Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Selawat Kematian oleh Sam Edy Yuswanto

Posted on Sab, 19 Sep 2020

Burhan memelankan laju motornya saat truk yang membawa tumpukan kandang ayam di depannya mendadak mengurangi laju kecepatan. Tak sampai satu menit, truk yang menguarkan bau tahi ayam cukup menyengat itu benar-benar berhenti. Secara otomatis Burhan pun menghentikan motor. Sebab bila tidak, ia akan celaka karena menabrak bodi truk bagian belakang tersebut.

Sambil menutup hidung, Burhan membuka kaca helm warna hitam yang di bagian belakang bawah ada logo SNI-nya. Ia memiringkan kepala ke kiri. Menyelidik apa yang sedang terjadi di depan sana. Mulanya ia mengira ada kemacetan atau kecelakaan saat melihat banyak kerumunan orang. Ternyata ia keliru. Rupanya sedang ada upacara kematian di sana. Bahkan ia melihat keranda telah diangkat dengan posisi menuju ke arah jalan yang berlawanan dengan jalan yang akan dilewatinya. Itu artinya, deretan kendaraan yang berhenti mendadak barusan, termasuk motor matik yang dinaiki Burhan, harus bersabar sejenak sebagai bentuk penghormatan terhadap orang yang meninggal dunia, sekaligus penghormatan kepada para pengiring jenazah menuju pemakaman.

Saat keranda jenazah itu diangkat dan orang-orang menggotongnya dengan langkah agak terburu, Burhan sempat melihat, para pengendara motor dan mobil melempar-lemparkan kepingan uang logam hingga menimbulkan bunyi gemerincing. Refleks, seperti ada seseorang yang menggerakkan tangan, Burhan merogoh saku celana katunnya. Berharap menemukan keping logam di sana. Keringat membasahi kening saat ia tak menemukan sekeping pun logam di saku celananya.

”Astagfirullah ’adzim,” Burhan lekas berucap istigfar saat mendadak teringat sesuatu. Ya, ia ingat bahwa selama ini ia tak pernah ikut-ikutan mengamalkan apa yang dilakukan orang-orang yang melemparkan kepingan logam ke arah jenazah yang secara tak sengaja ditemui di jalan dengan tujuan agar dijauhkan dari malapetaka. Selawat kematian, begitu orang-orang di kampung kelahiran Burhan menamai keping uang logam yang dilemparkan ke arah rumah atau keranda orang yang meninggal dunia.

Tengkuk Burhan tiba-tiba meremang saat keranda jenazah yang digotong enam orang lelaki muda dan paruh baya itu lewat di sampingnya. Lagi, ia bergumam istigfar dan lekas mengucap kalimat istirja yang merupakan petikan ayat Al Qur’an yang berbunyi inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun. Dalam hati Burhan bergumam bahwa sesungguhnya kita semua adalah milik Allah dan kelak kita pun akan kembali pada-Nya.

***

Dulu saat masih remaja, Burhan pernah menanyakan perihal selawat kematian kepada Bapak. Mulanya ia mengira selawat itu adalah pujian selawat kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Ternyata bukan.

”Selawat kematian itu sama dengan sedekah kematian, Le,” terang Bapak saat Burhan menanyakan hal tersebut. Sejak kecil, Bapak memang terbiasa memanggil ”L” atau ”Tole”. Dalam adat Jawa, ”Tole” memang telah menjadi panggilan kasih sayang orangtua terhadap anak lanangnya. Sementara ”Nduk” atau ”Genduk” menjadi panggilan yang juga bermakna kasih sayang orangtua pada anak perempuannya. Sayang beribu sayang, Bapak hanya dikaruniai anak semata wayang. Sehingga ia tak pernah bisa merasai bagaimana rasanya memanggail ”Nduk” pada putrinya.

”Sedekah kematian?” kening Burhan berkerut. Ia masih belum puas mendengar jawaban singkat Bapak. Bapak menghela napas panjang dan mengembuskannya pelan sebelum akhirnya menjelaskan semuanya.

”Jadi gini, Le. Selawat kematian itu adalah istilah dalam adat Jawa, artinya memberikan sedekah uang sekadarnya saat kita berpapasan dengan orang mati. Fungsinya untuk tolak bala, agar terhindar dari malapetaka.”

Burhan manggut-manggut mendengar penjelasan bapaknya yang masih menimbulkan banyak pertanyaan di batok kepalanya yang ditumbuhi rambut hitam agak keriting itu.

”Memang siapa yang mengajarkannya, Pak?” Burhan kembali bertanya. Lalu Bapak menjawab bahwa selawat kematian sudah diajarkan dan amalkan oleh para leluhur alias nenek moyangnya. Secara turun-temurun. Bapak, dengan suara berbisik, juga menceritakan siapa saja orang-orang di kampungnya yang pernah tertimpa petaka akibat tak mau mematuhi ajaran selawat kematian tersebut.

Jadi gini, Le. Selawat kematian itu adalah istilah dalam adat Jawa, artinya memberikan sedekah uang sekadarnya saat kita berpapasan dengan orang mati. Fungsinya untuk tolak bala, agar terhindar dari malapetaka.

Mulyadi, pria berkepala botak separuh, tetangga sekaligus juragan kayu yang terkenal kaya raya di kampung tersebut, kata Bapak, meninggal dunia karena tak memercayai dan enggan mengamalkan selawat kematian. Waktu itu, Bapak melihat dengan mata kepala sendiri saat Mulyadi dengan nada sinis mengatakan tentang ketidaksetujuannya bersedekah terhadap jenazah yang secara tak disengaja dijumpai di tengah jalan.

”Bisa syirik kita kalau sampai meyakini selawat kematian sebagai wasilah penolak bala,” Bapak menirukan ucapan Mulyadi yang waktu itu menolak melemparkan kepingan uang logam ke arah rumah orang yang meninggal dunia.

Jadi ceritanya waktu itu Bapak diajak Mulyadi mengantar potongan lakar (batang pohon kelapa yang sudah dipotong-potong dan dihaluskan dengan gergaji) menuju rumah si pemesan dengan menggunakan mobil bak miliknya.

Mobil bak yang disopiri langsung oleh Mulyadi tersebut mendadak berhenti di tengah jalan menikung, sekitar seratus meter sebelum tiba di rumah si pemesan kayu. Antrean kendaraan, mulai motor, mobil, truk, becak, tampak begitu mengular. Raut para pengendara pun tampak ikut prihatin dan begitu sabar menunggu keranda jenazah dipanggul dan diantarkan ke pekuburan. Bapak juga melihat, saat puluhan pengendara itu melempar-lemparkan kepingan logam ke arah keranda jenazah tersebut. Pun dengan Bapak yang secara spontan merogoh saku bajunya dan langsung bersyukur saat menemukan tiga keping logam di sana. Melalui kaca mobil yang terbuka separuh, tangan Bapak terjulur dan bersilekas melemparkan kepingan logam tersebut saat keranda jenazah lewat di sampingnya. Sementara Mulyadi tetap berkeras hati tak mau mengeluarkan sekeping pun logam untuk disedekahkan pada si mayit.

Sepulang dari mengantar kayu, perut Mulyadi terasa melilit dan beberapa kali masuk dan keluar kamar mandi. Mulyadi mencret. Kepada istrinya ia bilang baru makan banyak sambal di warung makan bersama Bapak. Ia pun meminta istrinya pergi ke warung terdekat untuk membeli obat pereda mencret. Saat malam tiba, rasa melilit di perut Mulyadi tak jua hilang meski mencretnya sudah sembuh. Singkat cerita, ia segera dilarikan ke puskesmas terdekat. Petugas puskesmas lantas merujuk Mulyadi agar dirawat di rumah sakit umum yang ada di pusat kota. Namun Mulyadi meninggal dunia saat dalam perjalanan menuju rumah sakit yang jarak tempuhnya nyaris satu jam itu. Kematian Mulyadi itulah yang membuat Bapak langsung memercayai akibat tak mau mengamalkan ajaran selawat kematian.

Selain Mulyadi, masih ada beberapa orang di kampungnya yang konon, kata Bapak, meninggal dunia akibat tak mengamalkan selawat kematian. Ah, sejatinya, dari dulu hingga saat ini, Burhan tak pernah mau memercayai ajaran yang mengharuskan bersedekah uang logam saat di tengah jalan berpapasan dengan orang yang meninggal dunia. Terlebih cara sedekahnya itu tak etis, dilempar ke arah rumah atau keranda jenazah. Burhan lebih memercayai keterangan Mbah Haji Jupri, imam shalat lima waktu di masjid kampung kelahirannya.

Beberapa tahun silam, Burhan memang sempat bertanya perihal selawat kematian itu kepada Mbah Haji Jupri saat suatu hari shalat berjemaah di masjid. Kata Haji Burhan, selawat kematian tak ada sejarahnya dalam agama Islam. Memang, Islam mengajari agar bersedekah sesering mungkin. Terlebih pada orang-orang yang sedang kesusahan atau butuh uluran pertolongan. Tapi cara bersedekahnya harus dengan cara-cara yang baik. Jangan sampai menyakiti hati si penerima sedekah.

***

Burhan tiba di rumah dan langsung disambut Lastri, istrinya, di depan pintu. Bahkan ketika ia baru turun dari motor dengan helm masih terpasang di kepala, Lastri, dengan wajah cemas dan berleler keringat, tergesa mendekatinya.

”Mas, tadi Bapak jatuh di kamar mandi,” ucap Lastri dengan nada gugup dan kecemasan yang kian menjadi.

”Aku sudah bantu memapah Bapak ke kamar, sepertinya kaki Bapak susah digerakkan,” lanjut Lastri membuat jantung Burhan seolah berhenti. Tanpa banyak bicara dan sambil melepas helm, Burhan bergegas masuk ke dalam rumah, menuju kamar Bapak dan mendapati Bapak yang tahun ini genap berusia 65 tengah terbaring di atas ranjang dengan tubuh lemas. Burhan langsung berinisiatif membawa Bapak ke rumah sakit. Namun Bapak menolak.

”Bapak enggak mau ke rumah sakit, Le. Hidup dan mati Bapak tetap akan di rumah,” ucapan Bapak membuat Burhan merasa dirajam bimbang. Sejak dulu, Bapak memang anti dirawat di rumah sakit. Bukan satu dua kali ini saja ia mengatakan kalimat itu. Sudah sejak tiga tahun terakhir ini, tepatnya sejak Ibu meninggal dunia dan kondisi fisik Bapak kian melemah, ia kerap mengucap kalimat itu. Hidup dan mati di rumah. Bahkan, berkali-kali Bapak bilang bahwa jatah hidupnya di dunia ini tinggal sebentar lagi. Berkali-kali pula Burhan berusaha menghibur dan memotivasi beliau agar semangat menjalani sisa hidup ini. Bahkan Burhan juga bilang, bisa saja ia dan Lastri yang meninggal duluan, sementara Bapak masih diberi umur panjang. Tapi, bukannya Bapak terhibur dengan kalimat yang diucapkan Burhan, ia justru (dengan raut tak semangat) mengatakan, ”Enggak, Le. Bapak yang akan menghadap Gusti Allah duluan.”

Akhirnya, karena Bapak menolak dibawa ke rumah sakit, Burhan terpaksa mendatangi rumah Mbah Mijan yang berada di ujung kampung, tukang urut langganan Bapak yang kerap dipanggil ke rumah, untuk memijat Bapak. Selama ini, Bapak memang gemar dipijat. Bukan hanya ketika sedang masuk angin atau merasa sedang kurang enak badan saja, nyaris tiap bulan Mbah Mijan selalu datang ke rumah untuk memijat Bapak. Sebagaimana dugaan Burhan, Bapak langsung mengangguk setuju saat ia bilang akan memanggil Mbah Mijan untuk mengurut kaki Bapak yang kaku dan susah digerakkan.

***

Sudah tiga kali kaki Bapak diurut oleh Mbah Mijan, tapi kakinya masih sulit digerakkan. Burhan tentu merasa cemas melihat kondisi Bapak.

”Aku takut Bapak kena stroke, Mas,” ucapan Lastri membuat Burhan kian mengkhawatirkan kondisi orangtua satu-satunya yang kian sepuh tersebut. Andai Bapak mau dibawa ke rumah sakit agar mendapat perawatan intensif. Ah, tapi rasanya mustahil.

”Apa enggak coba dirayu lagi Mas, siapa tahu Bapak mau dirawat di rumah sakit.”

Burhan berusaha merenungi kata-kata yang diucapkan Lastri, perempuan yang dinikahinya dua puluh tahun silam dan hingga kini belum bisa menghadiahinya buah hati untuknya. Lastri benar. Tak ada salahnya mencoba merayu Bapak. Siapa tahu Bapak berubah pikiran dan mau diajak berobat ke rumah sakit.

***

Sebagaimana yang sudah-sudah, Bapak tetap menolak diajak berobat ke rumah sakit. Kalimat ”Hidup dan mati tetap di rumah” pun kembali terucap. Tak hanya itu, bahkan Bapak mulai mengungkit-ungkit tentang selawat kematian.

”Le, jangan-jangan selama ini kamu enggak pernah mengamalkan selawat kematian?” Bapak menatap tajam dengan raut penuh selidik.

Ya, memang benar. Selama ini Burhan tak pernah mengamalkan ajaran yang tak diyakininya itu. Tentu saja ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak menampakkan ketidaksetujuan terhadap keyakinan Bapak yang telah mendarah daging tersebut. Selama ini, Burhan selalu berpura-pura mengamini keyakinan Bapak.

Karena ia malas berdebat dan ujung-ujungnya dimusuhi Bapak. Diam-diam Burhan lebih mengamini keterangan Mbah Haji Jupri, bahwa mati dan hidupnya seseorang hanya Allah yang menentukan. Jadi tak ada sangkut pautnya dengan selawat kematian.

”Jawab, Le. Jadi benar selama ini kamu enggak mengamalkan selawat kematian?” Bapak kembali mencecar. Kali ini dengan nada tinggi. Sementara ingatan Burhan kembali melayang pada kejadian tempo hari, saat tangannya tetap bergeming sementara para pengendara lain saling berlomba melemparkan kepingan uang logam ke arah keranda jenazah yang ditemuinya di tengah jalan.

Puring, Kebumen, 23 Maret 2020

***

Sam Edy Yuswanto*

*Lahir dan berdomisili di Kebumen. Ratusan tulisannya tersiar di berbagai media massa, seperti Jawa Pos, Republika, Koran Sindo, Kompas Anak, Suara Merdeka, Radar Surabaya, Riau Pos, dan Kedaulatan Rakyat. Tiga buku kumpulan cerpennya yang telah terbit adalah Percakapan Kunang-kunang, Kiai Amplop, dan Impian Maya.

sumber : kompas.id, 19 Sep 2020.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme