Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Lumpur Kuala Lumpur oleh Triyanto Triwikromo

Posted on Ming, 15 Mei 2005

Siapa pun boleh menari, untukmu Gusti. Tapi tak seorang pun boleh menceritakan gerimis-Mu yang menghanyutkan kisah-kisah orang-orang yang teraniaya di penjara-penjara penuh kalajengking dan lipan itu. Maka, dengarkanlah ceritaku, Gusti. Dengarkanlah lengking mataku yang kehabisan sungai dan embun sejuk itu.

Ayat-ayat Sunyi Ramli

Mengapa masih kau cari Kresna di ujung rambutmu, Ramli? Bukankah teriakan Kumar Kundu dalam lagu-lagu pedih itu tak juga bisa menghentikan kereta perang yang melesat ke ujung malam dan pekat darahmu? Bayangkan saja Kresna telah mati, sehingga kau tak perlu lagi menari di pantai, memedihkan mata dengan getir pasir, mencari surga yang tak pernah diciptakan di telapak kaki, dan membaca sutra-ayat-ayat suci yang perih itu-dengan telinga yang disumbat derita.

Memang biola Naranjan Bival telah menidurkan Kuala Lumpur. Namun Kresna tak bisa bermimpi tentang Sungai Buloh tanpa penjara, tanpa cambukan. Kresna akan selalu menghapus jejak cinta dan menatah candi penuh tumbal dan kesengsaraan. Karena itu, dengarlah lengking seruling Abhiram Nanda yang mengembuskan tangis indah Arjuna. Bersekutulah dengan tarianmu sendiri, karena Kresna telah mati dan Kurusetra tak melahirkan pahlawan lagi.

“Tapi Tuhan tak pernah mati!” katamu tersedu-sedu.

Ya, tapi keretanya telah remuk. Ia tak bisa mengamuk. Tak bisa mengutuk.

“Aku hanya ingin mencari jejak-Nya.”

Ia tak lagi punya jejak. Jika tak percaya, bertanyalah pada Guru Dhaneswar Swain tentang kaki-kaki yang dipatahkan, kepala yang dilindas truk, dan malam yang kehilangan rembulan.

“Kalau begitu aku akan mendengarkan tangis-Nya.”

Ia tak bisa lagi menangis. Chakraborty telah menyalib tubuh Kresna di tengah kota. Dengan petikan sitar gaib, dia telah menusukkan segala kepedihan orang-orang miskin ke lambung Kresna yang senantiasa menganga.

“O, darah yang terus mengucur, di mana dikuburkan mata kebenaran?”

Tak di mana-mana, Ramli. Tak di mana-mana.

“Tak di mata yang menyimpan surga.”

Tak di mata yang menciptakan surga. Maka, mengapa masih kauburu Kresna sampai di ujung matamu, Ramli?

Kopi Terakhir Lukman

“Ini mungkin kopi terakhir sebelum cambuk dan nyamuk membunuhku. Ini mungkin senja terakhir setelah mereka merubuhkan bedeng dan menghancurkan keberanianku.’’

Dan kopi atau topi-mungkin dengan sebatang rokok-bisa menerbangkan Lukman ke surga, ke jalanan becek bertabur roti, ke got becek untuk mandi, ke gaji yang terhapus dari catatan yang terbuang di selokan.

“Aku hanya minta segelas air dan seembus kemungkinan untuk hidup. Aku hanya berharap mereka mengerti kami juga bisa jadi gelombang yang merubuhkan jembatan dan kondominium.”

Kamu cuma budak haram, Lukman.

“Ya, aku memang cuma budak haram. Tapi bayangan tubuhku pun tak layak dipenjara hanya karena pasporku hanyut di sungai. Hanya karena pasar tak bisa memajang bekas cambukan pantat di etalase-etalase toko, di keriuhan stasiun kereta pukul delapan. Hanya…”

Maka, pulanglah ke negeri ibumu, Lukman. Negeri Ludruk sarat tawa semalaman. Negeri Celurit penuh darah dan pertikaian. Negeri Ilusi tak sepi duri dan impian.

“Ya, aku akan pulang. Aku bilang pada Yeni Abdurrahman di desaku sungai menjalar seperti ular. Tapi tunggu dulu! Jevander Sing-tauke Keling itu-masih berutang padaku. Ringgitku masih disimpan di laci busuk para juragan.”

Ya, tetapi segera pulanglah. Nanti kamu dipenjara. Nanti kamu didenda. Nanti kamu dicambuk algojo dan para tuan.

“Mereka tak akan berani mencambuk aku dan 800.000 budak haram.”

Mereka akan berani dan tak peduli kau anak setan atau malaikat Tuhan.

“Mereka tak punya algojo. Mereka hanya punya ringgit dan telepon genggam. Mereka hanya berani menggertak orang-orang miskin yang cuma bisa tidur di bedeng-bedeng penuh lipan.”

Tentu kau boleh punya keberanian seperti Hang Tuah, Lukman. Tapi di negeri ini kau hanya semut di lubang yang gelap. Kau hanya cacing yang banyak cakap dan tak tahu undang-undang. Ayolah, Lukman, segeralah pulang.

“Pulang? Ke mana harus pulang kalau utang masih segudang?”

Pulang ke rumah ibumu, Sayang.

“Ibu? Ibuku telah mati. Kalaupun masih hidup, ia akan mencekikku karena pulang tak membawa keranjang penuh gobang.”

Kalau begitu pulanglah ke matamu sendiri, Sayang.

“Ke gua gelap itu?”

Ya, ke sungai keruh itu?

“Ke harapan yang menghilang pelan-pelan?”

Ya, ke kopi terakhirmu. Ke puntung-puntung rokok yang tak habis-habis kauisap itu.

“Setelah itu…”

Setelah itu Tuhan akan memejamkan matamu, menguburmu dengan bunga mimpi. Menguburmu dalam haribaan ibumu yang senantiasa memaknaimu sebagai nabi sejati.

“Kalau begitu aku tak mau pulang.”

Kau tak takut pada cambuk itu?

“Aku tak takut pada maut itu. Aku tak takut pada kabut yang menghalang pandanganku pada hidup yang carut-marut itu.”

Begitulah Cara Waktu Mengaduh, Rahma

Begitulah cara Waktu menyembunyikan kilau mata yang bisa membakar masjid-masjid di Kuala Lumpur sekadar menjadi abu sekadar menjadi ngilu, Rahma. Karena itu, ia menyelimuti tubuhmu dengan dedahan asam di Rimbun Dahan. Ia biarkan kau menari di taman penuh Sedap Malam. Ia biarkan kau mengguratkan kata-kata getir di hening anyelir.

“Aku tak mengerti mengapa mereka begitu membenci tubuh perempuan? Aku tak mengerti mengapa para perempuan hanya disembunyikan di almari atau dipingit di dapur atau halaman belakang? Mengapa keindahan harus disembunyikan?” katamu sambil mengajakku memahami bahasa hujan dan menyingkirkan cambukan petir dari rambut yang kian menguban.

Tentu keindahan tak harus disembunyikan, Rahma. Kau tentu bisa telanjang di tengah hutan, telentang sambil membentangkan sepasang tangan dalam kegaiban hujan, dan mendesahkan doa-doa paling kasmaran. Kau tentu bisa menjelma ikan, menyelam di hijau danau sambil mendesiskan gumam-gumam paling urakan. Tapi tidak di jalan-jalan penuh kosmetik, Rahma. Tidak di jalan-jalan.

“Tidak di keriuhan?”

Ya. Tidak di benak orang-orang yang menganggap seribu masjid bisa menerbangkan jiwamu ke surga idaman. Tidak di benak orang-orang yang menganggap tak ada surga bagi perempuan yang suka menari dan mendendangkan segala tembang di jalan-jalan.

“Aku harus menari di dasar kolam?” Tentu tidak, Rahma. Kau tahu bukan Redana, Pangeran Kelelawar itu, lebih ingin menatapmu menarikan berahi malam di pucuk gunung. “Apakah aku harus ngelindur di ranjang setan?” Tentu tidak, Rahma. Kau tahu bukan Romo Sindu, Padri Minohek itu, tak suka melihatmu tidur sambil menenggak anggur. “Apakah aku harus cuma meniti sepi mencari bayang-bayang matahari yang tak mati-mati?” Tentu tidak, Rahma. Kau tahu bukan Harry Roesli telah pergi dan kita hanya menangkap jejak tanpa bunyi.

“Kalau begitu kota ini sungguh sialan.” Ya, kota ini memang sialan. Ia bukan cermin yang memantulkan tarian belantaramu yang penuh siul murai. Ia bukan langit yang menumpahkan hujan cintamu yang penuh salju dan hutan gaib itu.

“Jadi mengapa aku tak pergi saja dari kota munafik ini?” Kau tak akan pernah bisa pergi karena kau tak pernah pulang, Rahma. Kau telah menyerupai Waktu yang melampau di batu-batu. Kau telah menyerupai batu yang melesat ke bianglala esok yang kabur dan berdebu.

Maka begitulah cara Waktu mengaduh, Rahma. Ia menangis dalam gerimis. Ia ngelindur di Kuala Lumpur yang abai pada tubuhmu yang berlumur anggur. Tetapi, aku tahu, Rahma. Kau tak akan akan peduli amuk waktu atau apa pun yang hendak memelukmu di senja yang getir itu. Kau akan terus menari dan mengguratkan api ke ujung api, ke ujung mati.

Bukan di Kurusetra, Kunti, Bukan di Kurusetra

Bukan di Kurusetra, Kunti. Tetapi mereka hendak dibunuh juga.

Bukan di padang pembantaian, Kunti. Tetapi mereka hendak dijagal juga.

“Jangan lari. Kami polisi!” mereka menyalak seperti Rahwana, Kunti, mereka melenguh seperti kerbau api.

“Namaku Petro Sale, 37 tahun, aku hanya ingin menegakkan sepasang kaki, aku hanya ingin mereguk gelegak cinta pada ilusi kendi. Aku hanya…” Dor!

“Namaku Guspar Hasan, 23 tahun, aku hanya ingin tidur dan menjaring mimpi, aku hanya ingin bersembunyi setelah tak bisa kembali ke rumah sendiri. Aku hanya…” Dor!

“Namaku Markus Taji, 25 tahun, aku hanya membawa tikar menuju belukar. Aku tinggalkan bedeng karena takut pada razia yang mengerikan. Aku hanya…” Dor!

“Namaku Remi Guis. Aku…” Dor!

Lalu kau pun tahu, Kunti, hospital menolak menyembuhkan luka dan sakit hati. Tak ada obat. Tak ada kiblat untuk cari selamat dan harga diri.

“Halo, kami polisi dan kalian cuma maling yang tak tahu diri.”

Danau Gaduh Hijjaz Kasturi

Telah kauciptakan hutan dan danau gaduh untuk Angela, ya Kasturi. Lalu kaulepaskan angsa, buaya, musang, tikus, ular, dan kisah sepasang nabi yang tak henti-henti mempercakapkan mimpi, kuldi, dan keheningan setelah Selangor memolek diri dalam ilusi.

“Aku mencintai Hang Tuah, Soekarno, dan pagi yang selalu meneriakkan revolusi,” katamu sambil menawariku mencecap kopi dan kue cina serupa roti komuni.

“Dan aku sedang tersesat di rumahmu yang indah sambil sesekali mencari pekerja-pekerja Indonesia yang tersakiti. Sayang, revolusi telah patah, Soekarno kehilangan tuah, dan kita belum menemukan korek api untuk menyalakan lilin ulang tahun Angela,” kataku sambil membaca wajah pengantin Australiamu yang gaib dan sarat tanda itu.

“Aku tak pernah menyakiti apa pun yang kauandaikan sebagai budak. Sebab di hadapan Sang Waktu, kita adalah budak yang tak punya malu. Oke, kita juga tak punya korek api dan Angela tetap saja mengaku bahagia.”

“Ah, kau keliru, Hijazz, dia tampak bahagia karena memang tak punya kesempatan untuk menangis.”

“Ya, kalau dia menangis, danau akan gaduh, burung-burung terbang ke langit entah, dan kita akan kesepian.’’

“Kita kesepian karena kita tak hadir di taman ini sebagai sepasang nabi atas sepasang ikan tanpa sirip. Kita kesepian karena kita cuma hidup seperti kodok,” kataku mengolok-olok, “kita cuma eng-krok, eng-krok, krok, krok, krok.”

“Aha! Aku suka metaforamu, kita memang kodok. Melompat dari waktu batu ke waktu yang terpeleset ke liang luka kau dan lukaku. Ya, kita memang bahagia, tua, dan selalu mereguk tuah cinta dari gelas kencana,” tiba-tiba Angela menyela.

“Jadi, kenapa harus bersedih?” Hijazz bertanya.

“Aku sedih karena tak punya taman dan sepasang nabi bersayap cinta. Aku sedih karena aku cuma musafir kikir yang kehilangan rasa getir. Jadi, bagaimana mungkin aku bisa bahagia?’’

Lalu bayangan menyerupai sepasang nabi mendadak menggaduhkan danau dengan mengepakkan sirip yang menyala. “Lihat Hijazz, itu aku dan engkau. Bukan kisah maya sepasang nabi yang diciptakan secara serampangan dan tergesa-gesa.”

Aneh, aku pun tersihir menatap Hijazz-Angela, suami-istri yang kian merenta itu. Mereka sungguh seperti sepasang ikan yang mahir menceritakan kisah sepasang nabi yang tak pernah diasingkan dari surga. Mungkin mereka memang malaikat yang menjelma sebagai sepasang kekasih yang tak pernah bersedih meski gerimis kian mendera.

Hikayat Ambalat

Kita masih bercinta di hotel penuh vampir ketika kapal-kapal di Karang Unarang saling menggertak dan melepaskan amarah agung, Cintaku. Ciuman memang bikin mata kehilangan mata. Karena itu, liurmu lebih ingin kurampok ketimbang kugenggam lautmu di sela-sela jemari yang bocor. Apakah kau ingin mendesiskan juga desah-desah sampah sebelum kapal-kapal itu saling membakar diri, Kekasihku. Apakah kau ingin kita juga bercinta dengan liar di mercusuar itu?

Gusti, semua ternyata hanya lumpur. Lumpur-Mu. Dan Kau tahu, mataku yang lamur tak bisa menceritakan kisah sedih yang membius-Mu itu.

Kuala Lumpur-Selangor, 2005

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme