Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Alun-alun Suryakencana oleh F Rahardi

Posted on Ming, 24 Sep 2006

Seperti biasa, pagi itu Alun-alun Suryakencana di Taman Nasional Gede Pangrango sangat cerah. Langit begitu biru dan bersih. Tak ada awan, tak ada kabut, tak ada angin. Matahari putih dan silau, tetapi udara masih juga dingin. Semua sepi. Hanya sekali-sekali dipecah tawa, teriakan dan suara misting beradu dari arah tenda. Pagi itu, beberapa tenda pecinta alam tampak bertebaran di sekitar mataair, di tengah alun-alun. Selebihnya kosong sampai jauh.

Alam yang senyap itu, tiba-tiba digusur bunyi heli yang gemuruh memekakkan telinga. Heli itu besar, dan tahu-tahu menyembul begitu saja dari gerumbulan santigi. Setelah berputar beberapa kali, ia mendarat di tempat yang lapang dan datar. Rumput, edelweis, dan deretan rododendron, semua meliuk-liuk mengikuti pusaran baling-baling heli. Semua seakan ingin roboh dan tiarap rata dengan tanah. Tetapi setelah baling-baling itu makin pelan dan berhenti, semua jadi biasa lagi.

Kemudian pintu heli dibuka dari dalam, lalu empat orang yang gagah-gagah dan gemuk-gemuk melompat turun. Mereka berbaju dan bercelana sangat rapi. Sepatu mereka mengkilap. Beda dengan penampilan pecinta alam, yang bergeletakan di sekitar tenda itu. Salah satu di antara empat penumpang heli itu kelihatan sebagai boss. Dia sangat mengagumi keindahan alun-alun di pagi yang cerah ini.

“Ini sungguh hebat John! Luar biasa! Mengapa baru sekarang saya diberitahu kalau ada alun-alun yang namanya apa ini tadi?” tanya si Boss itu pada si John.

“Suryakencana Pak! Inilah tempat yang paling eksotis untuk pesta pengantin. Bukan sekadar pesta kebun, tapi pesta alam. Tidak akan pernah ada yang punya gagasan seorisinil Bapak. Orang mantu biasanya kan di Balai Kartini, Hillton, Manggala Wana Bhakti, paling banter Istana dan Kebun Raya Bogor. Atau ke Singapura, Hongkong dan Mekah. Tapi bapak lain. Bapak mendatangkan tamu-tamu pilihan itu ke Suryakencana!”

“Sudahlah John, aku sudah melihat dengan mata kepalaku sendiri. Inilah lokasi paling eksotis untuk resepsi pernikahan anakku! Ayo kita pulang dan segera membentuk panitia!”

>diaC< Rapat panitia itu, berlangsung di sebuah ruang perkantoran di Jalan Sudirman, Jakarta Pusat. Beberapa mahasiswa pecinta alam diikutkan. Ada seksi perijinan, perlengkapan, dekorasi, transportasi, dokumentasi, protokoler, menu, dan seksi-seksi lainnya. Rencananya di alun-alun itu akan didirikan tenda raksasa seperti tenda sirkus keliling. Hanya tempat duduknya tidak dibuat bertrap-trap, melainkan datar saja, dengan meja-meja untuk menaruh hidangan. Semua peralatan akan diangkut dengan belasan heli carteran. Belasan toilet mobil juga akan dipasang. Rapat panitia sore ini, mendapat kehormatan dihadiri Menteri Kehutanan, Menteri Lingkungan Hidup dan beberapa dirjen. Semua manggut-manggut dan sepakat, bahwa perhelatan Boss Besar ini harus didukung secara politis dan ekonomis. Wartawan yang mengendus berita kontroversial ini, segera mem-blowup-nya di media masing-masing. “Ini sudah sangat keterlaluan. Tidak bisa dibiarkan. Kita harus gerak!” teriak seorang aktivis lingkungan di depan para mahasiswa pecinta alam di Kancut UI. “Gila memang, beberapa temen kita, ternyata ada yang membelot ikut jadi panitia,” kata seorang seniman di Warung Alex di TIM. “Mereka harus kita sikat. Minggu depan kita harus menggelar demo. Menteri-menteri bego itu harus kita beri pelajaran. Kita mesti menggelar happening art.” “Tetapi yang mau mantu itu kan bokap-nya si Bayi. Bayi kan baik sekali sama kita!” “Emangnya yang pengantenan kakaknya Bayi ya? Ah nggak enak dong mendemo bokap-nya Bayi. Dia kan ngegèng sama kité-kité.” “Ya kita tanya ajé diényé. Apa masih mau ngegèng amé kité, atau mau ngebelain bokap-nya. Pokoknya minggu depan kita demo. Gué udah ada sumber dana yang gampang diaturnya.” Demo menentang resepsi pernikahan di Alun-alun Suryakencana itu berlangsung seru. Koran dan tivi gencar mengekspos. Tokoh demonstran tampil dalam wawancara eksklusif. Pengantin laki-laki dan perempuan juga diuber infotaiment. Tetapi keduanya menghilang. Konon mereka berdua dipingit. Wartawan kecewa tetapi mereka tidak kehilangan akal. Menteri Kehutanan dicecar dengan pertanyaan gencar. “Jadi Pak Menteri memang mengijinkan Taman Nasional kita diacak-acak untuk hura-hura?” tanya wartawan. “Yang mau hura-hura siapa? Itu lokasi saya ijinkan untuk resepsi pernikahan. Bukan untuk hura-hura seperti kalian kira,” jawab menteri keras. “Saya dengar Pak Menteri telah terima amplop, hingga ijin keluar dengan lancar?” “Ya memang saya sudah terima amplop. Isinya permohonan ijin dan proposal acara yang kalian ributken ini.” “Berapa èm Pak yang Bapak terima?” “Banyak sekali. Namanya juga surat. Ada a, ada b, ada c. Tentu juga ada èmnya. Tapi saya ya hanya membaca. Tidak perlu menghitung huruf èmnya.” “Maksud saya, Bapak telah terima uang berapa èm dari pengusaha yang akan mantu itu?” “Lo, pasti beberapa èm. Dia memang harus menyewa, dan saya mematok harga tinggi. Kalian cèk saja ke Sekjen.” “Untuk Bapak sendiri?” “Saya juga pernah mau dikasih, tetapi saya tolak. Cukup begitu?” “Anu Pak, katanya…….!” “Sudahlah, nanti diselesaikan saja dengan Pak Dirjen!” >diaC< Pro dan kontra resepsi pernikahan di Alun-alun Suryakencana, makin hari makin ramai. September seharusnya sudah mulai hujan. Tetapi langit masih tetap tak berawan. Di mana-mana kering kerontang. Kebakaran hutan terjadi di mana-mana, dan asapnya terbang sampai ke negeri jiran. Menteri Kehutanan diprotes, didemo, dikejar-kejar wartawan. Isu kebakaran hutan, juga digunakan untuk memojokkan Menteri ini. “Kalau nanti sampai terjadi kebakaran di Taman Nasional bagaimana Pak?” “Kalau sampai terjadi kebakaran, ya dipadamkan. Kebakaran di lokasi sulit seperti di Sumatera dan Kalimantan pun saya urus. Apalagi kebakaran di situ. Apa kalian ingin kalau ada kebakaran saya diem saja?” “Bukan begitu Pak. Ini kan musim kemarau. Kalau nanti ada yang membuang puntung, lalu hutannya terbakar, kita kan makin jadi sorotan internasional. Modal asing akan sulit masuk lo Pak!” “Semua sudah disiapkan. Semua sudah diurus sampai ke detilnya. Saya sudah konsultasi ke Bapak Presiden dan beliau mengatakan bahwa saya harus jalan terus!” “Jadi Presiden juga mengijinkan Taman Nasional itu untuk mantu?” “Beliau malah ingin hadir dalam resepsi itu. Beliau mengatakan bahwa gagasan memanfaatkan Taman Nasional untuk resepsi pernikahan, merupakan sebuah terobosan yang brilyan. Diharapkan para wisatawan asing maupun lokal, akan makin mengenal Taman Nasional kita, lalu mengunjunginya. Itu berarti devisa akan masuk.” Meskipun ditentang pecinta alam dan aktivis lingkungan, meskipun demo-demo jalan terus, rencana resepsi tetap jalan terus. “Kalau presiden sudah merestui, mau apa lagi?” Itulah celetukan yang terdengar di kalangan elite politik. Beberapa LSM lingkungan, lalu sepakat menggugat Boss Besar itu secara perdata. Mereka juga mengajukan Menteri Kehutanan ke Pengadilan Tata Usaha Negara. Beberapa anggota Dewan di Senayan, memanfaatkan isu ini, untuk menggalang kekuatan. Mereka berencana menggunakan hak angket. Wartawan cetak dan terutama wartawan tivi, senang dengan isu seperti ini. Mereka patungan menyewa heli untuk meliput langsung ke alun-alun yang dihebohkan. Sebab hampir semua stasiun tivi, tidak punya stock shot Suryakencana. Bahkan stock shot bunga edelweis pun tidak ada. Tetapi niat mereka ditentang Menteri Kehutanan. “Kalau mereka mau naik, saya sediakan heli gratis. Tetapi bukan selonang-selonong begitu. Coba telepon pemred tivi dan koran-koran itu!” Hari itu langit Jakarta tetap panas, berdebu dan berasap. Matahari kelihatan redup. Padahal tak ada awan. Tetapi ketika heli itu membubung makin tinggi, terkuaklah selubung yang meredupkan langit Jakarta. Nun di atas sana, langit ternyata tetap biru dan bersih. Matahari juga berkilau dan tajam. Para pemimpin redaksi beberapa media di Jakarta, diangkut dengan heli dari Halim, langsung ke Suryakencana. Fotografer, kameraman, semua lengkap. Mereka dipandu langsung Menteri Kehutanan. Hanya dalam waktu beberapa menit, rombongan itu sudah sampai di Suryakencana. “Bagaimana? Apakah Bapak-bapak dan Ibu-ibu masih ragu-ragu?” tanya menteri itu dengan senyum kemenangan. Para pemred masih mencoba mencari-cari titik lemah. “Bukankah suasananya nanti akan berisik Pak? Padahal salah satu ketentuan di Taman Nasional adalah, tidak boleh ada suara gaduh. Sebab akan mengganggu satwa yang di sini?” “Justru, pemrakarsa ide ini, beliau yang akan punya gawe, telah memutuskan bahwa tidak akan ada musik. Jadi nantinya para undangan akan bisa seratus persen menikmati bunyi angin, suara elang, dengung lebah dan lain-lain. Prakarsa itu justru datang dari beliau.” “Tetapi kalau ada sekian banyak manusia, kan berisik pak. Belum lagi bunyi genset yang pasti akan memekakkan telinga.” “Nanti dulu, kalau soal ada orang banyak, tiap harinya Taman Nasional ini juga dikunjungi ratusan orang. Kalau soal genset, beliau akan mendatangkan genset fuel cell berbahan bakar hidrogen cair. Suaranya tidak ada, yang keluar dari knalpotnya hanya uap air. Jadi mau apa lagi? Sudahlah, sekarang mari kita nikmati saja, suasana siang yang nyaman ini. Apakah Anda-anda ini ada yang sudah pernah kemari?” “Ya hampir semuanya belum pernah Pak. Kecuali itu Pemred National Geographic.” “Nah, makanya sekarang kita santai saja. Sekarang waktu akan saya serahkan ke Kepala Taman Nasional, silahken Bapak-bapak dan Ibu-ibu Pemred ini dipandu.” >diaC< Seminggu sebelum hajatan besar berlangsung, kesibukan sudah mulai tampak. Heli besar kecil hilir mudik. Kepala taman nasional telah menutup Gunung Gede Pangrango bagi pendakian umum. Paspampres mulai menyisir tempat-tempat yang mencurigakan. Semua pintu masuk pendakian dijaga ketat. Jalur-jalur yang biasa digunakan pencari kayu bakar, pencari paku-pakuan, semuanya dijaga tentara, polisi, mahasiswa pecinta alam dan warga setempat. Sebuah stasiun tivi telah memenangkan tender hak siaran langsung, dengan sponsor perusahaan rokok. Pers yang akan meliput acara ini diseleksi dengan cermat. Media yang selama ini minir terhadap pemerintah, tidak diberi ijin meliput. Jumlah wartawan, fotografer, kameraman dan presenter tivi juga dibatasi. “Ini demi kenyamanan kita bersama, dan juga demi kelestarian Taman Nasional kita,” jawab Menteri Kehutanan, ketika ada wartawan yang iseng mempertanyakan pembatasan ini. Tenda, toilet portable, meja-meja, kursi, semuanya diangkut dengan heli. Sebuah tower reservoir darurat dipasang. Tangki-tangki yang akan menampung limbah toilet didatangkan. Stasiun tivi yang memenangkan tender tayangan langsung, telah memasang antene darurat di Puncak Gede. Pas hari H, semua penonton tivi di tanah air, akan bisa menyaksikan event langka ini secara langsung. Seorang ustad kondang dan artis kenamaan akan hadir sebagai saksi akad nikah. Hari H itu pun tiba. Cuaca sangat cerah. Tak ada secuil awan pun tampak di langit. Heli demi heli berdengung dari Jakarta menuju Suryakencana. Semua membawa tamu VVIP. Suasana Alun-alun itu sendiri sudah berubah dari hari-hari biasa. Meskipun santigi, rododendron, edelweis dan rumput liar, semua masih tegak menjadi hiasan alami, di antara tenda-tenda. Dan nun di tengah tenda-tenda kecil warna-warni itu, berdirilah sebuah tenda raksasa yang megah. Di tenda besar itulah para tamu agung akan duduk menyaksikan hajatan. Presiden dan wapres, diharapkan hadir tepat pukul 11.00 WIB. Mereka berdua hanya akan datang, memberi selamat kepada mempelai, foto bersama lalu pulang. Sebab kesibukan beliau berdua hari ini, memang luarbiasa. Pukul 09.00 pagi, tamu-tamu sudah mulai datang. Mereka tidak langsung masuk tenda, melainkan berkeliling menikmati pemandangan yang belum pernah mereka saksikan sebelumnya. Pukul 09.30 tamu yang datang makin banyak. Sebab pukul 10.00, akad nikah akan dimulai. Pukul 09.45, mendadak kabut datang. Cuaca yang semula cerah tiba-tiba berubah gelap. Angin juga bertiup sangat kencang. Kabut makin tebal. Angin makin menggila. Hujan turun dengan lebat. Para tamu berlarian. Tenda-tenda kecil roboh dan terbang dibawa angin. Cuaca makin tak karuan. Tenda besar terguncang-guncang keras. Tiba-tiba sebuah tenda kecil terbang menghantam tenda besar itu. Tenda besar itu pun roboh. Sebagian terpalnya melambai-lambai dimainkan angin. Kain tenda itu terus berkibaran, bagai layar kapal yang tiangnya patah diterjang badai. Cimanggis, 2006

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme