Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Sarma oleh Soeprijadi Tomodihardjo

Posted on Ming, 08 Mei 2005

Setiap kali aku ketemu istrinya, selalu aku merasa dosa. Setiap kali merasa dosa, selalu aku sangat menyesal. Segala hal yang menyangkut pekerjaan, pindah rumah, lalu utang bank yang tak terlunasi olehnya, semua seolah salahku. Sukar aku menghindar untuk tak ketemu istrinya.

Perkenalan kami terjadi di ujung milenium, awal musim gugur terakhir, sekitar lima tahunan sudah. Seingatku ketika itu dia sudah duduk di sofa ketika aku pulang kerja, terheran-heran mendengar uluk salamnya,

“Tabik, Tuwan! Namaku Sarma.”

“O ya, sudah kudengar dari istrimu ketika dia di sini,” kataku. “Tapi kamu ini asal dari mana, kok bisa tabik tuwan segala?”

Terus terang lelaki itu mengaku, “Asalku Suriname. Kakekku Jawa.”

“Suriname? Jawa asli?”

“Oost Java,” tegasnya. “Sepertinya kita sama-sama turunan Jawa ya? Maafkan kalau aku keliru. Tapi istriku punya kesan yang sama.”

Aku segan mengaku. Mama memang Jawa, tetapi Papa Indo Belanda. Aku sendiri entah. Dulu aku pernah membenci teman sekolah, sinyo yang mengejekku anak blasteran, putih tidak, coklat tidak. Mangkak! Aku sering menangis. Di rumah Papa marah, menyebut aku pengecut. “Yang salah dia, bukan kamu. Jangan bikin malu Papa! Kamu mesti berani lawan, hantam saja mukanya!” kata Papa. Aku takut dikeroyok, tetapi aku nekat bekelai lantaran merasa terhina, juga karena takut Papa. Runyam kuhantam muka sinyo-nya. Ternyata tak ada yang membela. Pengecut semua. Kata Papa, sejak itu kulitku berubah warna: tidak mangkak! Tak kusangka, ternyata istriku Miryam Jawa asli kelahiran Moskwa. Aku baru tahu waktu pacaran, dia anak orang pelarian yang sangat terhormat, bapaknya sarjana politologi jebolan Lomonosov.

“Instingmu tajam, Sarma!” Kusanjung lelaki itu.

Sarma ketawa ngakak: “Ha-ha… Sudah kuterka. Aku banyak ketemu mereka di pasar-pasar pinggiran kota Amsterdam bila kami dolan ke sana. Tabik tuwan! Mereka tertawa kalau kusapa, padahal aku meniru bapakku.”

“Tabik itu Melayu, bukan Jawa,” jelasku. “Kamu bisa omong Jawa?”

“Tidak banyak. Paling hafal… kowe ki kuli!”

“Lho! Siapa ngajari kamu omong begitu?”

“Mandor pabrik, Belanda totok. Aku sering dengar kalau dia sedang berang. Godverdom… kowe ki kuli! Bapakku tukang besi di pabrik gula dekat Paramaribo. Aku sering kirim rantangan kalau bapak manjing, artinya kerja malam.”

Risi rasanya dengar omongan Sarma. Zaman sudah berubah. Hindia Belanda sudah ditelan masa silam. Tinggal sisa ketiplaknya dalam tatanan kolonial yang gagal bertahan di negeri bekas koloni mereka: Suriname. Miryam tak mau mengerti apa dasarnya aku merasa risi: aku tak pernah rela kehilangan darah Belandaku. Tetapi kusanjung lagi lelaki itu:

“Indonesiamu lancar, Sarma.”

“Belajar di Paramaribo,” katanya. “Gurunya pejabat konsulat, menyebut kami Janam. Jawa Surinam. Muridnya banyak. Janam semua. Bapakku bilang, suatu saat kami harus pulang ke tanah Jawa. Jadi, perlu sekali belajar bahasa. Tetapi….”

“Masih punya ilusi?”

“Aku sudah tak punya kerabat di tanah Jawa. Liona, istriku, ngajak pindah ke sini. Beberapa keluarganya sudah menetap di sini.”

“Punya izin tinggal?” usutku agak curiga, jangan-jangan pendatang gelap.

“Kami semua pilih warga negara sini sejak Suriname berdiri jadi republik sendiri. Dasar sial, sukar cari kerja di Belanda, kecuali jadi kuli, warga negara kelas tiga.”

Sarma mengoceh semaunya. Kelas satu Belanda, kelas dua anjing mereka, kelas tiga Sarma!, katanya. Aku sempat terperanjat, mengapa dia bilang begitu. Generasiku sendiri malah tak pernah. Kepada Sarma kucoba menyodorkan realitas baru yang lebih manusiawi, sesuai nalar Eropa sekarang.

“Begini, Sarma. Kita punya hak sama. Jadi majikan boleh. Buruh boleh. Kaya tidak dilarang. Miskin dapat bantuan. Semua ada aturannya. Mentalitas kota besar memang tidak pusingan. Di sana kelewat banyak manusia bersaing mati-matian cari kerja dan tempat tinggal. Kamu mesti coba di desa. Aku sendiri sejak awal mulai di desa ini.”

“Teoritis bagus,” kata Sarma. “Tetapi kenyataannya istriku sempat kecewa.”

Istrinya memang sial. Perempuan itu mengaku barusan melamar kerja di Julianapark. Ada lowongan di sana untuk tenaga wanita, tetapi mendadak ditolak dengan alasan, lowongan itu sudah diisi orang lain. Dia merasa dicampakkan begitu saja, sia-sia mengantongi kartu referensi dari Dinas Penempatan Tenaga. Kartunya amblas bersama tasnya. Dicopet orang.

“Tunggu dulu, Sarma,” kataku. “Aku tahu di kantorku ada beberapa mahasiswa mocok kerja jadi pengantar surat, tetapi sebentar lagi vakansi berakhir, mereka pasti mulai kuliah lagi. Artinya PTT masih memerlukan tenaga baru. Ini kesempatan bagus bagimu. Ayo, ajukan lamaran. Nanti aku bantu, kalau kamu mau. Kerjanya relatif ringan.”

Sarma mulai pikir-pikir, ragu tak ragu, yakin tak yakin. Tetapi bulan berikutnya dia mulai kerja di desaku, tinggal sementara di rumahku. Bulan berikutnya lagi sudah menyewa rumah sendiri dan memboyong anak-istrinya.

Menyilang lahan perhotelan nampak jalan menanjak menuju kaki bukit yang membujur dari utara ke selatan seakan empang raksasa di balik pantai yang landai. Sejak kami menghuni desa tersebut Miryam kerap membayangkan bukit panjang itu bagai ular raksasa, tidur abadi sepanjang masa. Den Helder-12 kilometer sebelah utara-adalah kepalanya, Zandvoort jauh di selatan perutnya, dan Scheveningen lebih selatan lagi, buntutnya. Julianadorp, desa kami sendiri, cuma sebintik sisik yang kadang diremehkan orang. Namun dusun kecil ini punya peran dan arti tersendiri sebagai bagian wilayah pariwisata berkat letaknya yang berdekatan dengan Julianapark, yakni lahan perhotelan yang cukup aman sepanjang sejarahnya, tak pernah terjamah gelombang pasang setinggi kincir angin yang pernah membenam desa-desa pesisir sana.

Tetapi pagi itu cuaca mendadak gelap dan kilat menjilat-jilat disusul guntur yang terdengar menggeletar. Naluri perempuan pembawaan sejak lahir membuat Miryam kuatir, jangan-jangan terjadi bencana banjir yang belakangan ini sering jadi bahan perdebatan para geolog dan meteorolog. Mereka bersensasi di televisi seolah negeri Belanda akan terhapus dari peta dunia jika tsunami terjadi dalam skala seukuran Aceh, Phuket, atau Sri Lanka. Hal yang selamanya dianggap mukal. Miryam cepat-cepat menutup pintu teras rumah yang berderak diguncang angin laut yang ribut.

Menembus kaca jendela depan Miryam menatap si hitam Sarma melangkah tergesa-gesa dengan jas dinas yang menggelepar terempas angin yang deras. Tukang pos itu barusan menyelipkan surat-surat kiriman untuk beberapa penghuni apartemen dan dengan sigap kembali hinggap di atas sadel sepedanya yang tersandar di pagar. Miryam mengayun tangan dengan sinar mata berbinar ketika Sarma melambai ke arahnya seraya meneriakkan berita gembira: “Surat dari Indonesia, Mevrouw!”

Berita gembira! Miryam ikut merasakan, dari hari ke hari, dari tahun ke tahun, lelaki itu telah merebut hati warga Desa Julianadorp karena jasa dan kebiasaan khasnya yang jenaka. Selalu dia serukan satu kata panjang berbunyi namanya sendiri bila dia menyelipkan surat-surat kiriman…: “Sarrrmaaa…!” Suara yang selalu membuat para penerima surat merasa senang, bahkan sebelum tahu dari siapa, apa pula isinya.

Sudah pasti ada makna tersendiri bila Sarma melontarkan lebih dari satu kata berirama seperti yang didengar Miryam: “Surat dari Jakarta, Mevrouw!” Serasa nyanyian keakraban yang menggema dari rasa terima kasih di masa silam ketika istri Sarma pertama kali datang di Julianadorp. Kabut gelap mengendap rata di kaki bukit hingga dataran rendah seluas mata memandang ketika Miryam baru saja meninggalkan Zusteran, mengikuti kursus rutin para calon ibu sekali seminggu. Dia tak punya rencana beli apa pun kecuali merasa seolah perlu singgah di Alberthein hanya karena kebiasaan saja. Dilihatnya para pelayan sudah mulai berkemas memindahkan beberapa papan reklame barang-barang dagangan dari luar pintu ke dalam toko mereka pada menit-menit terakhir menjelang pulang. Pembeli yang baru datang agaknya tak lagi dilayani. Mereka segera meninggalkannya. Tetapi Miryam merasa ada tangan-tangan gaib yang sengaja membelokkan setang sepedanya menuju ke toko itu. Dia menurut saja tanpa sengaja. Kehendak Allah? Entahlah.

Angin dingin mendesing mengiris daun telinga, mengisyaratkan kedatangan musim gugur ketika Miryam turun dari sepeda dan menuntunnya membelok ke halaman toko Alberthein. Sebuah suara perempuan menghentikan langkahnya.

“Maafkan Mevrouw, di mana saya bisa menunggu beberapa jam saja di desa ini?”

Dalam gelimang kabut yang menggenang di pedesaan, samar-samar Miryam menatap sosok seorang perempuan kedinginan, menggigil sambil mendekap anaknya, berdiri di bawah atap pemberhentian bis. Hari sudah sepi. Beberapa pembeli terakhir yang meninggalkan toko itu lewat dengan sangat tergesa-gesa seperti diburu waktu tanpa peduli perempuan yang barangkali mereka sangka gelandangan dan tak perlu diurusi. Namun di mata Miryam tak ada bedanya apakah dia perempuan gelandangan atau perempuan rumah tangga biasa seperti dirinya. Dia sangat membutuhkan uluran tangan. Miryam mendekatinya.

“Di mana Anda tinggal?”

“Di Alkmaar, Mevrouw. Mana bisa jalan kaki ke sana. Lima puluh kilometer kira-kira.”

“Masih ada bis lagi. Dua jam sekali kalau tak salah.”

“Ya Mevrouw, tetapi….”

Miryam ragu, apakah dia benar-benar sedang telantar, atau cuma memancing belas kasihan. Miryam mengamati jarum arloji. Tetapi perempuan itu mendahului.

“Sekarang hampir jam enam, Mevrouw. Bis jurusan Alkmaar baru datang setengah jam lagi. Tetapi saya kehilangan tas. Baru saja saya letakkan di bangku situ, tahu-tahu sudah tak ada. Dompet dan surat-surat ikut lenyap bersama tasnya.”

“Oh! Ada orang lain di sini tadi?”

“Cuma beberapa orang. Mereka naik jurusan utara, tentunya Den Helder. Saya terlena waktu menyusui anak saya.”

Betapa sial. Tangannya menggenggam botol sedotan susu yang tak lagi berisi. Miryam yakin, pasti bukan penipu atau orang gelandangan. Kentara pada cara dia berbicara, pada pakaian yang melekat di tubuhnya, bahkan pada jam tangannya. Namun tanpa uluran tangan barangkali dia akan telantar bagai segumpal gombal tak berdaya bersama anaknya, sampai seseorang sedia menolongnya. Tetapi siapa? Miryam runtuh belas kasihnya.

“O, Anda benar-benar sial. Sayang saya tidak bawa cukup uang. Tapi rumah saya dekat saja. Kalau Anda mau….”

“Terima kasih Mevrouw, tetapi bukan itu maksud saya. Saya cuma perlu menelepon suami saya, mungkin bisa jemput, asal tahu saya di mana.”

“Ayolah, Anda bisa menelepon dari rumah saya,” saran Miryam. “Lupakan saja tas itu. Copet tak mudah dicegah kecuali tertangkap basah. Tetapi Anda perlu lapor polisi supaya diberi surat tanda kehilangan. Bisa saya antar ke sana. Saya saksinya.”

“Terima kasih, Mevrouw. Semoga Allah Sang Pengasih sudi membalas budi hamba sahaya-Nya.”

Perempuan itu cepat-cepat merapatkan kain penutup kepala anaknya, beranjak meninggalkan halte bis bersama juru selamatnya.

AKU kaget waktu membuka pintu. Baru saja pulang kerja, kulihat perempuan tak dikenal sedang menelepon, anaknya merengek di gendongan tetapi mendadak diam karena takut dan terkejut.

“Maafkan, saya datang bersama Mevrouw,” hormatnya.

“O, silakan teruskan,” saranku seraya melangkah ke belakang.

Miryam sedang menjerang susu di dapur ketika kutegur,

“Ada tamu rupanya ya? Siapa?”

“Ssst. Aku sendiri baru kenal. Kebetulan ketemu di Alberthein.”

“Lho, kok lantas ada di sini?”

“Aku yang ngajak. Kasihan tak bisa pulang. Rumahnya di Alkmaar, kehilangan tas waktu menunggu bis.”

Aku membelalak, menandaskan kecurigaan.

“Miryam!” bisikku. “Kaukira bisa dipercaya? Kebetulan aku segera datang. Kalau tidak, barangkali kamu terjebak. Siapa tahu….”

“Albert!” cetus istriku. “Kamu mesti percaya. Dia sudah lapor polisi. Aku sukarela jadi saksinya. Dia cuma perlu menelepon, mungkin bisa dijemput suaminya malam ini.”

“Kok cuma mungkin. Kalau tak bisa bagaimana?”

“Menurutmu bagaimana? Kalau niatnya menolong, apa salahnya jika dia terpaksa menginap?”

“Yang repot kamu sendiri. Perlu masak, menyiapkan makan malam, mengatur tempat tidur. Belum lagi sarapan pagi. Banyak kerja kan?”

“Soal kecil, ah! Mengapa diperdebatkan?”

“Aku mengingat tenagamu, Miryam. Zuster Lammers bilang, jangan terlalu lelah. Sekarang sudah lima bulan. Mesti hati-hati.”

“Masih ada yang kaulupa, Albert!”

“Apa?”

“Sudah beberapa kali kita hadir bersama dalam kursus bimbingan para calon ibu. Zuster bilang, kita perlu mendidik anak sejak dini, jauh sebelum lahir. Bertuturkatalah seramahnya. Bernyanyi selembutnya. Bersikap sejujurnya. Berbuat seadilnya. Berkasih sayang sesamanya. Anakmu sudah mulai belajar apa saja dari ibunya, justru saat dia masih berada dalam kandungan. Pitutur berharga yang kini sudah jarang digubris orang.”

Aku mendebat sekenanya, “Jangan lupa Miryam, anak pun perlu mengerti kesulitan orangtuanya bukan?”

Aku merasa lega, perempuan itu ternyata tak berniat menginap, padahal suaminya gagal pinjam mobil ipar buat menjemputnya. Aku mengantarnya mengejar bis terakhir jurusan Alkmaar. Tetapi aku tetap tidak percaya. Di rumah kubilang pada istriku, “Kukira kamu sudah tertipu, Miryam. Dua puluh lima gulden! Belum tentu dia kembalikan.”

Miryam diam. Namun malam itu juga perempuan itu menelepon, mengucapkan terima kasih. Suaminya berjanji mengunjungi kami di akhir minggu. Dialah Sarma, tukang pos kesayangan warga Desa Julianadorp.

“SURAT dari Jakarta, Albert!”

Aku masih berdiri di depan jendela, menatap pucuk-pucuk pepohonan yang meliuk-liuk kena terjang angin kencang. Alangkah setia lelaki itu memikul tugasnya sejak enam tahun dibenum. Rumah tangganya lumayan, mulai mapan. Anaknya sudah sekolah, setahun di atas kelas Johanna, anakku. Namun sewa rumahnya mahal. Aku memberi saran pada Sarma, sebaiknya pindah saja, lebih baik lagi kalau bisa beli rumah sendiri. Kredit uang di bank bisa diurus, syaratnya mudah yaitu punya penghasilan tetap. Utang bisa dilunaskan dengan angsuran paling lama 15 tahun, angsuran bersama bunganya tiap bulan tak lebih tinggi dari sewa rumahnya sekarang. Dibanding jumlah uang sewa selama 15 tahun, jatuhnya kira-kira sama, sedang rumah itu jadi milik sendiri. Itu untungnya. Itu pula pengalamanku ketika beli rumah di desa. Sarma agak lama berpikir. Tetapi tiga bulan kemudian benar-benar beli rumah sendiri.

Suara Sarma masih menggema di telingaku. Kujentik pipi Johanna anak gadisku yang bergoyang di atas punggung kuda kayunya,

“Mama bilang ke mana, sayang?”

“Mama pergi beli susu sama mentega.”

“Bawa payung ya?”

“Eemmm… ”

Aku cuma geleng kepala, menggapai gorden sepen. Beberapa buah payung tersandar pada jagragnya. Lengkap. Miryam pasti terlupa.

Satu jam lebih aku menunggu istriku. Selama itu sudah dua kali kudengar bel ponsel menyentak-nyentak di atas rak. Lagi-lagi bos kantor pos mencari Sarma. Untuk apa, aku segan tanya. Aku cukup paham dari pengalaman, panggilan mendadak selalu berarti overwerk, kerja lembur di hari libur. Untuk urusan satu ini aku tahu, Sarma segan menolak, tak pernah bisa bilang tidak. Tapi mengapa bosnya tidak langsung saja menelepon rumahnya! Dengan segala akal, majikan tak pernah segan-segan memanfaatkan kelemahannya: si A sakit kek, si B perlop kek. Aku lontarkan alasan singkat, cukup hormat, sopan dan juga apa adanya, “Ik weet het niet, Meneer!””: aku tak tahu.

Aku enggan menelepon istrinya. Sebagai istri dia sungguh tak suka suaminya kerja lembur di hari libur. Sekali dituruti, bisa dipastikan sang majikan bakal mengulang dan mengulang lagi, mendesak-desak orang bawahan supaya kerja lembur, karena jauh lebih murah ketimbang mengangkat tenaga baru buat sekian banyak pekerjaan yang menumpuk. Ujung-ujungnya terang menggaruk laba dengan cara merampas hak orang bawahan memenuhi tugas keluarganya di waktu senggang. Lain tidak.

Hujan lebat. Kilat-kilat api melecut-lecut bagai cemeti. Cuaca yang selalu sukar diramal. Dua buah truk pompa dengan belalai pipa melintas laju dengan keloneng bertalu-talu menuju Julianapark. Aku kuatir ada bencana banjir, padahal Miryam sudah satu jam belum pulang. Kukejar bunyi telepon ketika terdengar tiba-tiba. Miryam di seberang sana.

“Albert! Aku masih di sini, dekat kantormu.”

“Miryam! Kamu lupa payungmu. Tunggu hingga hujan reda!”

“Tentu saja, Albert. Tetapi Sarma….”

“Lho! Nglembur lagi dia ya?”

“Aku tak tahu. Tapi ada kecelakaan di sini.”

“Situ banjir?”

“Dengar dulu, Albert! Ada tukang pos ketabrak truk pompa. Aku kuatir Sarma, siapa lagi? Tapi jangan dulu nelepon istrinya. Orangnya belum jelas.”

“O God! Masak tak nampak? Lihat dululah.”

“Orangnya sedang dirawat dalam mobil ambulans, banyak yang lihat. Aku cuma lihat kantong surat dan sepeda yang berantakan di jalan. Oh oh, Albert! Sekarang dia dilarikan, ya ya… mobilnya jalan. Kukira arah utara, tentunya rumah sakit Den Helder.”

“Miryam! Tanyakan kiri-kanan.”

Setiap kali aku ketemu istrimya, selalu aku merasa dosa. Setiap kali merasa dosa, selalu aku sangat menyesal. Seolah semua salah. Karena akulah Sarma kerja di desa. Karena akulah dia pindah rumah. Karena aku pula dia beli rumah dengan utang bank. Sekarang istrinya janda, ditinggal Sarma yang meninggal di rumah sakit Den Helder. Utangnya tak pernah lunas. Rumahnya akan dilelang. *

Paran, April 2005

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme