Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Dua Lamaran oleh Mie S

Posted on Sab, 16 Jan 2021

Mala tidak tahu laki-laki mana yang akan menikahinya, karena saat itu ada dua keluarga yang datang, satu keluarga datang untuk melamar dirinya dan satu yang lain datang untuk Wati, sepupu perempuannya. Mereka semua berkumpul dalam satu rumah, karena Mala dan Wati memang tinggal di rumah yang sama.

Mala, usianya tak lagi muda. Banyak penduduk desa yang menjulukinya perawan tua. Padahal angka dua puluh sembilan baginya tak menjadi beban. Hanya saja, omongan tetangga dan keluh kesah orangtuanya terkadang membuatnya resah.

Bukan tak pernah memiliki kekasih, Mala beberapa kali mencoba menjalin hubungan, tapi semuanya berakhir karena tak pernah ada yang benar-benar serius untuk menikah. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk menyendiri, menutup hati yang telanjur lelah menanti.

”Jangan ngurung diri terus atuh Neng, tuh ikut main sama si Wati, biar cepet ketemu jodoh.” Ibunya lagi-lagi menyuruhnya ikut Wati nongkrong di warung depan, tempat berkumpulnya para gadis remaja.

”Ah ibu, aku bukan gadis remaja seperti Wati. Lagi pula, dari dulu aku memang tidak suka berkumpul seperti itu.”

”Gimana orang mau kenal sama perawan ibu, kalau kamunya ngumpet terus Neng, ibu sudah tua, ibu pengen liat kamu menikah.”

Mala menghela napas, entah harus berapa kali ia jelaskan jika urusan jodoh ada di tangan Tuhan, jika sudah waktunya pastilah akan datang.

***

Hari ini, Mala diajak ibunya pergi ke pasar membeli banyak lauk dan makanan. Katanya akan banyak tamu yang datang. Saat Mala bertanya siapa tamu itu, ibunya hanya tersenyum lalu mengatakan nanti juga Mala akan tahu. Mala tak begitu peduli, toh biasanya hanya kumpulan bapak-bapak yang memang sering mengadakan kumpulan atau musyawarah warga di rumahnya.

Malam menjelang, Mala tak habis pikir karena ibunya masih saja sibuk mempersiapkan jamuan. Tak seperti biasanya, Wati juga terlihat sedang mempercantik diri. Padahal ini malam hari, biasanya sepupunya itu sudah terlelap di alam mimpi.

”Kamu ngapain sih Wati, malam-malam begini dandan segala.”

”Ih kamu gak tahu ya, malam ini aku bakal dilamar lho…”

”Oh… pantesan menor banget.” Mala hanya ber ”oh” ria. Tapi hati kecilnya tentu saja bicara, Wati yang baru berusia sembilan belas tahun sudah akan dilamar, sedangkan dirinya usianya hampir memasuki angka tiga puluh tapi kekasih pun tidak punya. Batinnya berteriak, bukan iri hanya saja takdir terasa membuatnya ingin pergi. Diambilnya kerudung yang ia gantung di pinggir daun jendela lalu bergegas pergi, menuju rumah neneknya yang memang hanya terhalang beberapa rumah dan pohon mahoni.

Sepi, entah ke mana neneknya pergi. Mungkin pergi ke rumahnya untuk turut serta menyaksikan lamaran Wati. Tapi Mala tahu kuncinya selalu disimpan di bawah pot seledri. Diraihnya pot berisi tanaman wangi itu, benar kunci itu memang selalu ada di sana.

Mala merebahkan tubuhnya di kamar sepi itu, sepertinya malam ini ia akan tidur di rumah tua ini.

”Ya Allah Neng, ibumu nyari sana sini kelimpungan, tahunya kamu tidur di sini.”

Mala mengucek matanya, merasa terganggu dengan omelan yang entah dari mana berasal. Dengan mata setengah mengantuk Mala keluar dari kamar lalu menghampiri neneknya yang sedang sibuk mengeluarkan bungkusan makanan. Sepertinya itu makanan yang diberikan ibunya.

”Sudah pulang, Nek?”

”Kamu itu kenapa Neng, ada pemuda yang mau melamar kok malah minggat. Ibumu sampai berbohong pada mereka kalau kamu sakit.”

Mala terbelalak, bukankah Wati yang akan dilamar, kenapa jadi dirinya yang neneknya salahkan. Sepertinya neneknya itu memang sudah pikun.

”Yang dilamar kan Wati, kenapa ibu nyariin aku?”

”Kalian berdua sama-sama dilamar, salah ibumu juga tak memberitahumu. Tapi jangan khawatir, lamaran itu sudah diterima jadi suka tidak suka kamu harus mau menerima. Besok dia akan datang lagi untuk menemui kamu, jadi cepatlah pulang dan bangunlah pagi-pagi, jangan kembali membuat ibumu malu.”

Mala hanya mengangguk lalu pulang ke rumahnya. Sepanjang jalan beberapa kali dicubitnya pipinya yang tirus itu, tapi ia benar-benar tidak sedang bermimpi. Tiba-tiba saja pikirannya dipenuhi oleh kata-kata neneknya, mau tidak mau katanya dirinya harus menerima. Bagaimana jika ternyata laki-laki yang melamarnya itu bertubuh gendut lalu usianya sudah tua. Ah, apakah ibunya akan sejahat itu menerima lamaran tanpa pertimbangan. Mala mempercepat langkahnya, ingin segera bertemu dengan ibunya.

***

Tak biasanya, hari ini Mala sedikit memoles wajah lalu memilih pakaian yang ia anggap paling bagus. Hatinya berbunga-bunga, tak sabar ingin melihat seperti apa calon suaminya. Kata ibunya, dia pasti akan menyukainya.

Jam berjalan terasa lambat, Mala merasa gelisah. Berbeda dengan Wati yang terlihat biasa-biasa saja. Mungkin karena Wati sudah bertemu dengan calon suaminya, pikir Mala.

Dua buah sepeda motor terlihat memasuki halaman rumah, membuat Mala terperanjat lalu bergegas mengintip dari balik jendela. Dua orang pria terlihat berjalan mendekat lalu menyalami ibunya yang memang sedang berada di beranda rumah. Mala memperhatikan kedua laki-laki itu, entah siapa dan yang mana calon suaminya. Satu pria berkemeja putih dan berkacamata, dan satu lagi berjaket hitam.

Mala mengucek matanya, merasa terganggu dengan omelan yang entah dari mana berasal. Dengan mata setengah mengantuk Mala keluar dari kamar lalu menghampiri neneknya yang sedang sibuk mengeluarkan bungkusan makanan. Sepertinya itu makanan yang diberikan ibunya.

”Neng… ini Nak Aman sudah datang.” Ibunya terdengar mengetuk pintu kamar.

Mala keluar dengan hati berdebar, takut jika pria bernama Aman itu kecewa melihat dirinya. Mala merasa tak percaya diri, padahal banyak orang yang bilang kalau dirinya manis dan cantik.

Mala melangkah perlahan, di sampingnya ibunya tak henti mengulum senyum. Merasa bahagia putri semata wayangnya akhirnya akan segera menikah. Mala merasa jantungnya semakin berdebar tatkala melihat pria itu tengah menatapnya, ditundukkannya pandangan lalu hatinya berteriak girang. Ternyata calon suaminya pria berkemeja putih itu.

”Ibu tinggal dulu ke belakang ya….” Ibunya pergi setelah sebelumnya mengedipkan mata kepada Mala. Ah ibunya itu memang selalu mengerti dirinya, pikir Mala.

Mala duduk dengan canggung di hadapan pria bernama Aman itu. Entah harus memulai obrolan dengan hal apa, dia tidak mengenal Aman sama sekali.

”Sudah baikan? Semalam Ibu bilang kamu sakit.” Pria itu bertanya lembut membuat hati Mala menghangat, sepertinya neneknya benar, dia menyukai pria berkacamata itu.

”Sudah….” Mala tersenyum dan memberanikan diri menatap calon suaminya.

Kata ibunya usia Aman tiga puluh enam tahun, tapi dia tak terlihat seperti pria seusia itu. Dia terlihat masih muda tapi sangat bijak dan dewasa. Hatinya kembali berbunga-bunga. ”Jadi, kamu dokter Aman itu?”

”Ah, jangan panggil dokter, Mas saja.” Aman tersenyum geli mendengar panggilan konyol calon istrinya.

”Iya… Mas Aman.” Lagi, Mala menunduk karena malu.

Tamat.

***

Mie S adalah ibu rumah tangga yang tinggal di Tasikmalaya, Jawa Barat. Penulis sudah menerbitkan novel berjudul Pasangan Hidup Terakhir dan  Antologi Cerpen Selingkuh.  

sumber : kompas.id, 16 Jan 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme