Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Mengapa Menangis oleh Ilham Wahyudi

Posted on Sab, 07 Agu 2021

Setelah mematikan kompor, ibu menghampiriku dengan amarah yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Disundutnya kuat-kuat pahaku dengan rokok yang baranya nyaris menyentuh filter. Entah sudah berapa kali ibu memahat kawah luka di pahaku. Bukan hanya sundutan rokok, kibasan rotan serta sepakan kaki juga sering aku terima bila ibu sedang marah. Sore ini ibu benar-benar marah—dihadiahkannya aku ketiga-tiganya. Dan aku hanya bisa menangis menahan semua siksa ibu.

Biasanya setiap sore ibu jarang ada di rumah. Sehingga rumah sering terlihat seperti tak berpenghuni. Kecuali bila ayah pulang lebih awal dan ibu kebetulan sedang tak keluar rumah. Maka ramai dan meriahlah rumahku. Namun bukan karena riuh tawa bahagia yang membumbung ke udara, melainkan suara perang makian antara ayah dengan ibu. Bila sudah begitu, paling cepat seminggu ayah baru kelihatan lagi di rumah. Kadang malah sampai satu bulan ayah baru pulang.

Pelan-pelan kuoleskan luka yang baru saja bertambah di pahaku dengan odol. Di rumahku kini odol bukan hanya berguna sebagai obat pembersih gigi, tapi sudah pula menjadi obat untuk luka-luka yang aku terima jika ibu sedang marah. Junaidi sahabat karibku yang mengajari. Katanya obat luka bakar atau birat rotan yang bagus adalah odol gigi.

¤ ¤ ¤

Junaidi tampak serius memberi makan ikan cupang kesayangannya saat aku mendatangi rumahnya. Tak mau mengganggunya, aku memilih duduk di lantai memerhatikan. Aku memang selalu mendatangi rumah Junaidi setiap sore. Tapi bukan karena aku baru saja dimarahi ibu. Di kampung ini, selain Junaidi tak ada lagi anak-anak sebaya kami yang mau berteman denganku. Entahlah, aku tak pernah tahu kenapa. Kenapa pula hanya Junaidi yang mau berteman denganku.

“Kau tak melaga ikanmu, Jun?” tegurku.

“Ah, si Wawan curang! Dia tak pernah ngasih ikannya kalau kalah,” jawab Junaidi sedikit kesal sambil terus memberi makan ikan-ikannya.

Di kampungku, anak-anak sebaya kami bila melaga ikan taruhannya tak pernah uang. Tetapi yang kalah harus merelakan ikannya diambil oleh si pemenang. Beda dengan orang-orang dewasa. Dan, Junaidi sahabatku ini adalah anak yang sangat berbakat menjadi pelatih ikan cupang. Sebab setiap ikan yang kalah bila dirawat olehnya pasti akan kembali buas seperti belum pernah kalah. Itulah mengapa teman-temannya jarang mau melaga ikan dengannya.

“Jadi untuk apa kau pelihara ikan-ikan itu kalau bukan untuk dilaga, Jun?”

“Ikan-ikan ini kupelihara bukan hanya untuk dilaga, Bal. Tapi karena aku suka dengan warna-warnanya. Lagi pula dilaga itu memang sudah nasibnya.”

“Sama seperti nasibku, Jun!”

“Kau dipukul rotan lagi, ya?” Junaidi berhenti memberi makan ikan-ikannya.

“Bukan hanya dipukul. Tapi disundut rokok dan disepak.”

“Taruh odol gigi, Bal!”

“Sudah,” jawabku menunduk.

“Kau terlambat cuci piring atau kau lupa menimba air, Bal?”

“Bukan! Aku lupa mematikan kompor,” jawabku. Pelan bulir-bulir bening tumpah di pipiku.

“Sudahlah, jangan menangis Bal! Masih ada aku, Junaidi!” katanya sambil menepuk dada. “Ayo kita cari jentik-jentik! Ikanku masih lapar,” Junaidi menarik lenganku.

¤ ¤ ¤

Jentik-jentik makanan ikan cupang Junaidi biasanya kami cari di parit. Dan parit yang paling banyak jentik-jentik adanya di sebelah kedai kopi Wak Lokot. Kedai kopi Wak Lokot satu-satunya kedai kopi di kampung kami. Makanya kedai kopi itu selalu ramai dengan orang-orang dewasa. Ada yang sekadar duduk-duduk sambil minum kopi, tapi ada juga yang serius main judi sampai pagi. Di kedai kopi itulah ayah sering menghabiskan hidupnya dengan berjudi.

Jika sedang serius main judi, ayah selalu membolak-balikkan topi tentaranya. Kebiasaan itu sering aku lihat saat aku sedang mencari jentik-jentik dengan Junaidi atau saat aku disuruh ibu meminta uang pada ayah. Tetapi ayah bukanlah seorang tentara. Meskipun ia memiliki beberapa topi tentara. Topi-topi itu ayah dapat dari almarhum kakek yang seorang pensiunan tentara.

Walaupun bukan pensiunan jenderal, kakek termasuk orang mampu di kampungku. Ibu pernah bercerita (sebelum ibu membenciku seperti sekarang ini) jika dulu semasa lajang ayah termasuk pemuda yang royal dengan uang. Makanya ibu tak ragu menganggukkan kepala tatkala ayah mengajaknya menikah.

Bukan hanya itu, saat awal-awal menikah, ayah sebenarnya memiliki usaha cuci motor yang cukup laris di kampungku. Saking larisnya, ayah sampai memiliki delapan pegawai pencuci motor. Ibu dan aku pun selalu dibelikan ayah hadiah; aku dibelikan mainan dan ibu dibelikan perhiasan. Rasanya itulah periode paling bahagia dalam hidupku. Namun, itu dulu. Sebelum ayah suka berjudi dan mabuk-mabukan. Sebelum ibu ketahuan membawa seorang laki-laki masuk ke dalam kamar.

Aku masih ingat, saat itu usiaku 7 tahun. Ibu menyuruhku menjaga pintu dan memintaku berteriak jika ada orang yang datang. Namun karena terlalu asyik dengan mainanku, aku tak tahu ayah pulang ke rumah. Dan beberapa saat kemudian kudengar suara ibu minta-minta ampun. Aku tak tahu apa yang terjadi di dalam. Yang aku ingat, setelah ayah membanting pintu keras-keras lalu meninggalkan rumah, ibu pun memakiku habis-habisan.

“Dasar anak tolol! Kusuruh jaga di pintu, kau malah main dengan mainanmu!” Itulah kalimat kasar pertama ibu kepadaku sekaligus menjadi awal mulanya aku disiksa.

¤ ¤ ¤

Selepas makan malam di rumah Junaidi, aku bergegas pulang. Aku baru ingat kalau besok ada tugas sekolah yang harus dikumpulkan. Meskipun selalu juara di kelas, aku tidak pernah menyepelekan tugas yang diberikan oleh guruku. Mungkin itulah sebabnya ayah selalu marah jika melihat ibu menyiksaku.

Sepanjang jalan pulang, berulang kali kupandangi bulan yang menggantung di langit. Aku memang begitu menyukai bulan. Cahayanya selalu memberikan kedamaian di dalam hatiku. Saking sukanya dengan bulan, aku bercita-cita ingin pergi ke bulan jika besar nanti. Aku ingin mengambil sepotong cahayanya dan mengantungnya di dalam rumahku. Sehingga rumahku akan selalu melahirkan kedamaian. Bukan makian.

Di depan rumah, langkahku terhenti di jantung pintu. Aku seperti mendengar suara dari dalam rumah. Apakah itu degup suara ibu? Tapi mana mungkin jam segini ibu sudah pulang, batinku. Dengan sedikit mengendap-ngendap aku lanjutkan langkah dan kemudian membuka pintu. Tapi belum genap pintu rumah kututup kembali, aku dikejutkan oleh cahaya lampu yang mendadak menyala di ruang tamu. Sepasang mata di hadapanku seperti mengeluarkan asap. Siapa lagi yang menghadangku kalau bukan ibu. Tanpa mukaddimah, rotan di tangan ibu pun berkelebat di tubuhku dari kaki sampai ke punggung.

Baca juga : Perempuan Tua di Rumah Panggung

“Dasar anak malas! Bukannya belajar, malah main-main kerjamu!” Keras suara ibu, sekeras itu pula pukulannya padaku. Dan aku hanya bisa menangis sembari berucap, “Ampun…ampun…ampun ibu…”

Memelas seperti itu sesungguhnya tidak ada artinya sebelum ibu benar-benar puas memukulku. Tetapi, malam ini langit sepertinya berkehendak lain. Ayah yang setengah tenggen tiba-tiba saja mendobrak pintu. Selamat, bisik batinku memantul ke telingaku.

Tapi belum sempat aku meneguk satu-dua tarikan nafas, ibu sudah kembali menghujani aku dengan rotan. Tak terima melihat aku disiksa, ayah reflek menendang ibu. Ibu pun terjajar di bahu kursi.

“Setan! Berani kau menendangku? Mabuk, berjudi saja kerja kau!” ibu mengaing makin geram.

“Tutup mulutmu.” ayah pun balas menyalak.

“Kau yang tutup mulut! Kau pikir aku takut?” Kini bukan hanya rotan di tangan ibu.

“Hei,  kalau bukan karena tabiatmu membawa laki-laki masuk ke rumah ini, tak begini jadinya sekarang!” Ayah mulai naik pitam. Amarahnya membuncah. Tangannya menyambar pisau yang ada di meja makan.

Tak ingin lebih lama lagi melihat ayah dan ibu menyabung makian, aku lari keluar rumah. Lari ke jalan besar.

Di jalan besar saat aku ingin menyeberang, mataku membentur cahaya yang begitu menyilaukan sehingga membuatku tak melihat apa-apa dan kepalaku terasa begitu sakit.

¤ ¤ ¤

Aku terbangun dan kurasakan tubuhku begitu ringan. Mendadak aku teringat ayah dan ibu. Tadi malam ayah sempat memegang sebilah pisau. Khawatir pada ibu, aku memutuskan kembali ke rumah.

Di depan rumah, kulihat orang-orang kampung begitu ramai mengerubungi rumahku. Mereka berbisik-bisik. Tapi entah apa yang mereka ceritakan. Aku pun merasa takut dan mulai menangis. Namun tak satu pun yang peduli. Bahkan, melihatku pun mereka tak sudi. Lelah menangis dan orang-orang semakin ramai mengerubungi rumahku, aku pun pergi ke rumah Junaidi.

Seperti biasa, Junaidi tampak serius memberi makan ikan cupangnya saat aku mendatangi rumahnya. Tapi ada sedikit yang berbeda dari kebiasaan Junaidi itu, ia seperti tidak bersemangat memberi makan ikan-ikannya.

“Kau tahu tidak kenapa rumahku ramai dikerubungi orang-orang kampung, Jun?” tanyaku.

Junaidi diam. Seperti tidak mendengar pertanyaanku. Aku pun mengulangi pertanyaanku dengan suara yang lebih keras. Tapi Junaidi tetap bergeming tak menjawab. Kesal dengan sikap acuh Junaidi, aku mendekatinya dan berteriak di telinganya.

Tetapi Junaidi tetap saja diam tak membalas teriakkanku. Kulihat bulir-bulir bening jatuh dari kedua bola matanya.

Ada apa dengan Junaidi? Mengapa ia menangis?

***

Kalibata City, 2020

Ilham Wayudi lahir di Medan, Sumatera Utara. Ia seorang juru antar makanan di DapurIBU dan seorang Fuqara di Amirat Sumatera Timur. Beberapa cerpennya ada yang dimuat dan ada yang ditolak. Buku kumpulan cerpennya Kalimance Ingin Jadi Penyair akan segera terbit.

sumber : kompas.id, 07 Agt 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme