Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Tanah Harapan oleh Linggar Rimbawati

Posted on Kam, 16 Jul 2020

Sebenarnya, mendiang nenekku pernah berpesan untuk tidak menyentuh sehamparan lahan bersemak-belukar itu selama masih ada tanah lain yang bisa kugarap. Tanah sangar, tak jelas asal-usulnya. Tapi sebulan lalu bapak kembali menjual sepetak sawahnya untuk biaya persalinan kakakku dan melunasi sisa utang ibu. Seorang sepupu ibu nyusuki sawah itu dengan harga di bawah pasaran.

Hidup yang getir itulah yang membuatku nekad mengusik tanah harapan itu, yaitu seperdelapan hektar tanah tak bertuan di seberang kali yang selama ini hanya berisi semak-semak, tanaman senggani, alamanda yang merajalela, kembang telang dan barangkali sarang ular. Konon sejak zaman Belanda, tak jelas siapa pemilik tanah itu. Tapi orang-orang desa percaya kakekku punya hak atasnya. Bukan hak sepenuhnya, sebab ia harus berbagi dengan saudara tirinya yang salah satu keturunannya membeli sawah ibu.

Tapi bagaimana keputusan membagi tanah itu tetap menjadi misteri hingga kini. Moksa bersama jasad kakek.

Aku tak pernah mengenal sosok kakek. Tidak juga seorang pun dari cucu-cucunya. Ia bagai dongeng bagi kami, seperti tokoh fiksi layaknya Bandung Bondowoso atau Prabu Angling Dharma. Cerita tentang seorang lelaki Jawa berwajah rupawan, berperawakan lencir kuning dan piawai membawakan tari karonsih juga kami terima sepotong-potong. Tak pernah ada jahitan cerita yang utuh. Tapi kami menikmatinya meski keyakinan kami akan sosoknya perlahan-lahan luntur seiring dewasanya usia kami.

Satu cerita mengenai kakekku yang membuatku tertarik adalah bahwa selain piawai menari, kakek juga pandai menaklukkan hati perempuan. Tidak ada perempuan yang tak kepincut pada karisma Suroso Purwodisastro.

”Satu desa ini tak kurang sepuluh perempuan yang pernah jadi gundik mbah kakungmu. Istri sirinya sendiri ada tiga,” kata ibu.

Aku heran kenapa ibu begitu mudah bercerita tentang tabiat buruk ayahnya di depan kami, anak-anaknya. Bukankah cerita semacam itu adalah aib? Seingatku mendiang nenek tak sembarangan membuka kisah yang satu itu. Memang pernah ia berpesan padaku untuk setia pada satu wanita saja dan menghargai pernikahan. Samar-samar kuingat juga nenek pernah menggumam, ”Panase geni ora kaya panase ati. Hati yang cemburu lebih panas dari api.”

Namun, di saat-saat tertentu dalam hidupku, dongeng bahwa kakek begitu beruntung berurusan dengan perempuan membuatku sedikit optimistis. Bagaimanapun juga ada darah Arjuna mengalir dalam tubuhku. Soal hingga kepala tiga aku belum bertemu jodoh, itu hanya perkara waktu. Aku yakin, pada saat yang tepat arwah kakekku akan menitis padaku.

Meskipun begitu, aku kerap bertanya-tanya prinsip hidup yang bagaimana yang sebenarnya dianut kakekku. Semua orang di desa ini percaya bahwa ia seorang komunis dan untuk alasan itulah mereka menghilangkannya hingga kini. Tapi, bukankah orang-orang komunis sangat anti terhadap poligami?

”Ya begitulah, Mas. Hidup ini memang penuh paradoks,” komentar seorang sepupu yang belajar di perguruan tinggi tanpa menjelaskan apa maksudnya.

Aku bengong sendiri memikirkan arti paradoks.

***

Hutan kecil penuh semak tak berguna itu kini sudah bersih. Seperti kepala berambut gimbal yang sudah digunduli. Tanah di baliknya ternyata cukup gembur. Hanya perlu diolah sedemikian rupa dan ditaburi pupuk kandang, ia akan siap ditanami.

Aku memandang puas tanah kosong itu sembari menjaga api pada tumpukan semak yang masih setengah kering. Hujan hari-hari ini melembabkannya. Tapi baguslah, air dari langit akan menyegarkan tanahku dan tanamanku kelak akan mudah tumbuh.

Ya begitulah, Mas. Hidup ini memang penuh paradoks

Untuk sampai di tanah ini aku harus melewati tanah pekuburan dan menyeberangi kali. Terbentang bersama hamparan sawah orang-orang desa. Aku memandang jauh pada sawah hijau subur itu. Konon, kakek pernah jadi pemilik atas sawah-sawah itu, juga kebun jati di kejauhan sana. Suroso adalah seniman kampung paling kaya di desa pada masanya.

Tapi setelah kakekku hilang, moksa tak berjejak, sawah-sawah itu mulai dikuasai oleh saudara-saudaranya yang licik. Mereka menyisakan beberapa untuk nenek yang kemudian menjualnya seiris demi seiris untuk menambal kebutuhan hidupnya bersama kedelapan anak yang compang-camping setelah kehilangan nakhoda. Hidup begitu berubah seratus delapan puluh derajat. Anak-anak nenek memang tak sampai mengemis untuk bisa makan, atau lebih buruk lagi, tapi anak-anak tertua harus bekerja di perkebunan tebu untuk menghasilkan sedikit uang untuk membiayai sekolah mereka.

Seorang bulikku harus ngenger pada pakdenya di Surabaya demi menempuh pendidikan di sekolah pendidikan guru. Keluarga itu memperlakukannya seperti babu alih-alih anak saudara.

Di pemakaman umum yang sering kulewati itulah terbaring nenek dan leluhurku dari garis ibu. Aku hafal betul di mana nisan buyut, canggah, hingga leluhur lima generasi ke atas. Boleh jadi akulah keturunan yang paling sering berkunjung ke makam leluhur. Bukan karena aku secara sadar melestarikan tradisi nyekar ke makam leluhur. Itu lebih karena aku tak punya banyak kesibukan dan pemakaman adalah tempat paling tenang untuk menepi.

Di tanah kosong di samping kuburan nenek itu seharusnya jasad kakek terbaring.

Bukan hal mudah untuk akhirnya dapat menaklukkan tanah ini. Bahkan dari awal aku meminta izin pada orangtuaku dan para tetua di keluarga besar kami.

”Belum jelas siapa yang lebih berhak atas tanah itu, Yok. Lebih baik tidak,” salah seorang bulikku memberi saran.

”Carilah jalan lain untuk mencari rezeki, Le,” adik lelaki ibu yang paling tua juga turut menasihati.

Mereka berdua adalah orang-orang yang dianggap ’tetua’ dalam keluarga kami dan berhak dimintai saran mengenai keputusan-keputusan serius meski anak tertua adalah ibuku. Itu karena semua menganggap mereka lebih berwibawa dengan pekerjaan sebagai pegawai negeri, abdi negara. Di antara kedelapan anak kakek-nenekku mereka berdualah yang dianggap sukses dan hidup layak.

Sebenarnya ada satu saudara ibu lagi yang kehidupannya cukup mapan dan sering dijadikan sandaran bagi kami, tapi ia tinggal jauh di Pulau Sumatera.

Aku sudah bosan dengan nasihat bijak yang keluar dari mulut mereka berdua. Hanya deretan kata-kata mutiara yang mereka berikan, lain tidak. Bahkan bantuan kecil untuk keluargaku yang sekarat disebut piutang. Untuk membiayai misiku menanam melon golden di tanah ini pun tak sepeser pun mereka berkenan menyumbang. Aku harus berutang pada koperasi desa dengan bunga mencekik.

Saran bapak untuk meminta izin Paklik Kethik, sepupu ibu yang membeli sawah kami, juga tak kuhiraukan. Buat apa pamit pada keluarga kaya yang sombong itu. Aku tak hendak berbasa-basi lagi. Toh, siapa yang peduli dengan tanah itu selama ini? Tanah itu terlantar dan terabaikan sekian lama.

***

Ini adalah kali kedua aku memanen melon golden di kebun kecilku. Tak sia-sia kerja kerasku selama ini. Tak sia-sia orang pemerintah itu mengadakan pelatihan bagi orang-orang desa pengangguran macam aku. Dari hasil penjualan panen pertama, aku bisa mencicil utangku di koperasi dan memenuhi kebutuhan hidup kami sehari-hari. Sebagian kusisihkan untuk tabungan.

Bagaimanapun, aku ingin punya masa depan yang cerah. Dengan tabungan itu, aku berencana memugar dapur rumah kami yang atapnya sudah bocor di mana-mana. Aku juga akan melamar Kinasih, gadis yang belakangan ini dekat denganku. Kinasih adalah putri Pak Lurah yang sehari-hari mengajar di SD ujung jalan. Masih ada hubungan kerabat denganku.

Aku adalah lelaki yang ketiban ndaru tatkala tahu bahwa Kinasih memilihku alih-alih Bagus, anak Paklik Kethik. Aku tak habis pikir kenapa gadis itu justru menolak pemuda mapan yang baru pulang dari negara jiran sebagai TKI. Ah, ini pasti karena darah Arjuna kakekku. Aku tersenyum memandangi bayanganku di cermin kecil bekas spion sepeda motor.

Kali ini aku mengajak Fahri untuk memanen melonku. Ia adalah bocah sepuluh tahun sepupuku yang tinggal di rumah depan. Hanya tersisa sepetak rumah joglo itu sebagai satu-satunya aset yang mampu dipertahankan nenek. Bagian belakang ditempati oleh ibuku dan anak-anaknya. Bagian depan adalah hak Paklik Bangun, anak bungsu Nenek. Anak-anak yang lain berpencar mencari penghidupan masing-masing.

Matahari begitu cerah pagi ini. Secerah harapanku mengumpulkan lembar demi lembar hasil penjualan melonku nanti. Aku tak menjualnya kepada tengkulak kali ini karena ternyata harganya terlalu rendah. Aku sudah membangun relasi dengan beberapa kios buah di pasar dekat stasiun Barat. Ke sanalah aku akan mengangkut melonku dengan gerobak sewaan.

Kulihat Fahri bersemangat memilih melon yang sudah menguning dan wangi untuk dipetik. Aku memang menjanjikannya upah untuk kerjanya membantuku. Anak itu tak sering mendapat uang jajan berlebih dari orangtuanya. Aku tersenyum mengingat berkah yang dihasilkan dari kebunku.

Tapi baru seperempat gerobak kami terisi, perhatian kami teralihkan oleh suara deru sepeda motor yang meraung-raung dari seberang sungai. Seorang laki-laki berseragam loreng mengendari sepeda motor melintasi kuburan. Temannya yang juga berseragam loreng membonceng di belakang.

Setelah usaha menyeberang jembatan bambu, dua tentara itu berhenti di kebunku. Mereka turun dari motor Gl Pro, keluaran ’97 tampaknya.

”Anda yang bernama Tantram Jiwo alias Yoyok?”

”Betul.”

”Mulai hari ini Anda ditahan karena menggarap tanah negara tanpa izin.”

***

Keterangan:

sangar: angker

nyusuki: membeli

lencir kuning: tinggi semampai, ramping

tari karonsih: sakloron tansah asih, tari asmara Panji Asmoro Bangun dan Sekartaji

ngenger: menumpang hidup

ketiban ndaru: beruntung, mendapat rejeki nomplok

Linggar Rimbawati : sehari-hari mengajar di Unit Pengembangan Bahasa UIN-STS Jambi. Sedang menekuni fiksi dan puisi. Beberapa cerpennya dimuat di media masa, seperti Tribun Jabar dan Difalitera. Dapat disapa di @linggarrimba (IG), Linggar Rimbawati P (FB), dan linggarrimba@yahoo.com atau linggarwati47@gmail.com.

 

sumber : kompas.id, 16 Jul 2020.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme