Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Sang Penyair oleh Julius Anju

Posted on Kam, 03 Jun 2021

”Rembulan, rembulan maha indah, kumohon kembalikan kekasihku. Kumohon kembalikan cahayaku. Kumohon kembalikan malamku.”

Sang penyair menggerak-gerakkan tangannya, wajah menengadah–memelas. Ia selalu tampil di tengah bundaran kota saat malam tiba, membacakan puisi.

”Lihat dia,” seorang pemandu menjelaskan pada kumpulan turis. ”Dia dulunya penyair kerajaan. Karya-karyanya terkenal indah, membuat raja jatuh cinta pada bakatnya. Tapi suatu hari dia mengaku pada semua orang, bahwa kekasihnya telah diculik bulan. Sekarang dia hanya orang sinting di mata semua orang.”

”Ibu, ibu, sedang apa bapak itu?” seorang anak bertanya pada ibunya di dalam kereta kuda. Mereka baru saja pulang dari pesta ulang tahun.

”Ibu tidak tahu, sayang. Orang bilang dia berpuisi, tapi ibu tidak yakin apa yang seperti itu dinamakan berpuisi.”

Sepasang kekasih yang baru saja selesai bercinta, melihat ke luar jendela.

”Katakan padaku, sayang, apa kau percaya kekasih penyair itu diculik bulan?”

“Tentu. Hanya cinta yang bisa membuat seorang pria gila.”

”Apa kau juga akan gila jika aku diculik?”

”Ha-ha-ha. Tentu saja!”

***

Jika siang, sang penyair akan membacakan puisi tentang pahlawan, dewa, atau sang raja. Demi sekeping uang. Jika malam hari, ia membacakan puisi pada rembulan. Mula-mula mendapat uang, sekarang tidak lagi.

Di bundaran kota orang-orang lalu-lalang. Tak jarang juga raja lewat. Malam atau siang. Raja selalu menyuruh kereta berhenti sejenak di sana. Ia ingin melihat mantan sahabatnya itu.

”Kenapa tidak ada orang mendengarkanmu, wahai sahabatku?” Raja baru saja turun dari kereta. Ia melihat bercak buah busuk di baju sang penyair. ”Apa-apaan itu? Pengawal! Pengawal! Cari orang yang berani melemparkan buah busuk itu pada sahabatku, lalu masukkan ke penjara berisi buah busuk!”

”Tapi Yang Mulia, sebentar lagi Anda harus bertemu raja dari negeri seberang,” jawab penasihat kerajaan. ”Anda butuh pengawal-pengawal ini selama perjalanan.”

”Kalau begitu kau yang harus pergi dan mencari orang yang berani melemparkan buah busuk pada sahabatku.”

”Saya juga harus ikut bersama Anda, Yang Mulia. Tanpa saya, kerajaan ini mungkin hancur.”

”Mungkin. Tapi tanpa aku kerajaan kita pasti hancur. Sekarang cari orang itu!”

Apa-apaan itu? Pengawal! Pengawal! Cari orang yang berani melemparkan buah busuk itu pada sahabatku, lalu masukkan ke penjara berisi buah busuk!

Penasihat raja ditinggalkan di sana. Ia bertugas mencari orang yang melemparkan buah busuk pada sang penyair selama raja menemui raja dari kerajaan seberang. Ia bertanya pada seorang tunawisma yang tertidur di pinggir bundaran, di bawah kanopi sebuah toko kelontong yang bangkrut.

”Bangun! Bangun! Aku adalah penasihat kerajaan. Katakan padaku, siapa yang melempar buah busuk pada penyair gila itu?”

”Bagaimana aku tahu? Aku menghabiskan setengah hariku tertidur di sini. Mau panas atau dingin, mau dilempari buah busuk atau batu kerikil, aku tertidur di sini dan tidak ada yang akan peduli. Aku cukup malas memperhatikan orang lain selama aku dalam kondisi seperti ini.”

Penasihat kerajaan memasuki bar yang selalu penuh di sudut bundaran. Semua orang berpaling begitu ia masuk.

”Aku adalah penasihat kerajaan. Siapa pun yang melemparkan buah busuk pada penyair gila di luar, mengakulah sebelum terlambat! Raja selalu menghargai orang yang siap menanggungjawabi perbuatannya!”

”Siapa orang sinting itu?” Salah seorang pemabuk bertanya pada pemabuk lain.

”Katanya dia penasihat kerajaan.”

”Jadi?”

”Dia mencari orang yang melempar buah busuk pada penyair gila di luar.”

”Apa ada hadiahnya?”

”Entahlah. Katanya, raja yang menyuruhnya.”

Pemilik bar mendatangi penasihat kerajaan. ”Tuan, sepertinya Anda tidak akan menemukan orang yang Anda cari di sini. Semua orang di sini sedang mabuk, mereka takkan ingat apa yang tuan katakan dalam lima menit.”

”Tunggu, Nyonya, akulah orangnya!”

Penasihat kerajaan dan pemilik bar terperanjat. Laki-laki tambun wajah merah padam berjalan sempoyongan ke tengah-tengah mereka. ”Apa kau yang melemparkan buah busuk pada penyair gila di luar?”

”Buah busuk apa? Bukannya kau bilang raja sedang mencari seseorang? Aku sedang menganggur. Begini-begini, aku seorang pekerja keras!”

Penasihat kerajaan langsung keluar dari bar. Ia bingung ingin bertanya pada siapa lagi. Ia sudah bertanya pada penjual roti. Jawabannya, ”Pastinya bukan aku. Kalau yang dilemparkan itu roti busuk baru tanya padaku. Atau tuan ingin memesan roti untuk kerajaan?”

Ia juga bertanya pada sepasang suami istri yang baru saja lewat dari hadapannya. ”Aku tidak tahu! Mengawasi satu orang gila saja sudah cukup menguras tenaga.”

”Tuan, jangan dengarkan dia, aku tidak gila. Aku bekerja di barak kerajaan. Tapi sungguh, kami tidak tahu, tuan.”

Dengan putus asa, penasihat kerajaan bertanya pada gadis kecil penjual korek.

”Gadis kecil, aku adalah penasihat kerajaan. Raja ingin tahu, siapa yang sudah melempar buah busuk pada penyair itu? Apa kau tahu?”

”Apa tuan mau membeli korek yang aku jual?”

”Tidak, aku bertanya apa kau tahu siapa yang melempar buah busuk pada penyair itu.”

”Kalau begitu aku tidak tahu, tuan.”

”Baiklah, berikan satu padaku.”

”Nyalakan korek ini di tempat paling gelap, tuan pasti bisa menemukan orang itu. Terima kasih banyak.”

Gadis kecil penjual korek itu pergi. Penasihat kerajaan menatap sebungkus korek yang ada di tangannya. Ia duduk di pinggir bundaran, menatap ke sang penyair yang masih memanjatkan puisi ke bulan. Ia menyadari, tempat sang penyair berdiri adalah tempat paling gelap di bundaran kota.

***

”Rembulan, biru kekuningan, aku memohon. Kekasihku, putih kemerahan, dia akan mati kedinginan bersamamu. Tanpa diriku.”

Raja menyuruh berhenti kereta kuda. Wajahnya muram. Ia baru saja selesai bertemu dengan raja dari negeri seberang. Ia melihat penasihat kerajaan duduk menonton sang penyair. Pertama raja dari negeri seberang yang tukang pamer, sekarang penasihat yang tidak mengindahkan perintahnya. Raja memacu langkah, menyepak penasihat kerajaan dengan kaki kiri.

”Sedang apa kau? Apa perintahku belum jelas?”

”Yang Mulia, Anda sudah kembali! Oh, saya telah menemukan orangnya.”

”Di mana dia? Jangan bilang kau biarkan orang itu pergi. Orang itu harus digantung!”

”Tidak, Yang Mulia. Dia di sana.”

Penasihat menunjuk ke arah bulan. Raja menganga. ”Beberapa jam aku pergi dan kau sudah gila?”

”Tidak. Saya melakukan sesuai perintah Yang Mulia. Dan aku juga menyadari kalau jawaban saya ini sedikit aneh. Tapi saya melihat buktinya. Mari, Yang Mulia, duduk di sebelah saya dan tunggu bulan melemparkan buah busuk pada sang penyair.”

Lantas raja dan penasihatnya duduk di sana, menunggu rembulan melemparkan buah busuk pada sang penyair. Setengah jam berlalu. Tidak ada yang terjadi. Dari kiri raja, penasihat terus saja menggumamkan, ”Tunggu saja, Yang Mulia, sebentar lagi dia akan melempar.” Di depan raja, penyair masih memanggil-manggil bulan. Ah, ini kali pertama ia merasa bosan mendengar puisi sang penyair. ”Sebentar lagi, Yang Mulia, Anda pasti terkejut ketika melihatnya.”

”Tidak, aku akan serahkan tugas itu padamu. Mulai saat ini kau bertugas menghentikan tindakan bulan. Aku akan cari penasihat lain.”

”Terima kasih, Yang Mulia. Saya akan melakukan tugas saya dengan baik.”

Raja geleng-geleng. Ia tidak menyangka, penasihatnya yang cerdas akan menjadi gila dalam waktu singkat. Raja berangkat dengan kereta kudanya. Di istana nanti, ia berencana langsung pergi ke kamar tidur. Ia mengenakan piyama bulu, melompat ke kasur, dan menghela panjang. Apa mungkin hari ini hanyalah mimpi? Ia bertanya pada dirinya. Jendela besar di sisi kasur terbuka. Sinar bulan menyusup dari sana. Raja bangkit, menutup jendela. Angin kencang. Buah busuk terbang mengenai wajah raja.

”Apa-apaan ini? Siapa di sana?” Raja meludah, memaki mencari-cari asal buah busuk yang mengenainya. Wajahnya merah, mata mengekar. Tidak ada siapa-siapa di sana. Terlalu jauh bagi orang biasa melemparkan buah busuk sampai ke kamar raja di lantai tiga. Bulan? Tidak mungkin. Bulan tidak punya tangan untuk melemparkan buah busuk.

***

”Rembulan, Kamis malam, kekasihku akan pulang. Kau akan menyesal.”

Orang-orang berhenti mendengar sang penyair. Seorang ibu menganggapnya gila. Seorang anak mengatakan, ia adalah laki-laki sinting. Pemabuk yang baru saja muntah di pinggir bundaran, melirik ke arah sang penyair, meludah. Laki-laki itu pasti mabuk, katanya. Satu-satunya orang yang betah di sana hanya mantan penasihat kerajaan. Duduk di pinggir bundaran, sesekali menghayati kata-kata sang penyair, sesekali menatap bulan yang hilang-kembali dari balik awan.

”Kau menutup telingamu, menyembunyikan matamu. Tapi kekasihku selalu mendengar, selalu melihat. Rembulan, Kamis malam, kekasihku akan pulang. Rambutnya sudah cukup panjang.”

Lantas sang penyair meraih sesuatu di udara. Ia memanjat, naik ke langit gelap. Mantan penasihat kerajaan menganga. Ia berdiri, menengadah. Tiba-tiba tawanya pecah. Sang penyair menghilang ke balik awan.

”Sayang sekali, besok aku harus kembali menjadi penasihat kerajaan.”

Medan, 2021

***

Julius Anju lahir di Medan, 29 Juli 1998. Saat ini masih berkuliah di Prodi Sastra Indonesia, Universitas Negeri Medan. Alumnus kelas menulis prosa Balai Bahasa Sumatera Utara. Kini aktif menulis sastra bersama Komunitas Lantai Dua (Koldu).

sumber : kompas.id, 03 Jun 2021

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme