Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Akar Bahar Tiga Warna oleh Lina PW

Posted on Ming, 24 Jan 2021

Ketika menggulung selang di atas perahu, Naspin tak tahu pasti seberapa panjang ia harus mempersiapkan, karena tak kuasa menduga seberapa dalam akan menyelam. Ia mengingat-ingat petualangannya menyelam mencari apapun buat menyambung hidup: kerang raksasa, lobster, teripang, kerapu, hingga yang paling mahal dan sangat laris: akar bahar tiga warna.

Itu dulu, sekarang ia harus menyelam lagi demi kesembuhan Ibu.

Naspin tahu menyelam itu banyak tantangan dan berbahaya. Setahun lalu, sepupunya meninggal karena menyelam mencari teripang. Naspin bersama Ibu sempat merawatnya, mendatangkan pemijat kejang otot paling sakti, tapi tak tertolong juga. Sepupu itu meninggal tanpa sempat sadarkan diri. Sering terjadi penyelam dengan kompresor meninggal atau lumpuh.

Tapi Naspin tak peduli, ia ingin menjadi anak berbakti, memberikan akar bahar tiga warna penolak bala buat sang ibu yang sedang terbaring lemas karena demam.

Di Pulau Maratua tempat tinggal Naspin, orang percaya akar bahar tiga warna memiliki bermacam khasiat. Berbondong orang dari Jawa, Bali, Sumatera, Sulawesi memburunya buat azimat yang diyakini dapat menjauhkan segala marabahaya, juga terbebas dari sergapan virus korona.

Mereka mendatangi Pak Sikut, aparat yang bertugas di pulau terluar berbatasan dengan Filipina itu, untuk mendapatkan akar bahar merah, hitam dan putih. Laki-laki kurus ini menjadi perantara, menjual akar azimat dengan harga tiga kali lebih mahal. Sejak pandemi merebak, makin banyak orang luar pulau memesan lewat Pak Sikut, pastilah kian kaya dia.

Naspin menyampirkan gulungan selang di atas kompresor yang akan dipakai menyelam, di sebelah gergaji, dan kaca renang. Ia menghidupkan mesin dan meluncur di permukaan laut, sesekali perahu berdebam menghempas air kala bertemu gelombang. Tak sampai sejam, ia tiba di laut yang dinding koralnya terbentang hingga jauh ke dasar. Ia matikan mesin perahu, menghidupkan kompresor, memakai kaca renang, menggigit selang kompresor, memegang gergaji dengan satu tangan, dan byurr….

Ikan-ikan kecil sekitar karang tak peduli sesosok bayangan menghampiri mereka, ikan-ikan besar agak menghindar saat Naspin melayangkan tubuhnya menilik dinding koral lebih dekat. Di kedalaman 15 meter, tubuhnya berbelok saat dinding karang membentuk ujung tajam, menyebabkan ia harus menikung cepat. Arus bawah mulai kencang, ia mesti hati-hati agar tak terseret hanyut entah kemana.

Ini hari ketiga Naspin mencari akar bahar putih, satu-satunya warna yang susah didapat. Ia sudah turun sangat dalam, belum dilihatnya ranting-ranting akar bahar putih.

”Makin susah kau dapat akar baharmu, makin berkhasiat, Pin!” ujar kakeknya saat Naspin kecil terpukau menemani sang kakek membentuk akar-akar menjadi gelang. ”Kalau kau dapat akar di pantai, hanyut terbawa arus, atau yang nyasar di jaring nelayan, bah! Tak ada gunanya itu!”

Jadilah dua hari lalu ia berdoa agar akar putih ini susah didapat. Ia ingin gelangnya manjur agar dapat mengobati Ibu yang sudah sebulan terbaring demam. Musim pandemi seperti saat ini, ia takut Ibu terserang virus. Naspin membulatkan tekad membuat gelang tiga warna, setelah mendengar di kampung sebelah ada yang kena virus, keadaannya persis seperti Ibu, dipakaikan gelang, dan minum rebusan akar bahar tiga warna, kini bugar, tak perlu ke rumah sakit.

Cahaya makin temaram, Naspin makin jauh ke dalam laut. Akar putih itu belum ia temukan juga. Seekor penyu berenang melayang di bagian yang lebih dalam, tapi ia tetap menilik tembok koral, menemukan beberapa kumpulan akar hitam dan merah yang ia acuhkan. Terus menerus dengan ketajaman penuh ia telisik permukaan dinding karang. Ia menoleh ke sebuah titik yang agak jauh, memicingkan mata.

”Oh… apakah itu… Ya, itu akar putih yang kucari! Kudapat juga kau!” pikirnya senang. Ia sentuh dengan gembira cabang-cabang berkhasiat itu, diambilnya ancang-ancang untuk menggergaji tangkai utama. Tak besar, tapi ia harus mengerahkan cukup banyak tenaga. Namanya memang akar bahar, tapi bukan tanaman, ini binatang karang berbentuk seperti cabang pohon atau akar.

”Ah, tebal juga,” gerutu Naspin, menggergaji hingga serpih terakhir akar. Ia lalu meluncur cepat ke permukaan, bayangan Ibu tersenyum lega penuh syukur menerima gelang akar terlintas. Sampai di permukaan, ia lemparkan akar dan gergaji ke perahu, menghidupkan mesin, meluncur pulang.

”Dalam juga tadi menyelam, sampai enam puluh meter,” pikir Naspin, sambil menggulung selang. Ia sangat gembira karena akar putih ini susah dicari, butuh waktu tiga hari, dan masing-masing memerlukan waktu lebih dari setengah hari.

Naspin bersiul, merasa sangat bangga karena tak lama lagi akan bisa menyembuhkan sang ibu. Ia memandang sayang akar bahar putih yang dijemurnya di lantai perahu. Sekilas ia merasa kakinya kesemutan, hanya sesaat, lalu hilang.

Di gudang tempat Naspin menyimpan segala peralatan memancing dan menukang, ia langsung membentuk akar putih yang baru didapat. Gelang ala tasbihnya dibuat bentuk bulat dengan tiga bulatan akar hitam, tiga merah, dan tiga putih. Harus sembilan karena orang pulau percaya ini angka paling besar, paling mujarab, buat menolak bala. Untuk mendapat hasil paling berkhasiat, semua warna harus berselang-seling. Ada yang karena kesulitan mendapat akar putih hanya memakai dua warna saja, hitam dan merah. Tapi, dari kakeknya Naspin tahu, kalau mau paten, ia harus mengikuti aturan kuno pulau: mesti tiga warna.

Ia puas pada hasil kerjanya, dan senang bisa selesai hari itu juga. Dielusnya bulatan-bulatan gelang itu dengan lega. Ia yakin ibunya akan sembuh berkat gelang penolak bala yang dibuatnya sendiri, dengan akar putih langka. Ia bangkit, menyiapkan makan malam Ibu.

Naspin masuk pelan ke kamar, membawa senampan nasi, ikan kuah, dan rebusan gelang akar bahar tiga warna. Ibu rebahan, bersandar di tempat tidur, tersenyum lemah.

”Bu… Ibu sudah bangun?”

”Sini, Pin. Banyak ikan tangkapanmu?”

”Saya tidak menangkap ikan tadi, Bu.” Ia sodorkan rebusan gelang di gelas, Ibu menyambutnya. ”Saya tadi mencari akar bahar putih.” Naspin merogoh gelang di saku. Raut wajah Ibu mengeras.

”Untuk apa kau cari akar bahar?”

”Buat kesembuhan Ibu. Minumlah, Bu.”

Ibu meletakkan gelas, menggigit bibirnya, wajahnya semakin pucat.

”Minumlah biar sembuh, Bu. Itu nggo-nggo di kampung sebelah sakit seperti Ibu, minum air rebusan gelang dan sekarang sudah sehat.”

Ibu menggeleng kuat-kuat, Naspin menatap heran. Ibu terbatuk, napasnya putus-putus, bibirnya gemetar.

”Jangan beri ibumu harapan palsu, Nak! Ayahmu selalu memakai gelang dan minum air rebusannya, tapi tetap sakit juga!”

”Bapak selalu sehat, Bu. Bapak sakit apa?” setahu Naspin bapaknya selalu sehat dan bertenaga, tak pernah sakit. Kakeknya juga.

”Mana bapakmu sekarang? Mati kan dia?” Ibu tersedu.

Sepi menyesak dada tertahan di kamar itu. Anak-ibu itu termangu.

”Ayahmu sakit, Pin. Sesak napas, tiap malam minum rebusan gelang, dulu aku yakin betul gelang ini bisa melindungi kami dari demit dan sakit.”

”Tapi gelang-gelang ini, orang-orang yang sembuh di kampung sebelah?”

”Tidak ada buktinya di rumah ini, Pin! Ibu tak percaya!” Ibu meraih gelang di tangan Naspin. Gelang ini, akar ini, semuanya….”

Naspin berkeringat dingin, kakinya gemetar, nyeri naik dari telapak hingga paha. Perutnya mulai mengeras. Ia mengalami kejang otot pada lengan dan pinggul.

”Banyak yang cacat karena mencari akar sampai di dasar laut, padahal tak ada gunanya. Ibu tidak pernah memberitahu ayahmu sakit, karena tak mau kau kecewa. Kau selalu bangga dengan dongeng-dongeng dari kakekmu.”

Ibu tersedu, bergumam, lebih pada dirinya sendiri. ”Makanya kubuang semua gelang-gelang itu saat bapakmu pergi.”

Naspin berniat berdiri, mencoba menghapus kecewa. Tiba-tiba ruangan itu ia rasa berputar, dinding-dinding seperti hendak runtuh ketika ia tak bisa lagi merasakan pinggangnya yang kian mengeras. Tubuhnya kaku. Samar-samar ia mendengar suara kaget ibu.

”Pinnn! Kenapa kau?” Ibu bangun menahan tubuh anaknya yang tersungkur.

”Kaki Bu… tak… bisa… rasa… kram…,” suara Naspin lemah, kian samar. Tangan kanannya berusaha menunjuk kaki, namun lunglai. Naspin tak sadarkan diri.

Ibu memeluk Naspin, napasnya tersengal-sengal.

”Jangan mati, Pin. Jangan…!” bayangan sepupu Naspin meninggal di kamar ini karena kram usai menyelam, berkelebat.

Ibu mencengkeram erat gelang tiga warna itu, matanya terpaku pada gelas berisi air rebusan akar bahar di atas nampan. Ia berteriak, menangis melolong-lolong.

*Nggo-nggo = ibu-ibu

******

Lina PW lahir dan besar di Pulau Dewata. Pernah menjadi penulis lepas di beberapa media lokal dan kontributor perjalanan di sejumlah media nasional. Pengalamannya mengajar di daerah terpencil dan pulau terluar kerap menginspirasi kisah-kisah yang ditulisnya. Cerpennya Rumah Batu Kakek Songkok serta Ramin Tak Kunjung Pulang masuk dalam buku Cerpen Pilihan Kompas 2017 dan 2019. Kini menetap di Denpasar, Bali.

Dyan Anggraini seniman yang tinggal di Yogyakarta. Lahir di Kediri, 2 Februari 1957. Menamatkan pendidikan Seni Rupa di STSRI ASRI Yogyakarta. Antara 1977-2020 tidak kurang dari 158 pameran bersama di beberapa kota di Indonesia dan beberapa di luar negara. Pameran Tunggalnya antara lain ”Perempuan (di) Borobudur” di Galeri Nasional, Jakarta (2018); Ambang/Threshold di Sangkring Art Space, Yogyakarta (2013).

sumber : harian Kompas edisi 24 Januari 2021 di halaman 10 dengan judul “Akar Bahar Tiga Warna”.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme