Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Mantan Jurnalis dan Kapal Kominis oleh Deddy Arsya

Posted on Sab, 03 Jul 2021

SEDANG nun jauh di Betawi, untuk menolong korban bahaya angin topan di Negeri Belanda, lembaga penggalang dana swasta dengan nama gunung tertinggi di Jawa, Smeroefond, menerima 19 ribu sekian rupiah untuk mencukupi 50 ribu rupiah yang telah dikirimkan dua pekan yang lalu ke Negeri Belanda.

Pada hari dan tanggal itu jugalah Abdul Rivai, redaktur Pewarta Woelanda yang terkenal, dengan kurdorai hitam, dasi kupu-kupu senjang di leher, dan topi bundar hitam yang mulai pudar pinggirnya, kembali ke Negeri Belanda dengan kapal api maskapai pemerintah bernama SS Singkara setelah turne selama 2 bulan lebih di kampung halaman sendiri di Sumatera. Jangan mengira dia kembali ke Belanda mau menjemput motor-motor baru untuk stasiun radio yang rusak ataupun mengantar dana yang terkumpul untuk korban angin topan. Dia kembali semata untuk urusan dan alasan yang telah diketahui bersama, menghidupkan kembali surat kabar yang telah melambungkan namanya di kalangan kaum pergerakan atau tiada lain karena kemuakan pada kampung halaman dan negerinya sendiri tempat di mana dia, seperti sudah juga diketahui bersama, tidak bisa berterima dengan dirinya yang sekarang.

Ketika pemuda ini dulu lulus menjadi dokter, dia pun pergilah ke tukang gambar. Berpakaian sebagus-bagusnya sebagai orang Belanda. Ceplau di kepala, dasi hitam melilit di leher, pantolan, jas… persis serupa kini ini. Dia menikahi seorang nyonya Belanda, janda yang sudah dua anaknya di Kwitang. Dia tertarik hati kepada masyarakat Belanda, bangsa dan kehidupan segala cara-cara Eropa. Rasa hina sebagai inlander item-pesek dihilangkan dengan cita-cita ingin seperti Belanda, kalau perlu bisa melebihi. Dia semua ingin, berpakaian, minum dan makan, berbicara… dan lantas memperkutuk peradaban sendiri kuno dan biadab. Dia minta dinaturalisasi jadi Belanda sejati. Lalu setelah belasan tahun di Negeri Belanda, dia tiba-tiba dirasuki jin putih dengan memutuskan pulang ke kampung halaman, memulai pergerakan memajukan tanah air, tidak lagi sekadar berkoar-koar di surat kabar, tetapi terjun langsung ke lapangan rakyat banyak. Tapi di negerinya sendiri, dia kemudian justru menerima penolakan di mana-mana, terutama dari orang kampungnya yang kolot itu yang sebelumnya telah pula diperkutukinya sebagai ”apa di sini, batu semua!” Itulah sebabnya dia memutuskan untuk kembali ke Belanda.

Dari Teluk Bayur, kapal yang ditumpanginya kini berbelok masuk ke Selat Sunda, mengabaikan Tanjung Priok untuk terus saja ke Tanjung Perak.

Angin alon-alon saja dan laut sedatar kaca.

Di pelabuhan yang didendangkan penyanyi keroncong itu jurnalisten kita ini turun tanpa mengikutkan kopernya ke tangga kapal dan terus saja ke ruang tunggu penumpang tanpa menoleh kiri atau kanan untuk meresapi pemandangan sekitar, masuk ke kakus yang tersuruk di pojok jauh di bagian paling berantakan. Dia menyetop taksi dengan tangan kiri dan lupa mengancingkan pantolannya. Kejadian yang terakhir ini terjadi ketika dia tergesa dari kakus saat mendengar suara mobil melintas di jalan lingkar di depan ruang tunggu pelabuhan. Jadilah dia tergopoh-gopoh menyetop taksi itu dengan tangan kiri sambil tangannya yang sebelah lagi mengancingkan pantolannya yang belum terpasang sempurna.

Dia tak sempat berpikir lagi apakah itu tindakan yang lebih kurang beradab di dunia Melayu ini sehingga merasa perlu sedikit berbasa-basi bilang maaf kepada sopir taksi. Apalagi Surabaya amatlah padat dan panas saat itu, yang memaksa dia menghela napas panjang seketika ekornya terenyak duduk di jok taksi. Tak lama, setelah itu berkali-kali dia menggeser posisi duduknya, di atas jok taksi yang sama kerasnya dengan cuaca kota. Celana dalam yang dipakainya di dalam pantolan hitam dari bahan yang agak keras juga dan pelirnya mungkin telah jadi sesak napas dan bisa-bisa kehilangan kemampuan mengeras. Keadaan itu menyiksa si empunya, tapi gerakan-gerakan membetulkan itu tak banyak membantu, sebab sesungguhnya dia harus lagi semestinya menanggalkan celananya itu dan menggantinya dengan sarung gaya orang kampungnya, itulah jalan yang paling baik. Hanya, tidak mungkin melakukan itu di atas taksi yang sedang kencang melaju dengan seorang sopir buruk rupa dengan wajah penuh kawah jejak amuk cacar di masa kecil yang celaka. Sopir itu tak henti-henti berbicara, masalah barulah pula baginya. Dia jadi semakin semak akal jika saja si sopir dengan cerlak tajam pada pinggir kelopak mata itu tak mengabarkan tentang kejadian hari Sabtu y.t.l. berikut ini.

*

Perahu layar yang memuat 100 orang penumpang terbalik ketika melewati Selat Madura. Atas permintaan Asisten Residen kepada pembesar Marine, berangkatlah seketika itu kapal api ”Krakatau” bersama 3 buah kapal udara milik angkatan laut pemerintah ke tempat kecelakaan. Pukul sepuluh pagi didapati perahu nahas itu terapung-apung di laut luas. Sebanyak 20 orang duduk di atas perahu kayu itu. Beberapa orang pula didapati terapung di atas kayu-kayu bagian perahu yang rusak.

Padahal, perahu itu seminggu yang akan datang akan digunakan Syarikat Firma Tembakau untuk mendatangkan sapi Bali guna disembelih sebagai percobaan supaya diketahui manakah yang lebih baik untuk firma tersebut, sapi Bali-kah atau sapi Aceh-kah yang pada masa ini mahal harganya? Sejak meleise kedua, firma-firma tembakau pada rugi besar sehingga mulai melirik pasar daging Hindia yang dikira bebas dari keambrukan akibat krisis.

Setelah itu pula, menurut rencana, kira-kira sebulan setelahnya, perahu itu akan berlayar ke arah Barat pantura guna disewakan kepada Sultan. Terdengar kabar kalau dalam bulan Agustus y.a.d telah ditemukan gajah yang dicari di daerah Palembang untuk mengganti gajah Sri Sultan yang mati bulan yang berlalu lalu. Sultan ingin gajah itu sampai ”yang penting dengan selamat” di Yogya sebelum Lebaran tiba untuk dipakai kerajaan dalam karnaval Syawalan di alun-alun seperti tahun-tahun biasa.

Kalau tidak ada aral melintang, setelah disewakan kepada Sultan, perahu yang sama akan direparasi sepekan lamanya galangan perahu di Banten sekembali dari Palembang itu, dipercantik dan dipermak habis karena akan digunakan pula oleh Gubernur Jenderal memperingati tiga + seperempat abad dimulainya penjelajahan ke dunia baru. Tuan Besar dengan itu perahu akan bernostalgia mengenang ”keberanian pelaut-pelaut kita di masa lalu” yang telah berlayar mengelilingi lingkar bumi ”dengan perahu sederhana” hingga sampai ke tanah Hindia ini. Untuk itu, Tuan Besar dengan itu perahu akan berlayar dari Barat tanah Hindia mengunjungi tanah Hindia sebelah Timur. Menurut rencana yang disusun protokoler di Bogor, bertolak dari Tanjung Priok 2 September y.a.d. menuju Makassar mula-mula dan akan tiba di sana pada tanggal 5 September. Memperlakukan kecepatan perahu itu seolah-olah seperti kecepatan kapal api, maka sehari setelah dari Makassar perahu berangkat membawa Gubernur Jenderal ke Balikpapan, hanya sehari untuk meneruskan kunjungan ke Manado. Dari sana, Tuan Besar juga akan mengunjungi berturut-turut Ambon, Banda, Kupang, dan Flores. Boleh jadi baru tanggal 3 Oktober Tuan Besar akan kembali tiba di Tanjung Priok.

Perahu itu sebenarnya berpangkalan tetap di Pasuruan. Tetapi, sejak pelabuhan di situ ditutup karena hampir tiada kapal-kapal api yang singgah sedang pelayaran dengan perahu pun tak seberapa pentingnya, jadi perahu itu lebih sering melempar sauh di Tanjung Perak pada bagian langkan Selatan yang sepi lagi terabaikan.

*

Abdul Rivai terheran-heran dan merasa tak percaya dengan apa yang dikatakan sopir taksinya itu. Dia bertanya-tanya dalam batinnya ”Sebegitu pentingnya perahu kayu kuno setengah lapuk itu”?

”Itu perahu Jerman punya, bukan?”

”Buatan Belgia.”

”Bagaimana bisa?”

”Kabarnya, dipinjamkan ke Angkatan Laut Kerajaan ketika kapal-kapal api kita pada habis tiada sisa, karam dihantam torpedo Jerman dalam perang di luat Inggris.”

Terlihat heran dengan keserbatahuannya, sopir taksi itu buru-buru menjelaskan kepada penumpang item-peseknya itu, ”Saya pernah baca di Pewarta Woelanda tempo hari.”

”Sampai ke sini?” tanya Rivai dengan lagak berpura-pura.

”Satu-satunya, hanya bengkel Akoh Liong yang berlanggan, lain-lain tempat tak ada.”

”Salinan?”

”Bukan, langsung dari Eropa, kabarnya itu nomor terakhir setelah redakturnya pulang ke tanah air.”

Tak ada percakapan lagi setelah itu. Hanya bunyi topi bundar mantan jurnalis kita itu mengelepak-ngelepak dikipas-kipaskan si yang punya untuk mencipta angin mengusir gempuran panas jalanan Surabaya yang kian lama kian penuh kuda besi. Sejak didatangkan mula-mula dari Eropa lewat Singapura ke tanah Hindia, mobil memang telah jadi kutu-kutu di kepala jorok seorang gadis jarang mandi, berbiak semakin banyak dari tahun ke tahun menyesaki jalan raya.

Satu kelok lagi, salah satu dari kutu dunia modern itu sampai di depan halaman luas dengan taman-taman air mancur di pinggir Selatan dan patung gajah dengan dua gada di bahu di tengah-tengahnya. Hanya itu hiasan yang tersedia, selebihnya lapangan tanah lapang lagi datar yang ditutupi kerikil-kerikil bersih dengan warna abu-abu hitam kecokelatan. Seketiba taksi itu meluncur ke parkiran depan lobi dari hotel paling mewah di kota itu. Seorang jongos tergopoh-gopoh datang ke belakang taksi menanti bagasi belakang dibukakan sopir untuk mengangkut bawaan penumpang. Tapi, tak ada apa-apa di situ rupanya hingga jongos itu ngacir kembali ke lobi tanpa memberi salam dan sambutan apa-apa.

*

Kapal yang ditumpangi Abdul Rivai akan berlabuh di Tanjung Perak sampai petang besok. Ketika dia menaiki tangga hotel menuju biliknya, terpikir olehnya apa yang mau dilakukan 2 hari ini di Surabaya?

Dia masih teringat percakapan yang berlalu belum lama ini dan mendesak suatu keheranan di kepalanya, ”Tidakkah kapal-kapal api milik maskapai pemerintah cukup belaka jumlahnya sehingga tidak merasa perlu Sultan maupun Tuan Besar Gubernur Jenderal menggunakan perahu layar ketinggalan zaman yang kini –mampuslah– sudah tenggelam?”

Dia tahu memang dari kabar-kabar di lingkaran pewarta kalau kapal-kapal api pada menuju ke Timur untuk mengangkut orang-orang Kominis yang diasingkan ke Digul. Kapal-kapal itu pada kehabisan tempat untuk penumpang bebas. Terdengar kabar bulan yang lalu pengangkutan orang-orang yang diasingkan itu akan diperhentikan pemerintah dalam sementara waktu. Eh, rupanya bulan ini telah dimulai lagi, pikirnya, betapa ketinggalan banyak kabar penting dia selama pulang ke Sumatera. Sementara dua kapal api unggulan maskapai negara, ”Wega” dan ”Zeven Provincien”, baru-baru ini sama-sama mendapat kerusakan karena berlanggaran di Tanjung Priok. Maskapai menghabiskan 50 ribu rupiah untuk memperbaiki dua kapal itu, semua untuk keperluan membeli onderdil yang rusak, dan beberapa ribu rupiah lagi untuk upah perbaikan, tapi hasilnya kedua kapal itu belum juga dapat berjalan sampai saat ini. Jadi, karena itulah perahu-perahu layar yang sudah semestinya dimuseumkan yang berasal dari zaman penjelajahan samudra itu ”jadi primadona” lagi, bahkan bagi Sri Sultan dan Tuan Besar Gubernur Jenderal?

Dia juga heran kenapa kapal api yang ditumpanginya harus singgah dulu ke Surabaya, padahal tujuannya sudah jelas belaka. Jangan-jangan ini kapal bakal dipakai pula mengantarkan kaum Kominis ke Digul terlebih dahulu sebelum berlayar ke Belanda. Jangan-jangan, di dek-dek yang terkunci arah ke palka yang di lorongnya dia acap mondar-mandir menuju ruang makan, minibar, anjungan Tenggara… penuh belaka dengan tahanan? Jangan-jangan… suara gemerincing rantai, napas berat yang padat tumpat, pukulan pada polong besi, yang dari sana terdengar sesekali. Jangan-jangan, semua itu… Dia jatuh tertidur dengan sepatu yang masih di kaki dan topi-ceplau yang masih di kepala. Dasi kupu-kupu masih belum dilonggarkan dari leher yang kian lama kian pucat. (*)

Pandai Sikek, Maret 2021

 

DEDDY ARSYA : bukunya yang termutakhir, Khotbah si Bisu, terpilih sebagai Buku Sastra Terbaik Tahun 2019 versi Majalah Tempo.

sumber : Sabtu, 3 Juli 2021

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme