksikan sebuah foto yang menempel di tembok kamar. Foto ibu. Begitu gagahnya ibu di foto itu. Sorot matanya begitu tajam, penuh semangat. Itu adalah ibu di masa muda. Foto itu telah menjadi bukti kesuntukan ibu menekuni dunia puisi.

Ibu dulu sempat bercita-cita menjadi penyair besar. Bagi ibu, tiada hari tanpa puisi. Ibu begitu yakin, ibu bisa hidup dengan bertumpu puisi. Tetapi, setelah ia melewati hari-hari sekaligus proses yang melelahkan, ibu sadar, puisi tidak sepenuhnya dapat menjadi barang dagangan yang bahan bakunya ialah kata-kata. Suatu saat kata-kata akan habis. Otak bisa lelah. Untuk mendapatkannya lagi, perlu menyisihkan waktu untuk menyempatkan diri melakukan aktivitas yang membuat bahan baku itu muncul kembali, seperti membaca atau pergi ke tempat-tempat yang menyegarkan pikiran. Tetapi jika ibu melakukan itu, dari mana ia mendapatkan uang untuk bertahan hidup?

Maka, ibu pun mengambil keputusan; dunia puisi sambil lalu saja.

Kudengar isakan tangis. Pelukan ibu semakin detik berlalu, semakin erat, bagai melepaskan kerinduan setelah sekian lama tidak bertemu. Entah kenapa kali ini tidak muncul inisiatif untuk menenangkan ibu. Kubiarkan ibu menangis.

”Ken Ardi?” ucap ibu, berhias sisa-sisa tangis. Ibu mengusap air matanya. Kuperhatikan sepasang mata ibu, kesedihan masih setia di sana. Namun ada sesuatu yang muncul dari sana, seperti mewakilkan perasaan dendam. Aku sendiri memilih menunggu ibu kembali berucap ketimbang mengeluarkan suara, ”Iya, Bu?”

”Bisa kamu tidak lagi menganggap Pakde Efri sebagai pakdemu?”

”Alasan apa yang membuatku harus tidak menganggap Pakde Efri sebagai saudara kita?”

”Kamu masih bertanya alasan? Ken, dia yang telah menyebabkan nenek meninggal dunia. Nenekmu! Nenekmu, Ken! Dialah penyebabnya. Dia sudah terlampau kelewatan? Mulai sekarang, persaudaraan kita dengan dia putus! Kamu jangan sekali-kali mencarinya, biarkan ia minggat membawa dosanya!” Di akhir perkataannya, nada bicaranya ibu meninggi, lalu kembali menangis.

Aku tahu persis perihal ibu bisa mengeluarkan ujaran yang demikian.

Sebelumnya, kematian nenek tidak kusangka sama sekali. Di kalangan tetangga-tetangga Pakde Efri—nama lengkapnya Efriyadi—terkenal dermawan. Kedermawanan yang kuketahui dan berkesan, ia kerap membelikan berplastik-plastik es teh di warung Bu Sarni untuk anak-anak kecil yang hampir setiap sore bermain di halaman rumah Mbah Prawiro, tetangga kami. Perlu diketahui, keluarga kami tinggal di tanah milik almarhum bapak, yang dibelinya dari seorang juragan baju yang tinggal di kabupaten sebelah. Tanah yang dibeli bapak, dekat dengan rumah nenek, yang sangat luas.

Tanah nenek kelak akan dibagi sesuai hukum agama tentang pewarisan tanah kepada lima orang anaknya, termasuk ibu. Pakde Efri anak tertua, sedangkan ibu anak nomor empat. Nenek sangat menyayangi anak-anaknya, terutama Pakde Efri, sebab selain ia yang paling tua dan laki-laki, ia juga tinggal bersama nenek serta dipandang paling mapan. Nenek yakin, hanya Pakde Efrilah yang bisa ia jadikan pegangan dalam menjalani hidup, melewati masa tuanya.

Tetapi, nenek tidak menyangka. Apa yang telah dilakukan Pakde Efri benar-benar membuatnya terluka hingga ia jatuh sakit. Pada suatu hari, rumah nenek didatangi oleh tiga orang tidak dikenal. Satu dari tiga orang itu berpakaian necis seperti orang kantoran, dua orang lainnya mengenakan jaket dan celana berwarna hitam.

”Maaf, Pak, ada yang bisa saya bantu?” tanya nenek kepada si necis. Meski si necis tidak menyapanya saat mengetahuinya sedang duduk di teras rumah, tapi nenek mencoba ramah. Waktu itu aku juga sedang duduk di teras. Aku disuruh ibu mengantarkan baju nenek yang ia jahit karena sobek.

”Apa ibu salah satu orang yang tinggal di rumah ini?” tanya si necis, di telingaku suaranya terdengar berat.

”Iya benar….”

”Saya meminta tolong agar secepatnya rumah ini dikosongkan. Menurut kesepakatan, hari ini sudah jatuh tempo.”

”Kesepakatan? Kesepakatan apa? Anda jangan ngawur. Saya tidak pernah terlibat kesepakatan dengan siapa pun, menyangkut tanah saya!”

”Kami memang tidak ada apa-apa dengan ibu. Tapi kami sudah sepakat dengan Pak Efri. Jika tidak bisa membayar utang hingga hari yang ditentukan, maka tanah ini yang menjadi jaminannya. Pak Efri tidak bisa membayar utangnya!”

Nenek pingsan. Itu awal dari semuanya. Setelah diusut lebih jauh oleh saudara-saudara ibu, Pakde Efri ternyata main judi. Ia berutang uang yang entah aku tidak tahu pada siapa, dengan jaminan tanah nenek. Yang membuat para adik-adiknya terkaget, ia sampai mengikuti judi di luar negeri.

Sejak tanah nenek berpindah tangan, nenek tinggal bersama ibu, bersamaku. Sejak itu, aku tidak pernah bertemu dengan Pakde Efri, istrinya, juga anak-anaknya. Sejak tanah nenek berpindah tangan dengan cara yang begitu menyakitkan, nenek terus sakit-sakitan, dan daya tahan tubuhnya cenderung menurut, hingga kemudian nenek tidak mempunyai daya, ia meninggal dunia.

Itulah yang membuat ibu membenci Pakde Efri. Pemantik masalah adalah Pakde Efri. Namun bagaimanapun yang namanya saudara, seperti anak, tidak ada kata, ”bekas”. Bagaimanapun Pakde Efri tetaplah saudara ibu, sebenci-bencinya ia.

Bagaimanapun Pakde Efri tetap Pakdeku.

Dari depan rumah, terdengar suara riuh para tamu. Aku tidak bisa berlama-lama di kamar menemani ibu. Pembicaraan mungkin akan dilanjutkan nanti, setelah kenduri, mengenang tujuh hari kepergian nenek. Aku mengelus punggung ibu, dan berkata, ”Aku ke depan dulu untuk menyambut para tamu….” Ibu tidak merespons.

Aku pun keluar kamar, dan melangkah menuju halaman rumah. Kukira, menuduh Pakde Efri sebagai kambing hitam atas kematian nenek, sampai kemudian tidak akan menganggapnya lagi sebagai saudara, adalah sikap yang tidak sepenuhnya benar. Sebab apa? Jika sikap itu masih terus dipupuk oleh ibu, lama-lama ibu akan menyalahkan Tuhan atas apa yang telah terjadi. Aku rasa, hal ini perlu kusampaikan kepada ibu.

___________________________

Risen Dhawuh Abdullah : lahir di Sleman, 29 September 1998. Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan (UAD) angkatan 2017. Bukunya yang sudah terbit berupa kumpulan cerpen berjudul Aku Memakan Pohon Mangga (Gambang Bukubudaya, 2018). Alumnus Bengkel Bahasa dan Sastra Bantul 2015, kelas cerpen. Anggota Komunitas Jejak Imaji, Luar Ruang, dan Kompensasi. Bermukim di Bantul, Yogyakarta.

sumber : kompas.id, 07 Mar 2020.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme