Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Hari Pertama Menjadi Dukun oleh Musthafa Helmy

Posted on Kam, 11 Jun 2020

Seperti biasa, pagi itu aku menikmati kopi kental manis dan singkong rebus. Tidak ada lagi rokok. Sudah lama tidak merokok mengikuti nasihat istri. Bukan soal kesehatan, tapi lebih banyak masalah ekonomi. Aku hitung sudah tiga tahun tidak ada kerja jelas dan tiga tahun pula tidak merokok.

Istriku duduk di sebelahku. Ia mengeluhkan anak-anak yang belum bayar sekolah tiga bulan. Listrik mau dicabut. Kemarin ada petugas listrik mau cabut. Tapi, keahlian istriku melakukan negosiasi, membuat petugas PLN pulang tanpa hasil. Telepon rumah tinggal bisa menerima. Tak bisa lagi dimanfaatkan keluar. Ada telepon genggam kuno yang kebetulan tak lagi ada pulsa. Aku kadang memainkan telepon genggam hanya untuk menghitung kalkulator tanpa tujuan jelas.

Televisi rasanya sudah habis semua aku tonton. Tivi 20 inchi yang gambarnya sudah mulai pudar. Pekerjaanku, jika ada kawan bertanya, selalu aku jawab: penonton setia tivi. Kawan yang dengar hanya nyengir. Jika ada teman yang baik hati, ia menyelipkan sesuatu ke sakuku. Kadang Rp 100.000 dan bahkan kawan yang sudah menjadi pejabat pernah menyelipkan uang Rp 500.000.

Tivi, akhir-akhir ini sering memunculkan paranormal atau dukun dengan gelar baru ustad. Aku jengkel. Dukun jangan disamakan dengan ustad. Dukun itu adalah orang yang memiliki kelebihan bisa menolong dan membantu penyembuhan seseorang. Ustad itu guru agama. Kalau orang menganggap dukun sebagai ustad, artinya sudah mulai melenceng. Nanti ajaran dukun itu dianggap paten seperti ajaran agama.

Kehidupan dukun, akhir-akhir ini juga menggiurkan. Ada tiga dukun di sekitar desa saya yang hidupnya lumayan mewah. Punya mobil baru dan pasiennya selalu banyak. Entah, apakah biaya pengobatan moderen yang mahal menjadi salah satu alasan membuat masyarakat beralih ke dukun. Apalagi, pengobatan modern sering angkat tangan berhadapan dengan ragam penyakit yang semakin aneh dan asing.

Kadang, dalam keseharian, aku sering berseloroh, enak juga jadi dukun. Tapi, aku tak memiliki keahlian dukun. Aku tak memiliki keturunan dukun. Keluarga ayahku adalah keluarga wiraswasta. Keluarga ibuku dari kalangan pegawai negeri. Keluarga istriku petani. Sama sekali tak ada darah dukun mengalir. Aku, sejak usia 20 tahun sudah bekerja di swasta hingga kemudian kena PHK tiga tahun yang lalu. Waktu itu aku bekerja sebagai staf pembukuan, karena aku dulu pernah sekolah SMEA.

Istriku tahu, jika aku pulang membawa beras, gula, minyak, dan lauk pauk, sudah bisa dipastikan ada beberapa kawan yang menyelipkan sesuatu pada sakuku. Istriku tak peduli. Ia tahu, aku tak pernah meminta. Tapi, tak layak menolak jika seseorang memberiku sesuatu. Aku bukan pejabat yang bukan menganggap pemberian sebagai suap atau gratifikasi. Hanya, aku tak ingin disebut keluarga miskin yang harus berebut bantuan langsung tunai. Petugas kelurahan juga tak percaya jika aku miskin, karena rumahku berlantai keramik.

Ada tiga kamar bekas kemakmuran masa lalu. Karena itu aku tidak ikut kebagian kompor dan tabung gas gratis beberapa tahun lalu.

Giman, Sastro, Kamidi, Hamid, Kamsul, dan Toni adalah teman-teman yang selalu memperhatikanku. Setiap pekan mereka selalu mengundangkan bergiliran datang ke rumahnya. Makan-makan di sana, ngobrol, dan ngebanyol. Pulang bawa duit. Memang, untuk hidup sehari-hari, Allah masih memberiku kecukupan. Bisa makan. Karena itu para tetangga menganggapku banyak simpanan uang di bank. Padahal, sudah tiga tahun tak pernah ke bank dan tabunganku nol.

Pernah juga aku diminta aktif pada sebuah partai baru. Aku menolak, meski harus kuakui, kadangkala muncul perasaan sesal. Sebab, banyak teman-teman yang aktif di partai itu yang kecerdasannya jauh di bawahku kini sudah menjadi orang penting. Aku lebih suka memilih orang bebas, karena tanggungjawab partai sangat berat secara moral dan agama. Duit berhamburan untuk aktivis partai, tapi, aku bersyukur tak terperciki sedikit pun dari uang panas itu.

Tiba-tiba sebuah mobil berhenti. Aku kenali sebagai mobil Kamidi. Ia turun membawa makanan. Seperti biasa aku ngobrol ngalor ngidul dengannya. Kadangkala istriku ikut nimbrung. Tapi, ia lebih banyak menyiapkan makanan di dapur.

Kamidi bercerita, ada tetangganya, pekerja swasta sukses yang sekarang lagi kena masalah dengan atasannya. Ia didakwa tak loyal dengan atasannya dan sangat mungkin akan menggesernya pada jabatan tak bergengsi dan kering. Gajinya selama ini Rp 20 juta. Jika ia tak menjabat lagi, maka penghasilannya bisa merosot menjadi separuh.

”Ia meminta tolong mencarikan orang pintar, Tom?” kata Kamidi.

”Wah, aku tak punya kenalan orang pintar. Kalau yang di televisi itu kayaknya tukang bual saja. Orang yang sudah masuk televisi motifnya hanya pengin terkenal dan dapat duit banyak. Karena itu, kita harus cari orang pintar yang pas yang tidak mata duitan.”

Aku dan Kamidi saat itu tak punya jalan keluar. Kamidi pulang belum mengantungi nama dukun yang bisa menolong. Malam itu, kami sedikit pesta, karena Kamidi menyelipkan duit cukup besar, Rp 1 juta. Aku bisa mengisap rokok lagi tanpa harus dipelototi mata istri.

Malam hari, Kamidi kembali menelepon. ”Tom, kau aja yang jadi dukun. Tolong dia!” kata Kamidi dari seberang sana. Kata-kata itu belum pernah aku dengar dan rasanya seperti geledek. ”Bagaimana mungkin aku bisa jadi dukun?”

”Sudahlah, carilah jalan apa saja. Katanya asal yakin berhasil. Gini aja, suruh dia shalat hajat apa tahajud dan suruh aja dia baca apa, terserah kau. Kau kan lebih saleh dibanding aku,” kata Kamidi.

Di antara kemasgulanku itu, Kamidi tiba-tiba berkata: ”Besok pagi orangnya kemari ketemu kau.” Belum sempat aku bertanya lagi, telepon sudah ditutup dan aku tak bisa lagi menghubunginya kembali.

Malam itu aku tak bisa memicingkan mata karena memikirkan apa yang akan aku sampaikan kepada orang itu. Istriku membuka buku-buku doa. Aku mencoba menghubungi saudara yang agak mengerti soal doa di Jawa Tengah. Ia kemudian memberi beberapa cara yang sangat mudah dan praktis untuk dimanfaatkan. Sangat menolong.

Pagi hari, istriku mengusulkan aku mengenakan blangkon, mirip dukun. Tapi, aku menolak. Aku hanya mau pakai batik lengan panjang dan peci hitam. Aku sudah siapkan saran apa yang pas untuk tamuku nanti.

Benar, pagi itu sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan rumah. Pasangan suami istri turun. Pasangan tampan dan cantik. Usia laki-lakinya sekitar 40 tahunan. Istrinya, berusia sekitar 35 tahunan. Ia bersalam dan kemudian saya persilakan duduk.

Aku keluar menyambut mereka dengan mencoba berwibawa. Keduanya mencium tanganku. Ia kemudian cerita panjang lebar tentang persoalannya. Ada keluarga pemilik saham terbesar yang kini berusaha menggesernya dengan mengadu domba dengan direksi. Repotnya, ia tak bisa bertemu dengan direksi itu. Direksi sudah tak mau lagi menemuinya. ”Bagaimana menurut penerawangan Bapak?” tanyanya.

Aku gemetar juga mendengar kata-kata penerawangan? Artinya, aku di mata mereka sudah dianggap dukun sakti. Aku mencoba menenangkan diri. Lonjakan nafasku aku tahan sedemikian rupa sehingga mirip dengan semedi. Aku lihat pasangan suami istri itu memerhatikanku terus.

”Begini. Menurut penerawangan saya, bapak harus bisa menemui direksi bapak, kalau bisa hari ini. Pertama kali, mintalah maaf. Kedua, katakan sudah lama ingin ketemu dan ingin ngobrol berbagai hal tapi, belum sempat juga. Ketiga, mohon petunjuk berikutnya.”

”Baik,” kata pasangan itu.

”Tapi,” sergahku. ”Sebelum bapak menemui direksi itu, bapak harus dalam keadaan suci. Berwudlu seperti mau shalat dan laksanakan shalat dua rekaat.”

”Baik.”

Ia pulang menyelipkan amplop tebal dan setelah kubuka berisi uang Rp 5 juta. Aku bersyukur. Aku langsung beli pulsa dan menelepon Sarjito. ”Kamu sekarang direktur ya? Kau punya anak buah bernama Hendra Wijayarta? Apa benar ada masalah denganmu?”

”Tidak ada Tom, dia anak buahku yang baik. Karena kesibukan saja aku tak sempat memanggilnya. Dia orangnya perasa. Bertanggung jawab dan pekerjaannya bagus. Dia malah akan aku usulkan naik jabatan sebagai wakil direktur.”

”Begitu. Tolong ya kalau nanti engkau ketemu dia jangan bilang temanku dan aku menelepon ya!”

Sarjito tertawa. Ia mengharap aku main ke kantornya. Sarjito teman SMEA dulu yang kini termasuk orang sukses dan lama tidak bertemu.

Sore hari, pasangan tadi datang lagi dengan wajah bersinar. ”Terima kasih banyak. Saran dan doa bapak manjur. Terima kasih saya malah sekarang diangkat sebagai wakil direktur,” katanya sambil menciumi tangan saya berkali-kali. Saya tersenyum dengan risih.

Pulang, kembali ia menyelipkan uang Rp 5 juta. Aku sedikit kikuk, karena sore hari itu aku tidak mengenakan batik dan peci hitam, yang sejak hari itu menjadi baju resmiku sebagai dukun.

Palembang, 3 Agustus 2011

Musthafa Helmy : adalah mantan Wartawan Tempo, Editor, Tiras dan D&R. Sekarang mengelola majalah Risalah NU dan Mimbar Ulama. Tinggal di Tangerang.

sumber : kompas.id, 11 Jun 2020.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme