Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Bolos oleh Siti Hajar

Posted on Sab, 23 Okt 2021

Sudah beberapa hari Laura bolos mengaji. Ibunya sudah kewalahan menghadapi tingkah anak perempuannya itu. Ada-ada saja alasan ia absen mengaji. Terkadang ia pura-pura sakit. Pernah sekali ia bersembunyi di bawah tempat tidurnya, sampai ibunya mengira ia hilang, lain waktu ia pergi ke rumah neneknya dan tidak pulang semalaman, sampai ibunya harus menjemputnya pagi-pagi untuk berangkat sekolah.

Bapaknya sendiri sudah angkat tangan dengan kelakuan putrinya. Walaupun sudah di hukum beberapa kali, Laura tampaknya tidak memperlihatkan tanda-tanda akan jera. Bapak Laura akhirnya sudah tidak ambil pusing dengan tingkah anaknya, ia akan acuh tak acuh membiarkan Laura membolos begitu saja.

Berbeda dengan ibunya, setiap hari ia melakukan berbagai cara agar anaknya mau kembali mengaji, sampai membuat Bapaknya jengah melihat kelakuan istrinya.

”Sudah biarkan saja semaunya dia, Bu. Yang penting dia masih mau bersekolah.”

”Mau jadi apa anak kita kalau tidak punya pendidikan agama, Pak? Agama sebagai fondasi agar kelakuan anak kita nanti terarah. Percuma nanti anak kita sukses menjadi pejabat atau menjadi para elite kalau tidak punya pegangan agama, nanti dia akan berbuat semena-mena pada sesamanya.”

”Sekarang para pejabat dan para elite saja tidak peduli dengan agama, Bu.”

”Husss! Jangan bilang begitu Pak, nanti ada yang dengar.” Tambah istrinya.

”Memang begitu adanya, Bu. Sekarang banyak pejabat mencari uang dengan cara haram, contohnya saja korupsi di mana-mana, saling tuduh sana sini dan saling menghancurkan sesamanya demi kepentingan pribadi dan banyak lagi. Jika memang benar, agama adalah dasar moralitas manusia, tentu mereka tidak melakukannya. Tampaknya pelajaran agama sudah tidak berfungsi lagi untuk zaman sekarang, Bu.”

”Astagfirullah Pak, jangan berbicara melantur begitu, kita ingin anak kita menjadi sukses, berguna, dan tetap menjadi anak salehah. Hati-hati dengan ucapanmu, Pak. Ucapan adalah doa.”

Kalau sudah begitu, bapaknya hanya melengos, meninggalkan istrinya yang sedang berbicara panjang lebar.

Makna agama bagi dirinya kini memang sangat kabur, kesehariannya sebagai perangkat desa terkadang membuatnya kebingungan membedakan yang benar dan yang salah. Meski dirinya mengganggap sesuatu hal itu salah, entah kenapa ia tetap menjalani kesalahan tersebut.

Ia bertanya-tanya apakah memang benar agama menjadi panutan hidup setiap orang dalam bertingkah. Jika memang begitu, kenapa dirinya dan rekan kerjanya yang notabenenya anak pesantren dan mondok bertahun-tahun tetap melakukan banyak hal menyimpang.

Bukannya tidak tahu itu salah, tetapi ia tidak tahu cara mengendalikan atau bahkan menghentikannya. Terlebih lagi mereka berdua melakukannya secara sadar tanpa rasa takut atau berdosa.

Jika pegawai kecil seperti dirinya dan rekannya saja sudah melakukan korupsi kecil-kecilan, apalagi pejabat besar? Berapa uang yang mereka kantongi kira-kira? pikirnya suatu ketika.

Terkadang ia mencari pembenaran atas tindakannya yang salah. Ia akan berkata kepada dirinya sendiri bahwa di luar sana banyak yang mengambil hak rakyat berjuta-juta kali lipat, bahkan mungkin lebih. Sementara ia hanya memungut uang administrasi Rp 10.000-Rp20.000 saja. Walaupun pelajaran agama memberi tahu ia akan dibakar di dalam api neraka yang panas, sebesar apa pun hak orang lain yang ia ambil, sungguh dia tidak lagi peduli.

Namun, ia tetap ingin putrinya menjadi anak yang lebih baik darinya. Ia berharap Laura tumbuh menjadi gadis yang pintar dan dan berbudi luhur serta selalu taat perintah-perintah agama untuk menghindari hal-hal yang menyesatkan hidupnya. Sikap buruknya, ia tak hendak menurunkannya kepada putrinya. Oleh karena itu, ia mengajari hal-hal yang baik kepada Laura sehingga Laura pun tumbuh menajadi gadis kecil yang cerdas dan baik prilakunya.

”Laura memang sedikit nakal akhir-akhir ini Bu, dulu ia murid panutan bagi teman-temannya karena ia anak yang baik,” kata Bu Haji sambil menatap ibu Laura prihatin.

Ibu Laura hanya memijat-mijat keningnya mencoba melepaskan beban yang membuat kepalanya pusing.

Awalnya, Laura memang anak yang baik dan penurut. Ia anak yang cerdas dan tidak pernah absen mengaji. Namun, akhir-akhir ini, ia mulai memperlihatkan permusuhan kepada Kiai dan Bu Haji istri guru ngajinya. Beberapa minggu sebelum ia membolos, Laura sering membuat ulah di Surau. Terkadang ia mencuri mangga milik Kiai, merusak tanaman Bu Haji, melempari genteng Surau, atau menyamar menjadi pocong dan membuat teman-temannya terbirit-birit lari ketakutan meninggalkan Surau.

Laura memang sedikit nakal akhir-akhir ini Bu, dulu ia murid panutan bagi teman-temannya karena ia anak yang baik.

Lambat laun perangainya mulai diikuti anak-anak lainya. Teman-temannya  mulai membuat ulah pula di sana sini bersamanya. Maka, terbentuklah geng begundal yang dipimpin Laura, yang selalu membuat naik darah Bu Haji.

Suatu hari, ada huru hara di depan Surau. Beberapa anak-anak berkelahi sampai membuat kaca jendela pecah. Lalu Kiai dan Bu Haji memanggil semua para santri. Tidak ada yang mau mengaku siapa yang memecahkan kaca. Anak-anak bandel itu saling lempar kesalahan. Mungkin anak-anak ini belajar trik dari para elite berdasi dan pejabat tinggi, saling lempar kesalahan ke sana sini, merasa paling benar sendiri lalu cuci tangan. Atau mungkin para elite yang seperti anak kecil, Entahlah.

Oleh karena semua kekacauan yang terjadi, Bu Haji akhirnya mengancam akan menghukum semua santri jika tidak ada yang mengaku. Tentu saja, di antara mereka selalu ada penjilat yang berkhianat, mengadu kepada Bu Haji bahwa Laura dan teman-temanya yang memecahkan kaca. Sama seperti orang-orang dewasa, selalu ada orang yang cari muka demi mendapat sanjungan. Begitulah memang anak-anak adalah peniru yang baik.

”Anak-anak begundal itu memang tidak ada jeranya,” kata Bu Haji.

”Sudahlah Bu, namanya juga anak-anak. Memang sedang masa-masanya manjadi pemberontak,” jelas Kiai kepada istrinya.

”Bapak jangan terlalu memanjakan murid-muridmu, Pak. Apalagi mereka anak-anak perempuan. Perempuan itu harusnya duduk manis tidak banyak bertingkah, mau jadi apa mereka?”

”Itu bukanlah hal besar, Bu. Tidak usah memperkeruh suasana?”

”Mereka memecahkan kaca jendela Surau, Pak!”

”Sudahlah Bu, anak-anak sekarang berbeda zaman dengan kita dulu. Jika dulu kita akan jera dengan hukuman, anak-anak sekarang malah akan semakin bandel.”

Bu Haji hanya menarik napas panjang menghadapi suaminya yang terlalu bijaksana membela anak-anak nakal itu. Ia kemudian akan melepaskan begitu saja anak-anak itu walau dengan hati yang kesal.

Pelajaran mengaji berjalan seperti biasa tanpa hukuman atau omelan dari Bu Haji. Jam pelajaran di mulai sehabis Ashar dengan mengaji kitab, kemudian dilanjutkan Maghrib sampai Isya dengan shalat berjamaah dan belajar membaca Al Quran.

Walau sudah bebas dari hukuman, anak-anak itu bukannya jera, melainkan satu per satu mulai sering membolos mengaji. Puncaknya adalah ketika Maulid Nabi, murid-murid perempuan lebih dari setengahnya membolos.

Para orangtua akhirnya turun tangan menghukum anak-anak nakal itu. Mereka akan mengantarnya sampai Surau dan memastikan mereka pergi mengaji.

Namun, berbeda dengan Laura, ia bahkan bergeming saat bapaknya murka dan menghukumnya dengan guyuran air.

Sampai sekarang Laura satu-satunya anak yang tidak mau melangkahkan kakinya ke Surau. Ibunya sudah kehilangan cara menghadapai kelakuan anaknya itu. Suatu hari ia mencoba membujuk anaknya dengan lemah lembut.

”Laura sayang, ayo kita mengaji, nanti Mama belikan hadiah untuk Laura.”

”Laura tidak mau pergi mengaji, Ma.”

”Kenapa Laura tidak mau mengaji?”

”Karena Laura tidak mau praktik shalat, Ma”

”Lho kenapa, Kiai akan ngajarin shalat yang benar, sayang.”

”Pokonya Laura tidak mau mengaji, titik.” matanya melotot ke arah ibunya.

Lalu ia akan berlari ke rumah neneknya meminta perlindungan. Ibunya hanya menarik napas panjang dan membiarkanya. Karena mau tidak mau ia harus berdebat dengan mertuanya jika tetap mengajaknya pergi mengaji.

Jarak antara mertua dan menantu terkadang membuatnya segan. Walau di depan, hubungan mereka baik-baik saja, tidak jarang mertuanya menggosipkan keburukannya kepada tetangganya. Sejak dulu, hubungan mertua dan menantu memang selalu punya jarak yang sangat rumit.

Sungguh ia merasa putus asa membujuk anak perempuannya. Sebagai ibu, ia merasa gagal dibandingkan dengan ibu-ibu lain tetangganya. Walaupun latar belakang pendidikan mereka masih sangat minim, nyatanya mereka lebih berhasil membujuk anak-anak mereka yang membolos dari pada ia dan suaminya yang punya latar belakang pendidikannya yang baik.

”Laura masih tidak mau mengaji, Bu?” tanya seorang tetangganya saat sedang membeli sayuran bersama.

”Iya Bu, saya sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi agar anak itu kembali megaji.”

”Coba Ibu tanya apa yang terjadi kepadanya, mungkin dia bertengkar dengan temanya atau sesuatu terjadi kepadanya. Kita sebagai orangtua kadang kurang peka terhadap kenakalan-kenakalan anak kita, Bu.”

”Orangtua terkadang sering menuntut anaknya ini itu tanpa mau peduli apa yang terjadi kepada anaknya,” jelas tetangganya yang lain.

”Iya Bu, tapi saat saya tanya, alasannya aneh-aneh, katanya dia tidak mau mengaji karena tidak mau praktik shalat.” 

”Namanya anak-anak, Bu, dulu Ratih saat usianya seperti Laura juga begitu Bu. Hati-hati Bu, anak-anak sekarang sangat pintar dan penuh tipu daya. Semua anak-anak bilang begitu kepada orangtuanya, katanya tidak mau praktik shalat karena Kiai meraba-raba dada dan pinggul mereka saat membetulkan ruku dan sujud. Tidak mungkin juga Kiai bersikap kurang ajar begitu ya Bu, wong Kiai ilmu agamanya tinggi. anak zaman sekarang memang pintar sekali mencari alasan. Mereka kerap kali berbohong hanya karena mereka malas mengaji, Bu.” tambah tetangganya yang lain.

Ibu Laura terenyak mendengar kata-kata tetangganya, tanpa bisa berkata apa-apa ia buru-buru pergi meninggalkan para tetangganya menuju rumah nenek Laura.

***

Siti Hajar, alumnus Universitas Negeri Yogyakarta, yang kini bekerja bekerja sebagai staf accounting di salah satu perusahaan.

sumber : kompas.id, 23 Okt 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme