Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Langit Bertabur Nguyen oleh Fakhrunnas MA Jabbar

Posted on Ming, 18 Des 2005

Langit merah jambu menyelubung Hanoi. Malam merangkak begitu lamban di antara deru terbang burung layang-layang. Hening mengepung diriku yang terkurung di sebuah kamar hotel berbintang. Hampir sepekan aku berada di negeri yang kini berbenah. Aku jadi teringat Vietkong, Rambo, penjara bambu dan granat tangan atau anak-anak terluka dengan tangan yang buntung dan buta terpercik mesiu perang Vietnam yang mengenaskan. Tapi ada yang lebih kurindukan dari semua itu. Aku mencari dan menunggu Nguyen Vet Tienh, gadis molek yang pernah menikamkan jejak rindu di jantung pelupuk mataku semasa di Pulau Galang dulu.

Aku tahu, Nguyen sudah bersuami dan punya anak dua saat pertemuan terakhir beberapa tahun silam. Tapi, surat-suratnya yang sempat mengalir deras menyela perpisahan kami, penuh cerita pilu. Nguyen ternyata tak bahagia bersama suaminya. Antara suka dan tiada, aku mengeja tiap kata-kata yang mengantarkan duka-lara dirinya. Semestinya aku tak harus suka sebab perkawinan mestilah jadi selubung bagi seorang perempuan santun seperti Nguyen agar ia punya masa depan bersama anak-anak yang lincah. Tapi, di bilik hatiku yang lain berucap gemulai, kalaupun aku menyukai prahara perkawinan Nguyen tentulah semata akibat kecintaanku yang teramat-sangat untuk memadu kasih yang tak pernah terlerai. Nguyen telanjur segalanya bagiku.

Aku jadi ragu berterus terang, kedatanganku di Hanoi untuk apa dan buat sesiapa? Aku begitu bersemangat ketika misi perdagangan negeriku memilih Hanoi untuk berpromosi dan bertukar-pandang soal perdagangan lintas-negara. Padahal ada juga pilihan untuk berkunjung ke Seoul atau Shanghai. Apalagi bagi pengusaha yang baru merangkak naik dalam tiga-empat tahun berselang. Siapa duga, aku tiba-tiba diberi peluang berputar haluan dari pekerja makan gaji di sebuah industri elektronika di Muka Kuning, Batam, menjadi pengusaha kecil yang mengekspor arang bakau di pasar Asia dan Eropa. Ini semua serba tak terduga setelah pertemuanku dengan seorang pengusaha Singapura yang secara tak sengaja saat menyeberang di atas ferry melintasi Selat Melaka. Tuan Chew Song Kit, pemilik sebuah grup usaha sukses di Negeri Singa itu hendak mencari mitra usaha di Indonesia. Aku diberi peluang yang luas setelah dibina berbulan-bulan untuk berbisnis. Aku bisa jadi pengusaha yang tegak sendiri.

Atas nama kemandirian itu pula, aku sampai di Hanoi bersama belasan pengusaha Melayu lainnya. Sekali lagi, bila ditanya, manakah yang lebih besar hasrat untuk berniaga ataukah menjemput kerinduan Nguyen yang melambai-lambai sejak lama di jiwa yang hampa? Jujur harus kujawab, aku berbelah-pihak pada Nguyen. Mitra niaga dapat kucari bilamana dan di mana saja. Tapi, menjemput Nguyen saat rindu dan kasih yang tak pernah terkubur, pasti tak ada duanya di belahan bumi ini. Lebih-lebih aku hendak mendedahkan pada Nguyen bahwa budak Melayu yang dulu makan gaji sebagai pekerja kontrak di Kawasan Industri Muka Kuning kini sudah jadi pengusaha pula.

Pameran Dagang dan Industri yang digelar di tengah kota Hanoi ini memang sudah berlangsung hampir sepekan. Tapi aku tak begitu hirau. Aku lebih banyak menekan angka-angka di panel handphone-ku atau membolak-balik buku telepon untuk mencari nama dan alamat Nguyen Vet Tienh. Atau aku lebih tertarik menyusuri kawasan permukiman yang disebutkan Nguyen dalam surat-surat terakhirnya. Tapi semua ihwal ikhtiarku hampir tak membuahkan hasil. Aku bagaikan mencari sebatang jarum di setumpukan jerami kota Hanoi yang terus menggeliat dan berbenah.

Padahal, beberapa perempuan Vietnam yang terbilang pengusaha sukses dan masih lajang, bukannya kurang molek dibanding Nguyen saat kami bertemu-muka sejak beberapa tahun terakhir. Tapi, tak hendak sedikit pun aku melunturkan kadar rindu-kasih pada Nguyen. Aku benar-benar telah terperangkap dalam jeruji asmara yang dibentangkan Nguyen penuh ketulusan. Atas keteguhan sikapku ini, sampai-sampai sahabat karibku sesama pengusaha serumpun, Wan Syariful, telah menghakimi sebagai budak sengau yang kehilangan arah. Aku merasa punya kedaulatan sepenuh jiwa tanpa terusik oleh sesiapa.

Aku kehilangan jejak Nguyen. Alamat yang disebutkannya di surat-suratnya sudah ditinggalkannya tanpa tanda-tanda. Langit Hanoi benar-benar merah jambu. Dan di bayang-bayang langit itu bertabur sosok Nguyen yang lembut. Senyuman dan pipi ranumnya sulit kulupa saat kusentuh pertamakali di Pulau Galang dulu. Tangis dan derai airmatanya tak lekang dalam pintu ingatanku saat ia terburu-buru menyerahkan diri di dormitori yang selalu menjadi saksi kesendirianku.
Iklan

Lalu-lalang ratusan pengunjung Pameran Dagang dan Industri di Gedung Hanoi Trade Center malam itu nyaris tak kuhirau. Tapi mataku selalu saja mengintip kerumunan itu mana tahu terjadi keajaiban tak terduga. Mana tahu, Nguyen muncul tiba-tiba. Wan Syariful, teman sesama pengusaha Melayu yang selalu menjadi tempat curahan hati, mulai melihat isyarat buruk dalam diriku.

Dari mana asalnya kapas, dari benang menjadi kain. Sesiapa yang sudah dilepas, dah menjadi hak orang lain Wan menyindirku dengan pantun pendek itu. Ini memang sudah jadi tradisi orang Melayu di kampungku untuk berkias dalam menyampaikan sesuatu. Tapi, jujur, aku tetap merasa tertampar hingga wajahku terasa bersemu merah.

Tak usahlah dicari barang yang tak jelas, sambung Wan berhujjah.

Aku tertunduk lemas. Tapi, di sudut pikiranku yang terdalam masih kutemukan kemungkinan-kemungkinan tak terduga. Sebagai Muslim sejati yang memegang teguh ajaran agama, aku sangat percaya bahwa bantuan Tuhan bisa datang tanpa disangka-sangka. Apalagi, doaku usai shalat tahajjud di tengah malam sunyi, tak lain memohon agar aku bisa bertemu dengan Nguyen kembali. Meski, terus terang, aku harus malu karena beberapa kali menyapa sejumlah perempuan di arena pameran atau di lorong-lorong jalan yang kuduga Nguyen ternyata sama sekali bukan.

Malam terakhir Pameran Dagang dan Industri itu terasa bergerak lamban. Sejumlah stand perusahaan dari berbagai negara Asia sudah ada yang tutup. Aku masih betah duduk berlama-lama ditemani Wan Syariful, teman setiaku sejak dulu. Di bawah cahaya lampu yang menyala ribuan watt di hall raksasa itu, seorang perempuan berwajah molek dan manis bersama sepasang anaknya yang berusia di bawah sepuluh tahun, lewat di depan stand kami. Matanya bercahaya mengeja tulisan Indonesia di blok stand. Pelan-pelan aku mengurai jejaring kenangan di bion-bion otakku.

I love Indonesia sapa perempuan itu pada pramu stand yang menjaga stand kami. Pramu stand menyilakan perempuan itu menuliskan namanya di buku tamuku dan mempersilakan melihat-lihat pajangan komiditi perdagangan. Sungguh, hati kecilku kembali ingin berteriak begitu kulihat wajah perempuan itu benar-benar mirip Nguyen. Tapi aku tak mau malu dan kecewa bila menegur orang yang keliru.

What do you think about Indonesia? giliran pramu stand kami yang balik bertanya.

I have ever became a refugee in Galang Island sahut perempuan itu sambil tersenyum manja. Begitu pengunjung yang satu itu melangkah berkeliling di dalam stand kami, aku bagai melompat menuju buku tamu. Tak salah lagi, nama yang tertulis di situ: Nguyen Vet Tienh. Aku memburu perempuan itu yang membuat kedua anaknya menjadi ketakutan.

Nguyen.remember me? ucapku langsung meraih tangannya. Perempuan berhidung mangir itu benar-benar terperanjat sambil menatapku penuh keanehan pada mulanya. Kami bersitatap tegang. Pelan-pelan sama-sama tersenyum. Danperempuan itu langsung memelukku.

Bang Rajab suara Nguyen tersekat di kerongkongan sambil berbisik di telingaku. Kedua anaknya benar-benar bingung menatap perilaku kami. Saat itu, sejenak kami tak peduli sesiapa di sekitar. Hanya kurasakan hangatnya airmata Nguyen yang jatuh di bahu kananku. Suasana benar-benar hening beberapa lama. Semua bisu. Hanya suara rindu yang berbicara di lubuk hati kami berdua.

Bola mata Nguyen masih berkaca-kaca saat melepas pelukan. Aku tak hentinya tersenyum haru dengan mata yang sembab. Seketika Nguyen mengenalkan kedua anaknya dalam bahasa Vietnam yang fasih. Lelaki yang sulung bernama Van Thrang dan adiknya, perempuan molek pula laksana emaknya sendiri selalu dipanggil San Minh. Seketika itu juga aku perkenalkan temanku, Wan Syariful yang sedari tadi berdiri mematung menatap ulah kami.
Iklan

Pantaslah Rajab tergila-gila datang ke Hanoi ini. Ada putri yang molek bertakhta di sini suara Wan makin meranumkan suasana penuh haru itu.

Mana suamimu? tanyaku tiba-tiba. Nguyen menatapku dengan mata yang makin berkaca-kaca. Berulang-ulang perempuan lembut dan manja itu menjatuhkan diri di bahuku. Aku memeluknya sepenuh-mesra.

Hampir setahun ini, kami sudah pisah ranjang. Aku telah keliru memilih jodoh, sahut Nguyen pelan. Aku makin memperkuat pelukan. Nguyen pasrah.

Pertemuan itu benar-benar mengalirkan semangat yang luar biasa di dalam jiwaku. Darahku mengaliri seluruh pembuluh penuh tenaga. Setiap helaan napasku hanya ada rasa syukur yang dalam kepada Allah. Semua ini berlaku tak lain atas kehendak-Nya jua. Malam itu aku mohon pamit pada Wan Syariful untuk mengantarkan Nguyen beserta kedua anaknya. Dalam perjalanan naik taksi itu, Nguyen bercerita soal emaknya yang sudah meninggal akibat sakit paru-paru dua tahun silam. Dua adiknya, San Nam dan San Nangh, sudah berkeluarga dan tinggal terpisah jauh di bagian utara. Mereka sudah jarang bertemu. Begitu pula kampung halamannya, Sing Anh, yang berjarak puluhan kilometer dari Hanoi sudah jarang dikunjunginya. Meskipun ayahnya terkasih terkubur bersama sejarah getir kekejaman tentara Vietkong di sana.

Ketika Nguyen bercerita ihwal suaminya yang berperilaku kasar padanya, airmatanya tak henti mengalir. Sampai-sampai Van Thrang dan San Minh yang kecik-belia itu turut pula bersedih. Sebab, setiap ucapan Nguyen dalam bahasa Indonesia terbata-bata berbancuh bahasa Inggris yang memadai, selalu diulanginya dalam bahasa Vietnam kepada kedua anaknya. Suasana malam benar-benar menghanyutkan perasaan hingga meluluhkan segala derita dan lara yang menyelimuti hidup mereka. Untunglah Nguyen tegar menerima kenyataan harus berpisah dari suaminya yang dirasakan lebih banyak menyakiti hidupnya. Nguyen harus bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran.

Larut malam mendera rasa kantuk Van Trangh dan San Minh sehingga keduanya tertidur pulas di kamar. Pembantunya, seorang perempuan baya setelah menghidangkan teh hangat buat kami, sudah kembali beristirahat di kamarnya. Hening benar-benar mencekam di ruang tamu itu. Nguyen masih duduk menyandar didadaku. Layar TV yang bergantikan menyajikan siaran berita dan hiburan malam dalam bahasa Vietnam yang tak bisa kumengerti nyaris tak kami hiraukan lagi. Sungguh, tak ada kata-kata yang lebih manja dari kehangatan tubuh Nguyen sambil membilang getar jantungku yang tak pernah reda.

Nguyen meraih jemariku. Mengisyaratkan ajakannya padaku untuk melangkah ke kamar. Terus terang aku sempat terhanyut saat berduaan di kamar yang wangi. Lampu temaram. Napas kami bersahutan saat berdekapan di bawah selimut malam.

Inilah saatnya, Bang Rajab. Percintaan kita telah tertunda beberapa kali suara lirih Nguyen mendayu-dayu. Tapi seketika aku tersadar dan bangkit mengejutkan Nguyen.

Maaf, Nguyen, aku tak bisa. Masih ada pagar di antara kita ucapku mengiringi alam sadarku.

Maksudmu?, suara Nguyen terdengar kecewa dengan bolamata yang penuh harap.

Aku terdiam dan ternganga.

Kamu tidak mencintaiku lagi. Memang, aku sudah tak layak kamu cintai karena aku Suara Nguyen terhenti saat jemariku menyentuh bibirnya.

Iya… kamu masih menjadi istri orang lain. Aku tak akan merobek tirai perkawinanmu
ucapku dengan suara pilu.

Tapi, kami sudah pisah ranjang cukup lama.
Iklan

Pisah ranjang bukan bermakna bercerai, bukan?

Tapi aku sudah menganggapnya bercerai. Dia tak pernah mempedulikan kami lagi. Menelepon pun tidak. Lagi pula, kudengar dia sudah menikah dengan perempauan lain..

Aku duduk di bibir ranjang. Nguyen terus saja menangis sesegukan. Kekecewaannya yang tergurat di wajahnya yang merah jambu. Selalu, dan selalu kutemukan kemolekan dirinya yang tiada tara. Andai saja, dia sudah tak punya ikatan tali perkawinan lagi dengan suaminya akan kujadikan dirinya menjadi ratu dalam hidupku mulai malam itu.

Malam yang terbalut rindu itu berlalu tanpa banyak makna bagi Nguyen. Tapi, bagiku, pelukan kasih dan rindu pada Nguyen justru makin melipat-gandakan rasa cintaku. Mataku nyaris tak terpejam sepicing pun. Begitu pula Nguyen yang pasrah sepanjang malam hingga pagi.

Kepergianku pagi itu meninggalkan Nguyen dan kedua anaknya, memang bukan akhir segalanya. Aku berpesan pada Nguyen agar mengurus perceraiannya di pengadilan. Tak mungkin aku mempersunting istri orang. Aku adalah anak jati Melayu yang menjunjung tuah dan marwah. Setiap langkah yang salah kulewati tak sudi jadi arang yang mencoreng muka keluarga dan karib-kerabatku di kampung halaman.

Langit masih bertabur Nguyen, saat aku sudah kembali ke Tanah Air. Puluhan burung sore yang terbang di atas Selat Melaka bagai mengantarkan pesan-pesan rindu dan kasih Nguyen yang tak terlerai. Dan riak ombak di lautan saat kutatap dari tingkap apartemen tempat tinggalku di Batam Center, selalu mengalunkan derai tawa Nguyen dan anak-anaknya. Sungguh, aku tak kuasa terpisah jauh dari mereka.

Aku dan Nguyen terus berkirim kamar lewat handphone dan e-mail. Nguyen bercerita soal proses gugatan perceraiannya yang ternyata tak mudah. Aku selalu memberi ruh semangat dalam dirinya agar tak pernah putus asa. Tapi e-mail terakhir Nguyen yang kini terdedah di layar maya di kamar kerjaku benar-benar membuatku terkesima dan tak pernah bisa menutup mata. Nguyen tanpa kutahu merekam kisah kasih kami sepanjang malam di bawah temaram lampu di bawah langit Hanoi yang tak pernah berhenti tersenyum.

Nguyen, langit terus bertabur dirimu di mana pun aku menumpahkan rindu yang tak berujung. Jangan biarkan langit mendung sekejap pun. Jangan biarkan hujan membasuh semua kenangan yang terdedah di lembaran sejarah hidup kita. Langit Hanoi terasa merah jambu, Nguyen, pulaskah tidurmu malam ini***

Pangkalan Kerinci, Oktober 2005.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme