Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Perjalanan ke Kota Angin oleh Ni Komang Ariani

Posted on Ming, 10 Okt 2021

Aku masih ingat pada suatu malam, ketika istriku menghilang dari sisi pembaringan. Aku memandangi sebuah sisi yang selalu ia tiduri selama lima tahun terakhir. Dari tempat itu ia merangkulku tiap malam. Memijit leherku yang pegal. Aku masih ingat tawanya ketika aku membuat guyonan.

—

ANEH, hari ini, sisi tempat tidur itu demikian rapi. Aku mencoba menghirup bekas keringat istriku di sana, namun tidak ada. Hanya aroma sabun cuci yang tercium keras. Tidak ada bekas kusut sedikit pun. Seperti sudah bertahun-tahun tidak tersentuh manusia. Padahal, semalam ia masih ada di sana. Apa yang terjadi?

Istriku ngambek. Pulang kampung dia. Jelasku tanpa diminta kepada Man, tetangga kontrakanku. Ia hanya tersenyum kecil. Seperti menyiratkan sesuatu.

Kulanjutkan pekerjaanku seperti biasa. Berjalan dari satu kampung ke kampung lainnya. Kota demi kota. Menjinjing satu pikulan dan menawarkan orang-orang untuk memperbaiki sepatunya. Aku sendiri tidak yakin dengan tujuanku. Semakin lama, aku semakin merasa, tujuanku sebenarnya adalah untuk berjalan kaki. Sejauh-jauhnya. Selelah-lelahnya. Langkah kakiku hari demi hari yang membuat semuanya terasa normal. Aku bisa bernapas. Aku bisa tertawa dan bercanda dengan teman-teman seperjalananku.

Sungguh orang-orang kota itu tidak tahu, berapa panjangnya satu hari dan satu malam. Aku bisa menjajahi jarak sepuluh kilometer. Dan aku tidak pernah merasa lelah. Sesekali merasa lapar. Namun, rasa lapar itu tidak terlalu menggangguku. Pikiranku terus melayang ke malam ketika istriku menghilang dari sisi pembaringan. Semakin lama aku mencoba mengingatnya, semakin aku tidak yakin dengan ingatan itu.

Belakangan ini, aku sering memilih tidur di pos ojek, kemudian mandi pagi di pasar, sebelum melanjutkan perjalanan. Dalam lamunanku belakangan, aku terus mencoba memperjelas wajah istriku. Namun, entah mengapa wajah itu mengabur atau merupakan gabungan dari beberapa wajah sekaligus. Apakah aku sudah menua atau mengidap sejenis penyakit yang entah namanya ini. Entahlah. Aku tidak peduli. Aku hanya perlu terus berjalan. Sejauh-jauhnya. Selelah-lelahnya. Sampai akhir waktu.

Aku sedikit bergairah ketika orang-orang menggunjingkan seseorang berambut perak yang sering mereka temui. Mang Es Krim, Mang Penjual Sapu, Mang Siomay bergunjing tentang perempuan itu di pos ojek. Mereka mengatakan bertemu perempuan aneh berambut perak yang tidak pernah berhenti berjalan kaki, berputar-putar dari satu kampung ke kampung lainnya. Kadang berputar ke arah yang sama, kadang semakin jauh. Seolah-olah, satu-satunya jalan hidupnya adalah berjalan kaki. Tampaknya aku menemukan seorang teman sehati. Seorang teman perjalanan. Aku selalu mencari cara agar perjalanan kami dapat bersinggungan.

Jika aku hidup di zaman dunia persilatan, tentu perilaku perempuan ini bukanlah sesuatu yang aneh. Rambutnya yang putih panjang dan tidak terawat adalah ciri yang lazim saja dimiliki seorang pendekar.

Aku menanyai pendapat orang-orang mengenai perempuan ini. Konon ia menyembunyikan sepotong wajah yang cantik. Hal ini membuatku tertarik. Sesuatu yang misterius adalah umpan yang bagus untuk sebuah khayalan. Perempuan itu segera mengisi waktu-waktu ngaso-ku. Jika kami berdua hidup dalam dunia persilatan, kami tentu punya julukan yang terdengar lazim. Lalu, apa julukanku? Pemuda Pemanggul Bambu? Dunia khayal tampaknya sudah mengambil separo dari hidupku. Mungkin lebih. Semakin lama semakin terasa mengasyikkan. Aku lupa kapan terakhir merasa lapar atau merasa sedih. Sesekali aku mencoba mengingat wajah istriku. Namun, aku selalu gagal. Wajah itu telah menjadi percampuran wajah-wajah yang aku kenal. Wajah-wajah artis sinetron. Wajah mbak penjual jamu. Wajah ibu muda di dalam mobil. Semakin aku mencoba memikirkannya, kepalaku menjadi makin pusing.

***

Esok aku akan memulai perjalanan ke kota angin. Aku sudah mengemas beberapa potong bajuku ke dalam tas sedang. Aku sudah mendapatkan pesan yang kuat bahwa perjalanan ini bukanlah perjalanan piknik. Ini adalah perjalanan hidup dan mati. Kalimat itu mengiang sangat kuat. Aku tidak tahu persis siapa yang membisikkan. Aku meninggalkan bedak, pensil alis, dan lipstikku.

Aku berpamitan kepada suami dan anakku dalam pelukan yang panjang. Mereka memandangku dengan sorot mata yang aneh. Hidupku indah sebagai seorang ibu dan seorang istri. Aku tidak perlu mencari apa-apa lagi. Pergi ke kota angin sendirian adalah keputusan yang absurd. Seperti yang kukatakan, seandainya aku bisa menunda kepergianku ini sampai aku menemukan alasan yang masuk akal. Namun, aku benar-benar tidak bisa menundanya.

Beberapa orang menuduhku sedang mengalami krisis paro baya. Seseorang yang memiliki kegenitan berlebihan pada berbagai hal. Siapakah perempuan konyol yang meninggalkan keluarga mapannya untuk melakukan perjalanan gila, tanpa jelas juntrungannya.

Tapi, apa sebenarnya yang sungguh masuk akal di dunia? Apakah bekerja keras siang dan malam untuk mencari uang adalah masuk akal? Apakah menimbun harta sampai sebanyaknya sambil menunggu kematian? Atau mungkin menjadi orang terkaya di dunia? Orang paling terkenal atau paling berkuasa? Yang mana dari semua itu yang masuk akal? Yang jelas, ke sanalah orang-orang menuju. Ke sanalah mereka berlari sampai urat napas mereka terputus-putus.

Berapa banyak yang mati dalam perjalanan ke tempat kerja? Berapa banyak yang mati ketika sedang bekerja di kantor? Orang boleh memilih cara yang berbeda-beda untuk menunggu kematian. Aku memilih perjalanan ke kota angin. Kota anginlah yang menyediakan jawaban atas semua pertanyaanku. Belakangan ini kepalaku dipenuhi pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan itu sudah meninggi yang menyesaki rongga kepalaku. Berkali-kali aku muntah untuk mengurangi timbunan pertanyaan yang menempel seperti lintah di serabut otakku.

Semenjak meninggalkan rumah, aku berjalan tanpa henti. Kakiku seperti sudah tahu ke mana harus menuju. Bila malam tiba, aku akan menginap di sebuah kos harian dengan harga murah meriah. Aku melalui perkampungan demi perkampungan dalam senyap. Tak seorang pun sungguh memperhatikanku, seolah aku sudah menjadi transparan. Aku mendengarkan percakapan orang-orang, seperti waktu yang mendengarkan semuanya dengan setia.

Perjalanan ini membuat aku berteman dengan orang-orang dengan kasta terendah dalam struktur masyarakat. Para pemungut sampah, para pemulung, penjual perabotan, penjual siomay, bakso, mi ayam. Mereka adalah saksi dari orang-orang yang melesat cepat dengan keangkuhannya. Motor yang menyalak dan meliuk-meliuk. Mobil besar yang berdecit-decit. Sepeda yang mendengarkan suara kring-kring yang menjengkelkan. Semua orang ingin melaju begitu cepat dan meninggalkan para pejalan kaki sebagai pecundang; yang kalah dalam pertarungan kehidupan.

Aku? Tidak berhenti sejenak pun. Seolah berjalan kaki satu-satunya tujuan hidupku. Aku tidak bisa berhenti berjalan kaki, seperti aku tidak bisa berhenti bernapas. Sama seperti orang-orang yang tidak bisa berhenti berangkat subuh ke kantor masing-masing. Melesat dengan ojek atau kereta api. Pulang malam dengan tubuh penat, namun puas. Satu periode kehidupan telah terselesaikan. Tugas manusia hidup sudah terjalankan. Melaju bersama arus besar bernama kehidupan. Aku merasakan hal yang sama. Aku tidak pernah lagi menyentuh bedak, pensil alis, dan lipstikku. Tidak pula pernah becermin. Jika aku becermin saat ini, mungkin tidak lagi bisa mengenali diriku sendiri.

***

Perempuan berambut perak telah semakin utuh dalam ingatanku. Rambutnya panjang dan menutupi sebagian besar wajahnya yang berwarna cokelat. Aku hanya bisa menatap sepasang bola matanya yang berpijar seperti matahari. Tatapan mata yang begitu kuat, seolah ingin membakarmu habis. Namun tunggu sebentar, biarkan mata itu membentuk senyuman dan bibir itu melekuk membentuk keramahan. Kau akan merasakan nikmatnya berenang-renang dalam telaga yang teramat teduh. Kau seperti dapat mengambang di atas telaga beralas daun-daun teratai.

Aku memutuskan untuk kembali ke rumah kontrakanku. Man menatapku dengan tatapan bingung.

”Aku sudah membayari kontrakanmu. Takut kamu akan kembali. Apakah istrimu sudah pulang?” tanyanya dengan mata yang penuh arti.

”Istri? Istri yang mana? Aku sekarang mempunyai seorang pacar.”

”Ooh… Kapan aku bisa bertemu dengannya?”

”Nanti akan kuperkenalkan kamu dengannya.”

Semenjak aku kembali ke kontrakanku, aku merasa bahagia sekali. Aku bisa tidur dengan sangat nyenyak. Perempuan berambut perak itu tidur di sisi ranjang yang kosong. Kamar tidurku kembali hangat. Setiap perempuan itu pergi mandi, aku menghidu aroma keringatnya dari kasur yang kusut tertimpa tubuhnya. Sekilas muncul ingatan tentang perempuan lain yang pernah tidur di sana? Tapi siapa? Mantan pacarku? Ah sudahlah, untuk apa aku pikirkan. Yang jelas, saat ini sisi ranjang itu selalu hangat. Perempuan dengan bobot sedang mengisinya dan meninggalkan aromanya yang khas di sana. Setiap pagi aku mendengarnya bersenandung atau tertawa. Tawanya begitu riang, membuat jantungku ikut bernyanyi. Kami selalu berjalan bersama-sama. Menuju tempat-tempat yang kami rencanakan. Setiap malam kami berbincang sampai larut malam.

”Ke mana tujuan kita besok?”

”Aku sudah menemukan peta menuju kota angin.”

”Apa yang akan kita lakukan di kota angin?”

”Bercakap dengan Dewa Tertawa?”

”Apa yang kita percakapkan dengan Dewa Tertawa?”

”Ia tidak pernah bercakap-cakap. Dari waktu ke waktu ia hanya tertawa.” Kemudian kami akan tertawa terbahak-bahak. Lelah tertawa, kami berpelukan sambil saling menatap mata masing-masing. Pertautan dua pasang bola mata ini ternyata bercakap lebih banyak. Ribuan kalimat meluncur dan luruh bertebaran di atas pembaringan. Waktu berhenti dan kami mengambang di atas telaga. Bersama teratai dan ikan-ikan yang berenang dengan bahagia. (*)

—

NI KOMANG ARIANI : Penulis kelahiran Gianyar, 10 Mei 1978. Bukunya yang telah terbit adalah Lidah (2008), Senjakala (2010), Bukan Permaisuri (2012), Jas Putih (2014), Ketut Rapti (2017), Marigold (2019) dan Telikung (2020).

sumber : JAWAPOS, Minggu, 10 Oktober 2021

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme