Setelah mematikan kompor, ibu menghampiriku dengan amarah yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Disundutnya kuat-kuat pahaku dengan rokok yang baranya nyaris menyentuh filter. Entah sudah berapa kali ibu memahat kawah luka di pahaku. Bukan hanya sundutan rokok, kibasan rotan serta sepakan kaki juga sering aku terima bila ibu sedang marah. Sore ini ibu benar-benar marah—dihadiahkannya aku ketiga-tiganya. Dan aku hanya bisa menangis menahan semua siksa ibu.
Biasanya setiap sore ibu jarang ada di rumah. Sehingga rumah sering terlihat seperti tak berpenghuni. Kecuali bila ayah pulang lebih awal dan ibu kebetulan sedang tak keluar rumah. Maka ramai dan meriahlah rumahku. Namun bukan karena riuh tawa bahagia yang membumbung ke udara, melainkan suara perang makian antara ayah dengan ibu. Bila sudah begitu, paling cepat seminggu ayah baru kelihatan lagi di rumah. Kadang malah sampai satu bulan ayah baru pulang.
Pelan-pelan kuoleskan luka yang baru saja bertambah di pahaku dengan odol. Di rumahku kini odol bukan hanya berguna sebagai obat pembersih gigi, tapi sudah pula menjadi obat untuk luka-luka yang aku terima jika ibu sedang marah. Junaidi sahabat karibku yang mengajari. Katanya obat luka bakar atau birat rotan yang bagus adalah odol gigi.
¤ ¤ ¤
Junaidi tampak serius memberi makan ikan cupang kesayangannya saat aku mendatangi rumahnya. Tak mau mengganggunya, aku memilih duduk di lantai memerhatikan. Aku memang selalu mendatangi rumah Junaidi setiap sore. Tapi bukan karena aku baru saja dimarahi ibu. Di kampung ini, selain Junaidi tak ada lagi anak-anak sebaya kami yang mau berteman denganku. Entahlah, aku tak pernah tahu kenapa. Kenapa pula hanya Junaidi yang mau berteman denganku.
“Kau tak melaga ikanmu, Jun?” tegurku.
“Ah, si Wawan curang! Dia tak pernah ngasih ikannya kalau kalah,” jawab Junaidi sedikit kesal sambil terus memberi makan ikan-ikannya.
Di kampungku, anak-anak sebaya kami bila melaga ikan taruhannya tak pernah uang. Tetapi yang kalah harus merelakan ikannya diambil oleh si pemenang. Beda dengan orang-orang dewasa. Dan, Junaidi sahabatku ini adalah anak yang sangat berbakat menjadi pelatih ikan cupang. Sebab setiap ikan yang kalah bila dirawat olehnya pasti akan kembali buas seperti belum pernah kalah. Itulah mengapa teman-temannya jarang mau melaga ikan dengannya.
“Jadi untuk apa kau pelihara ikan-ikan itu kalau bukan untuk dilaga, Jun?”
“Ikan-ikan ini kupelihara bukan hanya untuk dilaga, Bal. Tapi karena aku suka dengan warna-warnanya. Lagi pula dilaga itu memang sudah nasibnya.”
“Sama seperti nasibku, Jun!”
“Kau dipukul rotan lagi, ya?” Junaidi berhenti memberi makan ikan-ikannya.
“Bukan hanya dipukul. Tapi disundut rokok dan disepak.”
“Taruh odol gigi, Bal!”
“Sudah,” jawabku menunduk.
“Kau terlambat cuci piring atau kau lupa menimba air, Bal?”
“Bukan! Aku lupa mematikan kompor,” jawabku. Pelan bulir-bulir bening tumpah di pipiku.
“Sudahlah, jangan menangis Bal! Masih ada aku, Junaidi!” katanya sambil menepuk dada. “Ayo kita cari jentik-jentik! Ikanku masih lapar,” Junaidi menarik lenganku.
¤ ¤ ¤
Jentik-jentik makanan ikan cupang Junaidi biasanya kami cari di parit. Dan parit yang paling banyak jentik-jentik adanya di sebelah kedai kopi Wak Lokot. Kedai kopi Wak Lokot satu-satunya kedai kopi di kampung kami. Makanya kedai kopi itu selalu ramai dengan orang-orang dewasa. Ada yang sekadar duduk-duduk sambil minum kopi, tapi ada juga yang serius main judi sampai pagi. Di kedai kopi itulah ayah sering menghabiskan hidupnya dengan berjudi.
Jika sedang serius main judi, ayah selalu membolak-balikkan topi tentaranya. Kebiasaan itu sering aku lihat saat aku sedang mencari jentik-jentik dengan Junaidi atau saat aku disuruh ibu meminta uang pada ayah. Tetapi ayah bukanlah seorang tentara. Meskipun ia memiliki beberapa topi tentara. Topi-topi itu ayah dapat dari almarhum kakek yang seorang pensiunan tentara.
Walaupun bukan pensiunan jenderal, kakek termasuk orang mampu di kampungku. Ibu pernah bercerita (sebelum ibu membenciku seperti sekarang ini) jika dulu semasa lajang ayah termasuk pemuda yang royal dengan uang. Makanya ibu tak ragu menganggukkan kepala tatkala ayah mengajaknya menikah.
Bukan hanya itu, saat awal-awal menikah, ayah sebenarnya memiliki usaha cuci motor yang cukup laris di kampungku. Saking larisnya, ayah sampai memiliki delapan pegawai pencuci motor. Ibu dan aku pun selalu dibelikan ayah hadiah; aku dibelikan mainan dan ibu dibelikan perhiasan. Rasanya itulah periode paling bahagia dalam hidupku. Namun, itu dulu. Sebelum ayah suka berjudi dan mabuk-mabukan. Sebelum ibu ketahuan membawa seorang laki-laki masuk ke dalam kamar.
Aku masih ingat, saat itu usiaku 7 tahun. Ibu menyuruhku menjaga pintu dan memintaku berteriak jika ada orang yang datang. Namun karena terlalu asyik dengan mainanku, aku tak tahu ayah pulang ke rumah. Dan beberapa saat kemudian kudengar suara ibu minta-minta ampun. Aku tak tahu apa yang terjadi di dalam. Yang aku ingat, setelah ayah membanting pintu keras-keras lalu meninggalkan rumah, ibu pun memakiku habis-habisan.
“Dasar anak tolol! Kusuruh jaga di pintu, kau malah main dengan mainanmu!” Itulah kalimat kasar pertama ibu kepadaku sekaligus menjadi awal mulanya aku disiksa.
¤ ¤ ¤
Selepas makan malam di rumah Junaidi, aku bergegas pulang. Aku baru ingat kalau besok ada tugas sekolah yang harus dikumpulkan. Meskipun selalu juara di kelas, aku tidak pernah menyepelekan tugas yang diberikan oleh guruku. Mungkin itulah sebabnya ayah selalu marah jika melihat ibu menyiksaku.
Sepanjang jalan pulang, berulang kali kupandangi bulan yang menggantung di langit. Aku memang begitu menyukai bulan. Cahayanya selalu memberikan kedamaian di dalam hatiku. Saking sukanya dengan bulan, aku bercita-cita ingin pergi ke bulan jika besar nanti. Aku ingin mengambil sepotong cahayanya dan mengantungnya di dalam rumahku. Sehingga rumahku akan selalu melahirkan kedamaian. Bukan makian.
Di depan rumah, langkahku terhenti di jantung pintu. Aku seperti mendengar suara dari dalam rumah. Apakah itu degup suara ibu? Tapi mana mungkin jam segini ibu sudah pulang, batinku. Dengan sedikit mengendap-ngendap aku lanjutkan langkah dan kemudian membuka pintu. Tapi belum genap pintu rumah kututup kembali, aku dikejutkan oleh cahaya lampu yang mendadak menyala di ruang tamu. Sepasang mata di hadapanku seperti mengeluarkan asap. Siapa lagi yang menghadangku kalau bukan ibu. Tanpa mukaddimah, rotan di tangan ibu pun berkelebat di tubuhku dari kaki sampai ke punggung.
Baca juga : Perempuan Tua di Rumah Panggung
“Dasar anak malas! Bukannya belajar, malah main-main kerjamu!” Keras suara ibu, sekeras itu pula pukulannya padaku. Dan aku hanya bisa menangis sembari berucap, “Ampun…ampun…ampun ibu…”
Memelas seperti itu sesungguhnya tidak ada artinya sebelum ibu benar-benar puas memukulku. Tetapi, malam ini langit sepertinya berkehendak lain. Ayah yang setengah tenggen tiba-tiba saja mendobrak pintu. Selamat, bisik batinku memantul ke telingaku.
Tapi belum sempat aku meneguk satu-dua tarikan nafas, ibu sudah kembali menghujani aku dengan rotan. Tak terima melihat aku disiksa, ayah reflek menendang ibu. Ibu pun terjajar di bahu kursi.
“Setan! Berani kau menendangku? Mabuk, berjudi saja kerja kau!” ibu mengaing makin geram.
“Tutup mulutmu.” ayah pun balas menyalak.
“Kau yang tutup mulut! Kau pikir aku takut?” Kini bukan hanya rotan di tangan ibu.
“Hei, kalau bukan karena tabiatmu membawa laki-laki masuk ke rumah ini, tak begini jadinya sekarang!” Ayah mulai naik pitam. Amarahnya membuncah. Tangannya menyambar pisau yang ada di meja makan.
Tak ingin lebih lama lagi melihat ayah dan ibu menyabung makian, aku lari keluar rumah. Lari ke jalan besar.
Di jalan besar saat aku ingin menyeberang, mataku membentur cahaya yang begitu menyilaukan sehingga membuatku tak melihat apa-apa dan kepalaku terasa begitu sakit.
¤ ¤ ¤
Aku terbangun dan kurasakan tubuhku begitu ringan. Mendadak aku teringat ayah dan ibu. Tadi malam ayah sempat memegang sebilah pisau. Khawatir pada ibu, aku memutuskan kembali ke rumah.
Di depan rumah, kulihat orang-orang kampung begitu ramai mengerubungi rumahku. Mereka berbisik-bisik. Tapi entah apa yang mereka ceritakan. Aku pun merasa takut dan mulai menangis. Namun tak satu pun yang peduli. Bahkan, melihatku pun mereka tak sudi. Lelah menangis dan orang-orang semakin ramai mengerubungi rumahku, aku pun pergi ke rumah Junaidi.
Seperti biasa, Junaidi tampak serius memberi makan ikan cupangnya saat aku mendatangi rumahnya. Tapi ada sedikit yang berbeda dari kebiasaan Junaidi itu, ia seperti tidak bersemangat memberi makan ikan-ikannya.
“Kau tahu tidak kenapa rumahku ramai dikerubungi orang-orang kampung, Jun?” tanyaku.
Junaidi diam. Seperti tidak mendengar pertanyaanku. Aku pun mengulangi pertanyaanku dengan suara yang lebih keras. Tapi Junaidi tetap bergeming tak menjawab. Kesal dengan sikap acuh Junaidi, aku mendekatinya dan berteriak di telinganya.
Tetapi Junaidi tetap saja diam tak membalas teriakkanku. Kulihat bulir-bulir bening jatuh dari kedua bola matanya.
Ada apa dengan Junaidi? Mengapa ia menangis?
***
Kalibata City, 2020
Ilham Wayudi lahir di Medan, Sumatera Utara. Ia seorang juru antar makanan di DapurIBU dan seorang Fuqara di Amirat Sumatera Timur. Beberapa cerpennya ada yang dimuat dan ada yang ditolak. Buku kumpulan cerpennya Kalimance Ingin Jadi Penyair akan segera terbit.
sumber : kompas.id, 07 Agt 2021.