”Apakah kau mau pulang?” tanya sesosok dalam mimpinya membuka percakapan.
Aku diam tak menjawab.
Di TV terputar berita demonstrasi berselang-seling dengan informasi statistik korban penularan virus. Di luar nampak di luar jendela gerimis turun seperti memutar wajah-wajah sepi. Ia duduk menangkap suara yang bercampur-campur itu.
Ia mengerti apa yang dikatakan berita-berita di TV. Memang orang-orang sudah banyak membicarakan soal itu. Meski dia sudah tua, dan tak begitu jelas membaca huruf-huruf kecil yang tertera di layar, tapi ia paham suara teriakan orasi yang keras keluar dari sekotak TV yang menyala itu. Pastilah itu juga berita di koran yang terbit tiap hari, pikirnya.
Matanya tidak lelah memandang berita, gambar yang carut-marut menggambarkan zaman modern yang makin demokratis. Dengan termangu antara harapan dan ketakutan, segala bayang-bayang masa kecilnya dulu seolah mengitari dinding-dinding ruang itu, saling membaur dan campur.
Kini ia berumur lebih dari 60, jelas ia masuk dalam daftar orang tua yang harus menjaga dirinya dan sekaligus waspada, sebab keadaan di luar bercampur aduk dengan kejahatan. Jika keluar secara tidak sengaja, maka sekurangnya harus membawa kekuatan yang tersisa buat berjaga-jaga. Dia ingat apa yang dibicarakan di layar TV dalam jalinan berbagai cerita dan peristiwa, semua yang terjadi di dunia luar sudah terasa di persekitarannya. Ibu kota sedang tidak baik-baik saja, dan memang begitu bukan? Ia tubuh yang selalu ramai dan macet.
Ketika mata berita membesar di layar TV, seolah menerawang ke sela-sela ruang rumahnya yang tak luas dan kurang penerangan, menjalar ke dinding-dinding yang catnya lapuk, mata itu merayap seolah meraba permukaan hidup yang kian rapuh, suasananya jadi semacam diintai kamera tersembunyi dari jauh, dari lubuk TV yang seolah hidup dan mengancam. Bagai menangkap apa saja geliat yang terjadi di dalam pikiran lelaki tua yang terduduk di kursi tuanya sambil memandang gambar-gambar yang makin sulit tertangkap mata secara utuh, alih-alih menyerapnya ke daftar pengamatan. Tapi suara itu masih terngiang dan keras masuk ke dadanya, membawa suatu keadaan yang sungguh asing, tapi dia mencintainya. Ya, orasi itu.
***
Pagi-pagi, ia sudah berjalan kecil di kehirukan kota, mendengarkan kendaraan bersiap memasukkan orang-orang yang bergegas sibuk. Meski tak sebiasa hari-hari sebelumnya. Ia tak punya banyak cerita tentang kota, tapi hal-hal kecil, seperti sepatu, warna gincu, suara orang yang berasal dari berbagai daerah, semua mengendap dalam kepalanya. Dengan bahasa yang pelik kadang ia bercerita pada dirinya sendiri, sambil menghadap ke cermin. Telinga pada cermin begitu setia menangkap suaranya, tapi mulut dalam cermin diam saja, tak ada respons yang berarti, kecuali menirukan dengan persis gerak mulut lelaki tua itu.
Ia berterima kasih atas kebaikan-kebaikan cermin yang dengan setia menggantikan sosok istrinya yang beberapa tahun lalu meninggal dunia. Tapi tidak saat ini, ia benar-benar merasa kesepian. Peraturan baru telah ditetapkan pemerintah kotanya, bahwa segala orang tua/berusia lanjut tidak boleh terlalu sering di luar, kalau perlu mendekam saja di rumah.
Memang akhir-akhir ini semua harus berjarak, telinga dengan mulut tidak boleh saling menyapa, kecuali dalam rentang lebih dari satu meter. Banyak dari mereka kini lebih suka menggunakan benda berteknologi canggih buat menyapa siapa saja, baik saudara, kenalan lama atau baru. Lewat video call yang tersedia bagi aplikasi komunikasi memungkinkan mereka menatap seolah secara langsung tanpa perlu khawatir ada penularan. Sebenarnya jarak terlipat oleh telepon genggam.
Hujan turun di tepi jalan. Mereka masih terdengar bicara melalui headset dan mulai bercerita seperti orang gila, tanpa peduli pada siapa. Lelaki tua itu sudah berjalan pulang menuju rumah. Rasanya hari akan makin sore, dan petang terasa begitu dekat.
Sudah pukul lima lebih, ia mengenang hidupnya yang sudah hampir tiga puluh tahun hidup di kota. Baru-baru ini terasa begitu senyap dan sepi. Baru kali ini ia merasa suatu keadaan yang penuh larangan, mengingatkan ia pada tahun-tahun ketika Orde Baru masih berkuasa. Tidak boleh saling berkumpul, berbicara harus dalam jarak yang ditentukan. Semua ditentukan, diatur, itu intinya.
Maka ketika ia mendengar orasi melalui siaran TV atau kebetulan anaknya memutar video panjang orasi mahasiswa di telepon genggamnya, jiwa mudanya kembali bernyala, terasa tahun ketika ia ikut menggulingkan kekuasaan Orde Baru yang sewenang-wenang itu.
***
Beberapa kuping mendengar pembicaraan orang di jalanan yang melakukan video call dengan teman-temannya yang sudah berada di seberang istana presiden, berkumpul buat menyampaikan orasi. Di suatu tempat, mungkin di kampung juga banyak dari mereka yang berusia muda menonton berlangsungnya demonstrasi.
Lelaki tua itu menanyakan pada dirinya sendiri, namun suara bisiknya dihapus mobil barikade yang menderu mungkin menuju istana. Kata-kata yang lirih terlontar dari celoteh perbincangan pun mereda seolah terbawa angin lalu.
Anak lelakinya menyusulnya ke pinggir jalan itu, entah dari mana. Membawa lipatan spanduk. Memandang mata ayahnya, kemudian memegang tangannya, menggenggamnya dan bergegas pergi.
Beberapa kuping mendengar pembicaraan orang di jalanan yang melakukan video call dengan teman-temannya yang sudah berada di seberang istana presiden, berkumpul buat menyampaikan orasi. Di suatu tempat, mungkin di kampung juga banyak dari mereka yang berusia muda menonton berlangsungnya demonstrasi.
Langit ketika itu sedikit cerah. Daun-daun kecil terbang jatuh ke tanah. Bunyi sirene ambulans berlalu.
”Mari kita berangkat.”
Ia malah ingat semalam ia bermimpi aneh. Sesaat ia melupakan mimpi itu. Kedua tubuh itu masuk ke angkutan umum dan lenyap.
***
Orasi masih berlangsung lewat mobil komando. Bendera-bendera berkibar mewarnai udara. Wajah-wajah muda itu memancarkan cahaya, walau sebenarnya langit tak begitu cerah. Angin membawa asap dan gas. Ada beberapa bau aneh yang tercium dari sana.
Lelaki tua itu dan anaknya sudah bergabung dalam kerumunan. Mereka menyaksikan orasi yang lebih nyata. Sebelumnya, tepatnya beberapa minggu ketika ia memutuskan ke jalan. Sudah disaksikannya lewat TV juga video milik anaknya apa yang terjadi di ibu kota, di seberang istana. Di jalan-jalan lain di pusat kota pada tiap daerah juga hal yang sama tengah berlaku. Ketika terdengar kabar bahwa gerakan demonstrasi itu tak surut membuat nyalinya kembali muda.
Dalam kerumunan itu, wajahnya yang tua dan geraknya yang tidak lagi gesit menjadikan waswas anak lelakinya. Si anak memandang raut ayahnya yang begitu khidmat berteriak ’merdeka!’ saat orator mengomando lewat pengeras suara. Dan di hadapan mereka telah berbaris kokoh dan rapi, lengkap dengan seragam, helm, pelindung badan, pentungan serta tameng. Mereka bagai membentuk sebuah benteng yang melemparkan aura kekuatan.
Dalam udara yang memanas, kerumunan semakin gerah. Tiba-tiba saja terjadi gelombang desakan, seperti ombak yang kuat menggoyang tubuh-tubuh itu. Dari langit meluncur semprotan air. Ombak massa semakin bergelombang, kemudian pecah secara mendadak oleh gas air mata. Asap memedihkan membuat kalang kabut, semua menghindar. Lelaki tua itu bingung dalam kekacauan. Si anak terpisah dari genggamannya. Terjadi saling lempar dan pukul. Aparat mendekat pada massa, massa mendekat pada aparat, di antara mereka lelaki tua itu tengah dibalut dalam gas, matanya menutup wajah-wajah, perih meneteskan air mata.
Pentungan memukul, menyasarnya. Ia jatuh tak sadarkan diri. Darah mengalir dari tempurung kepalanya. Langit remang-remang. Udara pekat oleh gas. Warna bendera yang luntur, warna kekosongan yang sempurna.
Keributan itu berlangsung hebat. Saling adu kemarahan. Si anak dalam keterjebakan kerumunan, mencari-cari si bapak. Terjadi beberapa pukulan, tendangan, ia kena dan rebah di aspal jalan. Matanya kunang-kunang, ia melihat ayahnya pulang menuju rumah. Ia bimbang.
***
Petang tiba. Semua dibersihkan. Termasuk bekas-bekas botol, batu, pecahan-pecahan lainnya. Bekas bendera dan bakaran ban mobil. Tampak beberapa kendaraan tumbang di jalan, kacanya pecah. Ada yang terbakar habis sebelum sempat menyetor bunyi ledakan yang mengagetkan.
Beberapa orang sudah diamankan. Baik yang masih bertenaga atau yang sudah terkapar. Di TV siaran kabar susul-menyusul. Bagaimana nasib lelaki tua dan anaknya tersebut?
Lelaki tua itu dikabarkan telah meninggal. Jenazahnya masih dalam pemeriksaan, perlu diotopsi. Keterangan lebih jauh, meninggalnya disebabkan oleh pukulan benda tumpul. Belum pasti siapa yang melontarkan pukulan, ia berada antara massa dan aparat. Si anak juga terluka, masih tak sadarkan diri. Ia sudah mendengar kabar buruk itu. Ia ingat sebelum sampai di lokasi demonstrasi, ayahnya cerita tentang mimpinya yang aneh beberapa malam berturut-turut. Aktivis lain menuntut adanya pengusutan atas kasus pemukulan yang sampai menimbulkan kematian.
Dunia ibu kota ribut ketika itu. Daerah-daerah menyusul. Hampir seperti 98, kata arwah si tua yang mengamati.
’Ayah telah tiada, aku terluka di keramaian demonstrasi itu. Apakah masih akan ada… harapan… atau hanya… titik. Aku ingat mimpi ayah yang itu, aneh, tapi terjadi.’
Udara di rumah sakit begitu adem. Masih tenang jenazah itu terbujur, walau sedang dalam penyelidikan lebih lanjut. Kematian… masih mungkin… mengintai di seberang jalan.
Si anak begitu lelah, ia tertidur dan bermimpi bertemu ayahnya, di rumah. Ayahnya berkata padanya, ’jika nanti tiba-tiba ayah mati kena pukulan, kamu siap-siap membacakan tuntutan para demonstran, ya…’
Jam hening.
September, 2020
***
Khanafi, lahir di Banyumas, Jawa Tengah, pada 4 Maret 1995. Tulisan-tulisannya berupa puisi, cerpen, dan esai tersiar di beberapa media massa, baik situs daring maupun cetak, seperti Detik.com, Linikini.id, Tembi.net, Litera.co.id, Sastra Biem.co, Koran Tempo, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Radar Banyuwangi, Radar Banyumas, Budaya Fajar, Pos Bali, serta terikut dalam berbagai buku antologi puisi. Beberapa puisinya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Perancis. Penulis berkhidmat di Forum Penyair Solitude. Sehari-hari bekerja sebagai editor lepas. Sekarang penulis tinggal di Purwokerto dan tengah merampungkan buku kumpulan puisinya. Penulis bisa dihubungi melalui e-mail: afisaja043@gmail.com
sumber : kompas.id, 04 Feb 2021.