Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Mimpi Aneh Sebelum Demonstrasi oleh Khanafi

Posted on Kam, 04 Feb 2021

”Apakah kau mau pulang?” tanya sesosok dalam mimpinya membuka percakapan.

Aku diam tak menjawab.

Di TV terputar berita demonstrasi berselang-seling dengan informasi statistik korban penularan virus. Di luar nampak di luar jendela gerimis turun seperti memutar wajah-wajah sepi. Ia duduk menangkap suara yang bercampur-campur itu.

Ia mengerti apa yang dikatakan berita-berita di TV. Memang orang-orang sudah banyak membicarakan soal itu. Meski dia sudah tua, dan tak begitu jelas membaca huruf-huruf kecil yang tertera di layar, tapi ia paham suara teriakan orasi yang keras keluar dari sekotak TV yang menyala itu. Pastilah itu juga berita di koran yang terbit tiap hari, pikirnya.

Matanya tidak lelah memandang berita, gambar yang carut-marut menggambarkan zaman modern yang makin demokratis. Dengan termangu antara harapan dan ketakutan, segala bayang-bayang masa kecilnya dulu seolah mengitari dinding-dinding ruang itu, saling membaur dan campur.

Kini ia berumur lebih dari 60, jelas ia masuk dalam daftar orang tua yang harus menjaga dirinya dan sekaligus waspada, sebab keadaan di luar bercampur aduk dengan kejahatan. Jika keluar secara tidak sengaja, maka sekurangnya harus membawa kekuatan yang tersisa buat berjaga-jaga. Dia ingat apa yang dibicarakan di layar TV dalam jalinan berbagai cerita dan peristiwa, semua yang terjadi di dunia luar sudah terasa di persekitarannya. Ibu kota sedang tidak baik-baik saja, dan memang begitu bukan? Ia tubuh yang selalu ramai dan macet.

Ketika mata berita membesar di layar TV, seolah menerawang ke sela-sela ruang rumahnya yang tak luas dan kurang penerangan, menjalar ke dinding-dinding yang catnya lapuk, mata itu merayap seolah meraba permukaan hidup yang kian rapuh, suasananya jadi semacam diintai kamera tersembunyi dari jauh, dari lubuk TV yang seolah hidup dan mengancam. Bagai menangkap apa saja geliat yang terjadi di dalam pikiran lelaki tua yang terduduk di kursi tuanya sambil memandang gambar-gambar yang makin sulit tertangkap mata secara utuh, alih-alih menyerapnya ke daftar pengamatan. Tapi suara itu masih terngiang dan keras masuk ke dadanya, membawa suatu keadaan yang sungguh asing, tapi dia mencintainya. Ya, orasi itu.

***

Pagi-pagi, ia sudah berjalan kecil di kehirukan kota, mendengarkan kendaraan bersiap memasukkan orang-orang yang bergegas sibuk. Meski tak sebiasa hari-hari sebelumnya. Ia tak punya banyak cerita tentang kota, tapi hal-hal kecil, seperti sepatu, warna gincu, suara orang yang berasal dari berbagai daerah, semua mengendap dalam kepalanya. Dengan bahasa yang pelik kadang ia bercerita pada dirinya sendiri, sambil menghadap ke cermin. Telinga pada cermin begitu setia menangkap suaranya, tapi mulut dalam cermin diam saja, tak ada respons yang berarti, kecuali menirukan dengan persis gerak mulut lelaki tua itu.

Ia berterima kasih atas kebaikan-kebaikan cermin yang dengan setia menggantikan sosok istrinya yang beberapa tahun lalu meninggal dunia. Tapi tidak saat ini, ia benar-benar merasa kesepian. Peraturan baru telah ditetapkan pemerintah kotanya, bahwa segala orang tua/berusia lanjut tidak boleh terlalu sering di luar, kalau perlu mendekam saja di rumah.

Memang akhir-akhir ini semua harus berjarak, telinga dengan mulut tidak boleh saling menyapa, kecuali dalam rentang lebih dari satu meter. Banyak dari mereka kini lebih suka menggunakan benda berteknologi canggih buat menyapa siapa saja, baik saudara, kenalan lama atau baru. Lewat video call yang tersedia bagi aplikasi komunikasi memungkinkan mereka menatap seolah secara langsung tanpa perlu khawatir ada penularan. Sebenarnya jarak terlipat oleh telepon genggam.

Hujan turun di tepi jalan. Mereka masih terdengar bicara melalui headset dan mulai bercerita seperti orang gila, tanpa peduli pada siapa. Lelaki tua itu sudah berjalan pulang menuju rumah. Rasanya hari akan makin sore, dan petang terasa begitu dekat.

Sudah pukul lima lebih, ia mengenang hidupnya yang sudah hampir tiga puluh tahun hidup di kota. Baru-baru ini terasa begitu senyap dan sepi. Baru kali ini ia merasa suatu keadaan yang penuh larangan, mengingatkan ia pada tahun-tahun ketika Orde Baru masih berkuasa. Tidak boleh saling berkumpul, berbicara harus dalam jarak yang ditentukan. Semua ditentukan, diatur, itu intinya.

Maka ketika ia mendengar orasi melalui siaran TV atau kebetulan anaknya memutar video panjang orasi mahasiswa di telepon genggamnya, jiwa mudanya kembali bernyala, terasa tahun ketika ia ikut menggulingkan kekuasaan Orde Baru yang sewenang-wenang itu.

***

Beberapa kuping mendengar pembicaraan orang di jalanan yang melakukan video call dengan teman-temannya yang sudah berada di seberang istana presiden, berkumpul buat menyampaikan orasi. Di suatu tempat, mungkin di kampung juga banyak dari mereka yang berusia muda menonton berlangsungnya demonstrasi.

Lelaki tua itu menanyakan pada dirinya sendiri, namun suara bisiknya dihapus mobil barikade yang menderu mungkin menuju istana. Kata-kata yang lirih terlontar dari celoteh perbincangan pun mereda seolah terbawa angin lalu.

Anak lelakinya menyusulnya ke pinggir jalan itu, entah dari mana. Membawa lipatan spanduk. Memandang mata ayahnya, kemudian memegang tangannya, menggenggamnya dan bergegas pergi.

Beberapa kuping mendengar pembicaraan orang di jalanan yang melakukan video call dengan teman-temannya yang sudah berada di seberang istana presiden, berkumpul buat menyampaikan orasi. Di suatu tempat, mungkin di kampung juga banyak dari mereka yang berusia muda menonton berlangsungnya demonstrasi.

Langit ketika itu sedikit cerah. Daun-daun kecil terbang jatuh ke tanah. Bunyi sirene ambulans berlalu.

”Mari kita berangkat.”

Ia malah ingat semalam ia bermimpi aneh. Sesaat ia melupakan mimpi itu. Kedua tubuh itu masuk ke angkutan umum dan lenyap.

***

Orasi masih berlangsung lewat mobil komando. Bendera-bendera berkibar mewarnai udara. Wajah-wajah muda itu memancarkan cahaya, walau sebenarnya langit tak begitu cerah. Angin membawa asap dan gas. Ada beberapa bau aneh yang tercium dari sana.

Lelaki tua itu dan anaknya sudah bergabung dalam kerumunan. Mereka menyaksikan orasi yang lebih nyata. Sebelumnya, tepatnya beberapa minggu ketika ia memutuskan ke jalan. Sudah disaksikannya lewat TV juga video milik anaknya apa yang terjadi di ibu kota, di seberang istana. Di jalan-jalan lain di pusat kota pada tiap daerah juga hal yang sama tengah berlaku. Ketika terdengar kabar bahwa gerakan demonstrasi itu tak surut membuat nyalinya kembali muda.

Dalam kerumunan itu, wajahnya yang tua dan geraknya yang tidak lagi gesit menjadikan waswas anak lelakinya. Si anak memandang raut ayahnya yang begitu khidmat berteriak ’merdeka!’ saat orator mengomando lewat pengeras suara. Dan di hadapan mereka telah berbaris kokoh dan rapi, lengkap dengan seragam, helm, pelindung badan, pentungan serta tameng. Mereka bagai membentuk sebuah benteng yang melemparkan aura kekuatan.

Dalam udara yang memanas, kerumunan semakin gerah. Tiba-tiba saja terjadi gelombang desakan, seperti ombak yang kuat menggoyang tubuh-tubuh itu. Dari langit meluncur semprotan air. Ombak massa semakin bergelombang, kemudian pecah secara mendadak oleh gas air mata. Asap memedihkan membuat kalang kabut, semua menghindar. Lelaki tua itu bingung dalam kekacauan. Si anak terpisah dari genggamannya. Terjadi saling lempar dan pukul. Aparat mendekat pada massa, massa mendekat pada aparat, di antara mereka lelaki tua itu tengah dibalut dalam gas, matanya menutup wajah-wajah, perih meneteskan air mata.

Pentungan memukul, menyasarnya. Ia jatuh tak sadarkan diri. Darah mengalir dari tempurung kepalanya. Langit remang-remang. Udara pekat oleh gas. Warna bendera yang luntur, warna kekosongan yang sempurna.

Keributan itu berlangsung hebat. Saling adu kemarahan. Si anak dalam keterjebakan kerumunan, mencari-cari si bapak. Terjadi beberapa pukulan, tendangan, ia kena dan rebah di aspal jalan. Matanya kunang-kunang, ia melihat ayahnya pulang menuju rumah. Ia bimbang.

***

Petang tiba. Semua dibersihkan. Termasuk bekas-bekas botol, batu, pecahan-pecahan lainnya. Bekas bendera dan bakaran ban mobil. Tampak beberapa kendaraan tumbang di jalan, kacanya pecah. Ada yang terbakar habis sebelum sempat menyetor bunyi ledakan yang mengagetkan.

Beberapa orang sudah diamankan. Baik yang masih bertenaga atau yang sudah terkapar. Di TV siaran kabar susul-menyusul. Bagaimana nasib lelaki tua dan anaknya tersebut?

Lelaki tua itu dikabarkan telah meninggal. Jenazahnya masih dalam pemeriksaan, perlu diotopsi. Keterangan lebih jauh, meninggalnya disebabkan oleh pukulan benda tumpul. Belum pasti siapa yang melontarkan pukulan, ia berada antara massa dan aparat. Si anak juga terluka, masih tak sadarkan diri. Ia sudah mendengar kabar buruk itu. Ia ingat sebelum sampai di lokasi demonstrasi, ayahnya cerita tentang mimpinya yang aneh beberapa malam berturut-turut. Aktivis lain menuntut adanya pengusutan atas kasus pemukulan yang sampai menimbulkan kematian.

Dunia ibu kota ribut ketika itu. Daerah-daerah menyusul. Hampir seperti 98, kata arwah si tua yang mengamati.

’Ayah telah tiada, aku terluka di keramaian demonstrasi itu. Apakah masih akan ada… harapan… atau hanya… titik. Aku ingat mimpi ayah yang itu, aneh, tapi terjadi.’

Udara di rumah sakit begitu adem. Masih tenang jenazah itu terbujur, walau sedang dalam penyelidikan lebih lanjut. Kematian… masih mungkin… mengintai di seberang jalan.

Si anak begitu lelah, ia tertidur dan bermimpi bertemu ayahnya, di rumah. Ayahnya berkata padanya, ’jika nanti tiba-tiba ayah mati kena pukulan, kamu siap-siap membacakan tuntutan para demonstran, ya…’

Jam hening.

September, 2020

***

Khanafi, lahir di Banyumas, Jawa Tengah, pada 4 Maret 1995. Tulisan-tulisannya berupa puisi, cerpen, dan esai tersiar di beberapa media massa, baik situs daring maupun cetak, seperti Detik.com, Linikini.id, Tembi.net, Litera.co.id, Sastra Biem.co, Koran Tempo, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Radar Banyuwangi, Radar Banyumas, Budaya Fajar, Pos Bali, serta terikut dalam berbagai buku antologi puisi. Beberapa puisinya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Perancis. Penulis berkhidmat di Forum Penyair Solitude. Sehari-hari bekerja sebagai editor lepas. Sekarang penulis tinggal di Purwokerto dan tengah merampungkan buku kumpulan puisinya. Penulis bisa dihubungi melalui e-mail:   afisaja043@gmail.com

sumber : kompas.id, 04 Feb 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme