Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Setyawati oleh Yuni Kristianingsih

Posted on Ming, 12 Okt 2003

Setyawati adalah nama ibuku. Dia wanita tercantik yang pernah kukenal dan walaupun aku banyak mengenal wanita yang menawan, tapi hanya dia yang lulus ujian sebagai perempuan walaupun dengan pengujian yang paling kritis sekalipun.

Hal pertama yang kuingat dari diri Ibu adalah kalau malam dia suka memakai gaun sutra berwarna putih. Aku pernah menanyakan kenapa dia suka memakainya dan kata Ibu itu agar aku lebih mudah menemukannya di dalam kegelapan. Kalau siang, warna gaunnya lebih beraneka ragam, tapi biasanya bermotif bunga. Di dekatnya selalu tercium wangi melati, kadang memang sedikit tercampur bau kue atau masakan di dapur, tapi wangi melatinya masih tercium.

Ibuku selalu bisa bersikap manis bahkan ketika sedang marah. Kalau ada dia, rasanya semuanya bisa diurus dengan baik. Semua orang sayang padanya. Bahkan, kupikir bunga-bunga di kebun itu mengangguk-angguk bukan hanya karena tertiup angin, tapi juga karena ingin menyapa Ibu.

Ibu sangat sayang padaku meski aku hanya jarang-jarang saja berada di dekatnya. Aku sangat sering pergi.

Kadang aku pergi dan kembali hanya untuk sebuah alasan sederhana. Kadang bahkan tak perlu alasan sama sekali. Dan aku senang melakukannya. Tapi Ibu tidak.

Tiap kali aku muncul di depan pintu, kata pertama bukan “selamat datang” atau paling tidak “hai sayang”, tapi “berapa lama kau akan tinggal?” dan kalau jawabanku adalah “besok aku harus kembali” wajahnya jadi muram seakan- akan aku sedang pamit perang melawan seribu orang raksasa.

Orang menganggap ibuku wanita yang sangat beruntung padahal sebenarnya dia orang yang malang. Orang-orang yang Ibu cintai selalu meninggalkan Ibu sendirian. Ayah selalu sibuk dengan pekerjaannya, Senin ke Jepang, Rabu ke Singapura, Kamis ke Swiss, dan minggu berikutnya entah ke mana lagi. Kalau Ibu protes, paling-paling Ayah akan pulang dengan wajah tidak berdosa sambil membawa sebuket bunga, kalung permata, dan ajakan makan malam berdua. Begitu saja Ibu langsung tersipu-sipu. Ayah memang pandai merayu. Aku tak pernah tahu bagaimana dia berpamitan pada Ibu keesokan harinya sebelum dia menghilang di balik pintu.

Walaupun begitu, Ibu boleh bangga karena Ayah sangat mencintainya. Bagi Ayah, itu adalah rahasia terbesarnya, tapi aku tahu karena aku laki-laki dan juga putra Ibu.

Pernah suatu ketika, di antara sedikit waktu luang Ayah, dia menceritakan bagaimana dulu dia harus berjuang keras untuk mendapatkan cinta Ibu.

Ibu adalah gadis paling manis yang pernah dikenal Ayah, sedangkan Ayah adalah laki-laki paling brengsek yang pernah diketahui Ibu. Vila keluarga mereka di Kaliurang berdekatan, tapi keluarga keduanya berbeda seratus delapan puluh derajat. Ibu dibesarkan dalam keluarga bangsawan yang penuh martabat dan tata krama, sedangkan keluarga Ayah merupakan gambaran paling ideal untuk penganut paham materialisme dan pemikiran liberal: punya segalanya, tapi jelas tidak bahagia. Tapi, sudah merupakan hukum Tuhan kalau kutub positif magnet selalu bertemu dengan kutub negatifnya.

Sejak melihat Ibu pertama kali, Ayah tak pernah membiarkan Ibu lepas dari pengawasannya. Dia terus berkeliaran di sekitar Ibu sampai Ibu menyadari keberadaannya. Tapi waktu itu Ibu masih sangat muda sehingga terlalu bodoh untuk tahu bahwa Ayah mencintainya.

Berkat kerja keras dan didukung kepintarannya dalam mempengaruhi orang, Ayah berhasil membujuk orangtua Ibu untuk menikahkannya dengan Ibu. Ayah sama sekali tak merasa perlu membujuk Ibu karena dia tahu Ibu itu sangat penurut dan menganut paham: cintailah apa yang kau miliki.

Suatu ketika kutemukan buku harian tua di salah satu sudut loteng yang digunakan sebagai gudang. Buku bersampul kulit itu milik Ayah, ditulis ketika aku mungkin masih berupa sel-sel yang tercecer di dalam tanah. Di dalamnya tertulis kalimat yang sudah cukup menggambarkan seperti apa cinta Ayah pada Ibu. Kalimat itu adalah “Aku sangat mencintainya sampai rasanya ingin memakannya”.

Ibu adalah contoh istri yang luar biasa. Dia mengabdi sepenuhnya pada suami. Mencintainya, merawatnya, dan sebisa mungkin tidak melakukan apa yang tidak disukai Ayah. Ibu sangat setia pada Ayah, mungkin seperti Setyawati dalam cerita pewayangan yang rela jari-jarinya dipotong demi menolong suaminya.

Setelah melahirkan aku, Ibu tidak pernah bisa benar-benar sehat seperti sebelumnya, padahal Ibu ingin punya banyak anak supaya rumah jadi ramai. Meski begitu, Ibu punya anak yang lain, Ayah, dia jelas lebih merepotkan dari anak mana pun juga dan bayi yang tidak pernah menjadi besar.

Sebagai anak tunggal, aku punya kewajiban setidaknya menelepon Ibu untuk laporan harian sebelum tidur dan harus meluangkan waktu senggangku untuk pulang.

Sebenarnya berada di rumah sangat menyenangkan. Ada Ibu dan segala bentuk perhatiannya dan kalau aku cukup beruntung, ada Ayah yang bisa aku ajak menonton pertandingan bola.

Tapi ada terlalu banyak daya tarik yang ada di luar rumah sehingga aku tidak bisa berlama-lama berada di rumah. Meskipun begitu, tetap saja aku merindukan Ibu dan menyimpannya sebagai alasan untuk pulang di bulan berikutnya.

Suatu kali aku pulang. Ada kabar gembira yang harus kusampaikan pada Ibu.

“Bu, aku sedang jatuh cinta,” kataku. “Hebat sekali, bukan?”

Ibu memandangku lama, kelihatan sangat heran, tapi kemudian tersenyum. Senyum paling indah yang pernah kulihat. “Oya? Benarkah? Ayo ceritakan pada Ibu.”

Lalu aku pun bercerita. Tentang seorang gadis yang berasal dari desa yang namanya tak tercantum di peta. Tentang bidadari kecil yang sangat manis. Tentang mahasiswi paling pintar di kampus. Tentang wanita angkuh yang pernah menampar wajahku.

Ibu sangat heran. “Dia menamparmu?”

“Ya, aku berdebat dengannya di sebuah forum diskusi. Dia melawan dengan gigih. Sewaktu acara usai, aku mencoba mengajaknya kencan dan dia menamparku.”

Ibu tertawa. “Kamu pasti jadi marah sekali.”

“Tentu saja. Setelah hari itu aku membuntutinya ke mana pun dia pergi. Dia marah, jengkel, dan kadang ketakutan. Lucu sekali.”

“Kenapa kamu mengganggunya? Terang-terang kamu yang salah. Bukankah seharusnya kamu minta maaf padanya?”

“Ibu bercanda. Masa gadis seperti itu harus dibiarkan saja? Karena dia sudah membuatku susah, maka dia harus dihukum. Bagaimanapun dia harus jadi milikku.”

“Ya ampun, kau persis ayahmu.”

Aku tersipu malu. “Ah, aku lebih suka mirip Ibu.”

“Tidak, Nak, kau persis ayahmu.”

Beberapa bulan kemudian aku telah berhasil menjadikan gadis itu pacarku. Ketika liburan semester tiba, aku membujuknya agar mau menghabiskan liburan di rumahku. Aku sangat ingin mengenalkannya pada Ibu. Kebetulan Ayah baru saja pulang dari Kanada dan kurasa sedang punya keinginan yang luar biasa untuk berada di rumah bersama Ibu.

Oya, pacarku itu bernama Setyawati. Tahu itu Ayah tertawa. “Itu adalah nama yang khusus diberikan pada wanita yang hebat,” katanya. Saat itu Ayah sedang melirik Ibu, tapi pacarku tersipu-sipu.

Selama seminggu itu Setyawati mendominasi ibuku. Mereka berkeliaran berdua sepanjang hari, dari mulai memetik buah di kebun, membuat kue-kue kecil aneka rupa yang nama-namanya sangat aneh, keluar masuk toko mencoba segala jenis gaun, sampai membicarakan sesuatu yang tak pernah bisa kumengerti meskipun sudah kucoba.

Aku dan Ayah mengawasi mereka berdua sambil tertawa cekikikan. Lucu sekali melihat bagaimana dua orang itu berkeliaran di sekeliling kami seperti angin ribut dan amat sangat repot mengerjakan ini dan itu untuk kami.

“Apakah kau menyadarinya?” tanya Ayah. “Kita ini memang ayah dan anak.”

Itu memang benar, pikirku, tapi tak perlu mengatakan sesuatu yang sudah jelas, kan?

Setelah pacarku pulang, aku menemui Ibu. Kukatakan kalau aku ingin menikahi Setyawati.

“Jangan menikahinya, Nak,” kata Ibu.

Aku mengerti. Kukira Ibu menyukainya. “Kenapa, Bu?”

“Jangan. Jangan menikahinya.”

“Bu, dia memang miskin, tapi dia sangat baik.”

“Aku tahu, tapi kau tak boleh menikahinya, Nak.”

“Kenapa, Bu? Aku mencintainya. Dia manis seperti Ibu.”

“Dan kau seperti ayahmu.”

“Aku tak mengerti.”

“Kalau kau menikahinya, kau akan membuatnya menderita seperti yang ayahmu lakukan pada Ibu.”

Aku tak pernah tahu kalau Ayah bisa membuat Ibu menderita. Hanya saja kalau Ayah tidak pulang, aku sering melihat Ibu duduk termenung di dekat jendela. Di pangkuannya ada sebuah buku, tapi tampaknya lembarannya tak berganti. Aku curiga dia memang tidak sedang membaca. Pikirannya mungkin terbang pada Ayah. Tapi sebelum ini aku tak pernah memikirkan hal itu dengan serius meski aku melihatnya.

“Tidak, Bu, aku tidak seperti Ayah. Aku akan membuatnya bahagia. Ibu akan melihatnya nanti dan Ibu akan bangga.”

Seperti yang aku inginkan, memang pada akhirnya aku menikahi Setyawati. Bukankah sudah seharusnya begitu?

Setyawati persis seperti yang aku harapkan dari seorang istri. Manis, menyenangkan, dan mengurus segala keperluanku dengan baik. Dia menyediakan apa yang aku butuhkan: makanan yang lezat, rumah yang nyaman, dan cinta. Aku sangat mencintai Setyawati dan sangat kusadari bahwa hidupku pasti tak akan sesempurna ini tanpa dirinya.

Aku bekerja di perusahaan Ayah, mewakili Ayah dalam beberapa hal. Ternyata bekerja itu sangat menyenangkan, membaca laporan, memimpin rapat, memikirkan strategi baru, menandatangani banyak sekali dokumen dan kertas kerja, setelah itu uang datang seperti hujan.

Aku sangat suka pekerjaanku, termasuk setiap sentimeter kantorku. Bekerja memberiku kegairahan yang sama seperti saat aku bersama Setyawati. Banyak sekali kemajuan yang satu per satu dapat aku raih. Itu adalah suatu prestasi dan tentu saja berarti uang. Aku senang karena dengannya aku dapat membelikan Setyawati barang-barang paling bagus, perhiasan, gaun, dan apa saja yang terlintas di benakku atau apa saja yang dianjurkan sekretarisku yang menurutnya akan diterima oleh seorang wanita dengan senang hati.

Aku yakin Setyawati sangat bangga padaku. Tiap kali aku pulang, aku melihat pijar di matanya. Seperti biasa dia sangat baik hingga tak akan mau menyentuh makan malam sebelum aku pulang.

Ketika aku terlalu sibuk untuk makan bersamanya, aku merasa menyesal dan untuk menebus kesalahan itu kusuruh sekretarisku mengirimkan padanya rangkaian bunga mawar putih dan sebuah kartu berisi ucapan maaf. Setyawati akan mengeluh dan marah, tapi cuma sebentar karena aku punya cara paling manjur untuk membujuknya, yaitu dengan meminta maaf dan ditambah sedikit keluhan capek atau sakit kepala. Dia akan tergopoh- gopoh mengurusku dan lupa sama sekali dengan kemarahannya.

Tahun demi tahun berlalu, kurasakan waktu berjalan dengan begitu cepat sehingga aku hampir selalu kekurangan waktu untuk segala hal. Setyawati telah menjadi lebih memahamiku sehingga makin lama makin jarang mengeluh. Dia memang mirip Ibu. Ekspresi wajahnya serupa Ibu ketika menyambut aku di muka pintu. Dan aku sangat mencintainya.

Suatu hari aku pulang, berharap menemukan Setyawati yang cantik sedang menungguku di ruang keluarga sambil merajut. Tapi Setyawati tidak ada di mana-mana. Di atas bantalnya kutemukan selembar surat.

Untuk suamiku tercinta,

Selama ini telah kau berikan segalanya padaku, uang, kemewahan, kedudukan yang terhormat, semuanya. Kau juga telah begitu baik padaku. Tapi kau melupakan satu hal, bahwa aku sangat membutuhkanmu di sampingku, sesuatu yang kurasa hampir setiap saat kau lupakan. Aku telah mencoba bertahan, aku benar-benar telah mencobanya, tapi aku menyadari aku bukan wanita luar biasa yang sanggup diabaikan setiap waktu. Karena itu aku memilih pergi. Maafkan aku. Aku sangat mencintaimu, tapi aku tahu aku akan sangat menderita jika terus bersamamu. Kumohon, demi kebaikan kita berdua, uruslah surat cerai secepatnya. Kalau kau lakukan itu, aku akan sangat berterima kasih.

Dariku, Setyawati.

Ini semua tidak mungkin. Kenapa? Bukankah semuanya baik-baik saja? Aku tak mengerti, tapi surat itu ada di sana dan Setyawati telah benar-benar pergi.

Aku menelepon Ibu.

“Nak,” katanya. “Sekarang kau mengerti, bukan? Kau seperti ayahmu.”

Lalu kutanyakan padanya apa yang ingin aku tahu. “Apakah Ibu juga akan pergi? Meninggalkan Ayah?”

Jawabnya, “Nak, Setyawati yang ini berbeda dengan Setyawati-mu. Dia punya sayap yang kuat untuk terbang, sedangkan Ibu, Nak, Ibu tak punya kekuatan dan keberanian untuk pergi. Sayap-sayap Ibu telah patah. Nak, sudah sejak lama. Lama sekali.”

Aku sangat ingin menangis dan meminta maaf pada Setyawati. Dan juga pada Ibu.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme