Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Senja Buram, Daging di Mulutnya oleh Radhar Panca Dahana

Posted on Ming, 29 Feb 2004

“Ambillah! Aku ikhlas. Ambillah dan cepat pergi!” Tapi perempuan tua dengan anak tiga tahunan di gendongnya itu tetap kaku di tempatnya. Wajahnya pias, beku tak berdarah, seperti mayat yang baru terbenam dua-tiga hari: wajah yang tak berwarna. Tubuhnya yang menggigil kecil tapi menjangkau seluruh tepi jasadnya itu, menandakan ia hidup. Tentu saja ia hidup. Baru tiga menit lalu, handphone dan lembaran seratus ribuku pindah dari kantong celana kiriku ke kain gendongan anaknya, dalam drama kecil yang terjadi tak sampai lima menit.

Itu belum dimulai ketika bus kota yang kutumpangi mulai memasuki kawasan Cawang. Jam lima sore lebih. Aku malas mengangkat pantat, mungkin karena wanita muda sebelahku duduk seperti memberi kode padaku. Entah apa. Mungkin balasan dari kode yang kusampaikan dengan, seolah tak sengaja, menjawil ujung lututnya yang terbuka. Aku mengintip dengan sudut mata kiriku. Wanita muda itu seperti tersenyum sendiri. Sesungguhnya malu kalau aku merasa tersanjung.

Tapi kuingat istriku dengan masakan yang menunggu. Juga Bersihar, anak lelakiku kedua yang menunggu janjiku mengajaknya ke komedi putar. Maka, terpaksa aku berdiri tepat saat kondektur meneriakkan halte Cawang, dan wanita muda itu masih tersenyum sendiri. Ia tidak tersenyum untukku. Aku menghela napas dan melempar tubuhku secepatnya ke arah pintu belakang. Penumpang cukup padat. Drama pun dimulai.

Bus kota hampir berhenti. Di tangga pintu belakang, tak kurang delapan orang berjejal. Semua perempuan. Semua setengah baya. Dua di antaranya menggendong anak. Di belakangku empat orang lain mendesakku. Semua perempuan tua. Satu yang menggendong anak tepat di belakangku. Ia mulai mendorong, mendesakku dengan kata-kata penuh cemas, mengingatkanku kepada anaknya. Dua orang lagi mendorong. Pantatku ditekan-tekan. Kemejaku ditarik hingga hampir lepas dari selipan celana. Tiga orang perempuan di depanku bergoyang selaiknya orang berebutan. Ada sesuatu yang mendorong celana, kantong celana kiriku.

Ada yang tak beres! Aku sigap berkelit dan menengok. Sepotong tangan mungil terjuntai dari balik kain, tepat di mulut kantong celana kiriku. Aku mengebaskan pandang ke arah perempuan tua penggendong anak di belakangku. Tiga orang kiri kanan menggoyangku. Aku mengelilingkan pandang. Tak kurang selusin perempuan tua di sekelilingku. Dan segera aku sadar. Kurogoh kantong kiriku. Handphone dan lembaran seratus ribu sudah tak ditempatnya.

Aku meluap. Tensi darahku pasti melonjak 170, seperti biasanya. Tangan mengepal seperti hendak berayun. Saat itu, perempuan tua dengan anak digendongnya mendadak kaku dan bergetar. Wajahnya kertas singkong yang sangat muram. Semacam putus asa yang menyisakan kematian. Kalau kemudian aku lepaskan dia dan merasa menyesal di tiga menit kemudian, bukan karena hartaku lenyap. Namun, gerombolan perempuan tua itu turun bersama dan pergi dengan segera. Beberapa terdengar mengikik tertawa. Dua di antaranya menoleh ke arahku sekejap. Entah bagaimana wajah perempuan tua tak berwarna tadi. Aku tak bisa melukainya. Tentu, aku tak bisa. Tak bisa.

Istriku mengumpat habis di rumah. Bersihar tak jadi ke komedi putar.

Siaran televisi menjelang malam itu kembali dengan program yang dia gemari. Seperti biasa, lelaki 30 tahunan itu sudah menyiapkan dengan saksama, ritus menonton tengah malam itu. Segelas kopi besar dengan es batu besar-besar, sepiring keripik kulit mangga, dan saputangan untuk ingusnya yang selalu keluar menjelang tidur. Tegukan pertama kopi ia telan begitu acara dimulai, diikuti gerak otomatis tangannya merangkai keripik di mulutnya.

Malam ini, siaran itu menyajikan tiga orang pemangsa yang tidak biasa. Yang pertama, lelaki tua asal Thailand yang menyantap berbagai jenis serangga seperti kodok, kadal, tikus, hingga ular kecil sebagai menu sehari-harinya. Yang kedua, perempuan tua Ukraina pemamah tanah kotor berpasir, tiga kali satu hari dengan piring yang cukup besar. Kadang ia makan langsung dari ember, bahkan dari galian tanah di hutan. Cacing atau binatang-binatang kecil ikut di dalamnya.

Yang ketiga, lelaki muda Jawa Timur dengan dua menu istimewa setiap hari. Jika tidak sepiring belatung, lain waktu sepiring kaca. Ketiga orang itu semuanya sehat. Hanya perempuan Ukraina sedikit turun hemoglobinnya. Tapi tak berpengaruh. Mereka mengaku sama berliur jika melihat santapannya menggeletak begitu saja di jalanan. Tak tahu kapan mereka akan berhenti dengan menu seperti itu. Mereka merasa tak memiliki alasan untuk berhenti. Dan lelaki 30 tahunan itu menyeka hidungnya dengan saputangan.

Esok harinya, ia menemukan ulat di balik sayur sawi buatan istrinya. Ia tak berteriak seperti biasa. Ia coba menelannya. Tapi kemudian merasa lebih baik mencoba mengunyahnya.

Padri adalah jagoan PS, alias PlayStation. Kini ia jagoan CS, alias ComputerStation. Pulang sekolah ia tidak akan istirahat atau makan siang dulu. Namun, segera ke kios CS. Jika libur; jam enam pagi ia sudah menunggu di depan kios yang masih tertutup pintunya itu. Aku sudah mengingatkan berulang kali anak pertamaku itu. Tak ada reaksi. Kuhukum sudah. Berat bahkan. Neneknya protes. Jangan kejam pada anak, katanya. Kelakuannya tak baik, kataku. Biarlah, itu kan tak mengganggu orang. Dan bukankah ia merasa bahagia karenanya? Nenek itu menutup protesnya dengan lima lembaran lima puluh ribuan, jatah bantuan bulanan untukku.

Kini Padri bukan cuma jagoan CS. Permainan itu sudah menjadi judi. Dan Padri selalu jagoan. Ia tak lagi minta jajan. Apa aku merasa terbantu karenanya? Aku menghukumnya lebih keras. Padri menjerit. Nenek protes lebih keras lagi. Tak kuberi tahu ia kalau cucunya kini jadi bandar judi. Aku malu. Jatah bulananku di tambah hampir dua lipat. Dua minggu kemudian, Sukran, pemuda pengangguran anggota organisasi pemuda entah apa, melaporkan padaku, Padri terlihat bercumbu dengan Ijah, pembantu tetangga sebelah di kebon singkong.

Aku tahu, tak kan lama lagi, Padri akan datang dengan perempuan mana yang dibuntinginya. Apa aku harus menunggu? Kuhukum ia lebih berat sehingga jatah bulananku pun bertambah? Aku mengeluh pada istriku. Ia tak menjawab, sibuk dengan Bersihar yang memang sangat cerewet. Aku menyerbu lemari dapur. Mencari sesuatu. Menemukan sayur sawi. Kuhabiskan semua dalam beberapa kejap.

Lalu berlari mengelilingi rumah tetangga, kios CS, PS, lapangan, kebon singkong, sekolahan, kamar tidur Ijah, hingga kampung sebelah. Padri tak ada. Aku lapor pak RT dan keamanan. Padri tak pulang, hingga larut malam. Aku tak bisa tidur. Membuka lemari dapur. Kosong. Pagi-pagi dua orang preman datang mengetuk pintu. Pemberitahuannya singkat. Padri, anak pertamaku, ada di Polsek, setelah ketahuan mengganja di kolong jembatan Krukut.

Aku berkemas. Berangkat ke tempat kerja.

Cukup lama, lelaki 30 tahunan itu mengamati Ipung. Ia hanya lelaki kecil, belum tujuh tahun, namun perangainya dewasa. Air mukanya jenaka, kulitnya putih, dan matanya berjurang. Belakangan ia agak berubah. Tetap jenaka, kulit mukanya memuram dan matanya kadang kosong. Ipung sekolah pagi, tapi pulangnya senantiasa sore. Bapaknya kerja di Senen, entah apa. Ibunya jual karedok, di pertigaan kampung, dibantu Arti, anaknya 13 tahun.

Kemarin, lelaki itu tak melihat Ipung seperti biasa: menjelang maghrib mencakung di depan rumahnya, dekat balai keamanan desa sambil menggigiti rumput. Dan pagi hari ini, kampung geger. Dari koran yang dibeli Pak RT, tersiar berita Ipung ada di rumah sakit. Ditemukan pingsan di jalan menuju pulang dari sekolah. Tubuhnya berantakan. Darah kental dari celananya mengering. Ia disodomi delapan orang, yang lima di antaranya sudah tertangkap. Ipung meninggal sepuluh jam kemudian, lantaran ia disodomi seraya dicekik agar tidak berteriak.

Songkang, lelaki 30 tahunan itu tidak ikut ke rumah sakit bersama para tetangga. Ia berbela sungkawa dengan memberikan amplop pada bapak si Ipung. Malamnya ia nongkrong di balai keamanan desa. Membayangkan Ipung. Wajah yang jenaka, kulit licin, putih, dan mata yang cekung menawarkan pertanyaan. Bagaimana anak itu sebenarnya? Ia seperti menyentuh kulit halus anak kecil itu. Menelusuri tubuhnya. Dan menemukan kelokan dan tikungan yang membuat pengendara apa pun tergoyang karenanya.

Songkang teringat anaknya. Dan siuman. Hari lewat tengah malam. Ia lihat sekelilingnya, sepi. Ia lihat dirinya, tengah onani.

Aku tertawa kecil mendengar kabar kuping itu. Seorang terdakwa yang menggali belasan mayat perempuan tua, untuk disantap sedikit demi sedikit dagingnya, diputuskan bersalah oleh pengadilan dan dihukum sekian tahun saja. Terdakwa itu tertawa di balik baju kokonya. Beberapa orang malah menyalami. Beberapa ibu dan perempuan muda minta foto bareng dengannya. Beberapa wartawan mewawancarai. Ia kontan populer seperti selebritis negeri ini. Tawanya sumringah, menawarkan sesuatu pada siapa saja. Bukan rasa gembira. Tapi teror yang tersembunyi. Dan orang-orang menerimanya, menerima teror seperti lauk-pauk sehari-hari.

Aku tertawa dan mengakui. Imajinasi kita kini begitu miskin dibanding kenyataan di sekitar kita. Khayal memang tak terduga, tapi kenyataan kian tak dinyana. Pengarang pasti keok dan terseok fantasinya, tunduk malu pada kreativitas dunia keseharian. Aku? Manusia biasa saja. Imajinasi sederhana. Sekadar mengikuti hidup yang ada. Seperti dorongan selepas senja di hari kerja kelima setiap minggunya, aku pasti datang ke perempatan itu. Seperti rutin saja. Menemui Shelly, Sonya, Tessi, Mona, atau siapa saja. Wanita-wanita berjenis kelamin pria. Menemaniku tidak lama, 30 hingga 40 menit saja. Dekat taman atau di pinggiran kuburan cina. Karena langganan, aku selalu dapat potongan. Kadang gratisan.

Petang ini aku menemui Deassy. Entah siapa. Tak peduli aku kenal dia atau tidak sebelumnya. Namun, memang hanya wanita itu yang ada. Yang lain entah ke mana. Mungkin hari masih terlalu sore. Dan Deassy pun tak banyak tanya. Ia menggandengku ke kuburan cina. Tidak di pinggirannya. Tapi lebih jauh ke dalam. Masih banyak orang lewat, katanya. Aku menurut saja. Seperti biasa. Tanganku dipegang, resluiting celana dikendurkan. Seperti biasa. Ia tersenyum kecil, ia berwajah dingin, ia menunduk. Seperti upacara. Seperti biasa.

Tapi hasilnya, kali ini tidak biasa. Ruar biasa. Aku ejakulasi berat dan orgasme berat. Namun, bukan orgasme seperti biasa. Saat aku membuka mata, setelah sekian menit memejam saat puncak orgasme seperti biasa, aku melihat dan merasa tidak lagi di kuburan cina. Aku di sebuah taman. Berumput halus berbunga aneka, bersungai bening berawan kapas, binatang-binatang domestik kecil… bayangkan saja surga dalam komik anak-anak kita. Semua ada di sana. Dan yang menonjol untukku, di sebuah pendopo kayu yang sederhana tapi eksotik dan super bersih, berkumpul bidadari-kalau perempuan-perempuan itu bisa disebut bidadari-yang seluruhnya bugil-gil. Mereka menatapku. Semua tak kecuali.

Dengan langkah Adam manusia pertama, atau dewata di pewayangan bolehlah, aku melangkah, mendekati mereka. Memperhatikannya saksama, satu per satu. Semua cantik, putih, halus, dan sangat seksi. Tapi saat kuperiksa lebih saksama, ada yang berbeda dari mereka dengan perempuan yang biasa kukenal. Satu atau beberapa bagian tubuh mereka ternyata lebih cocok disebut lelaki ketimbang perempuan. Seperti yang di pojok kiri, yang duduk bertelekan pagar bambu halus, memiliki betis yang besar, kuat dan kekar, bulu-bulu lebat menyelimutinya.

Atau yang mungil di bagian tengah depan, berjakun besar yang tak henti menggelinjang. Ada pula yang berpenis, berdada bidang atau berperut kencang lengkap dengan telur-telur ototnya, bahkan berkumis, berjenggot, atau berjambang bauk. Dan kalau kuamati lagi lebih saksama, ada yang berekor, bersusu empat, atau bahkan berkaki kanguru. Tapi… semua cantik dan menggemaskan. Entah kenapa, bagiku semua “wanita” itu menggairahkan.

Lucunya, aku seperti mengenal mereka. Ada yang wajahnya seperti Tari, adik iparku. Atau tubuhnya sedikit gempal lemak dengan lekukan yang sama dengan istriku. Atau berleher jenjang Kustiyah, ibuku. Atau seperti Marni, pembantu. Seperti Bersihar, anakku, Rudy, Jamal… ooh. Semua sungguh memberi kedekatan padaku. Aku seperti terisap. Dan melebarkan langkahku. Hingga kucium baunya. Bau-bau yang sangat kukenal, kusukai, kuhormati. Aku pun menghambur.

Aku tak bisa memilih. Dan memang tak memilih. Kuserbu satu, atau mungkin dua atau tiga di antaranya, dan kubenamkan kepala dan tubuhku dalam pelukan mereka. Aahhhhhh. Ini surga? Kupejam mata dan menggerayangkan tanganku. Gila, ini ekstase. Aku surup karena gairah. Dan gelap. Tubuhku bergoyang dan terlempar-lempar, tepatnya tergulung-gulung. Bukan pusing, seperti sebuah nikmat. Tapi entah nikmat apa. Karena kemudian tak kurasakan apa-apa. Cuma gelap. I am nowhere. Dan kurasa aku pingsan.

Mungkin bukan pingsan. Tapi tertidur, saat aku mendusin. Saat kujumpai hari pagi, kujumpai diriku terbaring, memeluk kuburan dengan nisan tepat di bibirku. Dan sungguh, aku tak kaget. Aku puas sekujur badan, hingga jempol kaki kiriku. Lalu pulang dan melihat semua seperti baru.

Penduduk kampung tidak geger lagi. Padahal Pak Karmin pagi itu ditangkap polisi dengan tuduhan-lagi-lagi-pembunuhan. Korbannya tiga orang, semua anggota keluarganya sendiri, dua anak dan istri. Semuanya habis disantap, mentah-mentah. Dan sebagian orang terkejut, sebagian lain menyebutnya dengan enteng, “Pak Karmin lagi muja.” Katanya, ngelmu untuk mendapatkan kekayaan, kejayaan. Dan itu bukan yang pertama untuk kasus “muja”. Jadi, biasa-biasa saja.

Apalagi memang dalam beberapa waktu terakhir kasus, entah kenapa, cukup banyak kasus dialami oleh warga kampung ini. Tak cuma perampokan dengan pemerkosaan plus mutilasi. Bukan hanya gadis muda dan cantik yang meminum darah ratusan tikus untuk jadi populer. Tidak melulu tukang soto dengan daging mayat sebagai campurannya. Atau sekadar serial pemerkosaan bayi balita yang terjadi di Jembar Udik, kampung sebelah. Hidup memang kejam kok, kata Pak RT Udin.

Lantaran itu, mungkin, apa yang terjadi pada Songkang dan keluarga tidak lagi jadi perhatian umum. Sudah lebih tiga minggu, Songkang hidup sendiri. Istri dan Bersihar, anaknya, pergi. Ke mana, entah. Karena cerai? Entah. Padri pun lama hilang. Jadi preman, kata orang. Songkang sendiri hidup seperti biasa. Berangkat pagi dan pulang selepas petang. Tetangga dekat cuma melihatnya menjadi warga yang lebih sopan dan berbudi, lebih dari biasanya. Menebar senyum, walau tak banyak bicara. Suka membantu, walau jarang keluar rumah.

Yang kasatmata, rumah Songkang kini lebih banyak tertutup, sepi, gelap, dan tak terurus. Rumah hantu, kata anak-anak. Tapi tak ada yang menegur, karena Songkang banyak senyum. Jadi waktu pun berlalu. Begitu saja. Seperti biasa. Kejadian demi kejadian terjadi. Begitu saja. Tak ada yang aneh. “Tuhan memang tak terduga,” kata Pak Soegono, guru SMP.

Memang, siapa menduga kalau Songkang sudah tiga hari tak keluar rumahnya. Ini sungguh tak biasa.

Polisi, lagi-lagi, menyergap kampung. Kali ini rumah ketiga Gang Arjuna Buntu yang diserbu. Aku tahu itu, bahkan sudah tahu sebelumnya. Tepatnya sudah menduga. Lebih tepat lagi sudah terencana. Polisi akan menemukan rumah itu kumuh, gelap, sepi, dan beraroma busuk. Sebagian polisi menggunakan masker dan membuat dugaan macam-macam. Aku pasti gembira melihat mimik mereka.

Setelah melewati ruang tamu dengan sofa berlubang dan perabotan bersilang, mereka akan masuk ruang keluarga yang melulu berisi potongan koran dan majalah. Bertumpuk-tumpuk dan memenuhi dinding. Lalu menuju dapur yang telah menjadi gudang. Gudang apa saja, terutama barang bekas, entah bekas apa. Di sisi kiri, kamar tidur anak yang kosong, kecuali dipan dengan kasur bolong. Dan akhirnya, mereka akan sampai ruang belakang, kamar “ngelamun” kata mantan ibu rumah ini.

Di situ polisi akan menemukan sebentuk tubuh bugil. Tubuh lelaki 30 tahunan dengan anggota badan tak lengkap. Tentu ia sudah menjadi mayat, lebih dua hari katanya. Di sisinya ada televisi yang masih menyala dengan semut, satu pisau daging yang besar, dua pisau kecil pengerat, potongan majalah porno, stensilan, kertas dan spidol, nisan kuburan, tanah yang mengering, bunga-bunga layu, piring bekas makanan, dan ceceran darah kering di lantai, kaki, selangkangan dan mulutnya.

Analisa polisi: lelaki itu Songkang, bunuh diri karena frustrasi, cerai istri dan anak, menjadi gila, dan hiperseksual. Dilihat dari beberapa tanda, lelaki itu seperti habis melakukan semacam monoseks atau otoseks, dengan berbagai cara. Sampai ia memotong alat vitalnya sendiri untuk otoseks. Dan itu pun belum juga memuaskannya. Ia mulai memotong anggota tubuhnya yang lain untuk ia santap. Tapi ia sudah mati sebelum santapan pertama ia habiskan. Entah karena kehabisan darah, atau karena tersedak. Di tenggorokannya ditemukan sepotong daging tersangkut, potongan alat vitalnya sendiri.

Senja di luar datang. Kali ini coklat, buruk dan buram. *

Jakarta, Juli 2003

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme