Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Sutasoma dalam Kakawin Sang Brahmana oleh Heru Sang Amurwabumi

Posted on Sab, 06 Nov 2021

Hari ketika lelaki itu menenggak racun warangan—atau mungkin sengaja diracuni agar menenggak racun warangan, Trowulan sedang disibukkan upacara Srada Agung, sebab genta lonceng para pandita Kasyiwan dan Kasogatan berdentang tiada henti dari arah selatan kota. Tak ada yang mengetahui peristiwa itu. Gempita upacara pendharmaan arwah orang paling berkuasa di Wilwatikta membungkamnya.

Entah apa yang membuat petinggi-petinggi Wilwatikta berusaha menyingkirkan lelaki itu. Dari kasak-kusuk yang dia dengar, tulisannyalah yang menjadi penyebab. Kakawin yang dia tulis telah mengusik ketenangan para pembesar Wilwatikta. Setiap orang yang bertemu dengannya mengatakan hal yang sama. Bahwa orang-orang dalam kadhaton tak menyukai tulisannya.

Kepadaku, lelaki itu mengaku juga tak tahu kenapa kakawin yang dia tulis untuk meluruskan perilaku para pembesar tanah Jawa yang mulai melenceng dari dharma kesatria, justru dianggap sebagai perlawanan kepada penguasa.

Lelaki itu menulis kalimat-kalimat sakral di atas lembaran daun tal. Kalimat yang tercetus setelah ayahnya—Mpu Bahula—menjenguk lewat sebuah mimpi. Dalam mimpi itu, Mpu Bahula mengatakan bahwa Wilwatikta tak akan bertahan lama jika Mahapatih Amangkubumi Gajah Mada menggunakan tangan besi kekuasaan untuk mewujudkan ambisi Sumpah Palapa. Menurut ayahnya, sebagai manusia yang di dalam tubuhnya mengalir darah kasta Brahmana, dia harus bersuara.

Menurut Mpu Bahula pula, Gajah Mada tidak pernah memikirkan bahwa negeri-negeri di luar Wilwatikta yang hendak disatukan dalam satu kekuasaan memiliki tabiat dan keyakinan beragam. Tidak semuanya bisa disamakan dengan perilaku orang Wilwatikta di tanah Jawa. Apalagi, dipaksa tunduk dengan menggunakan kekuatan senjata.

Bukan tanpa alasan mendiang ayahnya berkata seperti itu. Sebelum dia bermimpi, suatu malam di tahun 1256 Saka, Bale Manguntur serupa dihajar suara guntur. Sumpah yang diucapkan seorang Mahapatih Amangkubumi yang baru saja dinobatkan oleh penguasa Wilwatikta, Dyah Gitarja, menggetarkan seisi bangunan paling megah di antara bangunan-bangunan di Trowulan.

”Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, amun kalah ring Gurun, ring Seran, Tañjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa—Jika telah menundukkan seluruh Nusantara di bawah kekuasaan Majapahit, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa!”

Semua yang hadir di sana saling pandang. Sebagian menggeleng-gelengkan kepala tanda tak percaya. Sebagian lagi hanya tersenyum simpul sebab menahan tawa dan tidak berani terbahak-bahak di sebuah pertemuan agung.

Bukan tanpa sebab mereka menyangsikan sumpah itu. Dalam ingatan orang-orang Jawa, mulai zaman Sri Dharmawangsa Teguh di Medang, Batara Airlangga di Kahuripan, hingga Sri Kertenegara di Singhasari pernah memiliki ambisi serupa Gajah Mada. Tetapi semua sebatas angin lalu belaka. Maka pantaslah jika yang mendengar sumpah pada malam itu tidak lantas yakin begitu saja.

***

Bertahun-tahun setelah sumpah itu diucapkan, Trowulan berpesta menyambut kedatangan pasukan Mahapatih Amangkubumi Gajah Mada dari pulau seberang. Tersiar kabar bahwa mereka baru saja berhasil menjadikan Gurun dan Seran, tanah-tanah nun jauh di timur sana sebagai bagian dari Wilwatikta. Setiap hari orang-orang selalu membicarakan kabar itu di warung-warung, sawah, kebun, kadhaton, hingga ke pelosok desa.

Jika telah menundukkan seluruh Nusantara di bawah kekuasaan Majapahit, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa!

Pada tahun-tahun berikutnya, lelaki itu mendapati perbincangan orang-orang sekotaraja. Bahwa Dompo dan Bali telah pula menjadi bagian dari kekuasaan Trowulan. Bahkan berlanjut ke Tañjungpura, Haru, Pahang, Palembang, dan Tumasik. Hanya satu yang belum tersentuh: Sunda di belahan barat tanah Jawa.

Mahapatih Amangkubumi Gajah Mada sendiri sudah semakin sulit ditemui. Padahal ingin sekali lelaki itu berbicara empat mata dengannya. Sekadar menanyakan kenapa akhirnya darah harus ditumpahkan di tanah-tanah seberang yang kini menjadi bagian dari Wilwatikta?

Berkali-kali datang ke Trowulan tetapi tak kunjung bisa menemui Mahapatih Amangkubumi, akhirnya lelaki itu memilih mengungkapkan segala keresahan yang mengganjal di hatinya, yang sebenarnya hendak disampaikan langsung kepada Gajah Mada, menjadi sebuah kakawin.

Dia menulis tentang pedoman sikap dan perilaku bagi orang-orang di sebuah negeri yang berambisi menjadi besar. Ada dasasila di dalam kakawin itu. ”Aja sira anlarani hati nin wong. Aja amidanda tan sabenere. Aja amalat duwe nin wadwa nira. Aja tan asih in daridra. Luluta rin pandita. Aja Sira katunkul ing kagunan, amujya nabhaktya. Aja memateni yen tan sabenere. Uttama si yen sira akalisa rin pati. Sampuraha rin tiwas. Anulaha saama daana aja apilih jana—Jangan menyakiti perasaan orang lain. Jangan menjatuhkan hukuman yang tidak adil. Jangan menjarah harta rakyatmu. Jangan menunda kebaikan terhadap mereka yang kurang beruntung. Mengabdilah kepada orang yang berbudi luhur. Jangan menjadi sombong, walau banyak orang menghormatimu. Jangan menjatuhkan hukuman mati, kecuali menjadi tuntutan keadilan. Adalah yang terbaik, jika kau tidak takut kematian. Bersabar dalam keadaan susah (adalah yang terbaik). Jika kau berjiwa besar, memberilah tanpa pilih kasih.”

Epik perjalanan suci Pangeran Sutasoma ketika menyatukan perbedaan-perbedaan keyakinan, Kasogatan dan Kasyiwan juga menjadi bagian penting dari kakawin yang dia tulis. Salah satu kalimat sakral yang dia tulis itu berbunyi ”Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa”.

Lelaki itu berharap para petinggi Wilwatikta membaca kakawin itu. Bukan hanya sekarang, tetapi turun-temurun hingga ke akhir zaman kelak. Bahwa ada pendekatan tabiat, perilaku, dan kearifan kawula di setiap tempat, yang bisa digunakan untuk menyatukan negeri yang beragam. Bukan sekadar menggunakan tangan besi penguasa. Apalagi menempuh jalan pertikaian dengan meruncingkan perbedaan keyakinan.

Trowulan gempar. Kadhaton murka. Kakawin itu dianggap sebagai sebuah sindiran kepada Wilwatikta yang makin mengepakkan sayap dengan menyatukan negeri-negeri di luar Jawa ke dalam sebuah imperium. Mendadak lelaki itu menjadi orang nomor satu yang diperbincangkan di kadhaton.

Dalam tubuh lelaki itu mengalir darah para brahmana, sejak Mpu Baradah hingga Mpu Bahula. Tak mudah menghukumnya. Ada aturan turun-temurun yang menempatkan kedudukan kasta Brahmana berada di atas kasta Kesatria. Melawan brahmana, sama dengan melawan Dewata. Melukai brahmana, berarti melukai Dewata.

Akan tetapi, Wilwatikta tetaplah penguasa. Tak ada yang mustahil dilakukan. Sepak terjang lelaki itu tidak boleh dibiarkan begitu saja. Dia dianggap serupa duri dalam daging yang kapan saja akan menciptakan nanah bagi Trowulan.

”Tak lama lagi orang-orang suruhan kadhaton pasti datang,” desis lelaki itu sambil menatap seekor burung bence yang terus bersuara dari sebatang pohon kalpataru di halaman rumahnya. Burung yang diyakini masyarakat Jawa sebagai tanda kedatangan orang asing. ”Sementara kita menepi ke lereng Gunung Anjasmara.”

Saat itulah aku mulai mengerti. Dia menatapku lama. Raut mukanya tampak menandakan kesedihan. Tapi perlahan dia tutupi dengan sebuah senyum.

”Setiap gerak-gerik kita sedang diawasi. Sulit menerka siapa saja orang di sekitar kita yang menjadi suruhan kadhaton,” lanjutnya.

”Kenapa mereka memburu Bapa?”

”Sutasoma penyebabnya.”

”Bukankah itu wejangan mulia?”

”Iya, tetapi sindiran keras untuk orang-orang kasta Kesatria.”

Aku tahu, lelaki itu sedang mengalamai masa-masa sulit. Dia selalu berkata, sebuah niat baik terkadang tidak selalu akan berakhir bahagia.

Dadaku bergetar. Aku berdoa agar niat baiknya berakhir dengan kebahagiaan. Perlahan, gerimis turun malam itu. Malam menjelang upacara Srada Agung di selatan kota Trowulan.

***

Hari ketika lelaki itu menenggak racun warangan—atau mungkin sengaja diracuni dengan racun warangan di sebuah warung di kaki Gunung Anjasmara, Trowulan sedang diguyur hujan lebat. Aku ingat saat itu adalah hari upacara Srada Agung, sebab genta lonceng para pandita Kasyiwan dan Kasogatan berdentang tiada henti dari arah selatan kota.

Dalam perjalanan menuju lereng Gunung Anjasmara, aku dan lelaki itu berhenti di sebuah warung legen. Sambutan ramah perempuan pemilik warung membuatku lengah menjaganya. Lelaki itu menggelepar, sesaat sebelum aku memaksanya mengeluarkan lagi secentak legen dari lambungnya.

Dalam hitungan detik, aku justru ikut mengerut ketika mendadak merasakan sesak napas. Angin yang semula berembus terasa menghilang. Lelaki itu masih bersandar di tempat duduknya dengan tubuh lemas. Matanya tak berkedip menatapku yang ganti berjuang melawan racun warangan.

Langit terang benderang. Burung-burung bersayap putih tampak turun dari langit. Aku merasakan tenggorokanku seperti dicekik, kemudian berganti menjadi rasa hangat yang menjalari seluruh bagian tubuh. Jalan napas di paru-paruku seperti tersumbat. Kulihat sudut mata lelaki itu berair, bersamaan ketika aku merasakan nadiku berhenti berdenyut. Genta lonceng para pandita Kasyiwan dan Kasogatan berdentang tiada henti dari arah selatan kota Trowulan. (*)

Heru Sang Amurwabumi,

Pendiri Komunitas Pegiat Literasi Nganjuk. Pernah duduk sebagai anggota redaksi Harian Bernas. Cerpennya, Mahapralaya Bubat, mengantarnya terpilih sebagai emerging writer di Ubud Writers & Readers Festival 2019.

Catatan kaki:

1. Warangan = racun arsenik.

2. Srada Agung = upacara perigatan dua belas tahun. kematian bangsawan Majapahit.

3. Kasyiwan = penganut keyakinan ajaran Syiwa.

4. Kasogatan = penganut keyakinan Sogata/Buddha.

5. Kadhaton (bahasa Jawa) = Istana.

6. Wilwatikta (bahasa Sanskerta) = kata dasarnya wilwa (maja) dan tikta (pahit).

7. Tal = Sejenis pohon palma, nama ilmiahnya borassus flabelliformis.

8. Kakawin = Syair Jawa kuno.

9. Bale Manguntur = pendopo tempat menghadap Raja Majapahit.

10. Dasasila = Sepuluh pedoman hidup, dikutip dari Kakawin Sutasoma karya Mpu Prapanca.

11. Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa = Berbeda tetapi satu, tiada kebenaran yang mendua.

12. Legen = minuman dari sulur bunga pohon tal.

13. Centak = gelas kuno yang terbuat dari batang bambu.

sumber : kompas.id, 06 Nov 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme