Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Selimut oleh Elfi Ratna Sari

Posted on Kam, 10 Sep 2020

Aku heran pada Ibu. Jika seseorang dalam hidupnya bercita-cita jadi dokter, guru, pramugari, polwan, dan lain sebagainya yang disebut profesi, maka ketika kutanya, ”Ibu ingin jadi apa?” atau ”Cita-cita Ibu apa?”, dengan lemah lembut dan mata yang menatap angkasa, Ibu selalu menjawab, ”Ibu ingin jadi selimut.”

Berapa kali pun kutanya, jawabannya tidak akan berubah. Bahkan pernah suatu kali kusanggah, ”Tapi selimut itu barang mati, bukan profesi, Bu.”

”Berarti Ibu satu-satunya selimut yang hidup.”

Lalu Ibu ke belakang membawa pakaian-pakaian kotor dan siap mencucinya.

Apa Ibu bercanda? Bagaimana mungkin ada seseorang yang bercita-cita jadi selimut? Lalu kalau sudah jadi selimut, bagaimana dia akan mendapat gaji?

”Ibu, apakah ingin menjadi selimut itu cita-cita sedari kecil?” Aku kembali bertanya sekembalinya menjemur baju-baju kami. Itu hari Minggu. Ibu tidak pergi bekerja.

”Tidak. Waktu kecil, Ibu ingin jadi guru. Tapi ternyata takdir tidak menyetujuinya.”

”Lalu apakah cita-cita Ibu menjadi selimut sudah tercapai sekarang?”

Ibu hanya tersenyum. Lalu meninggalkanku untuk menuju dapur. Sepertinya akan memasak untuk makan siang kami. Apakah Ibu akan masak selimut? Sop selimut? Gulai selimut? Rica-rica selimut? Atau tongseng selimut? Entahlah, Ibu terlalu misterius.

Kurasa cita-cita itu belum tergapai atau malah mungkin tidak akan tergapai. Mana mungkin seorang wanita akan berubah jadi selimut? Ibu itu hidup, sedangkan selimut benda mati. Dua hal yang bertolak belakang dan tidak saling berkesinambungan. Benar, kurasa memang belum tercapai. Nyatanya wujud Ibu masih jadi seorang wanita layaknya ibu-ibu kompleks lainnya. Bahkan jika Ibu lain badannya berubah-ubah, bisa gendut, lalu kurus ketika sang suami macet menyetorkan uang padanya, Ibu tidak berubah sama sekali. Tubuhnya ideal.

Dengan tinggi yang memesona bagi seorang wanita. Ibu lebih terlihat seperti kakakku daripada ibuku. Mungkin, mungkin lho ya. Tubuh Ibu stabil karena tidak pusing menunggu setoran uang dari suami yang kurang bertanggung jawab atau yang malas bekerja. Ibu tidak menunggu, Ibu mencari sendiri.

Aku tiba-tiba berpikir, mungkin pekerjaan Ibu di luar sana adalah menjadi selimut. Jadi ketika pagi setelah mengantarku berangkat sekolah, Ibu pergi ke perusahaan tempatnya bekerja untuk menjadi selimut. Full sampai jam empat sore—jika tidak lembur. Lalu ketika pulang, Ibu akan berubah jadi seorang Ibu lagi, ibu-ibu pada umumnya yang mempunyai keluarga. Meskipun sekarang keluarga Ibu hanya aku, tapi nyatanya kami baik-baik saja dan bahagia.

Kalian bertanya-tanya di mana ayahku? Atau mungkin mengira aku anak dari hasil hubungan haram? Nyatanya tidak. Ibu menikah dengan Ayah sebelum ada aku di rahimnya. Aku pernah diperlihatkan foto Ibu ketika masa itu. Foto memakai baju pengantin. Tidak ada Ayah di sampingnya, tapi urung untuk kutanyakan lebih lanjut, karena Ibu tergesa-gesa hendak bekerja.

Oh ya, kata Ibu, Ayah ditabrak truk ketika menyeberang jalan. Lalu hatinya lepas dari tubuh dan dibawa kabur anjing. Kemudian…. Aku tidak tahu cerita selanjutnya. Karena keburu ngeri dan kabur dari hadapan Ibu ketika cerita masih berlangsung. Untuk selanjutnya sembunyi di bawah selimut di kamarku.

Siapa pula anak kecil yang tak ngeri dengan cerita semacam itu? Melihat darah berceceran dari ayam yang disembelih saja aku ngeri. Apalagi ini sampai kejadian hati Ayah dibawa kabur anjing. Sungguh itu kejadian yang sangat mengerikan.

Suatu waktu di bulan Muharam. Tepatnya tanggal sepuluh. Anak-anak seusiaku atau yang lebih kecil lainnya—yang belum akil balik, berbondong-bondong menuju sebuah acara yang diselenggarakan desa. Katanya mereka mendapat undangan santunan anak yatim piatu. Jadi anak-anak yang ibu atau ayahnya meninggal, atau bahkan keduanya meninggal, akan diberikan undangan untuk menghadiri acara. Di sana, mereka mendapat banyak sekali hadiah. Uang juga dapat. Orang-orang sesegukan menangis, memeluk, sambil menyentuh kepala mereka penuh kasih sayang.

”Ini tidak adil!” Teriakku. Sontak semua orang yang berkumpul menoleh pada asal suara. Menatapku keheranan.

Ya, aku datang ke acara itu walau tidak dapat undangan. Sebenarnya siapa pun boleh datang, tapi hanya untuk menyaksikan atau ikut menyantuni anak yatim piatu. Namun kedatanganku bukan untuk keduanya, melainkan untuk menuntut keadilan. Aku tidak peduli entah sampai berapa kali Ibu membujuk agar aku tidak ke sana. Katanya sebagai ganti, Ibu akan memberikan semua hadiah seperti yang mereka dapatkan, tidak lupa uang dengan jumlah yang sama pula.

Aku tetap tidak peduli. Aku merasa harus menuntut keadilan. Bagaimana bisa semua orang lupa kalau aku ini juga yatim? Aku tak punya ayah. Ayah ditabrak truk sewaktu aku masih dalam kandungan. Yang lebih mengerikan, hati Ayah dibawa kabur anjing.

Seseorang menutup mulutku, kemudian cepat menggendong dan membawaku pergi sebelum aku mengatakan apa pun lagi. Aku berontak. Ingin turun dari gendongannya dan kembali ke sana. Namun dia meneteskan air mata.

Sebetulnya aku bisa dengan mudah melepaskan diri, tapi aku tertahan oleh air matanya. Air mata Ibu yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Ibu menangis dan itu karena aku. Demi air mata itu, aku melupakan sebuah keadilan yang harus diperjuangkan. Aku memeluknya. Ketika itulah aku menemukan sebuah selimut pada diri Ibu. Ibu hangat dan menenteramkan. Seperti selimut tebal yang kupakai ketika hujan datang.

Aku tetap tidak peduli. Aku merasa harus menuntut keadilan. Bagaimana bisa semua orang lupa kalau aku ini juga yatim? Aku tak punya ayah. Ayah ditabrak truk sewaktu aku masih dalam kandungan. Yang lebih mengerikan, hati Ayah dibawa kabur anjing.

”Nak, tubuh orang tua dari anak-anak itu meninggal, tapi hatinya masih hidup. Sedang ayahmu mati hatinya, tapi jasadnya masih hidup.”

Ibu berbisik padaku. Lirih sekali. Detik itu juga, aku sudah tidak lagi peduli tentang santunan dan banyak hadiah. Juga tentang keadilan yang hendak kuperjuangkan. Toh, nyatanya, selama ini Ibu selalu memberikan kebutuhanku dengan baik seperti anak-anak berorang tua lengkap. Walau aku tidak terlalu paham dengan kalimat Ibu, setidaknya aku tidak lagi mau membuat tangis Ibu pecah. Ibu adalah selimutku, Ibu adalah segalanya bagiku.

***

Tahun-tahun berlalu. Aku telah menikah. Tidak apa-apa jika pada akhirnya aku harus memakai wali hakim untuk pernikahanku. Seluruh keluarga Ayah tewas dalam musibah kebakaran belum lama ini. Setidaknya itu kabar yang kudengar dari tetangga, karena Ibu tidak pernah sekali pun membahas mengenai Ayah ataupun keluarganya, aku pun tidak mau bertanya karena takut Ibu menangis. Dan tentu saja, aku tidak punya saudara kandung laki-laki yang bisa jadi wali nikahku.

Aku menikah dengan kekasih, yang kami memang saling mencintai satu sama lain, dan berjanji sehidup semati. Meski entahlah, apakah di dunia ini masih ada yang semacam itu.

Kami tinggal di rumahku, bersama Ibu. Aku tidak tahu apa pasalnya Ibu mengatakan, ”Sebelum kalian punya rumah sendiri, sebaiknya tinggal di sini saja.”

Suamiku setuju atas perjanjian pranikah itu. Namun sesekali bolehlah menginap di rumahnya, di rumah orang tuanya, di rumah mertua. Memang banyak cerita tentang ketidakcocokan menantu perempuan dengan mertua perempuannya, tapi semoga tidak terjadi padaku.

Aku menuju kamar Ibu, hendak berpamitan. Selama dua hari ke depan aku dan suami akan menghabiskan akhir pekan pertama kami sebagai sepasang suami istri, di rumah orang tuanya. Aku tahu ini berat bagi Ibu, tidak ubahnya seperti dulu ketika kutinggal Ibu untuk berkarya wisata selama seminggu di luar kota. Ibu bisa setiap satu jam sekali meneleponku. Memastikan bahwa aku baik-baik saja. Tapi itu dulu, ketika usiaku belasan, ketika aku belum punya yang namanya suami, yang akan senantiasa melindungiku.

”Kenapa Ibu menangis?”

Itu air mata kedua yang kulihat setelah dulu aku berulah menuntut untuk mendapat santuan anak yatim.

”Bawahlah selimut-selimut ini jika kau pergi, Nak. Ada empat. Satu untuk kau, satu untuk suamimu, sedangkan dua lagi bisa kau pakai ketika yang dua basah karena dicuci atau kotor.”

Mata ibu masih berkaca-kaca setelah air matanya tadi diusap dengan cepat ketika menyadari kedatanganku.

”Tapi di sana sudah ada selimut, Bu. Lagi pula aku hanya dua hari. Jadi rasanya tidak perlu.”

”Di sana adanya ibu mertuamu, Nak. Bukan Ibu.” Satu air mata menetes dari mata kiri Ibu.

Ada yang berbeda dari mata Ibu kali ini, tidak hanya berwarna putih dan hitam, atau bayangan diriku ketika kami berhadapan. Ada cerita di dalam sana. Ada kesedihan dan luka seorang perempuan hamil lima bulan yang meringkuk tidur di lantai beralaskan karpet. Di luar hujan, petir, dan angin bersahut-sahutan.

Perempuan itu berbaring tanpa bantal, tanpa selimut yang hangat seperti yang selalu Ibu berikan padaku. Matanya terpejam, tapi air mata tak henti mengalir. Di samping kirinya ada wanita berusia seorang ibu untuk anak yang telah dewasa, tidur pulas berselimut. Di kanannya ada bangsal yang di atasnya seorang laki-laki dengan wajah mirip denganku, berbantal dan berselimut hangat pemberian ibunya. Santai bermain ponsel tanpa peduli aku yang ada dalam kandungan ikut menangis bersama perempuan itu.

______________

Elfi Ratna Sari : penulis kelahiran Pati, 8 September 1993. Menulis puisi, cerpen, cernak, cerkak, dan novel. Dua bukunya yang terbit tahun ini, kumpulan cerpen Kau yang Menikah dengan Batu dan novel Gus, satu lagi novel yang akan segera terbit Ujung Trotoar.

sumber : kompas.id, 10 Sep 2020.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme