Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Luh Sumaratih oleh Sunaryono Basuki Ks

Posted on Ming, 01 Apr 2007

Delapan obor menyala bersama, sementara wajah-wajah berkeringat duduk membentuk lingkaran, mulut mereka berkeciap bak burung-burung kecil menanti jatah makan dari induknya. Suara gamelan bambu dan tiupan seruling sudah terdengar dan dari tadi pemuda-pemuda kampung mengalir ke arena tajen di banjar itu. Penerangan listrik sengaja dipadamkan dan suasana lebih romantis tumbuh dalam cahaya obor. Dulu, memang tempat itu dikenal sebagai arena tajen, tempat orang mengadakan “metajen”, adu ayam dengan uang taruhan. Dulu, tempat itu tidak pernah sepi. Semenjak pemerintah mengadakan Lotto PON dan Lotto Surya, rakyat terbius oleh judi dan mencoba membangun ekonomi dengan mimpi.

Tapi, sejak secara resmi lotto dihentikan, mereka beralih ke judi tradisional yang memang digemari masyarakat, yakni aduan ayam yang sering dikaitkan dengan upacara agama. Pemerintah daerah tak bodoh dan menenderkan acara metajen itu kepada pemilik modal yang kuat. Dialah yang menjadi pemborong dan memberi setoran uang kepada pemerintah, sementara rakyatnya berutang untuk mengejar mimpi menang dalam judi.

Waktu berubah, judi secara nasional dilarang dan karenanya metajen yang berupa judi juga dilarang, sedangkan metajen yang bagian dari upacara agama tetap dapat dilangsungkan, tetapi tanpa taruhan. Jadilah arena itu menyandang nama arena metajen walaupun tak pernah lagi diselenggarakn metajen di tempat itu. Bukan berarti orang berhenti metajen, penggemar metajen tetap saja berkumpul di tempat tersembunyi untuk mengembangkan hobi mereka. Ayam-ayam jago masih dipelihara, dijemur pagi hari dalam deretan kurungan.

Malam ini arena tajen dipakai untuk menyelenggarakan hiburan joget bumbung, joget khas Bali, joget pergaulan, tapi bukan dansa cara Eropa. Sudah sejak tiga hari disebar pengumuman tentang acara ini di Radio Guntur, juga berita yang berjangkit dari mulut-ke mulut. Joget diselenggarakan atas upaya teruna-teruni banjar untuk menghimpun dana menjelang datangnya hari raya Galungan dan Kuningan. Bila saat hari raya tiba, mereka akan menggelar bazar di balai banjar, bukan semata-mata menghimpun dana, tetapi untuk mempererat pergaulan teruna-teruni di banjar ini. Bapak perbekel selalu memberikan pengarahan kepada muda-mudi untuk bersikap baik, sopan dan santun, serta taat menjalankan ibadah agama.

Saat ini, sekehe joget bumbung dari Banjar Asri yang terkenal itu yang diundang datang, lengkap dengan sri panggungnya, Luh Sumaratih, dan juga Komang Tarini. Dua penari andalan kelompok ini sudah dikenal luas di pelosok kabupaten dan hampir tiap malam mereka mendapat pesanan menari di tempat-tempat yang berbeda. Mereka hanya beristirahat saat berhalangan atau saat hari-hari tertentu saat mereka memang tidak boleh menggelar acara hiburan itu.

Bukan hanya Luh Sumaratih dan Komang Tarini yang menari. Masih ada dua penari lagi, masih muda belia dan masih belajar. Mereka pada pagi hari malahan masih belajar di kelas satu SMPN IV. Pagi hari mereka tampil sebagai siswa SMP dalam seragam putih biru, malam hari mereka menjelma menjadi dewi-dewi yang turun dari langit. Tak seorang pun yang mengira mereka masih duduk di kelas satu SMP karena dalam kostum penari mereka tampak sebagai gadis dewasa. Lirikan matanya, senyumnya, goyang pinggulnya, semuanya menggoyang hati para penari yang tidak semua pemuda, tetapi juga bapak-bapak yang sudah berusia lebih dari tiga puluh tahun. Justru dari mereka panitia berharap mendapat uang cukup.

Empat bidadari sudah siap, ditingkah lagu dari gamelan bambu dan seruling yang alunnya naik turun seperti digoyang angin. Dua penari muda itu turun ke gelanggang seorang demi seorang dan seorang pemuda juga memberanikan diri turun ke gelanggang menerima selendang yang ditawarkan penari. Dari kalangan penonton, dia digaet dengan selendang di pinggangnya, ditarik ke tengah gelanggang dengan menari, dan saat sampai di tengah dia menerima selendang itu dan mengikatkannya melingkari pinggang sendiri. Dia melenggok dalam gaya, kadang segera menubruk penari yang sigap menghindar dengan gerakan menari, diiringi sorak-sorai penonton. Mereka meniru gerak sepasang penari oleg tambulilingan yang mengisahkan gerak cinta lebah yang ingin mengisap sari bunga. Tari itu biasanya dibawakan oleh dua orang penari perempuan, yang seorang menggambarkan lebah madu jantan. Dalam tari aslinya, kedua penari nyaris berciuman sungguhan, tetapi mereka bukan penari oleg. Yang seorang memang penari profesional, tetapi pemuda itu sekadar menggerakkan tubuh dan tangannya.

Penonton sudah mulai meneriaki Luh Sumaratih untuk turun ke arena:

“Ratih! Ratih! Ratih”

“Ratih Dewi Asmara!” teriak seseorang.

Dalam cermin, Ratih melihat wajahnya sendiri, masih segar, cantik bergairah, tetapi jauh di dalam matanya dia bisa melihat cahaya kelam, kesedihan, kepedihan yang ditanggungnya. Dia tahankan semuanya demi masa depan keluarganya, orangtuanya yang hanya petani miskin. Hanya dia yang mampu mengentaskan keluarganya dari kemiskinan. Kedua kakak lelakinya entah pergi ke mana, katanya merantau ke Jawa tak tahu bekerja sebagai apa. Mungkin malu tinggal di desa bersama orangtuanya. Ratih sendiri bersekolah di SMP Terbuka sampai tamat, tetapi tidak melanjutkan ke tingkat SMA. Orangtuanya tak punya biaya.

Akhirnya Ratih memang meluncur ke arena sejak awal sudah menari. Tak segerak pun yang tak dalam bentuk tarian. Kepalanya bergoyang, matanya bergerak, jari-jari lentiknya, pinggulnya, bahunya, semua bergerak mengundang gairah penonton. Pemuda- pemuda yang ingin digaet dengan selendang berdiri maju, tetapi Sang Dewi bagaikan terbang ke angkasa, menari ke sana-kemari belum menentukan pilihan. Dia bergerak ke barisan belakang, ke tengah, ke samping, dan dia lihat Gede Mangku sudah tersenyum- senyum dari tempatnya. Lelaki itu berkumis tipis, senyumnya menghanyutkan, dan dompetnya tebal. Sumaratih tahu hal itu sebab hampir pada setiap pergelaran tarinya, dia selalu hadir dan membawa uang. Yang diselipkan di sela payudara Sumaratih tak pernah uang receh dan lusuh, selalu bersih dan pecahan Soekarno-Hatta. Sayang, dia sudah beristri.

Bagai seekor burung gagak menyambar dari langit, secepat kilat Sumaratih menukik turun dan mengibaskan selendang yang dengan tangkas disambut oleh Gede Mangku. Bagaikan sepasang dewa dewi cinta yang sudah mahir menari, mereka menari berdua ke tengah kalangan, bukan saja ditingkah gamelan, tetapi juga teriakan penonton. Mereka senang sebab gerak mereka berdua demikian indah, tak menggambarkan umbaran nafsu sama sekali. Gede Mangku tak pernah tergesa. Setiap patukan kepada ke arah kepala Sumaratih dilakukan dengan penuh pertimbangan, halus, sehingga keduanya bagaikan sepasang penari oleg yang berpengalaman. Benar-benar menggambarkan keselarasan kasih sayang, benar-benar Dewi Ratih bertemu Kamajaya. Di sini Gede merasa tenteram bersama Ratih yang di matanya lembut, bergelora tetapi terkendali. Emosinya pasti juga terkendali, pikirnya, tak tergesa bila diajak bercinta. Di arena, pasangan ini hiburan sehat dan seolah mereka tak berkeberatan bila keduanya menari sampai pagi. Tetapi, tentu saja hal itu tak mungkin sebab banyak lelaki berduit lain yang menunggu. Walaupun Gede Mangku mampu mengeluarkan uang lagi, toh para lelaki lain yang juga berduit berkeberatan. Panitia juga berkeberatan.

Komang Tarini mengganti sementara Ratih beristirahat, mengipas-ngipasi tubuhnya yang berpeluh dengan kipas cendana yang menebarkan harum kayu. Perhatian penonton tak surut. Perawakan Komang Tarini tinggi jangkung, kulitnya terang, matanya besar dan goyang pinggulnya hebat. Agar penari lelaki dapat bergerak menyambar pipinya terpaksa sering dia harus menari dengan posisi tubuh rendah sebab kebanyakan mereka kalah tinggi dengan sang dewi.

Sorak-sorai penonton beberapa jam telah mengumpulkan dana cukup untuk teruna-teruni banjar ini menyambut hari raya Galungan dan Kuningan. Sekehe joget bumbung Asri tak dirugikan sebab uang sewa diberikan penuh dan uang hadiah untuk penari dibagi dua, untuk sekehe dan untuk penyelenggara. Saat pertunjukan usai, masih ada empat obor yang menyala, sementara penonton sudah bubar. Kelompok joget juga sudah bersiap-siap pulang dan para penari sudah berganti pakaian. Gede Mangku tampak masih menunggu di sudut arena, bangkit berdiri ketika Ratih mulai bergerak mau pergi.

“Boleh kuantar pulang, Ratih?”

“Tiyang pulang bersama rombongan, Bli.”

“Apa Bli tak boleh mengantar? Bli bawa mobil kok?”

“Kami tadi carter colt bak terbuka. Semuanya naik di sana.”

“Penari pindah saja ke mobil saya. Kan cukup?”

“Tiyang malu sama Pak Sutama. Beliau yang mengatur kami semua.”

“Baiklah, Bli yang minta izin.” Berkata demikian Gede langsung bicara dengan Pak Sutama, pemimpin rombongan. Ratih tersipu, tetapi Made Sutama tampaknya bijak:

“Maaf, Pak. Saya bertanggung jawab atas keselamatan semua anggota sekehe ini. Saya sudah minta izin kepada orangtua Ratih dan mereka berpesan agar Ratih tak diserahkan siapa-siapa. Saya yang jemput dan saya yang antar. Maaf. Ini peraturan kami.”

“Ah, Bapak. Masa gak ada kebijaksanaan? Saya ajak Ratih malam ini saja?”

“Baiknya besok Bapak datang ke rumah orangtuanya dan bicara sendiri. Saya tak berani memutuskan lain.” Lelaki peniup suling hanya tersenyum menyaksikan itu semua.

Dan, lelaki itu benar-benar datang ke rumah Ratih, bangunan bertembok batako dengan atap seng. Di dalam kamar tamu yang sempit, lelaki itu mengipasi tubuhnya dengan koran yang dibawanya.

“Maksud Bapak, Bapak mau mengajak Ratih keluar?”

“Begitulah, kalau Bapak tidak berkeberatan.”

“Maaf, apa Bapak sudah punya istri?” tanya lelaki itu langsung. Dia mengenakan sarung yang dilingkarkan ke pinggangnya sekenanya. Kaus oblong lusuh bergambar penari Bali dikenakannya.

Tak berkutik, dia terpaksa mengatakan:

“Ya, saya sudah beristri.”

“Jadi, Bapak mau melamar anak kami sebagai istri kedua?”

Pertanyaan itu tak terduga pula, namun dijawab dengan segera. Dia tetapkan hatinya.

“Ya, kalau boleh.”

Lelaki itu tertawa dan memerhatikannya dari kepala sampai ke sepatu.

“Bagus, bagus. Bapak memang bersifat ksatria.”

Hati Gede mengembang. Ada harapan menyunting kembang joget yang terkenal ke mana-mana, yang senyumnya menjatuhkan benteng lelaki, yang goyangnya menggoyang hati semua lelaki.

“Tapi, Ratih sudah dewasa. Dia bisa menetapkan pilihan untuk dirinya sendiri. Terima kasih untuk perhatian Bapak, tetapi adat melamar tidak seperti ini.”

Dan Ratih, disaksikan kedua orangtuanya tersenyum mendengar lamaran Gede, namun dengan tegas dia katakan:

“Kami ini keluarga miskin, tak sepadan dengan Bli Gede. Jadi biarlah kami tetap seperti ini. Maaf, tiyang tak berani menerima, tak berani menyakiti kurnan Bline.”

Ketika Gede berpamitan, diantarkannya lelaki itu sampai ke pintu pagar rumahnya. Ketika pagar ditutupkan kembali, terlihat rumah mereka yang kecil, berdinding batako, dan beratap seng. Di halaman belakang berdiri tiang antena parabola yang berhubungan dengan decoder untuk menangkap siaran TV, sedangkan di belakang rumah masih terbentang tanah yang luas ditanami pohon rambutan yang sedang berbuah dan tanaman-tanaman lain. Semuanya buah dari kerjanya sebagai penari joget. Dan Nyoman Suamba, peniup seruling anggota sekehe dan sahabatnya sejak kecil dengan tekun memelihara kebun ini. Dan memelihara Ratih untuk dijadikan istrinya kelak kalau waktunya sudah tiba.***

Singaraja, 2007

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme