Hari ketika lelaki itu menenggak racun warangan—atau mungkin sengaja diracuni agar menenggak racun warangan, Trowulan sedang disibukkan upacara Srada Agung, sebab genta lonceng para pandita Kasyiwan dan Kasogatan berdentang tiada henti dari arah selatan kota. Tak ada yang mengetahui peristiwa itu. Gempita upacara pendharmaan arwah orang paling berkuasa di Wilwatikta membungkamnya.
Entah apa yang membuat petinggi-petinggi Wilwatikta berusaha menyingkirkan lelaki itu. Dari kasak-kusuk yang dia dengar, tulisannyalah yang menjadi penyebab. Kakawin yang dia tulis telah mengusik ketenangan para pembesar Wilwatikta. Setiap orang yang bertemu dengannya mengatakan hal yang sama. Bahwa orang-orang dalam kadhaton tak menyukai tulisannya.
Kepadaku, lelaki itu mengaku juga tak tahu kenapa kakawin yang dia tulis untuk meluruskan perilaku para pembesar tanah Jawa yang mulai melenceng dari dharma kesatria, justru dianggap sebagai perlawanan kepada penguasa.
Lelaki itu menulis kalimat-kalimat sakral di atas lembaran daun tal. Kalimat yang tercetus setelah ayahnya—Mpu Bahula—menjenguk lewat sebuah mimpi. Dalam mimpi itu, Mpu Bahula mengatakan bahwa Wilwatikta tak akan bertahan lama jika Mahapatih Amangkubumi Gajah Mada menggunakan tangan besi kekuasaan untuk mewujudkan ambisi Sumpah Palapa. Menurut ayahnya, sebagai manusia yang di dalam tubuhnya mengalir darah kasta Brahmana, dia harus bersuara.
Menurut Mpu Bahula pula, Gajah Mada tidak pernah memikirkan bahwa negeri-negeri di luar Wilwatikta yang hendak disatukan dalam satu kekuasaan memiliki tabiat dan keyakinan beragam. Tidak semuanya bisa disamakan dengan perilaku orang Wilwatikta di tanah Jawa. Apalagi, dipaksa tunduk dengan menggunakan kekuatan senjata.
Bukan tanpa alasan mendiang ayahnya berkata seperti itu. Sebelum dia bermimpi, suatu malam di tahun 1256 Saka, Bale Manguntur serupa dihajar suara guntur. Sumpah yang diucapkan seorang Mahapatih Amangkubumi yang baru saja dinobatkan oleh penguasa Wilwatikta, Dyah Gitarja, menggetarkan seisi bangunan paling megah di antara bangunan-bangunan di Trowulan.
”Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, amun kalah ring Gurun, ring Seran, Tañjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa—Jika telah menundukkan seluruh Nusantara di bawah kekuasaan Majapahit, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa!”
Semua yang hadir di sana saling pandang. Sebagian menggeleng-gelengkan kepala tanda tak percaya. Sebagian lagi hanya tersenyum simpul sebab menahan tawa dan tidak berani terbahak-bahak di sebuah pertemuan agung.
Bukan tanpa sebab mereka menyangsikan sumpah itu. Dalam ingatan orang-orang Jawa, mulai zaman Sri Dharmawangsa Teguh di Medang, Batara Airlangga di Kahuripan, hingga Sri Kertenegara di Singhasari pernah memiliki ambisi serupa Gajah Mada. Tetapi semua sebatas angin lalu belaka. Maka pantaslah jika yang mendengar sumpah pada malam itu tidak lantas yakin begitu saja.
***
Bertahun-tahun setelah sumpah itu diucapkan, Trowulan berpesta menyambut kedatangan pasukan Mahapatih Amangkubumi Gajah Mada dari pulau seberang. Tersiar kabar bahwa mereka baru saja berhasil menjadikan Gurun dan Seran, tanah-tanah nun jauh di timur sana sebagai bagian dari Wilwatikta. Setiap hari orang-orang selalu membicarakan kabar itu di warung-warung, sawah, kebun, kadhaton, hingga ke pelosok desa.
Jika telah menundukkan seluruh Nusantara di bawah kekuasaan Majapahit, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa!
Pada tahun-tahun berikutnya, lelaki itu mendapati perbincangan orang-orang sekotaraja. Bahwa Dompo dan Bali telah pula menjadi bagian dari kekuasaan Trowulan. Bahkan berlanjut ke Tañjungpura, Haru, Pahang, Palembang, dan Tumasik. Hanya satu yang belum tersentuh: Sunda di belahan barat tanah Jawa.
Mahapatih Amangkubumi Gajah Mada sendiri sudah semakin sulit ditemui. Padahal ingin sekali lelaki itu berbicara empat mata dengannya. Sekadar menanyakan kenapa akhirnya darah harus ditumpahkan di tanah-tanah seberang yang kini menjadi bagian dari Wilwatikta?
Berkali-kali datang ke Trowulan tetapi tak kunjung bisa menemui Mahapatih Amangkubumi, akhirnya lelaki itu memilih mengungkapkan segala keresahan yang mengganjal di hatinya, yang sebenarnya hendak disampaikan langsung kepada Gajah Mada, menjadi sebuah kakawin.
Dia menulis tentang pedoman sikap dan perilaku bagi orang-orang di sebuah negeri yang berambisi menjadi besar. Ada dasasila di dalam kakawin itu. ”Aja sira anlarani hati nin wong. Aja amidanda tan sabenere. Aja amalat duwe nin wadwa nira. Aja tan asih in daridra. Luluta rin pandita. Aja Sira katunkul ing kagunan, amujya nabhaktya. Aja memateni yen tan sabenere. Uttama si yen sira akalisa rin pati. Sampuraha rin tiwas. Anulaha saama daana aja apilih jana—Jangan menyakiti perasaan orang lain. Jangan menjatuhkan hukuman yang tidak adil. Jangan menjarah harta rakyatmu. Jangan menunda kebaikan terhadap mereka yang kurang beruntung. Mengabdilah kepada orang yang berbudi luhur. Jangan menjadi sombong, walau banyak orang menghormatimu. Jangan menjatuhkan hukuman mati, kecuali menjadi tuntutan keadilan. Adalah yang terbaik, jika kau tidak takut kematian. Bersabar dalam keadaan susah (adalah yang terbaik). Jika kau berjiwa besar, memberilah tanpa pilih kasih.”
Epik perjalanan suci Pangeran Sutasoma ketika menyatukan perbedaan-perbedaan keyakinan, Kasogatan dan Kasyiwan juga menjadi bagian penting dari kakawin yang dia tulis. Salah satu kalimat sakral yang dia tulis itu berbunyi ”Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa”.
Lelaki itu berharap para petinggi Wilwatikta membaca kakawin itu. Bukan hanya sekarang, tetapi turun-temurun hingga ke akhir zaman kelak. Bahwa ada pendekatan tabiat, perilaku, dan kearifan kawula di setiap tempat, yang bisa digunakan untuk menyatukan negeri yang beragam. Bukan sekadar menggunakan tangan besi penguasa. Apalagi menempuh jalan pertikaian dengan meruncingkan perbedaan keyakinan.
Trowulan gempar. Kadhaton murka. Kakawin itu dianggap sebagai sebuah sindiran kepada Wilwatikta yang makin mengepakkan sayap dengan menyatukan negeri-negeri di luar Jawa ke dalam sebuah imperium. Mendadak lelaki itu menjadi orang nomor satu yang diperbincangkan di kadhaton.
Dalam tubuh lelaki itu mengalir darah para brahmana, sejak Mpu Baradah hingga Mpu Bahula. Tak mudah menghukumnya. Ada aturan turun-temurun yang menempatkan kedudukan kasta Brahmana berada di atas kasta Kesatria. Melawan brahmana, sama dengan melawan Dewata. Melukai brahmana, berarti melukai Dewata.
Akan tetapi, Wilwatikta tetaplah penguasa. Tak ada yang mustahil dilakukan. Sepak terjang lelaki itu tidak boleh dibiarkan begitu saja. Dia dianggap serupa duri dalam daging yang kapan saja akan menciptakan nanah bagi Trowulan.
”Tak lama lagi orang-orang suruhan kadhaton pasti datang,” desis lelaki itu sambil menatap seekor burung bence yang terus bersuara dari sebatang pohon kalpataru di halaman rumahnya. Burung yang diyakini masyarakat Jawa sebagai tanda kedatangan orang asing. ”Sementara kita menepi ke lereng Gunung Anjasmara.”
Saat itulah aku mulai mengerti. Dia menatapku lama. Raut mukanya tampak menandakan kesedihan. Tapi perlahan dia tutupi dengan sebuah senyum.
”Setiap gerak-gerik kita sedang diawasi. Sulit menerka siapa saja orang di sekitar kita yang menjadi suruhan kadhaton,” lanjutnya.
”Kenapa mereka memburu Bapa?”
”Sutasoma penyebabnya.”
”Bukankah itu wejangan mulia?”
”Iya, tetapi sindiran keras untuk orang-orang kasta Kesatria.”
Aku tahu, lelaki itu sedang mengalamai masa-masa sulit. Dia selalu berkata, sebuah niat baik terkadang tidak selalu akan berakhir bahagia.
Dadaku bergetar. Aku berdoa agar niat baiknya berakhir dengan kebahagiaan. Perlahan, gerimis turun malam itu. Malam menjelang upacara Srada Agung di selatan kota Trowulan.
***
Hari ketika lelaki itu menenggak racun warangan—atau mungkin sengaja diracuni dengan racun warangan di sebuah warung di kaki Gunung Anjasmara, Trowulan sedang diguyur hujan lebat. Aku ingat saat itu adalah hari upacara Srada Agung, sebab genta lonceng para pandita Kasyiwan dan Kasogatan berdentang tiada henti dari arah selatan kota.
Dalam perjalanan menuju lereng Gunung Anjasmara, aku dan lelaki itu berhenti di sebuah warung legen. Sambutan ramah perempuan pemilik warung membuatku lengah menjaganya. Lelaki itu menggelepar, sesaat sebelum aku memaksanya mengeluarkan lagi secentak legen dari lambungnya.
Dalam hitungan detik, aku justru ikut mengerut ketika mendadak merasakan sesak napas. Angin yang semula berembus terasa menghilang. Lelaki itu masih bersandar di tempat duduknya dengan tubuh lemas. Matanya tak berkedip menatapku yang ganti berjuang melawan racun warangan.
Langit terang benderang. Burung-burung bersayap putih tampak turun dari langit. Aku merasakan tenggorokanku seperti dicekik, kemudian berganti menjadi rasa hangat yang menjalari seluruh bagian tubuh. Jalan napas di paru-paruku seperti tersumbat. Kulihat sudut mata lelaki itu berair, bersamaan ketika aku merasakan nadiku berhenti berdenyut. Genta lonceng para pandita Kasyiwan dan Kasogatan berdentang tiada henti dari arah selatan kota Trowulan. (*)
Heru Sang Amurwabumi,
Pendiri Komunitas Pegiat Literasi Nganjuk. Pernah duduk sebagai anggota redaksi Harian Bernas. Cerpennya, Mahapralaya Bubat, mengantarnya terpilih sebagai emerging writer di Ubud Writers & Readers Festival 2019.
Catatan kaki:
1. Warangan = racun arsenik.
2. Srada Agung = upacara perigatan dua belas tahun. kematian bangsawan Majapahit.
3. Kasyiwan = penganut keyakinan ajaran Syiwa.
4. Kasogatan = penganut keyakinan Sogata/Buddha.
5. Kadhaton (bahasa Jawa) = Istana.
6. Wilwatikta (bahasa Sanskerta) = kata dasarnya wilwa (maja) dan tikta (pahit).
7. Tal = Sejenis pohon palma, nama ilmiahnya borassus flabelliformis.
8. Kakawin = Syair Jawa kuno.
9. Bale Manguntur = pendopo tempat menghadap Raja Majapahit.
10. Dasasila = Sepuluh pedoman hidup, dikutip dari Kakawin Sutasoma karya Mpu Prapanca.
11. Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa = Berbeda tetapi satu, tiada kebenaran yang mendua.
12. Legen = minuman dari sulur bunga pohon tal.
13. Centak = gelas kuno yang terbuat dari batang bambu.
sumber : kompas.id, 06 Nov 2021.