Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Pohon Keramat oleh M Dawam Rahardjo

Posted on Ming, 09 Apr 2006

Desa Kalidoso yang terletak sepuluh kilometer dari jalan raya antara Solo dan Purwodadi itu bagaikan sebuah oase yang cukup luas. Sekelilingnya adalah perbukitan kapur yang tandus, tetapi subur bagi pohon jati, sehingga desa itu dilingkari oleh hutan jati. Seperti oase, karena hanya desa itulah yang rimbun dengan berbagai tanaman tahunan, terutama buah-buahan seperti mangga, jambu, nangka, belimbing, dan paling banyak tumbuh pohon melinjo yang menjadi bahan baku kerajinan emping melinjo di daerah itu. Rumput pun bisa tumbuh di daerah itu sehingga penduduknya bisa memelihara sapi dan kambing. Berbeda dengan desa-desa lain di sekitarnya, yang penduduknya beragama Islam santri, desa Kalidoso itu berpenduduk abangan dan masih percaya pada adanya roh yang menghuni benda-benda. Namun, di antara penduduk desa ini terdapat pula pemeluk Islam yang taat, bahkan bisa dibilang fanatik. Walaupun demikian, tak sebuah masjid atau langgar pun telah didirikan di desa yang terkebelakang perkembangan agamanya itu. Kaum santri Solo yang telah maju menyebut penduduk desa itu sebagai mengidap penyakit TBC, singkatan dari takhayul, bidah, dan churafat.

Di desa itu terdapat pula sebuah kebun buah-buahan milik desa. Di pinggiran pohon-pohon itu tumbuh sebuah pohon trembesi besar yang telah tua, barangkali ratusan tahun umurnya dan karena itu sangat rimbun. Saking besarnya, pohon itu dipercaya sebagai angker yang dihuni oleh roh-roh. Hanya saja tanah di bawah pohon itu sering kotor karena daun-daun yang gugur dan karena itu setiap kali perlu dibersihkan. Di dekat pohon itu terdapat mata air yang jernih airnya sehingga dipakai oleh penduduk sebagai air minum. Pemerintah desa telah membuat sebuah kolam sederhana yang menampung air itu dan penduduk desa bebas mengambilnya. Bahkan, di dekat kolam air itu didirikan kamar mandi dan kakus sederhana tak beratap, terbuat hanya dari anyaman batang bambu dan kayu. Tetapi, para perempuan suka mandi langsung di dekat kolam itu dengan hanya mengenakan kain saja sehingga merupakan pemandangan menarik bagi lelaki. Pagi dan sore selalu ramai dengan orang mandi. Biasanya perempuan lebih awal mandinya ketika pagi masih agak gelap. Baru agak siangnya datang para lelaki untuk mandi.

Guna menjaga tempat mandi, cuci, dan kakus, pak Lurah Samidjo menugaskan Partorejo, seorang yang berusia setengah baya. Untuk praktisnya, Pak Parto, demikian panggilan akrabnya, dan keluarganya ditugasi pula menjaga kebun itu. Sebagai penjaga kebun, ia atas nama kepala desa melarang penduduk untuk memetik buah sendiri. Setiap akhir musim buah dilakukan panen. Buah-buahan hasil panen itu dijual dan hasilnya masuk kas desa dan dibelanjakan untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh penduduk desa.

Ketika telah berumur empat puluh tahunan, Parto melakukan kegiatan yang mengundang perhatian seluruh penduduk desa. Ia setiap malam melakukan semadi atau bertapa, dengan cara duduk bersimpuh di antara dua batu besar yang menonjol di bawah pohon itu, walaupun agak jauh dari batangnya. Pada waktu siang, setelah memeriksa dan membersihkan kebun, yang dibantu oleh istrinya, Pak Parto melakukan praktik pijat. Rupanya ia pernah belajar pijat-memijat pada seorang tukang pijat terkenal di daerah hutan jati antara Purwodadi dan Pati yang terkenal dengan kegiatan kebatinan dan perdukunannya itu. Rupanya kegiatan pijat yang dilakukan di atas tikar pandan di bawah pohon trembesi yang rindang sejuk dan nyaman itu makin ramai. Istrinya ikut pula memijat. Banyak orang dengan berbagai penyakit meminta terapi pada Parto. Mungkin untuk memberi sugesti kepada langganan pijatnya, ia selalu memberikan sebotol kecil air yang diambil dari mata air itu setelah diberi mantra olehnya. Inilah yang menyebabkan maka Parto akhirnya disebut sebagai dukun, dan ia tidak keberatan dengan sebutan magis itu. Tentu saja dengan mengatakan bahwa air dari mata air itu berkhasiat tinggi, bukan sembarang air.

Namun dengan tidak diketahui dari mana asal-usulnya, penduduk desa mulai memberikan sesajen yang diletakkan di sekeliling pohon trembesi itu. Asal-usulnya mungkin dari kegiatan bertapa yang dilakukan oleh Pak Parto di bawah pohon itu dan ucapan yang pernah terdengar dari mulut Parto bahwa pohon besar itu ada penjaganya yang disebut orang Jawa sebagai Sing mBau Rekso, yaitu Sang Penjaga. Penduduk desa harus ramah kepada Sing mBau Rekso agar desa itu diberkati, dengan menyediakan sesajen kepada raja pohon di antara pohon-pohon di daerah itu. Parto sendiri sering mengajarkan kepada penduduk desa agar mereka memelihara pohon trembesi dan pohon-pohon yang lain di desa itu. Pohon dianggap sebagai makhluk hidup juga dan karena itu mereka harus berteman dengan sesama makhluk hidup.

Gejala itulah yang menggelisahkan batin seorang ustad yang dipandang paling ahli agama di desa itu.

“Itu syrik. Dan syrik adalah dosa yang paling besar di hadapan Allah,” kata Kyai Fauzan Saleh.

“Tapi Kyai, orang-orang desa sulit diberi tahu. Mereka percaya kepada dukun Parto itu. Apalagi ia sering dianggap telah banyak menolong orang sakit dengan pijat dan jampi-jampinya.”

“Kalau orang sakit itu perginya ke puskesmas, bukan ke dukun syrik,” kata Kyai Fauzan, orang yang memang dikenal punya pengetahuan luas.

“Di sini ’kan belum ada puskesmas pak Kyai. Tak mungkin desa ini mendapat proyek puskesmas sebelum penduduk di sini meninggalkan partai yang tidak berkuasa dan masuk partai yang berkuasa saat ini.”

Desa di daerah perbukitan kapur ini dulu memang dikenal sebagai basis PKI. Bahkan pada masa pemberontakan PKI-Madiun, penduduk di sini banyak yang terlibat dalam gerakan komunis dan ikut dalam pembunuhan kaum santri dan pejabat pemerintahan.

“Wah, bagaimana caranya memberantas takhayul, bidah, dan khurafat di sini?” tanya Kyai Fauzan kepada rekan bicaranya, yang dikenal kaya karena bekerja sebagai pemborong jalan dan bangunan di daerah-daerah lain yang banyak proyeknya. Pak Thohir, demikian nama pemborong itu, diam termenung cukup lama tak memberikan jawaban. Tapi akhirnya ia keluar dengan sebuah usul.

“Cara memberantas TBC satu-satunya adalah menebang pohon trembesi itu. Kalau tak ada pohon yang dianggap keramat, si Parto itu tak akan melanjutkan praktik perdukunannya,” kata Thohir dengan nada ketus.

“Tapi, apa alasannya menebang pohon itu? Kita akan melawan si Parto dan pengikut-pengikutnya.”

“Begini Pak Kyai, saya kan kenal dengan Sekda dan orang-orang DPRD dari partai yang berkuasa. Saya akan katakan kepada mereka agar penduduk desa mau mencoblos partai itu, rakyat harus dibuat simpati dulu,” kata Thohir menjelaskan usulnya.

“Bagaimana menarik simpati penduduk desa?” tanya Kyai Fauzan ingin tahu.

“Saya akan mengusulkan proyek terpadu pembangunan prasarana desa. Pertama, masjid. Kedua, MCK menggantikan kolam yang sekarang. Di situ akan kita pasang pompa Sanyo menggantikan mata air. Kemudian jangan lupa puskesmas agar orang tak lagi datang ke dukun,” jelas Thohir lebih lanjut.

“Lalu apa hubungannya dengan pohon itu?” tanya Kyai Fauzan kurang tahu.

“Pohon itu kita tebang ramai-ramai. Di atasnya persis kita dirikan masjid. Kemusyrikan dan TBC kita ganti dengan tauhid yang semurni-murninya,” jawab Thohir memakai bahasa santri. Kyai Fauzan pun tersenyum mengangguk-angguk tanda setuju dengan gagasan cemerlang itu. “Jaal khaqqo wa zahaqol baatil. Innal Batila kaan zahuko,” kata Kyai Fauzon menirukan seruan kaum Muslim di Mekah ketika menghancurlan berhala-berhala di sekitar Ka’bah, yang artinya “telah datang Kebenaran dan jika datang Kebenaran maka hancurlah kebathilan”. Tapi Thohir masih menambah keterangan: “Tapi masih ada tugas kita semua sekarang ini.”

“Apa tugas itu?” tanya Kyai Fauzan lagi.

“Kita harus berdakwah untuk menyerukan penghancuran TBC dengan menumbangkan sumber TBC itu sendiri. Pohon trembesi terkutuk itu. Pak Kyai yang memimpin dakwah itu. Sedangkan saya mengusahakan proyek itu. Saya sendiri yang akan membangun prasarana desa itu?” kata Thohir penuh percaya diri.

Kesepakatan pun tercapai antara ulama dan pemborong itu untuk melaksanakan proyek yang mulia itu. Keduanya pun melaksanakan tugasnya masing-masing. Keduanya juga bersama-sama menemui Pak Lurah dan kemudian Pak Camat mengutarakan usul mereka. Karena proyek itu menyangkut pembangunan desa dan mencakup pembangunan fisik maupun rohani, maka dengan tidak sulit kedua tokoh desa itu bisa diyakinkan.

Rencana itu pun terdengar oleh Parto dan pengikut-pengikutnya. Mereka pun marah, namun sulit menolak gagasan pembangunan yang telah disetujui oleh Pak Lurah dan Pak Camat.

Parto berkata kepada para pengikutnya, “Pohon kita itu adalah pohon keramat yang memberi berkah kepada penduduk desa. Jika pohon itu ditebang, maka Sing mBau Rekso akan marah besar,” kata Parto keras sebagai seorang yang dianggap suci karena pertapaannya dan perannya sebagai dukun yang terkenal sampai ke desa-desa lain itu.

“Bagaimana marahnya Pak?” tanya orang desa tak mengetahui bagaimana caranya roh marah itu.

“Wah saya juga tidak tahu. Tapi pokoknya penduduk desa ini akan ditimpa bencana. Tanah longsor mungkin gempa bumi, penyakit menular, atau kelaparan.”

Penduduk desa cukup ketakutan mendengar peringatan Parto yang berapi-api itu.

Kyai Fauzan yang mendengar aksi penolakan itu menjawab, “Lagi-lagi takhayul. Justru TBC itulah yang bisa menimbulkan bencana karena menyimpang dari akidah. Dengan kembali kepada yang benar, al ruju’ ilal haq, kita pasti akan mendapatkan rahmat dan pengampunan,” tangkis Kyai Fauzan. Dua pandangan itu tentu membuat penduduk kebingungan. Mana yang akan diikuti? Tapi yang jelas, mereka tidak bisa berbuat apa-apa melawan rencana pemerintah desa yang disetujui oleh Pemerintah Kabupaten Sragen itu.

Maka hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Pemborong Thohir berhasil memperoleh proyek pembangunan prasarana. Pada suatu hari Jumat, datanglah penduduk desa yang diikuti dengan penduduk dari daerah lain, ramai-ramai menebang pohon trembesi raksasa itu sambil meneriakkan “Allahu Akbar”. Mereka merasa telah menumbangkan kebatilan.

Dengan rubuhnya pohon itu dan akar-akarnya pun dicabut dan dibawa dengan sebuah truk oleh pemborong. Pemborong Thohir pada gilirannya melaksanakan tugasnya, mula-mula membangun masjid, kemudian MCK, dan gedung puskesmas. Masjid didirikan persis di atas tempat yang dulu ditumbuhi pohon trembesi itu. Dalam tempo hanya enam bulan, seluruh bangunan itu selesai. Walaupun sebagian penduduk yang abangan protes, penduduk desa Kalidoso itu tak bisa berbuat apa-apa. Tapi kesedihan mereka seolah-olah tersiram oleh air yang deras memencar dari pompa Sanyo.

Mula-mula kebutuhan air tiga bangunan itu terpenuhi tanpa masalah. Kemarahan Sing mBau Rekso yang dikatakan oleh Parto tidak terbukti datang. Parto sendiri agar tidak marah tetap diberi tugas oleh Pak Lurah untuk menjaga tiga bangunan itu, terutama bangunan masjid. Tugas itu pun dijalankan oleh Parto. Hanya saja ia berhenti bertapa dan menjadi dukun. Kyai Fauzan mengajarinya sholat sehingga ia berubah menjadi santri yang taat sholat di masjid.

Setahun kemudian, timbul suatu gejala yang aneh. Air yang dinaikkan dengan pompa Sanyo itu tak mengalir lagi. Bak penampung air kosong dan ketiga bangunan itu kekurangan air. Tapi yang lebih menyedihkan adalah bahwa penduduk desa tidak lagi bisa menikmati mata air yang dulu pernah memancar dari bawah pohon keramat itu. Apakah itu bencana yang dulu pernah diingatkan oleh dukun Parto? Penduduk desa tidak menghubungkan gejala baru itu dengan peringatan Partorejo. Bahkan hal itu pun juga tidak terpikirkan oleh Parto sendiri.

Tidak saja air tidak lagi mengalir, yang lebih mengherankan penduduk desa adalah tiga bangunan itu, terutama masjid mulai retak-retak. Mungkin suatu hari masjid itu bisa runtuh sebab di dekat MCK sudah terjadi tanah longsor karena air hujan yang cukup deras sudah tidak ada yang menahan sehingga menimbulkan erosi. Guna menahan kemarahan Sing mBau Rekso, penduduk tidak lagi bisa memberikan sesajen kepada pohon keramat yang sudah hilang dari muka bumi itu.

Beberapa orang desa datang kepada Partorejo yang sudah jadi santri itu dan bertanya:

“Pak, apakah ini semua tanda-tanda kemarahan Sing mBau Rekso?” tanya mereka benar-benar ingin tahu.

“Wah jangan tanya soal ini kepada saya. Tanya saja pada Pak Kyai Fauzan,” jawab Parto. Maka mereka pun datang kepada Kyai Fauzan

“Pak Kyai, bukankah masjid kita ini dibangun atas dasar taqwa?” tanya mereka.

“Ya betul, memangnya kenapa?” tanya balik sang kyai.

“Tapi kok masjid kita itu terak-retak dan sebentar lagi bisa rubuh?” tanya mereka lebih lanjut.

“Waduh, bangunan rubuh bukan soal agama,” jawab Kyai Fauzan. “Tanya saja pada Pak Thohir yang membangun semua ini. Mungkin semennya dikurangi atau pondasinya kurang kuat.” Ketika pada gilirannya penduduk menanyakan hal itu pada Thohir, pemborong itu merasa tersinggung.

“Lho kok malah saya yang dituduh korupsi. Tanya saja pada pak insinyur, apakah ia mengurangi jatah semennya?” Tapi insinyur yang dimaksud tinggal di kota sehingga pertanyaan itu dijawab sendiri oleh pemborong Thohir seolah-olah mewakili insinyur dimaksud.

“Jangan menuduh atau menghina saya tidak becus membangun ya. Mungkin saja roh-roh jahat telah menyabot bangunan saya,” jawabnya sambil tertawa keras. Penduduk hanya bengong saja mendengar jawaban-jawaban yang mereka terima. Kenyataannya, bencana memang sedang mengancam setelah pohon keramat itu ditebang.

Jakarta, 13 Februari 2005

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme