Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Kado oleh Riyana Rizki

Posted on Kam, 16 Sep 2021

Memasuki bulan September Mas Gun, suamiku, memiliki kesibukan rutin. Mencari kado ulang tahun pernikahan orangtuanya. Sepanjang minggu di awal bulan, ia dan kedua saudaranya akan mendaftar kebutuhan atau barang yang sedang diinginkan orangtua mereka. Di sela-sela waktu kerja, mereka berdiskusi untuk memutuskan siapa memberi apa. Mereka sepakat membagi seperti itu agar jangan sampai ada kado yang sama. Biasanya, beberapa hari mendekati hari-H, mereka sudah memutuskan. Tapi, dua hari menjelang hari ulang tahun pernikahan mertua, aku mendapati Mas Gun masih kebingungan hendak memberi kado apa.

”Semakin ke sini, pilihan semakin berkurang,” katanya sambil menata meja makan.

”Kita ngomongin apa, Mas?” Suaraku beradu dengan blender.

”Kado buat Bapak-Ibu.” Aku membaca gerak bibir Mas Gun karena suaranya teredam bunyi blender. Menyadari aku tidak mendengar apa pun, ia menunggu blender berhenti melumat buah. ”Kado untuk Bapak-Ibu,” ia mengulang begitu suara blender menguap di udara.

Aku duduk setelah meletakkan segelas jus di dekat piringnya.

”Menurutmu apa yang sedang diinginkan Ba….” Mas Gun tidak melanjutkan. Ia beralih pada makanan di piring dan makan begitu sunyi. Aku dan Mas Gun, juga yang lainnya, tahu apa yang sedang diinginkan Bapak-Ibu. Tiba-tiba jus buah tanpa gula buatanku terasa semakin hambar.

Pak Ahya, ayah mertuaku, laki-laki yang hangat, jarang bicara, dan selalu tersenyum. Bu Marya, ibu mertuaku, tidak suka diam, ramah, dan menyenangkan. Aku suka mertuaku. Tapi tidak pernah suka dengan undangan makan malam mereka. Makan malam kami hanya akan membahas keinginan mereka yang belum kesampaian. Menu-menu yang disediakan tidak pernah berubah sejak pertama kali aku datang makan malam sebagai menantu. Tiram, toge, wortel, asparagus, daging merah, dan segelas susu yang rasanya aneh khusus untuk para menantu. Mereka ingin ada bayi keluar dari rahim perempuan-perempuan yang menikahi putra-putra mereka.

Aku anak pertama dengan empat adik perempuan dan satu laki-laki. Jarak kelahiran kami hanya sekitar satu sampai dua tahun saja. Ibu tidak bekerja, gaji ayah sudah cukup untuk mengenyangkan 8 perut. Ibu tidak menuntut banyak. Hanya meminta mengajak keempat adik perempuanku bermain ketika ia mengurus si bungsu. Aku tidak kerepotan. Asal tidak ada yang iri dengan mainan yang lain. Keadaan aman terkendali.

Tapi, suatu hari, saat usiaku 11 tahun, ibu menitipkan si bungsu, si anak laki-laki satu-satunya. Ibu sangat ingin ke kamar kecil. Aku membawanya ke ruang bermain, bergabung dengan kakak-kakaknya. Enam bulan usia hanya dihabiskan bersama ibu.

Wajar saja ibu tidak mau melepas si bungsu bersama kami. Ia sangat lucu, menggemaskan, dan menyenangkan. Setidaknya tidak akan berkelahi karena berebut mainan. Fokusku tertuju padanya. Aku lalai pada empat adikku hingga entah bagaimana caranya adikku yang berusia dua dan tiga tahun berebut boneka beruang. Sementara dua adikku yang lebih besar dari mereka—yang berkelahi—tidak bisa melerai. Mau tidak mau kualihkan perhatian pada empat bocah itu. Kusita boneka beruang sialan yang menjadi rebutan. Keduanya menjerit. Dua lainnya melotot padaku. Tidak pernah mereka serewel dan semenyebalkan ini.

Si bungsu terbatuk. Aku menoleh. Betapa jantungku hendak lepas dari tempatnya melihat si bungsu tergeletak dengan wajah yang pucat. Aku bergegas mendekat. Mulutnya terbuka. Kesulitan bernapas. Aku berteriak memanggil ibu. Tapi ia tidak juga muncul dari balik pintu. Kuminta adik tertuaku memanggilnya.

Ibu datang tidak lama. Bola matanya hampir menggelinding jatuh melihat si bungsu tergeletak dengan mulut terbuka dan kulit yang semakin pucat.

Sementara anaknya yang lain hanya menonton. Ibu mendudukkan si bungsu, menahan dada kemudian menepuk punggung perlahan. Si bungsu, kesayangan ibu, tidak pernah memberi reaksi apapun.

Ibu tidak marah, juga tidak bicara padaku. Bahkan, sampai akhirnya memutuskan menggantung tubuhnya di belakang rumah 11 tahun kemudian.

Ibu tersiksa begitu lama. Ayah meninggal tiga tahun berselang. Komplikasi jantung, diabetes, dan kolesterol. Sebagai anak tertua, aku tidak bisa mengurus adik-adikku. Kutitipkan mereka pada kakek-nenek. Dua di pihak ayah, dua di pihak ibu. Aku merantau.

Benar kata ibu, ”Kamu tidak becus mengurus anak,” dan aku memang tidak mau.

Suamiku juga tidak mau. Sehari sebelum pernikahan kami, Mas Gun bahkan mengantarku memasang alat kontrasepsi. Sekarang, ia juga pakai.

Ia juga anak pertama, punya dua adik. Berjarak 8 tahun dengan anak kedua, 12 tahun dengan anak terakhir. Masa remaja Mas Gun habis untuk mengurus dua adiknya, sementara kedua orangtuanya sibuk bekerja. Ia harus membuat keduanya tidur jika ingin mengerjakan yang lain. Ia tidak pernah tahu rasanya nongkrong di Sabtu malam, pulang larut, atau sekadar berkunjung ke rumah teman sebaya sepulang sekolah. Ia justru mendalami cara mengganti popok, pertolongan pertama saat tersedak, cara mendiamkan anak balita yang tantrum. Ia tidak pernah menjadi anak-anak. Tidak sempat menjadi remaja. Ia digariskan lahir sebagai laki-laki dewasa.

Bel pintu terdengar. Kulihat Mas Gun masih makan dengan sunyi. Aku beranjak ke ruang depan. Itu Sani, istri dari adik Mas Gun, Galih. Sebagai sesama menantu, hubungan kami tidak terlalu baik, juga tidak bisa dibilang buruk. Bukan karena saling iri, hanya jarang ngobrol. Melihatnya berdiri sendiri di balik pintu rumah sudah membuatku merasa heran, terlebih dengan raut yang kacau.

Kami mengajaknya ke ruang keluarga. Ia mulai dengan minta maaf karena datang sendiri dan begitu tiba-tiba. Sani dan Galih bertengkar. Terhebat selama 6 tahun pernikahan.

”Padahal aku cuma nanya, Mbak, Mas, ’kamu mau kasih kado apa untuk bapak-ibu?’ dia malah gebrak meja terus bilang, ’kamu tahu masih nanya’ sambil teriak.”

Kupikir hanya suasana di rumah tanggaku yang tidak baik jika membahas kado bapak-ibu. Sani masih bercerita. Enam tahun menikah suaminya terus meributkan masalah yang sama.

”Mas Galih mandul,” katanya. Kami dijerat bisu, tidak berani berkomentar. Bibirnya mulai bergetar. ”Ia sudah tahu sejak tiga tahun lalu. Tapi baru memberitahuku hari ini.”

Sani kembali diam. Sunyi benar-benar menguasai kami. Bahkan, aku bisa mendengar bunyi tipis perut suamiku yang belum terisi penuh karena tidak sempat menghabiskan makan malamnya.

*

Dan malam ini datang. Begitu Mas Gun memarkir mobil, mertuaku sudah berdiri di pintu. Menyambut kami. Kulihat mobil Sani dan Galih sudah terparkir di beranda. Mas Gun mendamaikan mereka malam itu. Seperti Mas Gun, Galih memutuskan merahasiakan alasan belum juga ada bayi yang tumbuh di rahim istrinya.

Kami tidak mendapati Gea, adik bungsu Mas Gun. Biasanya Gea datang paling awal. Si bungsu belum menikah. Usianya 29,  bulan Desember nanti. Bu Marya tentu saja mendapatinya sebagai subyek baru untuk dicereweti soal pernikahan. Tentu saja untuk kepentingan hasratnya yang belum juga kesampaian. Di perayaan ulang tahun pernikahan mertuaku tahun lalu, Gea membawa seorang lelaki ke tengah kami. Kalau aku tidak salah ingat namanya Billy. Setelah makan malam berakhir dan lelaki itu pulang, Bu Marya marah besar. Acara makan malam hanya untuk anggota keluarga, katanya.

”Billy akan jadi bagian dari kita,” Gea membela diri.

Bukannya tenang, ibu mertuaku makin meledak. Ia tidak menyukai lelaki itu. Seorang anak band dengan tindikan di alis dan bibir. Ibu mertuaku lebih suka lelaki kantoran yang klimis. Ibu mertuaku memaksa mereka untuk putus. Gea tidak menolak, juga pasti tidak akan mengiyakan.

Aku sedikit mengenalnya dibandingkan Galih. Orang menyebutnya keras kepala, tapi yang kulihat bahwa ia hanya ingin hidup dengan caranya sendiri. Ia masih sangat belia ketika aku menikahi kakaknya. Ia sering bermalam di rumah, terutama jika ada hal yang harus diceritakan. Perempuan ini benar-benar penuh kejutan. Selalu ada cerita tidak terduga darinya.

Gea datang dengan wajah sangat cerah. Duduk diam hanya mendengarkan ketika kami berbincang sebelum makan malam. Begitu Bu Marya memanggil kami untuk makan, wajahnya semakin cerah. Tidak berkurang kadar cerahnya ketika melihat menu makanan yang selalu sama dari tahun ke tahun: tiram, toge, wortel, asparagus, daging merah, dan segelas susu yang rasanya aneh khusus untuk para menantu.

Wajahnya benar-benar semringah ketika acara buka kado. Mas Gun mengeluarkan kadonya. Bapak-Ibu membuka. Mereka tampak senang—yang hanya sekadar ekspresi mengapresiasi—begitu mengetahui mendapat sepasang jam tangan. Aku tahu Mas Gun sudah bekerja keras untuk memikirkan dan mendapat kedua benda itu. Dengan ekspresi demikian, aku merasa tersinggung. Tapi aku tetap suka mertuaku.

Mereka beralih pada kado dari Sani dan Galih. Dengan ekspresi yang sama keduanya menunjukkan gelang mutiara air laut dan sabuk dari kulit asli yang aku tahu tidak murah. Lagi-lagi aku kecewa melihat ekspresi mertuaku. Tapi aku paham. Semua yang melingkari meja makan ini tahu, bukan barang-barang itu yang mereka inginkan. Kami tahu mereka sudah menunggu terlalu lama. Kami masih membenarkan diri sendiri dengan alasan yang sama.

Tiba giliran Gea. Kotak kecil berpita merah maroon. Gea masih bermuka cerah. Aku dan Mas Gun gelisah. Kejutan apa lagi yang Gea bawa kali ini. Pak Ahya menarik pita dengan pelan. Membuka penutup kotak. Diam. Ibu mertuaku penasaran. Mengambil kotak dan melihat isinya. Juga diam. Hingga tangannya bergerak untuk mengeluarkan kado dari Gea.

Test pack dengan dua garis merah melintang. Diam seperti menjalar dari satu tubuh ke tubuh lainnya. Setelah bisa menguasai keadaan, kuarahkan pandangan kepada Gea yang semakin berwajah cerah. Senyum yang sangat penuh menempel di wajahnya. Aku melewatkan satu cerita.

”Itu kado dariku dan Billy. Sayangnya, Billy sedang ada konser amal malam ini,” Gea memecah keheningan.

Mertuaku saling pandang. Entah mengapa aku merasa menang. Tapi, sekali lagi kutegaskan, aku suka mertuaku. Hanya tidak pernah suka dengan undangan makan malam mereka. Tapi malam ini aku berubah suka.

***

Riyana Rizki merupakan penulis buku Jangan Pulang jika Kamu Perempuan. Alumnus Fakultas Ilmu Budaya UGM ini pernah mengikuti Workshop Cerpen Kompas di Jakarta pada 2015. Dia terpilih sebagai Emerging Writer dalam Makassar International Writers Festival 2018. Cerita pendeknya telah dipublikasikan di beberapa media cetak dan online. Pada Maret 2019, dia menjadi satu dari 50 perempuan pekerja seni yang hadir dalam Peretas Berkumpul 01: PAKAROSO! di Poso. Selain menjadi pengajar, ia juga berkegiatan di Relawan Pendidikan NTB dan Sanggar EKS.

sumber : kompas.id, 16 Sep 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme