Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Candik Ala oleh GM Sudarta

Posted on Ming, 30 Sep 2007

Setelah matahari tengah hari tergelincir, langit berangsur berubah berwarna kuning. Sinar menyilaukan berpendar-pendar membiaskan kabut kuning menerpa seisi alam. Cuaca seperti inilah yang oleh ibu disebut sore “candik ala”. Suatu sore yang jelek. Suatu sore yang membawa malapetaka dan penyakit. Dalam cuaca seperti ini, kami diharuskan masuk ke dalam rumah.

Aku tidak lagi mau bertanya kepada ibu, perihal kenapa kita mesti takut kepada cuaca seperti itu. Karena kalau aku bertanya hal-hal aneh, seperti misalnya larangan untuk duduk di depan pintu yang nanti akan dimakan Batara Kala, akan selalu dijawab dengan nada agak marah, dengan kata yang tak kupahami maksudnya: “Ora ilok!” kata ibu.

Tapi kali itu, setelah beberapa kali mengalami sore candik ala, aku tak tahan lagi untuk tidak bertanya tentang ayah, yang sudah berbulan-bulan tidak pulang. Ibu seperti menghindar, memalingkan muka menyembunyikan wajahnya, sambil jawabnya:

“Nanti juga kalau saatnya pulang, pasti pulang.”

“Apa nggak kena penyakit karena candik ala, Bu?” tanyaku tak sabar. Ibu diam saja.

Memang, kadang-kadang setengahnya aku kurang percaya dengan hal-hal aneh demikian, tapi kadang kala pula hati dibuat ciut dengan kejadian seperti yang pernah kami alami tahun lalu. Menjelang tengah malam kudengar suara kentongan bertalu-talu, seperti jutaan kentongan dipukul bersamaan. Semula terdengar samar-samar, seperti dari kejauhan, semakin lama semakin keras seperti semakin mendekat. Ibu segera berdiri di balik pintu depan, sambil komat kamit membaca doa. Kudengar sepotong doanya:

“Ngalor, ngalor, aja ngetan aja ngulon.”

Kupeluk kaki ibu karena ketakutan oleh sesuatu yang tidak kumengerti.

“Ada gejog,” kata ibu, “Nyai Roro Kidul bersama bala tentaranya sedang berarak menuju istananya di gunung Merapi. Orang yang tinggal dekat Segara Kidul, yang pertama kali melihat ombak laut besar dan suara gemuruh, mulai memukul kentongan. Itu pertanda Nyai Roro Kidul keluar, naik kereta kencana, diiringi para serdadu jin. Kemudian orang desa yang akan dilewati rombongan itu beramai-ramai memukul kentongan supaya beliau tidak singgah ke desanya. Karena setiap beliau singgah, beliau akan mengambi abdi dalem baru.”

Aku tetap kurang paham akan keterangan ibu. Yang aku tahu ibu telah berdoa supaya rombongan itu tidak singgah ke sebelah timur Gunung Merapi, letak desa kami.

Beberapa hari kemudian, malamnya, dua lelaki berseragam loreng datang ke rumah dan mengajak ayah pergi, sepertinya dengan cara paksa. Ibu mengejar sampai halaman depan sambil memohon supaya ayah jangan dibawa dengan penuh iba.

“Ayah dibawa Nyai Roro Kidul ya Bu?” tanyaku.

“Hush!” jawab ibu sambil bergegas langsung masuk kamar tidur. Kudengar tangisan ibu menyayat hati.

Berita tentang perginya ayah merebak ke seluruh desa. Meskipun tak begitu aku pahami artinya, kudengar dari Lik Kasdi, pamanku, bahwa ayahku terlibat. Terlibat apa aku kurang jelas, hanya yang kuketahui juga dari tetangga bahwa ayahku adalah seorang pegawai negeri yang suka memberi penyuluhan kepada para petani.

Sejak itu, ibu kerap pergi dengan menjinjing rantang berisi nasi dengan lauk ikan asin dan sayur daun singkong kesukaan ayah. Kami, anak-anak, tidak diperkenankan ikut serta. Beberapa kali, aku yang merasa anak terkecil suka merengek minta ikut. Dengan sedikit marah ibu menjawab:

“Ibu akan nengok ayahmu yang sedang kerja, kamu jangan ganggu dia!”

Pasti ayah sedang kerja lembur, pikirku. Tetapi beberapa bulan kemudian, ibu tidak bisa lagi berbohong, karena kemarin aku dengar dari Lik Kasdi, bahwa ayah ditahan di kota.

Dan dia bercerita panjang lebar, tentang pemberontakan besar. Waktu itu yang tertangkap dalam otak kecilku adalah tentang para jenderal yang dikorbankan dimakan buaya di sebuah lobang.

“Ayahmu sedang berjuang,” ujar ibu dengan wajah keruh ketika aku tanya soal tahanan ayah. Tanpa tahu apakah yang dimaksud dengan berjuang, yang pasti aku kerap kali menangis sendirian bila malam waktu tidur tiba. Setiap bangun pagi, ibu melihat mataku sembab. Rupanya ibu pun tahu akan kerinduanku pada ayah. Kulihat air matanya mengembang. Kemudian memelukku erat-erat, dan tangisnya tertahan meskipun air matanya deras membasahi pundakku. Jadinya aku ikut menangis tanpa kutahu sebabnya.

Sore itu, cahaya candik ala menyelinap lewat jendela menerpa lemari kaca tempat memajang foto ayah dalam bingkai. Mungkin karena rinduku pada ayah, kulihat seakan foto ayah bergerak, tangannya melambai kepadaku. Terasa di dalam dadaku ada yang menggelepar-gelepar.

Kudengar pula dari Lik Kasdi, ayah bersama para tahanan beberapa lama ini sedang dipekerjakan membuat tanggul sepanjang rawa besar di daerah tak jauh dari rumah kami. Katanya tanggul yang sepanjang tiga kilometer ini sekaligus untuk jalan penghubung antardesa yang terpisah oleh rawa. Karena rinduku tak tertahankan lagi, dengan mengendap-endap lewat pintu dapur, tanpa sepengetahuan ibu dan tanpa takut dengan cuaca candik ala, sambil membawa pancing bambu, kugenjot sepedaku lari kencang ke rawa, dengan harapan ayah masih di sana.

Setiba di sana, nampak banyak orang berseragam loreng dengan menyandang senjata laras panjang. Mereka berjaga di sebelah timur rawa, di mana kulihat ratusan orang sedang bekerja menggali tanah dan mengangkat batu. Dalam terpaan cahaya kuning, wajah-wajah kurus semakin mempertegas cekungan mata bagai mayat hidup. Dadaku berdebar-debar, tak sabar untuk bisa cepat-cepat bertemu ayah, yang mungkin ada di sana. Beberapa meter sebelum mencapai tempat mereka, seorang petugas mengusirku, dan menyuruhku mancing agak jauh dari situ.

Kutaruh sepeda di pinggir jalan, kemudian duduk mencangkung di atas batu padas di pinggir rawa. Dengan berpura-pura memancing, terus kutajamkan mataku mencari ayah di antara ratusan orang yang sedang bekerja. Langit yang membiaskan warna kuning agak menyilaukan mataku, sehingga sulit mencari di mana ayah berada. Ketika langit berubah warna memerah, pertanda magrib menjelang tiba, dan ketika aku nyaris putus asa, kulihat di kejauhan seseorang berdiri tegak memandang ke arahku, sementara yang lain masih bekerja…. Itulah ayah!

Kulempar pancing, tanpa menghiraukan para petugas, aku pun berlari, menangis sambil berteriak keras-keras memanggil ayah. Ayah seperti tertegun melihat kedatanganku.

Tetapi kemudian wajahnya berubah gembira, meskipun kulihat seperti dipaksakan. Lengannya terentang menyambutku. Kujatuhkan diriku memeluk lututnya dan menangis sejadi-jadinya. Kulihat ayahku sangat kurus dan lusuh, tapi nampak diusahakan selalu tubuhnya ditegap-tegapkan.

“Kapan ayah pulang? Kapan, yah, kapan?” tanyaku berulang-ulang

Ayah tersenyum lebar sambil jawabnya: “Nanti kalau kerja besar ini selesai, cah bagus.”

Beberapa petugas mendekati kami. Ayah bicara kepada mereka beberapa saat, kemudian kami dibiarkan berdua. Kami hanya berpelukan sampai terdengar peluit tanda usai kerja. Kami bergerak bersama para tahanan menuju truk-truk yang sudah tersedia, sambil kupeluk pinggang ayah.

“Ayah tidak kena penyakit karena candik ala?” tanyaku.

Ayah tertawa. Sambil mengelus rambutku ayah bekata:

“Tidak mungkin ayah kena. Ayah sehat karena banyak makan sayur.”

Kemudian ayah membopongku, menciumiku sambil tawanya yang nampak dipaksakan pula. “Ayah nanti tidur di p..p..penjara?” tanyaku terbata-bata menahan tangis.

“Siapa bilang, he..he..he, bukan di penjara, tapi di hotel!”

“Ayah sedang berjuang?” tanyaku kemudian. Ayah nampak kaget.

“Ibu yang bilang…,” kataku menjelaskan. Ayah tertawa mendengar ini.

Menjelang dekat truk, ayah berjalan dengan tegak sambil menyanyikan sebaris lagu Indonesia Raya. Para petugas dan para tahanan terheran-heran, memandang kami. Setelah menurunkan aku dari gendongannya, ayah melompat ke bak truk. Sambil menoleh kepadaku, ayah mengacungkan tinju ke atas, dan katanya keras-keras:

“Ingat Aryo, kamu harus selalu berjalan tegak, menghadapi nasib apa pun. Termasuk kalau ada candik ala…. Dan jangan lupa lagu Indonesia Raya!”

Barisan truk pelan-pelan semakin jauh meninggalkanku sendirian di pinggir rawa. Tak terasa air mata membanjir membasahi pipi.

“Ayaaaaaaaaah!!” teriakku keras-keras muncul sendiri tanpa kusadari.

Saat usia sekolahku tiba, suatu malam Lik Kasdi, yang sudah menjadi carik desa, datang mengunjungi rumah kami. Di ruang depan dia bicara setengah berbisik kepada ibuku. Dari balik pintu kamarku, kutangkap pembicaraan mereka, bahwa ayah sudah menyambut maut dengan gagah sambil menyanyikan Indonesia Raya, katanya.

“Saya sudah berusaha keras menolongnya, Mbakyu,” ujar Lik Kasdi, “Sudah kuberi bukti bahwa Mas Kasman tidak terlibat, melainkan karena fitnah bekas bawahannya yang sakit hati karena dia pecat.” Aku mau menangis keras, tapi terasa tenggorokanku tercekik. Semalam suntuk aku terduduk di balik pintu kamar, sambil mendengar isakan ibu dan Yu Rini, berkepanjangan di kamarnya.

Tiga tahun kemudian, ibuku pun menyusul ayah. Bukan karena diambil Nyai Roro Kidul, melainkan oleh sakit batuk yang diidapnya sekian lama. Yu Rini pun menikah dengan seorang aparat desa dan aku ikut dengannya. Berpuluh tahun kemudian, setelah melewati berapa puluh sore candik ala, setiap cuaca demikian, ada sesuatu yang pedih, seakan ada yang pecah berkeping-keping di dalam dadaku. Dan telah sekian puluh tahun pula aku mencoba benar-benar berjalan tegak, tapi sangatlah sulit. Hanya karena aku adalah anak kandung ayah. Dan semua orang masih saja mengingat ayah adalah ayah kandungku.

Sekarang ini, aku masih juga mencoba berjalan tegak, meskipun sudah sambil menyanyikan lagu Indonesia Raya, tapi hanya baru bisa melata di tanah!

Klaten, 2005

Catatan:

Candik ala: pertanda buruk dengan cuaca sore yang membiaskan warna kuning

Ora ilok: pamali, larangan

Gejog: barisan roh halus

Nyai Roro Kidul: Ratu Laut Selatan

Ngalor, ngalor, aja ngetan, aja ngulon: ke utara, ke utara, jangan ke timur jangan ke barat

Segara Kidul: Laut Selatan

Kali Woro: sungai besar di lereng gunung Merapi yang dipenuhi pasir dan lahar dingin

GM Sudarta (30 September 2007)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme