Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Penjual Kematian oleh Maya Sandita

Posted on Kam, 03 Sep 2020

”Nenek Imah tidak mati, Bu!”

”Apa tidurmu nyenyak semalam?”

”Tentu. Aku meminum obat rutin seperti biasa. Juga obat tidur itu—yang tak kusuka. Aku tidak lupa!”

”Kalau begitu, Ibu akan minta pengasuh untuk menurunkan dosisnya.”

Wanita itu meninggalkan anak lelakinya di sana. Ia keluar dari ruangan dengan sebuah tas dan berkas pada masing-masing tangan. Anak lelaki itu bersungut. Ia mengejar, namun tak bermaksud untuk ikut. Ia hanya perlu ibunya percaya. Dan tidak berpikir bahwa ia berhalusinasi saja.

”Bu!” panggilnya sekali lagi dari lantai dua.

Yang dipanggil sudah di ambang pintu. ”Ibu ada rapat. Jangan makan terlambat dan jangan lupa minum obat,” balasnya. ”Turunkan dosis obat tidurnya, Endah,” katanya pada pengasuh anaknya.

Endah menutup pintu dan melihat anak laki-laki tadi dengan wajah kesalnya di atas sana.

”Mbak Endah, Redo bisa minum sendiri obatnya. Redo tahu dosisnya, Redo sudah besar,” kata anak laki-laki tiga belas tahun itu.

Bukan kali pertama Redo mengatakannya. Endah hanya tidak pernah mengadukan pada majikannya bahwa Redo minum obat di luar pengawasannya.

”Aku tak akan bilang pada Ibu. Tak akan,” ujar Redo mencoba menenangkan.

Setelah menyimpan obat di tempatnya, Redo pergi ke halaman belakang rumah yang tanpa teras. Pekarangan itu tidak begitu luas, namun bisa dijadikan tempat berlarian dengan bebas. Tidak ada pagar di sana. Hanya ada tumbuhan perdu yang tumbuh rendah di situ.

Di halaman belakang, ayahnya dulu membuatkan ayunan untuk dua orang. Ayah bilang, untuk Redo dan adiknya yang sampai hari ini tak juga kunjung datang. Sampai Ayah pergi, status anak masih milik Redo sendiri.

Redo senang duduk di sana. Melihat apa saja yang ada di belakang rumahnya. Termasuk rumah seorang tua bernama Nenek Imah. Ia punya banyak kucing yang setiap hari jumlahnya kian bertambah. Setahu Redo, Nenek Imah tidak pernah ke mana-mana. Kucing-kucing itu yang datang dengan sendirinya. Jika seseorang masuk ke rumah kecil milik Nenek Imah, akan ada seribu atau sejuta suara meong dari balik pintu, dari kolong meja, di atas sofa, dari dalam kamar, bahkan bersahut-sahutan di lantai marmer.

Nenek Imah tidak pernah lelah dengan mereka. Seperti yang Redo lihat pagi ini dari ayunannya.

”Dik Redo, ini masih pagi. Di sana sedang apa?”

”Melihat Nenek Imah,” jawabnya.

”Ingin kubawakan camilan?” tawar Endah.

”Untuk nanti sore saja, seperti kemarin. Jangan ganggu, ya, Mbak Endah.”

Endah menurut—ia pergi. Meninggalkan Redo sendiri.

Redo tak menyukai Endah—sedikit. Sebab Endah, mengatakan suatu kebohongan yang membuat Ibu semakin meyakini bahwa anaknya bertambah sakit.

”Nenek Imah sudah mati. Ia tidak menjaga kucing-kucing lagi. Sekarang kucing-kucing itu yang menjaga Nenek Imah di dalam rumah.” Begitu kata Endah pada majikannya, Nyonya Tanti. Anak laki-laki itu ingat sekali.

Hingga setiap hari Redo dan ibunya selalu berdebat. Redo tak bermaksud untuk terlihat hebat. Redo hanya ingin ibunya percaya pada apa yang ia lihat.

”Nenek Imah hanya menjual kematiannya.”

”Akhirnya kau sepakat bahwa Nenek Imah benar sudah mati.”

”Aku tidak mengatakan demikian, Bu.”

Nyonya Tanti melihat anaknya dengan mata sedih dan menyesal. Nyonya Tanti pikir, jika dulu Redo tak melihatnya menuang racun ke kopi Tuan Zahrir, mungkin Redo tak terkena gangguan mental. Wanita itu tak perlu memberinya obat agar di pengadilan ia tak bersaksi. Di benaknya kini, anaknya adalah manusia kecil penuh halusinasi.

”Bukankah masuk akal jika Nenek Imah butuh uang untuk makan kucing-kucingnya? Maka, ia dengan sengaja duduk di beranda. Membiarkan orang-orang lewat dan mengira ia sudah tak bernyawa. Musim virus sekarang ini, tak ada yang mau mengurusi mayat orang tua yang mati tegang di atas kursi. Mereka hanya akan ambil gambar dan bikin viral di media sosial. Pencinta kucing adalah target utama,” terangnya.

”Buku dongeng apa yang kau baca?” Nyonya Tanti mengelus rambut Redo yang lurus.

”Aku membaca semua buku di rak kepunyaan Ayah. Tidak satu pun buku dongeng di sana.”

Sang ibu mengecup kening anaknya. ”Ibu masih ada rapat. Setelah makan malam, Ibu akan ke kamarmu, memastikan bahwa kau meminum obatmu, dan kita akan lanjutkan pembicaraan itu.”

Bukankah masuk akal jika Nenek Imah butuh uang untuk makan kucing-kucingnya? Maka, ia dengan sengaja duduk di beranda. Membiarkan orang-orang lewat dan mengira ia sudah tak bernyawa.

Lagi-lagi Redo hanya bisa merasakan bahwa telapak tangan dan rahangnya mengeras. Ia berderak. Menahan kata-kata yang hendak muntah berserak.

Seperti kemarin, setelah obrolan singkat yang selalu digantung Ibu, Redo akan ke halaman belakang menghabiskan harinya. Ketika itu ia tahu, Endah di belakangnya. Wanita muda itu akan selalu ada di sana sesaat setelah Redo duduk di ayunan, sambil memegang nampan berisi minuman atau makanan ringan untuk camilan.

”Mbak Endah, kali ini duduklah di ayunan bersamaku,” pintanya.

Endah tak banyak bicara, ia hanya menuruti kemauan sang majikan muda.

”Apa kau benar-benar tak percaya bahwa Nenek Imah masih ada? Apa kau juga tak percaya bahwa Nenek Imah hanya menjual kematiannya? Seperti Ibu menjual kematian Ayah dengan berpura-pura sedih di depan media—demi simpati dan belasungkawa? Demi rasa iba dan rasa percaya bahwa ia tidak mungkin tega membunuh suaminya.”

Endah pucat wajahnya. Selama ia bekerja di sana, baru kali ini rasanya ia mendengar Redo bicara soal kematian ayahnya.

”Bagiku, Nenek Imah jauh lebih mulia. Ia menjual kematiannya sebab sadar tak lagi punya apa-apa untuk diberikan pada kucing-kucingnya. Ia berharap kematiannya dibayar dengan rasa iba dan orang-orang akan memberi makan kucing-kucingnya.”

Endah terus mendengarkan tanpa membalas. Ia baru tahu, anak laki-laki yang usianya baru tiga belas ini sangatlah cerdas. Padahal, ia sudah bekerja di sana hampir delapan tahun lamanya.

”Ibu hanya ingin seorang anak laki-laki sebagai penerima warisan perusahaan. Ibu tak ingin membaginya dengan adikku—tidak dengan mertuanya bahkan. Menurut perhitungan ibuku, membaginya berdua denganku itu sudah pas-pasan.” Redo lalu tersenyum kecewa dan pedih sekali. ”Ibuku benar-benar menjual kematian Ayah demi dirinya sendiri. Kematian Ayah dibayar sendiri oleh Ayah dengan kertas warisan yang sudah ia bubuhi tanda tangan,” tutupnya.

Tengkuk Endah bergidik ngeri. Ia tak tahu selama ini monster wanita seperti apa yang ia layani. Ia juga tiba-tiba merasa ada Tuan Zahrir di sekitar—entah samping kanan atau kiri. Ia pamit masuk ke rumah untuk menyapu dan membenahi ruang tamu.

”Mbak Endah, tak perlu takut begitu. Obat-obat pelupa itu selalu kucampurkan ke dalam air minum yang setiap malam kau taruh di samping tempat tidurmu.”

Wanita itu terdiam di tempatnya.

Redo pergi ke rumah kecil di mana Nenek Imah berada.

Ketika sampai di beranda, ia melihat pintu terbuka dan sesuatu tampak jelas di kedua matanya. Nenek Imah sedang memeluk foto anaknya. Tertulis nama Zahrir Fatwa di sana.

Kucing-kucing mengitari kursi, mengitari kaki si anak lelaki.

”Nenek, apa kau masih menjual kematian? Tapi aku lupa membawa ponsel. Juga camilan untuk kucing-kucing kesayangan.”

Bingkai foto itu masih digenggam erat—oleh tangan yang dingin dan berhias akar-akar urat.*

Batam, 20 Juli 2020

Maya Sandita : sutradara, aktor, dan penulis. Alumnus Program Studi Seni Teater ISI Padang Panjang (2019). Berdomisili di Batam. Tergabung dalam FPL, Kopi Tanda, PCRBM, Bagindo Rajo, dan Teater Ode Batam. Beberapa cerpennya pernah diterbitkan dalam antologi, juga di media cetak lokal dan nasional. Cerpen terbarunya ”Penabur Bunga” (Republika, 2019), ”Lelaki di Bawah Lampu Jalan” (Kompas, 2020), dan ”Cokelat Pasir Pantai Bibir Ibu” (Media Indonesia, 2020). Peraih gelar juara dalam Lomba Menulis Cerita Rakyat Berbahasa Minangkabau tingkat provinsi yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan Sumatera Barat dengan judul cerita ”Batu Godang Putaran Toluak”. Maya bisa dihubungi via Instagram @sanditaisme , Facebook Maya Sandita, surel sanditacorp@gmail.com, dan ponsel/WA 0812-6861-9199.

sumber : kompas.id, 03 Sep 2020.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme