Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Resep Sambal Rahasia oleh Edy Firmansyah

Posted on Ming, 17 Okt 2021

Sejak usianya genap 90 tahun, anak dan cucu-cucunya punya keyakinan, ajal Karuwah nisbi dekat. Melihat tubuh renta yang telah sebulan lebih hanya terkulai lemas di lincak lapuk itu, mereka menduga tak sampai hitungan hari nyawa Karuwah akan lepas dari badan. Betapa tidak. Seluruh tubuh Karuwah mati suri. Hanya matanya yang mengerjap-ngerjap seperti lampu neon rusak.

—

SETIAP hari ia hanya disuapi tiga sampai lima sendok madu hutan. Makanan yang lain sudah tak lagi bisa masuk ke pencernaan. Dari tubuhnya yang tinggal kulit membalut tulang keluar bau busuk menyengat.

Kabar itu membuat banyak orang bertanya-tanya tentang siapa yang akan mewariskan resep sambal Karuwah yang kondang itu. Hingga detik ini tak ada yang sanggup mengalahkan nikmatnya sambal racikan Karuwah. Bahkan koki di restoran paling mahal sekalipun. Jika Karuwah sudah mulai menggelar dagangannya, orang-orang akan mengantre dan penjual lalapan lain akan sepi. Rasa nikmat sambal hasil racikan Karuwah seolah membuat orang-orang terhipnotis. Bukan pedas benar yang dirindukan orang. Tapi lezatnya juga bikin betah. Sungguh tiada lalapan terasa enak tanpa sambal Karuwah.

”Rasa nikmatnya bikin nagih,” kata salah satu konsumennya.

”Sambal Karuwah seolah menyajikan kenikmatan rempah Nusantara pada rasa pedas,” kata yang lain lagi.

Kata orang, tangan Karuwah adalah titisan Dewi Dapur. Setiap kali tangannya menyentuh cobik dan cegkoceg, seketika itu pula sambal paling nikmat sedunia tercipta. Karuwah seolah menciptakan sambal dari surga. Tidak hanya satu jenis sambal, melainkan ratusan jenis sambal Nusantara dikuasai Karuwah. Bahkan resep sambal milik nyonya Belanda bernama Catenius van der Meijden seperti sambel brandal, sambel serdadoe, sambel boedak, dan sambel badjak juga dikuasainya. Dan rasanya jauh lebih nikmat dari buatan Catenius van der Meijden. Bahkan konon Catenius van der Meijden sempat belajar pengolahan sambal pada Karuwah sebelum mulai menulis buku resep sambalnya yang terkenal itu.

Sebenarnya bahan yang digunakan Karuwah untuk membuat sambal sama saja. Misalnya resep sambal ulek. Karuwah meletakkan 6–8 lombok, satu cabhi alas ditambah satu setengah sendok teh garam dan satu setengah sendok teh terasi yang sudah dimasak. Kemudian ia menumbuk halus semua itu, menggorengnya sebentar dan sambal siap disajikan.

Yang membedakannya hanya botol kecil yang besarnya seperti botol minyak kayu putih cap Gajah ukuran sedang yang berisi cairan berwarna cokelat yang selalu ia bawa di dalam jaritnya. Jika cairan itu diteteskan pada ulekan sambal, seketika itu pula rasa sambal khas Karuwah tercipta. Tak ada yang tahu terbuat dari apa cairan berwarna cokelat itu. Tapi, kata orang itulah resep rahasia nikmatnya sambal Karuwah.

Riwayat menyebutkan kemasyhuran sambal Karuwah sudah bergema sejak zaman kolonial. Sejak Karuwah masih seorang gadis remaja dan menjadi pelayan restoran milik China bernama Sha Lun. Dari Koh Sha Lun-lah kemampuannya membuat sambal ditempa. Dan Koh Sha Lun mengakui kecerdasan Karuwah dalam meracik bumbu rempah menjadi sambal. Bahkan Karuwah tidak menggunakan cabai (Capsicum) dari Benua Amerika yang dibawa orang-orang Portugis pada abad ke-16 yang kemudian tumbuh di Nusantara. Melainkan menggunakan Piper retrofractum yang di Madura dikenal dengan nama cabhi alas. Namun, riwayat lain menyebutkan selain tekun bereksperimen mengolah rempah seperti lada, jahe, hingga kunyit menjadi sambal, Karuwah juga rajin bersemedi. Dalam semedi itulah ia kemudian mendapatkan resep sambal dari penunggu rumahnya yang ternyata juru masak Ratu Dyah Suhita. Mana yang benar tak ada yang tahu pasti. Yang pasti sambal buatan Karuwah memang nikmat sekali.

Sebenarnya bukan itu saja kehebatan sambal Karuwah. Setiap orang yang mencicipi sambalnya diyakini akan lenyap masa lalunya yang kelam dari ingatan. Para pembantu yang diperkosa majikannya akan lupa bahwa ia pernah diperkosa, anak-anak yang disiksa orang tuanya akan lupa rasa sakitnya, para pencinta yang ditinggalkan kekasih hatinya dan nyaris bunuh diri segera baik-baik saja begitu merasakan nikmatnya sambal Karuwah. Mereka semua yang mengalami kenangan pahit akan kembali mendapatkan semangat hidupnya usai pulang dari warung lalapan Karuwah.

Makanya tak perlu heran jika warung lalapan Karuwah selalu ramai oleh pembeli. Mereka rela antre berjam-jam untuk merasakan nikmat sekaligus khasiat dari sambal buatan perempuan Madura itu. Antrean bisa mencapai satu kilometer. Kadang mereka yang antre bisa tidak kebagian. Sebab, warung itu hanya buka pada malam Jumat bakda magrib dan tutup sebelum azan Subuh berkumandang. Tidak di hari yang lain.

Saking nikmatnya sambal Karuwah membuat kemasyhuran sambalnya terdengar hingga ke daerah lain. Bahkan pernah salah satu pengusaha restoran dari Jakarta datang ke rumah Karuwah untuk membeli resep sambal Karuwah seharga mobil, tapi Karuwah menolaknya.

”Harganya bahkan lebih mahal dari harga diri saya sendiri,” kata Karuwah.

Pernah beberapa pedagang lalapan mencoba membuat drama-drama kecil agar dagangan lalapannya laris. Mereka memberi nama warung lalapannya dengan: Lalapan Sambal Karuwah. Ditambah sedikit kasak-kasuk bahwa resep rahasia sambal Karuwah telah bocor ke tangannya. Warung itu mendadak ramai. Orang-orang mengantre. Tapi, antrean panjang itu hanya bertahan seminggu. Selanjutnya warung itu jadi sepi kembali. Sampai kemudian tutup selama-lamanya.

”Rasa mungkin bisa ditiru. Tapi, khasiat dari sambal Karuwah siapa yang sanggup menandingi?” begitu kasak-kusuk orang-orang melihat fenomena makin banyaknya warung yang mendompleng nama besar Karuwah.

Karena itu, ketika kabar sakitnya Karuwah tersebar seantero kampung, orang-orang berkasak-kusuk, pada siapa resep rahasia sambalnya itu akan diwariskan? Sebab, tak satu pun dari keturunan Karuwah yang semuanya perempuan punya bakat membuat sambal. Tak juga anak satu-satunya dan dua cucunya yang juga perempuan. Nisya, anak semata wayang Karuwah, tidak begitu pandai membuat sambal. Karena itu, banyak orang berharap resep itu diwariskan ke salah satu keturunannya yang tak pandai memasak itu. Sehingga beberapa orang yang punya kepentingan berdagang lalapan bisa membeli resep itu dengan harga tinggi.

Tapi, siapa yang sanggup? Memang beberapa orang berpikiran picik pernah berusaha mencuri ramuan sambal Karuwah yang selalu ia simpan di dalam jaritnya itu. Tapi, tak ada satu pun yang berhasil. Seolah kamar Karuwah diberi pagar gaib. Benar memang beberapa pencuri berhasil masuk ke kamar Karuwah ketika nenek itu sedang lelap tertidur. Tapi anehnya, para pencuri itu tak bisa keluar dari kamar Karuwah hingga pagi. Mereka seolah memasuki rimba belantara atau terombang-ambing di dalam lautan luas tanpa tahu jalan kembali. Beberapa pencuri bahkan hanya bisa menangis tersedu-sedu sampai Karuwah membuka jendela. Membiarkan cerlang matahari menerangi kamarnya. Dan para pencuri itu bersimpuh memohon ampun.

Melaporkan pada pihak yang berwajib? Tidak. Karuwah tidak melakukan itu. Ia justru mengajak para pencuri itu mengobrol, memberinya makan lalapan dengan sambal ajaibnya, kemudian mempersilakan mereka pulang. Malah beberapa dari mereka diberinya ongkos pulang.

***

Dengan napas satu-satu akhirnya Karuwah memanggil anak dan cucu-cucunya untuk mendampinginya di sisi lincak. Seolah ia tahu bahwa saat itulah kematiannya bakal tiba.

”Aku tak bisa memberikan apa-apa pada kalian,” katanya lirih dengan nada pendek dan napas tersengal-sengal. ”Hanya jaga rumah ini dan pekarangan yang kutanami cabhi alas itu. Jangan sampai dirusak orang. Jangan kalian jual. Itulah satu-satu warisan nenek moyang kita,” lanjutnya.

Nisya, anak semata wayangnya, mencoba bertanya. ”Bagaimana dengan resep sambal itu, Ibu?”

Karuwah menarik napas panjang. Dari matanya ia melihat sosok kakek tua berbaju putih dengan janggut lebat sedang berdiri di sudut kamarnya. Dan tubuh Karuwah bergetar hebat. Bukan. Bukan ia tak mau mewariskan resep sambalnya yang termasyhur itu. Tapi, ia terikat janji dengan penunggu cabhi alas di pekarangan rumahnya itu. Bahwa jika resep rahasia itu bocor pada siapa saja, seluruh kampung tempat tinggalnya akan terserang wabah yang membuat panen gagal karena diserang hama belalang dan tikus. Karena itu, Karuwah menggeleng ketika ditanya pertanyaan itu. Hingga ia mengembuskan napas terakhirnya. Lagi pula, Karuwah merasa anaknya tak akan sanggup menanggung segala konsekuensi mempelajari resep sambal ajaibnya itu. Masa lalu orang-orang yang pahit yang lenyap usai menikmati sambal Karuwah sebenarnya tidaklah lenyap. Melainkan menjadi ingatan Karuwah setiap hari. Karuwah menanggung segala kepahitan hidup orang-orang. Semakin banyak pembeli yang kehilangan masa lalunya yang pahit itu, semakin menumpuk penderitaan Karuwah. Karuwah merasakan betul betapa menderitanya perempuan yang diperkosa yang kebetulan jadi pelanggannya. Kadang dorongan ingin bunuh diri meledak-ledak karena diri sudah tak suci lagi. Ini hanya contoh. Penderitaan lain jauh lebih mengerikan dari ini. Ia khawatir anaknya berakhir gila. Dan ia tak mau itu terjadi. Biarlah rahasia tetaplah menjadi rahasia. Sebab, setiap rahasia yang terbuka berarti terbuka juga pintu derita.

Nisya keluar kamar Karuwah dengan wajah lesu. Berlinang air mata. Juga anak-anaknya. Salah seorang tetangga yang menunggu di beranda memberanikan bertanya.

”Siapa yang beruntung mendapatkan resep rahasia itu?”

Nisya hanya diam. Memandang halaman penuh tanaman cabhi alas yang mulai berbunga. Tercium bau semerbak dari rumah Karuwah. Wangi kembang tujuh rupa. (*)

 

EDY FIRMANSYAH : Lahir di Pamekasan, Madura. Bergiat di Komunitas Gemar Baca (KGB) Manifesco, Pamekasan. Buku kumpulan cerpen terbarunya yang telah terbit adalah Yasima Ingin Jadi Juru Masak Nippon (Cantrik Pustaka, 2021).

sumber : JAWAPOS, Minggu, 17 Oktober 2021

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme