Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Brewok oleh Supartika

Posted on Ming, 26 Jul 2020

Aku, kau, dan kita semua mengenalnya dengan nama Brewok. Namun aku, kau dan kita semua sudah hampir melupakan nama sebenarnya, Wayan Tagel. Dan jika ada seseorang yang menyebut nama Brewok, maka akan terkenang masa lalu yang pedih, yang sakit, yang cukup membuat bulu kuduk merinding meskipun di siang bolong.

Aku, kau, dan kita semua lebih mengenal ia sebagai seorang jagal atau di desaku disebut tameng, walaupun kabarnya sebelum menjadi tameng ia adalah lelaki baik-baik yang rajin datang ke pura, lelaki baik-baik yang rajin ikut gotong royong di desa, lelaki baik-baik yang selalu ramah pada siapapun, lelaki baik-baik yang, ya sudahlah kita tak usah menyebutkannya lagi.

Kini tak ada yang menyebutnya sebagai lelaki baik-baik. Bagaimana bisa seorang pembunuh akan disebut lelaki baik-baik walaupun sebelumnya ia memang lelaki baik-baik? Karena di sini siapa pun yang pernah membunuh orang, satu apalagi lebih, selamanya ia akan mendapat julukan pembunuh dan akan dijauhi sekaligus ditakuti.

Seperti namanya, Brewok, ia memang lelaki yang memiliki cambang, janggut dan kumis lebat. Dari sejak dikenal sebagai seorang tameng, ia memelihara cambang, janggut dan kumis itu. Juga selalu mengenakan pakaian serba hitam bahkan sampai saat ini. Ia seperti terlahir kembali, dari lelaki baik-baik menjadi lelaki misterius.

Aku mendengar cerita, jika tak kurang dari 20 orang di desa ini mati di tangan Brewok. Bahkan menurut penuturan orang-orang yang aku dengar, Brewok selalu melakukan eksperimen dalam membunuh targetnya. Ada yang bercerita ia datang tengah malam menggedor pintu orang yang akan dibunuhnya. Saat membuka pintu, tanpa basa-basi ia langsung menarik parang yang diselipkannya di pinggang dan menghujamkannya ke batang leher orang itu.

Jika saat mengetuk pintu dan yang membuka pintu bukan orang yang menjadi sasarannya, misalkan saja istri orang yang jadi sasarannya, Brewok meminta istri orang itu memanggil suaminya. Dengan gemetar dan muka pucat istri orang itu akan memanggil suaminya dan sang istri akan pasrah lalu menangis tak berani keluar hingga matahari benar-benar tinggi dan satu dua orang berteriak memanggilnya karena melihat suaminya tengkurap bermandikan darah kering di depan pintu rumahnya.

Cerita lain, ia mengajak teman dekatnya yang memang jadi sasaran untuk dibunuh pergi menyabit bersama. Ketika temannya sedang suntuk menyabit, ia bangun, menyaru pindah tempat, mengendap-endap di belakangnya, lalu dengan gerakan yang singkat dan sederhana ia mengayunkan sabit yang membuat kepala temannya menggelinding. Sesudahnya, ia pulang memikul rumput sambil bersiul-siul di tengah jalan.

Konon juga Brewok bersama dua temannya sesama tameng dari desa tetangga mengejar Bapa Gedur, orang yang kebal senjata di desa ini. Setelah kelemahan Bapa Gedur diketahui dari orang dekat Bapa Gedur yang berkhianat padanya—kekebalan Bapa Gedur akan hilang jika diludahi di bagian muka—mereka bertiga menjemputnya. Namun Bapa Gedur menjebol dinding belakang rumahnya yang terbuat dari anyaman bambu. Tiga orang jagal itu berlari mengejar Bapa Gedur. Dilempari pisau, namun tak mampu menggores kulitnya. Bapa Gedur terdesak saat di depannya ternyata jurang. Ia dikepung, namun ia mencoba melawan.

Sambil menghadapi perlawanan dari Bapa Gedur, ketiga tameng itu silih berganti meludah ke arah Bapa Gedur dan berharap bisa mengenai mukanya. Hingga akhirnya, salah satu dari mereka berhasil meludahi mukanya. Dalam sekali sabetan, usus Bapa Gedur terburai. Ketiga tameng tertawa. Bapa Gedur berlari sambil menimang ususnya yang terburai.

”Jangan dikejar, dia pasti akan mati,” kata Brewok kepada temannya menurut penuturan orang-orang. Keesokan harinya, Bapa Gedur ditemukan mati di tengah semak-semak pandan berduri dalam keadaan menimang ususnya yang terburai.

Juga kau pernah bercerita padaku sebagai orang yang merasakan kekejaman Brewok. Ayahmu adalah salah satu teman dekat Brewok yang jadi sasaran pembunuhannya. Katamu, ayahmu diajak minum tuak di sebuah tempat. Duel, istilah orang di desaku, karena ia minum tuak berdua. Lama ayahmu tak kunjung pulang dan kau mengira ayahmu mabuk berat dan tak bisa berjalan. Nyatanya ayahmu tergantung di pohon dekat tempatnya minum tuak dengan tubuh basah terguyur tuak.

Konon Brewok mendapatkan nama-nama yang ia bunuh dari seorang tentara yang pernah datang ke rumahnya. Konon pula, Brewok sendirilah yang mengajukan diri sebagai sukarelawan untuk menjadi tameng. Dan entah karena alasan apa, hingga sekarang tak ada yang tahu. Kita semua di desa ini pun memiliki cerita masing-masing tentang Brewok. Jika saja ada dia atau mereka yang mau merangkumnya dalam sebuah buku, maka bisa saja dia atau mereka akan membuat sebuah buku tebal dari penuturan kita semua.

Setelah pensiun menjadi tameng, Brewok semakin misterius. Ia tak pernah terlihat di pura, di tempat-tempat umum, tak pernah ikut gotong royong, dan tak pernah bekerja lagi. Hari-harinya ia lewati di rumahnya saja. Ia tinggal sendiri pada sebuah rumah sederhana yang berlokasi di perbatasan desa. Hanya keponakannya yang kadang-kadang datang ke sana membawakan kebutuhan hidupnya sehari-hari. Kesehariannya, banyak orang melihat ia duduk di undakan batu yang berada di depan rumahnya yang agak tinggi dan memandang ke arah jalan.

Kita semua tak ada yang berani menyapanya jika melihat ia duduk di atas undakan batu. Sebisa mungkin kita semua memilih menghindar dan mencari jalan lain. Jika pun terpaksa lewat di depannya, harus dengan langkah kaki lebih cepat dari langkah biasanya.

Kau pun merasakan hal yang sama. Bahkan kau beberapa kali bercerita kepadaku tentang ketakutanmu kepada Brewok, meskipun sebenarnya Brewok tak akan mencarimu, mendekatimu sambil mengayunkan parangnya ke batang lehermu.

”Aku melihat dia berpakaian serba hitam duduk di atas undakan batu. Kulihat matanya memandang tajam walaupun bukan ke arahku. Ia sangat menyeramkan dengan cambangnya yang lebat,” katamu memulai bercerita.

Aku pernah bertanya padamu, apakah tak ada dendam yang membara dalam dirimu kepada Brewok karena ia telah membunuh ayahmu. Kau mengaku tak ada dendam, dan katamu, dendam itu dikalahkan oleh ketakutanmu saat melihat penampilan Brewok. Karena menurutmu, walaupun bertahun-tahun lamanya ia tak pernah membunuh seusai pensiun dari pekerjaannya menjadi tameng, naluri membunuhnya masih tetap hidup.

Kadang kau mengatakan dirimu merasa sangat takut saat malam setelah melihat Brewok di depan rumahnya. Hanya karena mendengar namanya saja pun kau merasakan hal yang sama. Kau membayangkan Brewok melihat dirimu saat lewat di depan rumahnya walapun sekilas pandangan matanya bukan tertuju padamu. Dan saat malam, Brewok datang menggedor pintu rumahmu dan saat kau membuka pintu, sebilah parang dingin menempel di lehermu dan Brewok tersenyum memandangmu sebelum kepalamu lepas oleh parang itu.

Jika sudah begitu, gonggongan anjing di tengah malam, suara dahan pohon yang jatuh, bahkan bunyi detak jarum jam di kamarmu selalu kau anggap sebagai pertanda kedatangan Brewok. Dan kau pun akan bersusah payah untuk bisa memejamkan mata lalu terlelap. Dengan bantal kau tutup kedua telingamu.

”Sebelum kau mati oleh ketakutanmu, lebih baik kau balas dendam saja padanya,” kataku menggodamu. Namun jawabanmu selalu sama: rasa dendam dikalahkan ketakutan saat melihat Brewok.

Tak juga kau, kita semua pun sepertinya tak ada yang merasa memiliki dendam. Padahal sama juga dengan dirimu, banyak dari kita yang pernah merasakan getir saat Brewok menjadi tameng dan mengambil nyawa orang-orang terdekat kita.

Brewok hanya dibicarakan oleh kita semua, namun dalam pembicaraan-pembicaraan itu tak ada tersirat dendam. Apakah sama juga dengan kau, dendam itu telah mati oleh ketakutan saat menyebut nama Brewok atau ketakutan saat melihat Brewok? Barangkali ya, dan mungkin tidak. Namun kenyataannya, kini nama Brewok sering digunakan oleh orang tua di desaku untuk menakut-nakuti anaknya yang nakal.

”Awas nanti kamu ditangkap Bapa Brewok!” kata seorang tua kepada anaknya yang sering meninggalkan rumah tanpa izin.

”Bapa Brewok suka mencari orang yang suka menangis. Awas nanti didengar kamu menangis,” kata orang tua lainnya dan seketika membuat anaknya berhenti menangis.

Dalam setiap pembicaraan tentang Brewok yang tanpa dendam dan lebih pada ketakutan, ternyata tak ada yang menyadari jika semakin hari Brewok semakin tua. Tubuhnya ringkih dan cambang, janggut, serta kumisnya yang hitam legam kini sudah memutih. Hari-harinya dihabiskannya di atas tempat tidur. Jika misalnya di antara kita ada yang memiliki dendam, mungkin inilah saatnya memupuk dendam itu agar semakin subur, dan ketika malam menyelinap ke rumahnya, membuka pintu rumahnya, dan setidaknya tanpa parang ataupun sabit, hanya bermodalkan bantal untuk membekap mulutnya pun sudah bisa membayar lunas dendam itu.

Brewok ternyata mati seperti biasa. Layaknya orang tua pada umumnya yang mati karena tua, sakit, sakit yang semakin parah menggerogoti tubuhnya dan mati di atas tempat tidur.

Kau datang ke rumahku pada suatu pagi di hari kematian Brewok untuk mengabarkan hal itu. Siangnya aku dan kau datang ke rumah Brewok walaupun tak memiliki hubungan kerabat. Beberapa di antara kita juga ada yang datang melayat walaupun dulu pernah merasakan getir dan ketakutan oleh ulah Brewok. Kedatangan kita disambut suka cita oleh keluarganya, dan ternyata saat kematiannya rumah itu menjadi ramai oleh para pelayat. Bagaimanapun juga, beberapa waktu yang lalu, jauh sebelum kematiannya dan namanya selalu membuat kita semua merasa takut, aku pernah berpikir, jika kelak Brewok mati, pasti tak akan ada yang datang ke rumahnya.

Setelah melihat kedatangan pelayat, aku tak tahu apakah kedatangan mereka ke rumahnya benar-benar untuk tujuan melayat. Bisa saja di antara kita yang datang ada yang hanya untuk sekadar melihat wajah tameng itu setelah mati, atau bisa saja ada yang datang untuk mengucap syukur, ataupun ada yang datang sambil mengutuki tubuhnya yang kaku dengan kata-kata kasar.

Setelah tubuh Brewok dibenamkan ke dalam tanah, setelah pelayat pulang ke rumah masing-masing membawa perasaannya masing-masing tentang kematian Brewok, kita semua kembali membicarakannya.

”Bagaimana ya nasib rohnya Brewok di tempat sana?” kau bertanya padaku dalam perjalanan pulang dari melayat.

”Entahlah, aku tak punya akses ke tempat sana.” kataku menjawab pertanyaanmu.

”Pasti dia sudah ditunggu roh orang-orang yang dulu dibunuhnya,” kata dia di sebuah warung kopi sambil menikmati secangkir kopi dengan asap kretek yang mengepul dari mulutnya dan menaikkan kaki kirinya ke atas bangku.

”Nanti keluarganya pasti akan diganggu oleh rohnya Brewok untuk meminta pertolongan. Pasti sekarang dia sedang dicabik-cabik oleh roh orang-orang yang ia bunuh dulu,” kata dia yang lain di tempat yang lain pula.

Dan dua hari setelah kematiannya, aku bermimpi roh Brewok baik-baik saja di alam sana. Bahkan ia tertawa dengan roh orang-orang yang pernah dibunuhnya. ”Karena jauh sebelum ia mati, ia telah membayar dewa-dewa dan juga roh orang-orang yang ia bunuh dengan aneka sesajen,” kata sebuah suara dalam mimpiku yang membuat aku segera terjaga.

Denpasar, 6 Maret 2020

Supartika : bernama lengkap I Putu Supartika, lahir di Karangasem, Bali, 16 Juni. Alumnus Jurusan Pendidikan Matematika Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha). Kini mengelola majalah sastra Bali modern Suara Saking Bali. Bukunya yang telah terbit Cara Mengiris Daging Koruptor (2019).

Johan Suwondo : alumnus Seni Grafis ISI 1983. Aktif pameran seni grafis di Indonesia dan Belanda 1983-1989, kemudian berkarya komersial, khususnya di perfilman. Kembali berkarya seni lukis dan mulai aktif pameran lukisan sejak 2015 hingga kini di Indonesia dan beberapa negara: Thailand, India, Vietnam, Taiwan, dan Jepang.

sumber : harian Kompas edisi 26 Juli 2020 di halaman 10 dengan judul “Brewok”.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme